FADED Alum Dalam Kisah Cintaku

FADED Alum Dalam Kisah Cintaku
Drama di Tengah Hutan


__ADS_3

Jam 4 sore semua pengunjung yang datang ke Girimanik memang harus sudah meninggalkan tempat tersebut. Aku dan Anita yang sudah puas dengan Air Terjunnya, segera pergi dari situ. Kita berdua jalan kaki lagi. Capek? Iya. Haus? Banget. Laper? Puooll. Kita berdua pergi tanpa persiapan apapun. Tanpa membawa makan ataupun minum. Aku dan Anita sering istirahat di sepanjang jalan. Tak lepas dari keberangkatan tadi karena jalan setapak yang kita lewati sama, ada beberapa pertigaan yang membingungkan. Jika tidak hafal jalannya, pasti akan tersesat di hutan. Sama halnya dengan nasib ku dan Anita yang hampir tersesat dan jatuh ke jurang. Waktu itu ada dua jalan, yang satu lurus dan yang satu lagi ke atas. Karena aku penasaran dengan jalan yang mengarah ke atas, Aku mengajak Anita untuk melewatinya.


" Eh... Kita coba lewat sini yuk... Penasaran aku sama jalan ini..." ajak ku.


" Kamu yakin mau lewat sini? Kita bakalan nyasar nggak?" tanya Anita.


"Kita coba aja dulu, kamu duluan yang jalan di depan... Ada jalannya nggak? ".


"Ada...."


" Pelan-pelan jalannya, sini aku pegang tangan kamu..." Aku mencoba memegang tangan Anita yang berada di depan ku.


"Ini beneran nggak jalannya? Kok aku nggak yakin sih" lanjut ku.


"Jalan buntu...!!" Kata Anita.


" Ya udah ayo kembali ke jalan awal tadi kalau gitu..."


"Aduhh... Kepalaku tersangkut duri.." teriak Anita.


"Aduhh... Aduhh.... Kaki ku tersangkut juga..." aku teriak kesakitan dan jatuh ke tanah. Syukurlah tidak sampai terpeleset. Jika sampai terpeleset pasti akan jatuh ke jurang.


"Kamu nggak papa Dan...? " tanya Anita panik.


"Iya nggak papa cuma luka kecil di kaki. Kamu sendiri gimana ada yang luka nggak? "


" Nggak ada, aku baik-baik aja..."

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, ayo kita kembali ke jalan yang tadi dan segera pulang" .


Kita berdua segera kembali ke jalan utama tadi. Di jalan kita berdua bertemu dengan beberapa pengunjung yang mau ke Air Terjunnya. Padahal sudah sore, tapi masih ada yang baru datang. Sambil mencari-cari sinyal, aku dan Anita terus saja berjalan. Sumpah susah banget cari sinyal di tengah hutan.


"Ada sinyal nggak di HP kamu? " Anita bertanya padaku.


"Zonkk...." jawabku singkat.


"Punya aku juga susah banget ini... Masa sinyalnya cuma H+....


Eh... Eh.. Eh... Ada sinyal.... Kita duduk disini dulu yuk... "


Saat di layar HP Anita mulai ada sinyal, Ide konyol muncul di pikiran aku.


" Kita buat drama aja yuk... Kamu chat Syafiul dan bilang kalau kita lagi nyasar di tengah hutan."


"Yakin kamu...?" tanya Anita.


"Kamu aja deh yang buat, nih HO nya..." Anita menyerahkan HP nya padaku. Aku menerimanya dan langsung buat snap "TOLONGG AKU NYASAR NGGAK TAU JALAN PULANG...!!" . Snap terkirim. Banyak yang bertanya kenapa, Dan nyasar dimana. Spontan ku jawab semua kalau lagi tersesat di hutan. Mereka menyuruh tenang dan mengingat-ingat kembali jalan yang di lewati waktu berangkat tadi. Lain lagi dengan Syafiul. Dia malah menyalahkan ke Anita.


" Seharusnya kamu nggak ke situ tadi. Kenapa milih tempat yang jauh. Yang deket kan banyak"


"Ya namanya juga nggak tau. Tadi dia di ajak juga nggak mau. Kalau misalnya tau ada yang lebih deket ada, nggak mungkin lah kita berdua kesini " aku bilang begitu ke Anita dan mengembalikan HP yang ku pegang padanya. Drama yang kita mainkan sukses. Banyak yang khawatir dan panik. Tetapi aku dan Anita masih tetap santai dan menikmati perjalanan. Kita berdua kumat ketawa ketiwi lagi sambil berjalan.


Kurang lebih 30 menitan kita sampai juga di post pertama. Perjalanan pulang terasa lebih singkat dibandingkan dengan keberangkatan kita tadi. Aku dan Anita yang sangat kelelahan segera memesan minuman dan makanan di salah satu warung disana.


"Nit mau makan apa? Mie aja yah? " tanya ku pada Anita.

__ADS_1


"Terserah kamu deh, penting ke isi nih perut. Eh... Jangan lupa ambil air mineralnya dua"


"Iya deh... Buk pesen mie rebusnya dua di kasih telor ya..." Aku memesan makanan dan mengambil dua air mineral.


"Iya dek tunggu bentar ya..." kata ibu penjual itu.


Aku duduk di bawah ikut Anita. Sambil menunggu makanan siap aku menyetel musik. Aku melihat ulang plakat yang ada di pohon.


" Pantesan jauh banget, 2000 meter jaraknya. Bolak balik lagi".


"Jadi kita jalan 4000 meter dongg... Busett... Capek dah..." Anita kaget.


"Ya iya lah orang segitu jauhnya"


"Hadduuuhhh........ "


Beberapa menit kemudian makanan pun datang. Tanpa basa basi lagi kita berdua langsung makan dengan lahap. Tanpa tersisa. Selesai makan kita bayar dan buru buru balik pulang. Seperti biasa aku bawa pulang motornya ngebut. Dan karena waktunya juga udah mepet. Nggak ada waktu untuk santai santai lagi. Jalannya menurun terus jadi aku gas banter tanpa rem. Anita menyuruhku untuk pelan-pelan aja. Namun aku nggak menghiraukan perkataan dia. Aku harus segera sampai dirumah. Itu adalah target utama aku. Kalau aku nggak ngebut pasti pulang nya bisa kemaleman. Dan aku juga harus beli titipan ibu dulu.


Perjalanan kita nggak kekang amat kok. Karena seperti biasanya aku dan Anita nggak bisa diem di sepanjang perjalanan. Aku dan Anita ngoceh terus nggak berhenti berhenti. Sampai dirumahnya Anita pun aku masih sempet ngobrol banyak sama dia.


" Lain waktu kita kesana lagi ya" kataku saat tiba di rumah Anita.


" Enggak mau aku... Aku kapok jalan jauh... Pokok nya aku nggak mau kesana lagi... Titik..." Anita menolak tegas tawaranku.


" Akhh.. Kamu nggak asik.. Masa jalan segitu aja rewel... Hahah...."


" Aku kan nggak pernah jalan jauh... Ini badan aku semuanya pegel kek digebukin." ucap Anita sambil memegang pinggangnya yang kesakitan.

__ADS_1


" Ya udah kamu cepet masuk sana... Aku mau pulang dulu yahh Bayy.... Jangan lupa mandi dulu... Hahahh...." aku langsung tancap gas dan pulang. Tak lupa aku membeli titipan ibuku dulu. Aku pulang ke sore an. Sampai dirumah aku langsung di samber banyak pertanyaan sama keluargaku. Termasuk juga kakak aku. Dia itu keponya minta ampun dah. Dia itu tau aja apa yang aku lakuin. Hari ini contohnya. Dia tau kalau aku tadi siang nggak sekolah. Dia tau kalau aku lagi main. Entah beneran tau atau cuma mengira ira, aku nggak tau. Aku cuma bisa ngeles dan bilang kalau aku nggak main. Untungnya dia nggak peduli amat, jadi aku nggak kena marah sama keluargaku.


"Huh... Untung nggak kena marah. Emang deh rejeki anak sholeh" batinku dalam hati.


__ADS_2