FADED Alum Dalam Kisah Cintaku

FADED Alum Dalam Kisah Cintaku
Di Tolak


__ADS_3

"Kenapa nggak kamu jawab sekarang aja si Azeel?" sambil terus berjalan aku bertanya pada Anita. Setelah kejadian yang ku lihat hari ini, aku langsung meminta penjelasan dari Anita.


"Aku kan udah bilang aku nggak bisa jawab sekarang" seru Anita padaku.


"Lha kenapa nggak bisa?" heran ku.


"Ya karena aku masih butuh waktu untuk menjawabnya" eyel Anita.


"Lha kan dia nembak kamu dari kemarin kemarin" protesku terus.


"Kamu kan tau sendiri sifatnya kaya gimana. Aku nggak mau lah di perlakukan seperti Tatik kemarin. Memang iya dia janji mau berubah. Tapi aku nggak percaya" Anita membela diri. Azeel memang pemalu. Dia cenderung kurang berbicara pada pasangannya. Seperti yang di lakukannya pada Tatik sebelumnya. Azeel hanya mendiamkan Tatik tanpa bertanya sekata pun. Dia hanya membelakangi Tatik, tanpa menoleh sedikitpun. Maklum saja Azeel masih anak SD.


"Terus kamu sebenarnya mau nggak pacaran sama Azeel?" tanya ku terus terusan.


"Emm... Nggak tau juga sih, kayaknya enggak deh..." jawab Anita ragu.


"Loh kenapa enggak?" aku semakin tak memahami apa maunya Anita.


"Lah dia kan masih SD, belum cukup umur, masih bocil, pemikirannya belum nyampe!" tukas Anita.


"Ya kan cinta nggak mandang fisik atau umur" aku mencoba meluruskan perkataan Anita.


"Toh kamu kemarin sama Syafiul masih tinggian kamu, masih tua an kamu, jangan ngledek dulu deh lo...hahah...." lanjut perkataanku. Aku tertawa terbahak bahak.


"Ya beda ceritanya lah kalau sama Syafiul. Syafiul kan udah kelas 9 sedangkan Azeel baru kelas 6, kan nggak efisien pacaran sama anak SD" jawab Anita dengan santainya.


"Idiiihh sama aja, nggak ada bedanya. Azeel sama Syafiul aja masih besaran Azeel.... Hahah...." aku semakin mengeraskan tertawaku.


"Beda umurnyaaaa...." Anita mengeyel terus.


"Ya udah deh terserah lo..." jawabku sengit.


Aku dan Anita berdebat terus masalah tentang Azeel di sepanjang jalan. Anita sepertinya tak mau menerima Azeel. Sedangkan aku meminta Anita untuk memikirkan dua kali keputusannya itu. Alasan Anita tak mau menerima Azeel karena dia masih anak SD, dia belum cukup umur, dan Anita kurang nyaman berpacaran dengan sikapnya yang terlalu mengacuhkan pasangan.


Jam 16:00 aku tiba di rumah Anita. Selesai mengantarnya pulang aku langsung balik ke rumahku. Aku memikirkan tugasku yang belum selesai. Aku harus segera menyelesaikannya. Untung saja aku membawa paket Yongen yang di pinjam Anita.


Sampai dirumah aku segera mandi dan menyelesaikan tugasku. Aku meminta izin Youdha dulu untuk menyelesaikan tugasku agar dia tidak mencariku saat aku offline WA.


"Dha... Aku mau menyelesaikan tugasku dulu yah..." pintaku pada Youdha. Aku mengirimkan pesan itu padanya. Masih centang satu abu abu. Aku tak tau dia kemana. Sejak dia pulang dari Jogja, dia jarang online. Mungkin dia masih menghabiskan waktunya bersama teman temannya. Aku bisa memaklumi hal itu karena sudah lama di tak bertemu dengan teman temannya.


Aku melanjutkan menggambar tugasku. Cukup sulit aku membuatnya. Banyak bagian bagian kecil yang harus aku gambar dengan rinci. Belum lagi aku harus menggambar tiga jenis. Satu organ reproduksi pria dan dua organ reproduksi wanita. Membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.


Sudah dua jam aku duduk sambil menggambar. Aku baru menyelesaikannya dua buah gambaran. Mataku sudah sangat pedih. Aku sangat mengantuk. Tanganku sudah lelah. Tiba tiba chat masuk di ponselku.


"Owh iya nggak papa, kamu selesaikan aja dulu.." pesan masuk dari Youdha.


"Kenapa baru bales?lagi sibuk yah?" tanyaku pada Youdha.


"Nggak kok, aku tadi cuma lagi main kerumah temen aku. Maaf yah kalau aku baru bales chat kamu" penjelasan dari Youdha.


"Iya nggak papa aku ngerti kok" aku memahami Youdha.


"Makasih yah udah percaya sama aku..." terang Youdha.


"Sama sama. Aku paham kok. Udah kamu tenang aja" jawabku.


Setelah chatan sama Youdha aku merasa mendingan tidak ngantuk lagi. Sambil terus mengerjakan tugasku. Pukul 21:00 selesai sudah tugaku. Tinggal memberi warna saja. Aku tidak memilikinya, oleh sebab itu aku belum bisa memberi warna. Besok baru aku akan mewarnai setelah meminjam pewarna pada Anita.


Keesokan harinya....


"Hari ini aku mau ketemu sama Azeel" seru Anita, sembari mewarnai gambarannya. Aku pun juga melakuan hal yang sama seperti Anita. Mewarnai.

__ADS_1


"Ngapain ketemu Azeel? Udah jadian sekarang?" tanyaku pada Anita.


"Ya belom lah, aku mau jawab dia secara langsung" sahut Anita.


"Mau di terima atau di tolak?" kepo ku.


"Nggak aku terima kayaknya, aku ngrasa nggak cocok sama dia"Jawab Anita.


"Yeeh... Di tolak mentah mentah... Anjirt.... Hahah...." aku menertawakan Anita.


"Akh udah... Nanti pokoknya kita berdua kesana!" seru Anita.


"Hooh Azeell....hahah..."


"Ihh.... Bukan Azeel tau..." Anita langsung cemberut aku menggodanya dengan sebutan Azeel.


"Hahahahahah..... Azeel... Azeel.... Wleekkk.... Hahah...." aku semakin menganggunya. Anita hanya cemberut dan gedumel sendiri nggak jelas. Hingga bel masuk tiba Anita masih marah marah padaku.


Siang harinya...


Usai sekolah, aku pergi mencari Azeel bersama Anita. Kita berdua kemarin udah tau rumahnya Azeel, tetapi belum berani bertamu ke rumahnya. Aku mengajak Youdha untuk ikut bersamaku, agar lebih mudah bertemu Azeel nya. Kita janjian ketemu di pos ronda deket rumahnya Azeel.


"Kamu anterin aku dan Anita ke rumahnya Azeel yah..." pintaku pada Youdha.


"Tumben cari Azeel, mau ngapain?" tanya Youdha.


"Nggak aku nggak cari Azeel. Ini lo Anita yang cariin mau minta penjelasan katanya" jelasku pada Youdha. Anita hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Penjelasan apa?" tanya Youdha lagi padaku.


"Anu itu.. Emm... Si Azeel... kemarin nembak Anita di bukit Govardan pas kamu pulang" kataku.


"Owh jadi Anita mau ketemuan sama pacarnya" ucap Youdha meledek.


"Bohong dia..." aku tersenyum kecil ikut menganggu Anita. Memang Anita paling pas banget kalau di candaain.


"Hahahah...." Kita semua tertawa disitu. Lalu kita bertiga pergi kerumah Azeel. Eh... Bukan kita. Youdha aja tepatnya. Karena hanya dia yang mencari Azeel ke rumahnya. Aku dan Anita hanya menunggu di pinggir jalan dekat rumahnya Azeel.


"Azeel nggak ada di sini. Katanya pergi kerumah yang satunya lagi" kata Youdha yang baru saja kembali dari rumah Azeel.


"Loh rumahnya nggak cuma satu emangnya?" tanya Anita kepo.


"Enggak... Ayo ikut aku ke rumahnya yang lain.." ajak Youdha. Tanpa basa basi lagi aku pergi mengikuti Youdha. Arah yang sama menuju bukit Govardan. Tak jauh sih dari rumahnya Azeel yang sebelumnya. Cuma berjalan lima menitan.


Aku mengikuti kemana pun Youdha pergi. Sudah tiga rumah kita datangi. Namun Azeel nggak ada sama sekali.


"Buseettt... Banyak banget rumahnya" Anita bicara padaku.


"Hooh... Banyak banget.." jawabku singkat.


"Azeel nggak ada dirumah, dia lagi mancing katanya" tiba tiba Youdha datang. Dia memberi tau kalau Azeel nggak ada di rumah.


"Yah... Terus mancingnya diman?" kata Anita.


"Emm... Di kali bawah situ deh kayaknya" ucap Youdha sambil menunjuk ke arah sungai yang ada di bawah.


"Kalau misal nyusul Azeel, ada jalan bisa di lalui sepeda nggak?" tanya Anita lagi.


"Nggak bisa kalau motor. Cuma jalan kaki bisanya"


"Kalau jalan berapa lama? Jauh nggak lokasinya?" giliran aku yang bertanya.

__ADS_1


"Ya Lumayan jauh paling 15 menitan" jawab Youdha.


"Nggak usah di susul kalau gitu" kataku pada semua. Setelah itu kita semua hanya terdiam tak berbicara. Hanya aku dan Anita yang sesekali ngobrol. Namun tidak dengan Youdha. Aku bingung mau bicara apa padanya. Kemudian aku teringat. Aku belum tau rumah Youdha.


"Emm... Rumah kamu di mana sih? Aku belum tau loh..." aku mencoba bertanya pada Youdha.


"Hmm..." dia menoleh lalu menjawab. "Rumah aku disana, kamu mau tau rumah aku".


"Iya... Aku mau tau"


"Ayo aku anter, tapi aku mau ajak Herman dulu" kata Youdha.


"Oke deh..." kota langsung balik ke arah rumah Youdha. Tapi sebelumnya Youdha mampir ke rumahnya Herman untuk mengajaknya. Selesai dari rumah Herman, kita langsung menuju ke rumah Youdha. Ternyata dari perempatan kita harus belok kanan. Dan waktu aku cari rumah Youdha dulu, lurus aja nggak belak belok. Pantesan nyasar jauh banget. Haduhhh... Haduh... dasar aku :v.


Rumah Youdha berada di kiri jalan. Agak bawah rumahnya. Kita nggak ke rumah Youdha. Cuman lewat aja, tapi aku tau, karena aku pernah lihat foto rumahnya. Setelah aku tau rumahnya Youdha, aku mengajak Youdha untuk menunjukkan SD nya dulu. Tak begitu jauh dari rumahnya. Lewat rumahnya Syafiul juga. Kita berempat berhenti disitu. Agak lama, namun tak berbicara. Aku sibuk sendiri dengan Anita. Dan Youdha asik sendiri ngobrol sama Herman.


"Eh... Btw Youdha sama Herman mirip yah. Padahal kan bukan adek kakak" kata Anita padaku. Aku juga berpikiran sama dengan Anita.


"Eh.. Kok sama sih pikiran kita. Udah dari tadi aku perhatiin mereka berdua agak agak mirip gimana gitu" tukasku.


"Kok bisa yah...?" tanya Anita. Belum sempat aku jawab, tiba tiba ada orang menghampiri Youdha. Aku sepertinya mengenal orang itu. Aku mencoba agak mendekat pada jarak Youdha. Aku melihatnya dengan teliti dari atas sampai bawah.


"Ya ampuunnn..... Itu kan temennya mas Rahmad. Si Sugeng Sugeng itu loh" aku kaget bukan kepalang.


"Rahmad siapa lagi sih?" Anita malah bingung disitu.


"Heh... Masa kamu nggak tau sih. Itu kakak Hermann... Aduh Anita....." aku mulai greget pada situasi ini. Temennya mas Rahmad itu sempat bertanya padaku. Namun aku hanya tersenyum tipis padanya tanpa aku jawab. Aku kurang suka aja sama dia.


"Mana dia naikin motorku lagi, kapan kita mau pulangnya... Keburu sore ini nanti... Ihhhh..." aku semakin kesel aja.


"Ya kamu dia minta dia turun lah, terus kita pulang" kata Anita dengan enaknya.


"Luh ngomong enak banget yah... Coba sana minta dia turun" seru ku.


"Ogah... Itu motonya siapa, masa nyuruh aku sih..."kata Anita.


"Ihhhhhhh......." aku makin gemes aja sama Anita. Aku langsung membalikkan badanku dan menuju ke motorku.


"Mau pulang dek..?" tanya Sugeng. Aku hanya menganggukkan kepala ku satu kali. Dia paham. Lalu dia turun dari motorku.


"Ya cepat pulang, nanti keburu di cariin mama" lanjut perkataanya. Aku menganggukkan kepala ku dua kali. Lalu aku menaiki motorku dan putar balik. Aku menoleh ke arah Youdha dan berpamitan padanya.


"Aku pulang dulu..." kataku dengan lirih. Mungkin dia tak mendengarnya, namun dia tau dari bibirku. Dia meresponnya. Tersenyum sangat manis padaku.


Degg....


Jantungku berdebar tanpa henti. Aku tersenyum bahagia dengan keadaan ini. Lalu aku pergi meninggalkan Youdha untuk pulang.


Malam harinya Azeel baru bisa di hubungi. Aku marah marah sama dia karena dia udah permainkan kita. Tapi aku marahin dia nggak lama, karena aku mau di minta kejelasan pada Anita.


"Minta penjelasan pada Anita dong dianya mau sama kamu atau enggak" seruku pada Azeel.


"Ngomongnya gimana?" dia bertanya seperti itu padaku. Aku bener bener greget banget sama dia. Masa cuma minta kejelasan aja nggak bisa. Dodol banget tuh bocah.


"Ya Allah... masa cuma minta penjelasan aja nggak bisa. Gini lo *Anita... tolong kamu jawab terima aku apa nggak* gitu aja kok bingung sih." kataku pada Azeel.


"Oke bentar....." dia langsung meninggalkan percakapan ku dan beralih ke Anita. Lumayan lama dia tidak menghubungiku. Hingga beberapa saat kemudian dia mengirim foto padaku.


"Maaf aku nggak bisa terima kamu, maaf...


pesan dari Anita.." kata Azeel padaku.

__ADS_1


"Hmm... Yaudah deh kamu yang sabar aja..."


__ADS_2