
Ragiva tersadar merutuki kebodohannya yang malah mengagumi ketampanan makhluk dingin di depannya ini.
Devan melangkahkan kakinya mendekati Ragiva, membuat wanita itu spontan memundurkan langkahnya seiring langkah maju Devan.
Punggung Ragiva membentur tembok di belakangnya. Ia tak bisa lari kemana-mana lagi, bahkan kedua tangan Devan mulai mengekangnya dengan menempelkan kedua telapak tangannya ke tembok belakang Ragiva.
"Kau mau kemana?" Tanya Devan memajukan wajahnya yang nyaris tak berjarak dengan Ragiva.
Devan semakin mendekatkan wajahnya, membuat Ragiva dengan cepat membuang muka.
"Kau harus bertanggung jawab." Bisik Devan di telinga Ragiva membuat bulu kuduk Ragiva terasa berdiri.
Devan melepas kedua telapak tangannya dari tembok, mengambil jarak dari Ragiva dan berjalan ke lemari untuk mengambil pakaiannya.
"Tanggung jawab apanya? Mana bisa aku yang tanggung jawab. Seharusnya Kau yang bertanggung jawab karena sudah menodai kesucian mataku. Bisa-bisanya mandi nggak ngunci pintu kamar mandi?! Dasar Iblis Mesum." Tak henti-hentinya Ragiva mengomel dalam hati.
Ia langsung berjalan ke kamar mandi dengan langkah cepat dan membanting pintu kamar mandi, membuat Devan tersenyum simpul melihat ulah istrinya itu.
***
"Jane, ngelamunin apa sih? Dari tadi gue liatin, bengong aja terus. Come on, cerita sama gue. What's Your matter?" Stevy penasaran dengan tingkah laku Jane yang tak biasa hari ini.
__ADS_1
Stevy terus melirik Jane yang masih tak menggubris ucapannya.
"Jane, Janeeta!" Suara keras Stevy berhasil membuat Jane membuka mulutnya.
"Ngga ada apa-apa. Lo fokus nyetir aja." Jawab Jane malas membuat Stevy menyebikkan bibirnya.
Beberapa menit perjalanan, mereka berdua tiba di kampus dan turun dari mobil Ferrari F430 berwarna putih itu.
Janeeta dan Stevy mengambil jurusan yang berbeda. Janeeta memilih jurusan Seni dan desain sesuai dengan cita-citanya yang ingin menjadi Designer. Sedangkan Stevy memilih jurusan yang sama dengan Ragiva, yakni Manajemen.
Stevy dan Jane berpisah di koridor. Ruangan Jane berada di ujung Koridor, sedangkan ruangan Stevy berada di sebelah kiri koridor.
Sebuah tangan menarik tangan Jane dan masuk ke dalam ruangan kosong.
Jane terkejut sekaligus emosi dengan kelakuan Vito.
Jane ingin melepaskan cengkraman tangan Vito dan pergi meninggalkan ruangan ini, namun sayangnya tenaganya tak sebanding dengan Vito.
Vito semakin mencengkram tangan Jane, bahkan mengunci pergerakan wanita yang ada di depannya itu.
"Vito, Lo ngapain? Lepasin Gue!" Bentak Jane berusaha lepas.
__ADS_1
"Ngga." Vito sama sekali tak membiarkan Jane bergerak.
"Sebenernya Lo mau apa?" Tanya Jane jengah dengan perlakuan Vito.
"Sayang, Ayo kita balikan." ucap Vito memohon.
"Lo gila ya, Vit? Lepasin Gue." Jane semakin meronta membuat Vito semakin mencengkram tangannya.
"Sayang, Aku mohon. Oke, Aku salah. But, we can start all over again, right?. Please give me one chance, just one. I really Love You. (Tapi, kita bisa memulai semua dari awal lagi, kan? Tolong beri aku satu kesempatan, cuma satu. Aku benar-benar mencintaimu)" Vito merendahkan suaranya berharap Jane bisa luluh dengan gombalannya yang tentu saja hanya sekedar ucapan.
Ia tak bisa putus dari Jane sekarang, karena perusahaan orang tuanya bergantung pada keluarga Jane. Jika mereka putus, bisa saja kontrak perusahaan akan dibatalkan, dan usaha orang tua Vito bisa bangkrut. Selama Vito bisa mempertahankan Jane, perusahaan orang tuanya bisa aman dan dia bisa bermain wanita sesuka hatinya.
Janeeta sama sekali tidak merubah tekadnya. Karena dia sudah tau tujuan Vito yang sebenarnya. Jane sudah sering memergoki Vito dengan wanita lain, namun Ia tetap berusaha tenang dan meyembunyikan perasaan sakit hatinya. Jane pernah tidak sengaja mendengar rercakapan Vito dengan seorang gadis beberapa minggu lalu yang mengatakan bahwa Vito hanya memanfaatkan Jane. Mulai saat itu, perasaan Jane sama sekali tak tersisa lagi untuk Vito. Pengkhianatan dan kebohongan Vito cukup untuk mengikis habis perasaan tulus Jane padanya. Dan ini waktu yang tepat untuk lepas dari kekangan Vito.
"No, You crazy. It's Impossible. (Tidak, Kamu gil*. Itu tidak mungkin)" Jane menunduk, meneteskan air matanya yang dari tadi Ia tahan. Mengingat semua kenangan indahnya bersama Vito dan perasaan tulusnya yang dibalas dengan pengkhianatan, membuat Jane tak bisa lagi menerima Vito.
"Ngga. Kita harus balikan! Kamu harus terima aku lagi. Kita ngga boleh putus, gimanapun caranya." Vito mencengkram kedua pipi Jane, membuat Jane meringis kesakitan.
"Vito, sakit." Ringis Jane tak membuat Vito melepaskannya.
"Tolong... Vito lepasin Aku! Kamu udah gila. Siapapun di luar, tolong!" Teriak Jane membuat Vito menyunggingkan senyum liciknya.
__ADS_1