Friendship Love Story

Friendship Love Story
part 5


__ADS_3

Ragiva membuka pintu dan melihat kedua orang tuanya tengah duduk di sofa ruang tamu. Tampak jelas wajah ayahnya terlihat gusar dan ibunya yang seperti menenangkan ayahnya dengan wajah sendu.


"Giva pulang." Ucap Ragiva mendekati kedua orang tuanya dengan ragu-ragu dan perasaan heran.


Arya hanya menatap putri sulungnya dengan tatapan gusar lalu kembali menekuk wajahnya. Sedangkan Derlin meraih tangan Ragiva untuk duduk di dekatnya.


"Mi, Papi kenapa?" Tanya Ragiva semakin penasaran dengan sikap papinya.


"Giva, Mami mohon kamu jangan kaget ya." Pinta Derlin memegang kedua bahu anaknya.


Ragiva mengerutkan dahinya menatap wanita di depannya yang tak lain adalah ibunya.


"Ini sebenernya kenapa sih, Mi, Pi?" Ragiva semakin tak sabar ingin mendengar penjelasan keduanya.


"Giva, Perusahaan Papi sedang mengalami krisis keuangan. Dan para pemegang saham mau mencabut saham mereka kalau sampai Papi ngga bisa dapat suntikan dana sesegera mungkin. Dan itu jumlahnya cukup besar." Jelas Derlin membuat Ragiva menatapnya dengan sendu.


"Terus kita gimana, Mi? Kalau para pemegang saham mau cabut saham mereka dari perusahaan Papi, berarti perusahaan Papi bakal bangkrut dong, Mi?!" Ragiva tak bisa lagi menahan air matanya.


Derlin mengusap air mata putri semata wayangnya dengan lembut dan mendekap kedua pipinya.


"Sayang, kamu tenang dulu. Papi pasti akan berusaha buat kita." Derlin mencoba menenangkan perasaan anaknya itu.


Ragiva hanya menanggapi ucapan ibunya dengan anggukan lalu pamit ke kamarnya.


Ragiva melempar tas dan sepatunya ke sembarang arah lalu membuang tubuhnya ke kasur.

__ADS_1


"Apa yang harus gue lakuin supaya bisa ngebantu Papi?" Ragiva frustasi dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.


Tiba-tiba Ia teringat kedua sahabatnya.


"Guys, ayo ketemu." Pesan Ragiva terkirim dan langsung di balas oleh Stevy dan Jane lewat Grup Whtsapp mereka.


"What's wrong?" Balas Jane.


"Ada gossip apa nih?" Tanya Stevy.


"There's problem. I need your help, Guys." Ragiva mengetik dengan cepat.


"Okay. Shareloc right now." Pinta Jane.


***


"Ada apa, Gi? Kok tiba-tiba ngajak ketemuan?" Tanya Stevy saat semuanya sudah berkumpul.


"Papi lagi ada masalah di perusahaan. Dia butuh suntikan dana secepatnya, karena para pemegang saham mengancam bakal cabut saham mereka kalo Papi ngga segera dapat dana." Jelas Ragiva sendu membuat kedua sahabatnya terkejut.


"Emang berapa, Gi? cerita aja, siapa tau kita bisa bantu nyariin." ujar Jane memegang bahu Ragiva.


"300 Milliar." Ucap Ragiva membuat Jane dan Stevy membulatkan matanya.


"What? 300 M?" Kaget Stevy yang dibalas anggukan Ragiva.

__ADS_1


"Kalo sebanyak itu, kita mungkin ngga bisa bantu. apalagi Lo kan tau, kita ngga sekaya Lo." Ucap Jane.


Ragiva memijit mijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Tapi mungkin kita bisa bantu untuk setengahnya?" saran Stevy menatap Jane dan Ragiva bergantian.


"Maksud Lo?"


"We can use our cards, right? Ucap Stevy


Menunjukkan kartu debit di tangannya.


"Bener juga." ucap Jane.


"Ok. Sekarang kita udah ngumpulin setengahnya. Tinggal setengahnya lagi." Ucap Ragiva memperbaiki posisi duduknya.


"Kita bakal coba bantuin Lo nyari solusi, Gi."


"Thanks Guys." Ucap Ragiva haru lalu memeluk kedua sahabatnya itu.


TBC


**Jangan lupa like, komentar, dan vote nya Ya, Guys😊


Terima Kasih**:)

__ADS_1


__ADS_2