
"Gimana kabar Bapak?" Tanya Stevy menyodorkan minuman kepada Riswan yang sedang fokus membaca bukunya di bangku taman.
"Udah ngga apa-apa. Dokter juga udah bolehin pulang." Jawab Riswan.
"Syukurlah." Stevy tersenyum melihat Riswan yang terlihat tak lagi sekhawatir kemarin.
"Makasih." Ucap Riswan.
"Hmm?" Stevy melirik Riswan karena tak mengerti untuk apa Riswan berterima kasih padanya.
"Kamu udah khawatir sama Bapak." Riswan menatap intens Stevy membuat Stevy tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Andai kamu tau, Wan. Aku bahkan rela menukar nyawaku hanya untuk membuatmu tersenyum seandainya ada pilihan seperti itu." Batin Stevy menatap Riswan dengan tersenyum.
Stevy, bucin banget si lo😂
***
"Giva, gimana? Kamu udah pertimbangin ucapan mami, kan?" Tanya Derlin membuat Ragiva menundukkan kepalanya.
Jujur saja, ini adalah pilihan berat baginya. Ia menikah muda untuk membantu orang tuanya atau terus mengejar cita-citanya dan membiarkan perusahaan Papinya bangkrut begitu saja. Pikiran Ragiva kalut akibat buah simalakama yang di rasakannya saat ini.
Ia menarik dalam-dalam nafasnya, lalu menghembuskan dengan kasar.
"Ragiva akan menikah, Mi." Dan akhirnya, Ragiva pun memilih untuk membantu orang tuanya dan mengubur dalam-dalam mimpinya.
"Mami bangga sama kamu, Nak." Derlin memeluk Ragiva dengan sayang.
Hotel Bintang 5 Grand Sean
__ADS_1
"Ragiva, usahakan kamu tidak membuatnya marah." Bisik Arya pada Ragiva yang berjalan bersamanya di koridor menuju ruang pertemuan yang telah di sepakati.
Ragiva dan kedua orang tuanya masuk ke dalam ruangan VVIP. Mereka terpanah dengan kemegahan dan kemewahan ruangan yang sedang dipijaknya saat ini.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya." Ucap seorang laki-laki yang terlihat seperti asisten.
"Hah? Br*ngsek ini kenapa bisa ada disini?!" Ragiva terkejut melihat lelaki yang dudu di sebelah orang yang baru saja mempersilahkannya duduk.
"Jangan bilang dia ini..." Ragiva terus bergerutu di dalam hatinya membuat kedua orang tuanya yanh telah duduk menyadarkannya untuk ikit duduk.
"Jack." Ucap Devan membuat asistennya itu menyodorkan sebuah amplop yang berisi kontrak perjanjian kepada Arya.
Arya menerima dan membaca kontrak tersebut. Setelah merasa di dalam kontrak tak ada hal yang merugikan, Ia pun dengan mantap menandatangani kontrak di tangannya lalu memberikannya kembali pada Jack.
"Tinggalkan kami berdua!" Perintah Devan membuat Jack segera melangkahkan kakinya untuk keluar. Sedangkan Derlin menatap putrinya dengan tatapan sendu lalu mengusap punggung putrinya itu.
Derlin dan Arya pun ikut keluar dari ruangan meninggalkan Devan dan Ragiva.
Devan menyodorkan map coklat di hadapan Ragiva membuat Ragiva terheran.
"Apa ini?" Tanya Ragiva memegang map di depannya.
Devan menggerakkan jarinya mengisyaratkan Ragiva untuk membukanya.
"Kontrak?" Ragiva sedikit heran saat membuka map dan melihat isinya.
"Bukankah tadi sudah ada kontrak yang di tanda tangani?" Tanya Ragiva heran.
"Itu kontrak perusahaan. Dan ini kontrak khusus untukmu." Ucap Devan dengan datar membuat Ragiva kembali menatap kontrak tersebut dan membacanya.
__ADS_1
*Kontrak Perjanjian
Pihak Pertama : Devan Albert Sean
Pihak kedua : Ragiva Allya Ananta
Pihak pertama adalah aturan dan pihak kedua tidak berhak atas pembantahan.
Pihak pertama bebas melakukan apapun tanpa protes dari pihak kedua.
Pihak kedua bersedia melakukan apapun atas perintah dari pihak pertama.
Pihak pertama adalah privasi.
Pihak kedua diperkenankan melanjutkan pendidikan*.
Ragiva mengerutkan dahi melihat isi kontrak yang ada di tangannya.
"Apa-apaan ini? Bagaimana bisa seperti ini? ini tidak adil." Protes Ragiva membuat Devan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kau bisa memilih untuk tidak menandatanganninya. Tapi, tentu saja kau juga tau apa yang akan terjadi setelahnya." Ucap Devan membuat tubuh Ragiva seketika gemetar mendapat tatapan intimidasi dari Devan.
"Kenapa hanya 1 point yang menguntungkan bagiku?!" Kesal Ragiva dalam hati.
Dengan terpaksa, Ragiva pun menandatangani kontrak tersebut setelah mengingat apa yang akan terjadi jika Ia menolaknya.
__ADS_1
Tbc