
Mereka bertiga masuk ke dalam mall kemudian menuju toko sepatu branded.
Tentu saja hal tersebut sudah biasa bagi Ragiva, Janeeta, dan Stevy karena mereka adalah anak para pebisnis sukses di kotanya.
Terutama Ragiva yang merupakan anak dari Arya Ananta, Orang terkaya no 2 di negaranya setelah James Albert Sean.
Ragiva melihat kedua temannya sedang asik memilih sepatu, membuatnya mendekati kedua sahabatnya itu.
"Guys, Gue ke toilet dulu ya." Ucap Ragiva yang diangguki oleh Jane dan Stevy.
"Jangan lama-lama ya, Gi. Kalo ketemu cogan, bisa calling-caling gue." Teriak Stevy tanpa malu membuat Jane menyikut lengannya.
"Lo apaansih Stev? ngga malu diliat banyak orang?" Tegur Jane karena beberapa pengunjung melihat ke arah mereka berdua.
"Oopss.. Sorry. Tapi nama gue bukan Stev. nama gue S-T-E-V-Y." Ketus Stevy menyebikkan bibirnya.
"Sama aja." Jane menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya yang rada miring itu.
Sementara di depan toilet,
"Aw" Pekik Ragiva saat seseorang menarik tangannya masuk ke dalam toilet.
"Siapa Lo?" Ragiva kaget saat mendapati lelaki tampan nan gagah dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung, dan bibir merah berdiri di depannya dan memegang tangannya.
"Sempurna." Batin Ragiva.
__ADS_1
"Jangan berisik." Ucap Pria tersebut dengan suara beratnya.
Ragiva masih mematung seakan melihat sosok malaikat sedang berdiri di depannya.
"Cari di setiap sudut bangunan ini! Jangan sampai dia kabur." Teriak seorang lelaki di luar toilet dengan langkah kaki yang terdengar semakin mendekat.
Ragiva melepaskan tangannya dari cengkraman laki-laki di depannya dan berniat keluar dari toilet namun saat berbalik pria tersebut langsung menarik kembali tangan Ragiva hingga membuat mereka bersitatap.
"Maaf." Ucap pria tersebut lalu mencium bibir Ragiva membuat Ragiva membelalakkan matanya.
Ceklek
"Ahh.. Dasar anak muda, dimanapun tempatnya bisa jadi tempat bercinta." Ucap laki-laki yang terlihat berumur 30 an yang tiba-tiba membuka pintu toilet lalu langsung menutupnya kembali.
Ragiva membuka mulut dan menggigit bibir lelaki tersebut hingga lelaki itu melepas ciumannya.
Plak
"Dasar br*ngsek." Teriak Ragiva setelah menampar wajah lelaki tak dikenal itu.
Ragiva dengan langkah cepat keluar dari toilet dengan emosi yang tersulut sambil terus mengumpat dalam hati.
"Awas aja kalau sampai dia muncul di depan gue lagi." Geram Ragiva sambil berjalan menuju tempat sahabatnya berada.
***
__ADS_1
"Ngapain aja sih lo Gi di toilet? Lama banget." Tanya Jane yang membawa paper bag ditangannya.
"Iya nih. Kita udah selesai shopping, Lo baru nongol. Terus, tu muka ngapain lagi kaya abis kalah judi aja Lo." Ejek Stevy melihat raut wajah emosi Ragiva.
"Au ah. Ayo pulang. ngga mood Gue." Ketus Ragiva melangkah keluar dari mall.
"Eh, Gi. Tunggu."
Jane dan Stevy pun menyusul Ragiva keluar dari mall menuju ke mobil Ragiva.
Di perjalanan pulang tak satupun kata keluar dari mulut Ragiva membuat kedua sahabatnya Jane dan Stevy bingung.
Ragiva mengantar kedua sahabatnya untuk pulang, dan Ia pun pulang menuju kediaman Ananta.
***
"Anak mami udah pulang?" Ucap Derlin melihat putrinya yang datang dan duduk di sofa.
Ragiva hanya melirik maminya tanpa membalas ucapannya.
"Loh, kok baru pulang mukanya udah di tekuk gitu? Ada apa? Cerita sama mami?" Tanya Derlin duduk di samping Ragiva lalu membelai rambut putrinya dengan lembut.
"Ngga kok, Mi. Giva ngga apa-apa." Elak Ragiva menunjukkan senyum palsunya yang tetap terlihat manis.
"Giva ke kamar ya, Mi." Pamit Ragiva dibalas anggukan oleh Derlin.
__ADS_1