
"Teriak sekuat tenagapun, ngga akan ada yang bisa mendengarmu, Sayang." Ucap Vito mendekatkan wajahnya hendak mencium Jane.
Namun, tiba-tiba sebuah tendangan keras berhasil membuka pintu yang dikunci dari dalam oleh Vito.
Ryan datang di waktu yang tepat. Ia terkejut melihat wajah Jane yang penuh dengan air mata. Tanpa basa-basi, Ryan langsung menendang tubuh bagian kiri Vito dengan keras, membuat Vito terhempas ke lantai. Tak berhenti sampai di situ, Ryan kembali memukuli wajah Vito tanpa ampun hingga suara tangis Jane menghentikan gerakannya.
Ryan melihat Jane terduduk lemas di lantai membuatnya dengan cepat menghampiri Jane. Sedangkan Vito, wajahnya sudah babak belur akibat pukulan Ryan.
"Jane, Are You Okay?" Tanya Ryan lembut memegang pundak Jane.
Jane tanpa sadar, tiba-tiba memeluk Ryan dengan tangisan semakin keras.
Ryan yang mendapat pelukan dari pujaan hatinya, senangnya bukan main. Namun, Ia juga kasihan melihat kondisi Jane saat ini.
Ryan membalas pelukan Jane, mengelus rambut Jane dengan lembut.
"Ngga apa-apa. Ada Aku di sini." Ucapan Ryan berhasil membuat Jane lebih tenang.
Ryan menuntun Jane untuk berdiri, lalu menggendongnya menuju UKS.
"Nikmatin waktu terakhir Lo di kampus." Kecam Ryan kepada Vito yang masih terkapar di lantai sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Tsk. Tunggu aja pembalasan gue." Ucap Vito mengelap darah di sudut bibirnya dan berusaha untuk berdiri.
***
__ADS_1
Stevy fokus membaca buku di ruangannya
"Eh, Stevy. Lo ngga pergi ngeliat sepupu Lo?" Tanya Meta seruangan Stevy yang juga sejurusan dengannya. Yang kebetulan, Ia melihat dan mendengar keributan di koridor saat hendak ke kelas.
Stevy mengangkat sebelah alisnya, tak mengerti dengan ucapan Meta.
"Si Jane. Dia hampir dilecehin sama Vito." Jelas Meta, membuat Stevy melototkan matanya.
Gadis itu langsung berlari keluar meninggalkan Meta.
Saat sampai di koridor, Stevy melihat Vito keluar dari ruangan kosong dengan baju acak-acakan dan wajah yang babak belur.
Stevy mempercepat langkahnya mendekati Vito.
"Vito! Plak.." Stevy menampar wajah Vito membuat Vito meringis kesakitan.
Vito melepaskan tangan Stevy dari kerah bajunya, membuat Stevy menatapnya dengan tajam dan meninggalkan Vito.
"Si*l. Dasar cewek bar-bar." Umpat Vito memegang wajahnya yang semakin berdenyut sakit akibat serangan Ryan, dan tamparan dari Stevy.
***
"Jane, You okay?" Tanya Stevy panik saat tiba di UKS.
Jane mengangguk membuat Stevy memeluk Jane dengan erat.
__ADS_1
"Syukurlah." Stevy melepaskan pelukannya dan beralih menatap Ryan.
"Thanks, Lo udah nyelamatin Jane." Ucap Stevy tulus yang dibalas anggukan oleh Ryan.
"Itu udah seharusnya Gue lakuin."
Stevy kembali memeluk Jane, membuat Ryan membuka mulutnya.
"Kalo gitu, Gue cabut dulu. Jane, Kamu baik-baik ya." Pamit Ryan membuat Jane dan Stevy mengangguk bersamaan.
Setelah Ryan keluar dari ruang UKS,
"Jane, gimana ceritanya sampe bisa gini?" Tanya Stevy khawatir.
"Ceritanya panjang. Tapi Lo harus janji, jangan bilang ini ke Mami atau Papi." Pinta Jane sendu.
"Kenapa mereka ngga boleh tau? Vito harus dapat pelajaran dari perbuatan dia. Lo ngga bisa terus ngelindungin dia Jane." Ujar Stevy memegang kedua pundak sepupunya itu.
"Stevy, Please. Masalah ini cukup sampai di sini aja." Jane menundukkan kepalanya membuat Stevy menghela nafas berat.
"Okay." Stevy kembali memeluk Jane.
"Liat aja, Vito. Jane emang ngga mau balas perbuatan Lo, tapi bukan berarti Gue ngga bisa. Lo harus bayar semua yang udah Lo lakuin ke Jane. Gue pastiin Lo bakal nyesel seumur hidup." Bathin Stevy yang tidak bisa menerima jika sepupunya diperlakukan seperti ini oleh laki-laki samp*h seperti Vito.
Tbc.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, and share nya yah manteman🙏😊