Friendship Love Story

Friendship Love Story
Part 9


__ADS_3

Tak terasa sudah seminggu Ragiva menjalani kehidupan sebagai seorang istri. Ia melayani suaminya seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.


Mulai dari menyiapkan baju, sarapan, dan makan malam semua dilakukan oleh Ragiva.


Devan juga tak pernah berkomentar dengan perlakuan Ragiva. Ia juga tak pernah berbicara dengan Ragiva lebih dari 3 menit. Hal itu membuat Ragiva merasakan kebebasan sama seperti sebelum dirinya menikah. Ia bisa ke kampus dan kumpul bersama teman-temannya, karena pernikahannya juga tidak diketahui oleh teman kampusnya kecuali kedua sahabatnya, Janeeta dan Stevy.


"Gi, Suami Lo ngga marah kalau Lo ke kampus. Dan dia juga bebasin Lo buat pergi kemana aja. Menurut Lo ini normal ngga sih?" Ucap Stevy yang jiwa ghibahnya mulai muncul.


"Normal lah. Lagian kan Gigi juga ngga keluyuran ke sembarang tempat. Pasti suaminya udah percaya sama Dia." Imbuh Jane menyeruput minuman di tangannya.


Sedangkan Ragiva hanya tersenyum mendengar kedua sahabatnya itu.


Sebenarnya, Ia juga tidak mengerti dengan kehidupannya yang sekarang. Ia sudah menikah, tapi Ia juga seperti belum menikah. Komunikasi dengan suaminya pun jarang. Devan selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Hal itu membuat Ragiva menjadi anak yang mandiri, apalagi Ia tidak tinggal dengan orang tuanya.


"Heh, Gi. Mikirin apa sih?" Jane menepuk pundak Ragiva membuat wanita cantik itu langsung sadar dari lamunannya.


"Gi, pikirin lagi deh. Suami Lo jarang komunikasi sama Lo. Dia bahkan ngga pernah nelpon Lo sekalipun. Apa jangan-jangan.."

__ADS_1


"Jangan-jangan apa?" Ucap Jane memotong pembicaraan Stevy.


"Udah-udah.. Ngga usah ghibahin Gue. Gue cabut dulu." Ragiva mengambil bukunya dan melangkah meninggalkan kedua sahabatnya yang masih duduk di Kafe.


"Sebenernya Aku juga ngga tau di situasi apa Aku sekarang ini." Batin Ragiva sendu. Ia bahkan selalu bertanya-tanya apa alasan suaminya menikahinya. Jika hanya untuk menolong bisnis orang tuanya yang hampir bangkrut, juga tidak mungkin dengan seenaknya menikahi dirinya.


Ragiva masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ragiva berniat untuk mengunjungi orang tuanya. Ia pun mengirim pesan kepada Devan. Meski Ia di bebaskan oleh suaminya, Ia tetap akan meminta izin lewat chat jika ingin pergi ke suatu tempat. Walaupun pesannya hanya dibaca oleh suaminya.


***


Di tempat lain tepatnya di Sean.Corp, Perusahaan terbesar dan tersukses di negaranya. Devan sedang berkutat dengan laptopnya sebelum ketukan pintu mengalihkan fokusnya.


Devan Mengangkat sebelah alisnya menatap wanita yang masuk ke ruangannya di ikuti dengan Jack, asistennya sendiri.


"Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha untuk menahan Nona Celine, namun dia tetap bersikukuh untuk masuk." Ucap Jack menunduk.


"Sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku membawakan makanan kesukaanmu. Kau pasti belum makan, kan?" Ucap Celine mendekat ke arah Devan dengan gaya centilnya yang mungkin terlihat seksi di mata pria lain namun tidak dengan Devan yang merasa jijik dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Celine menjulurkan tangannya ingin memeluk leher Devan, namun langsung ditahan oleh Devan.


"Saya sudah memperingatkan untuk tidak datang kesini lagi. Apa nona Celine tidak mengerti bahasa manusia?" Ucap Devan dingin dengan sorot mata tajamnya.


Celine hanya tersenyum melihat perlakuan Devan padanya.


"Sayang. Kau ini bicara apa? Aku kan pacarmu. Wajar saja jika Aku datang melihatmu." Celine tak menghiraukan perkataan Devan sama sekali.


"Tsk..Pacar? Ingat, Nona Celine. Saya sudah memutuskan Anda 1 bulan yang lalu." Devan masih tak merubah ekpresinya.


"Cukup, Devan. Itu hanya keinginanmu saja. Aku tak pernah setuju kita putus. Sekarang Aku masih pacarmu, dan selanjutnya hanya Akulah yang akan menjadi Nyonya Sean." Ketus Celine tak tau malu membuat Devan menyunggingkan senyum mengejeknya.


"Jack. Bawa Nona ini keluar. Selanjutnya, jika Dia masih bisa masuk ke ruangan ini, Kau boleh pergi bersamanya." Perintah Devan yang kembali duduk di singga sananya.


"Dev, Apa-apaan ini. Kamu tega mengusirku? Dev.." Bentak Celine yang sudah di seret keluar oleh Jack.


"Lepaskan! Aku bisa keluar sendiri." Ketus Celine pada Jack membuat pria itu melepaskan cengkraman tangannya.

__ADS_1


Celine pun meninggalkan kantor Devan dengan emosi dan tak henti-hentinya mengumpat di dalam hati.


Tbc..


__ADS_2