
Jane keluar dari kelas hendak menuju ke parkiran. Namun tiba-tiba Ia melihat Vito berjalan mendekatinya karena mereka 1 universitas.
"Sayang, tolong dengerin aku dulu. Aku bisa jelasin semuanya." Vito tiba-tiba memegang tangan Jane membuat Jane segera menghempaskan tangannya.
"Ngga ada yang perlu dijelasin." Ketus Jane lalu berjalan melewati Vito.
"Sayang, aku mohon. Ini semua salah paham. Aku bisa jelasin semuanya." Vito kembali memegang tangan Jane dan memohon membuat orang-orsng di sekitar berkumpul untuk melihat mereka berdua.
"Vit, lepasin. Ngga malu apa diliat banyak orang?!" Rintih Jane karena Vito semakin memperkuat cengkaramannya.
Stevy yang kebetulan lewat, penasaran dengan apa yang terjadi. Ia pun mencoba untuk mendekat ke kerumunan orang.
"Eh, apaan nih? Ngapain Lo megang tangan sepupu Gue?" Tegur Stevy saat melihat situasi yang terjadi.
"Diem Lo. Ini bukan urusan Lo." Ucap Vito kasar membuat Stevy semakin Emosi.
"Maksud Lo apa? Lo gangguin sepupu Gue, jelas itu termasuk urusan Gue." Ketus Stevy membuat Jane segera menahannya dengan salah satu tangannya yang tidak dipegang Vito.
"Kalo Lo mau bicara, lepasin tangan Gue!" Perintah Jane membuat Vito segera melepas cengkramannya.
Jane melangkah keluar dari kerumunan dan menuju tempat yang cukup sepi membuat Stevy dan Vito segera mengikutinya.
"Waktu Lo 1 menit." Ucap Jane memperlihatkan sisi angkuhnya yang selama ini tak pernah Ia tampakkan pada Vito, sosok orang yang sangat dicintainya namun malah dikhianati.
"Sayang, Ini semua salah paham. Aku dijebak oleh Sisil. Dia yang ngegoda aku." Alasan Vito membuat Jane yang tadi memunggunginya kini menghadap ke arahnya.
"Terus Lo tergoda?" Tanya Jane datar.
"Aku-aku.." Vito terbata-bata tak tau apa yang harus Ia katakan karena memang Ia tak bisa menolak jika disodorkan hal yang menggiurkan.
"Waktu Lo habis. Selanjutnya, jangan pernah temuin Gue lagi." Ujar Jane melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Dan satu lagi. Berhenti manggil Gue sayang. Gue ngga sudi dipanggil sayang sama S*MPAH kayak Lo." Jane menekankan kata s*ampah pada Vito lalu pergi meninggalkannya yang masih mematung.
Stevy menatap tajam Vito lalu ikut pergi meninggalkannya.
"Aargghh...." Teriak Vito Frustasi meninju tembok di sampingnya.
"Aw. Siapa lagi yang naroh tembok disini." Pekik Vito.
***
Ragiva duduk di depan TV sambil memakan snack ringan bersama ibunya hingga suara pintu mengalihkan pandangan mereka.
"Papi udah pulang?!" Ucap Ragiva.
Derlin tersenyum dan segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Arya untuk menyambut kepulangan suaminya itu. Derlin meraih tas dan jas di tangan Arya membuat Arya mencium keningnya.
Mereka pun duduk di sofa di mana Ragiva duduk.
"Pi, kok liatin Giva kayak gitu?" Tanya Ragiva memperhatikan Papinya yang dari tadi tak mengalihkan pandangan padanya.
"Yang bener, Pi? Syukurlah." Ragiva lega mendengar ucapan papinya. Begitu juga dengan Derlin yang tersenyum bahagia karena perusahaan yang dibangun oleh suaminya dari nol tidak jadi bangkrut.
"Tapi.." Ucap Arya ragu-ragu.
Ragiva dan Derlin saling menatap lalu kembali menatap Arya dengan tatapan meminta penjelasan.
"Papi harus penuhi satu syarat." Lanjut Arya.
"Syarat apa, Pi?" Tanya Derlin pada suaminya.
Arya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.
__ADS_1
"Sebagai gantinya, Dia ingin menikahi Ragiva." Ucapan Arya berhasil membuat Ragiva dan Derlin terperanjat kaget.
"Apa? nikah?" Ragiva tak bisa percaya dengan apa yanh diucapkan Arya.
"Apa Papi menuetujuinya?" Tanya Derlin membuat Arya dengan terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Maafkan Papi, Giva."
Ragiva langsung berdiri dan berlari ke kamarnya di lantai 2 dengan air matanya yang berhasil lolos saat mendengar pernyataan Papinya.
"Mami ngerti maksud Papi. Biar Mami yang coba bujuk Giva." Ucap Derlin mengusap punggung suaminya lalu bergegas menyusul Ragiva.
Ragiva membanting pintu kamarnya lalu membuang dirinya di kasur.
Dengan posisi tiarap, Ia menyembunyikan kepalanya di bantal dan menangis tersedu-sedu.
"Nikah? Gimana bisa. Aku aja masih umur 21. Apalagi kalau yang dimaksud Papi nikah sama om-om yang seumuran atau bahkan lebih tua dari Papi?! Aku ngga mau." Batin Ragiva memukul-mukul kasurnya membayangkan boss om-om seperti yang ada di TV.
"Giva, buka pintunya, Nak. Mami mau ngomong." Teriak Derlin dari luar namun sama sekali tak di gubris oleh Ragiva.
Derlin mencoba membuka pintu kamar Ragiva yang ternyata tidak dikunci. Ia pun masuk dan melihat Ragiva yang kini menangis tersedu-sedu.
"Giva, jangan gini Nak. Papi juga ngga punya pilihan lain. Ini demi perusahaan, demi kebaikan kamu juga. Papi ngga mungkin mau ngeliat kamu sengsara. Papi melakukan semua ini pasti ada alasannya." Bujuk Derlin duduk di pinggir kasur lalu mengusap rambut putrinya dengan lembut.
Ragiva mengangkat kepalanya menatap ibunya dengan sendu.
"Mi, Giva ngga bisa. Giva masih kuliah masih mau mengejar cita-cita Giva. Giva belum siap kalau harus nikah." Rintih Ragiva membuat Derlin menatap Ragiva dengan sendu.
"Nak, Kamu juga harus mikirin posisi Papi kamu. Kalau perusahaan bangkrut, Kita mau tinggal dimana? mau makan apa? Ini juga berat buat Papi, buat Mami." Jelas Derlin.
Ragiva terdiam mempertimbangkan ucapan Maminya dan mengingat semua pengorbanan Papinya untuk membangun bisnisnya itu, yang tentu saja tidak mudah dan harus mengalami jatuh bangun berkali-kali.
__ADS_1
"Mami harap, kamu bisa pertimbangin ini." Ujar Derlin lalu keluar meninggalkan Ragiva yang masih berpikir.
TBC