
Happy Reading🌹
Matahari telah berada di puncaknya. Hawa panas semakin terasa, dengan di iringi hembusan angin yang bersiul masuk melalui lubang udara. Aktivitas orang orang semakin padat, dengan banyaknya kendaraan yang memenuhi seluruh isi jalanan kota.
Hyejin membuka layar ponselnya, dan terlihat sebuah panggilan tak terjawab dari nomor seseorang yang tak di kenal. Lantas ia pun mengabaikan nya dan berlalu meletakkan ponselnya di atas ranjang.
"Hyejin, hari ini Kakak akan bekerja mulai siang hari. Jadi saat sore menjelang malam, aku sudah pulang," ucap Yohan seraya berjalan mendekati pintu utama. Hyejin pun hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.
Selang beberapa waktu setelah kepergian sang kakak, Hyejin yang merasa bosan itu akhirnya memutuskan untuk pergi menuju taman yang terletak di pusat kota.
Yah, mungkin membutuhkan waktu sekitar 20 menit jika dengan berjalan kaki untuk bisa tiba di tempat itu.
"Apa aku mengajak Ye-In saja?" gumamnya. Ia pun beralih mengambil ponselnya lagi dan langsung menghubungi nomor Ye-In.
Ia mencoba beberapa kali untuk menghubungi sahabatnya, namun hasilnya tetaplah nihil karena Ye-In tidak juga kunjung mengangkat panggilan telepon darinya. Tidak sekedar itu saja, nomor Ye-In juga tidak aktif.
Akibatnya, Hyejin pun menuju ke taman pusat kota seorang diri. Dia berjalan kaki untuk menuju ke tempat itu. Karena membutuhkan biaya jika harus menggunakan kendaraan umum.
Tidak berselang lama, tibalah Hyejin di taman pusat kota. Penampilannya yang hanya menggunakan pakaian biasa sehari-hari dengan rambut kepang dua menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian sepasang mata.
"Kenapa mereka menatapku seperti itu, sih?" pikirnya sedikit merasa jengkel.
Taman pusat kota adalah tempat untuk orang orang yang merasa bosan di hari libur. Mereka datang ke tempat seperti itu karena tidak memerlukan biaya. Lebih tepatnya tempat wisata umum gratis.
Di sana juga terdapat banyak sekali penjual keliling jalanan dengan mobil. Hyejin yang melihatnya sontak tertarik untuk mencoba beberapa makanan yang di jual di sana.
Namun karena dirinya yang tidak mempunyai uang, ia pun hanya bisa menatap orang-orang yang tengah memakan jajanan itu. Meskipun sempat iri, tetapi itu bukanlah hal yang baik.
Langit yang sebelumnya terlihat cerah tampak berubah menjadi gelap. Sayup-sayup angin mulai berhembus dan dedaunan banyak berterbangan akibat rontok dari rantingnya.
Beberapa orang yang sedang asyik menikmati makanan mereka lantas menjadi buyar. Mereka yakin kalau sebentar lagi hujan akan kunjung datang dari langit.
__ADS_1
Berbeda dengan Hyejin, ia sendiri masih menikmati kesejukan di tempat itu. Tidak memperdulikan orang-orang yang tengah menatapnya, adalah hal yang tepat. Kejadian seperti itu sudah sering dialami oleh Hyejin.
Brrrrr ...
Dia menyentuh perutnya yang berbunyi. Hyejin sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa lapar yang dirasakannya sejak tadi. Ia pun segera bangkit dari kursi taman untuk segera pulang ke rumahnya.
Baru beberapa saat melangkah dari area teman, gadis itu sudah dikepung oleh air hujan yang turun dari langit. Terpaksa atau tidak, dirinya harus berteduh di depan sebuah toko untuk sementara waktu.
"Kenapa hujan baru turun sekarang?" ucapnya bertanya-tanya dalam hati.
Hampir sekitar 30 menit lamanya berada di tempat itu, hujan masih belum juga reda. Hyejin pun akhirnya terpaksa angkat kaki meninggalkan tempat untuk berteduh nya lantaran sudah tidak bisa menahan rasa lapar lagi lebih lama.
Gadis itu terus berlari, untuk bisa tiba di rumahnya lebih cepat. Tidak perduli sebasah apa dirinya terkena air hujan, yang terpenting baginya adalah cepat-cepat tiba di rumah.
Ckittt___
Sebuah mobil berwarna hitam mewah mengkilap mendadak berhenti saat Hyejin tak sengaja menyeberang di jalan raya tersebut.
Gadis itu menoleh pada sebuah kendaraan mobil yang berhenti tepat di depannya.. Jika mobil itu tidak berhenti tepat pada waktunya, mungkin saja nyawa Hyejin akan tamat karena tertabrak.
Gadis itu lantas membulatkan kedua bola matanya, melihat pria yang kemarin baru ia temui di rumah Yongju.
"Maaf Paman." Hyejin membungkukkan badannya beberapa kali hanya untuk meminta maaf pada Jowon, pria yang kini sedang berdiri di sebelahnya.
"Kenapa kau di sini? Tidak bawa payung?" tanya nya dengan suara lembut. Dia juga sempat menyentuh pundak Hyejin dan mengelus rambutnya yang sudah basah kuyup akibat kehujanan.
"Tidak," balasnya seraya menggeleng pelan. Gadis itu sama sekali tidak berani untuk menatap wajah pria dihadapan nya. Dia takut kalau Jowon akan memarahinya sampai habis.
Cukup lama keduanya berhadapan, sontak hal itu menjadi pusat perhatian orang-orang disekitar yang menatapnya. Bagaimana tidak? Sosok gadis biasa seperti Hyejin sedang di belas kasihani oleh seorang pria konglomerat generasi ke-2.
Jarang jarang orang kaya bisa membelas kasihani pada orang rendahan, termasuk Hyejin. Gadis yang kini sedang diajak berbicara olehnya.
__ADS_1
"Masuklah, akan Paman antar ke rumah," papar nya sembari mempersilahkan Hyejin untuk masuk ke dalam mobilnya.
Posisi Jowon saat ini juga sama seperti Hyejin, pakaiannya telah basah karena air hujan yang turun dari langit masih deras.
Tidak tanggung-tanggung, Jowon juga membukakan pintu mobil agar Hyejin bisa langsung masuk saja.
Namun gadis itu menolaknya ramah dengan alasan tidak pantas untuk masuk ke dalam mobil semewah itu.
"Tidak apa, masuk lah. Paman juga tidak keberatan," imbuhnya.
Namun pada akhirnya, Hyejin pun menerima tawaran dari Jowon meskipun sempat merasa ragu. Dia memberitahu alamat rumahnya pada pria itu, dan kemudian mobil pun melaju menuju perumahan di blok Gangnam nomor 11.
Selama diperjalanan, suasana canggung menyelimuti keduanya lantaran tidak ada topik bagus untuk dibicarakan.
Apalagi Hyejin yang sedari tadi hanya terdiam dengan menatap jalanan membuat Jowon ragu untuk memulai pembicaraan.
"Ah, siapa namamu?" tanya Jowon seraya menatap gadis yang duduk di sebelahnya. Lantas hal itu membuat Hyejin berpaling dan memilih untuk menatap pria yang baru saja bertanya.
"Saya, nama saya Hyejin Oh."
"Kenapa kau tinggal di perumahan blok Gangnam nomor 11? Bukankah perumahan di sana sangat kecil dan kumuh?" lanjutnya bertanya.
Hyejin hanya bisa menunduk dan menahan rasa malu lantaran Jowon bertanya sesuatu yang seharusnya tidak pantas ia tanyakan.
"Ah, maaf! Sepertinya Paman sudah menyinggung mu," cakap nya.
Gadis itu menggeleng dan tersenyum tipis seraya menjawab, "Aku tinggal di sana karena aku hanya hidup bersama kakakku. Nenekku bilang, orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil, lalu nenekku juga pergi dari dunia ini saat aku masih berusia 6 tahun."
Jowon terdiam, dia merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja terlontar dari mulut gadis itu. Yah, hidupnya sangat menyedihkan bahkan cenderung hidup sengsara.
Bersambung🍁
__ADS_1
Like, komen, vite, gift atau fav karya ini ya~
(๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ