
Happy Reading🌹
Pagi hari yang tenang dan tentram, hanya ada suara kicauan burung yang terlintas di telinga. Sembari di sejukkan oleh angin yang bersiul masuk melalui lubang udara. Cahaya mentari pagi menembus kaca jendela menyinari seluruh ruangan.
Kring!!! Hyejin terbangun dari tidur lelapnya setelah semalaman berbaring di ranjang. Tak terasa, sudah satu bulan berlalu sejak awal bersekolah di SMA Chunja.
Dia berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang tercium bau aroma tak sedap. Seusai membersihkan diri, seperti biasa Hyejin langsung menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
"Wah, aromanya enak sekali!" lontar Hyejin seraya duduk di sebuah kursi. Lalu Yohan tersenyum kecil menanggapinya.
"Hari ini Kakak ada kerja kelompok setelah sepulang sekolah, jadi maaf Kakak tidak bisa menjemputmu," ucapnya menatap sang adik yang sedang sibuk menyantap makanan di meja.
"Twi-- dwak pwa-pwa," jawabnya dengan makanan penuh di dalam mulut.
Waktu menunjukkan pukul 06.22. Hyejin bersama Yohan berjalan menuju SMA Chunja. Hanya dengan waktu sepuluh menit, keduanya pun akhirnya tiba di sekolah tujuan.
"Aku pergi dulu, ya!" lontar Yohan sambil melambaikan tangannya.
Hyejin duduk di sebuah kursi, wajahnya terlihat sangat berseri pagi ini. Dilihatnya seluruh isi ruangan kelas telah dipenuhi oleh orang orang yang menurutnya menjengkelkan.
"Selamat pagi, Hyejin ... " sapa Ye-In setelah dirinya memasuki ruangan kelas.
Yah, selama satu bulan ini Ye-In selalu berada di sisi Hyejin. Ia berteman apa adanya dengan gadis itu, meskipun orang orang banyak memandang buruk pada Hyejin.
Selang beberapa waktu, seorang guru laki-laki memasuki ruangan kelas. Tampak beberapa lembaran kertas serta buku buku tebal di genggamannya.
Guru itu memiliki sifat emosional yang tinggi, dia suka memarahi anak yang sulit diajari dikelasnya mengajar.
"Selamat pagi anak anak," sapa guru laki-laki itu. Namanya adalah Mansik Choi atau yang biasa dipanggil dengan sebutan pak Choi.
"Selamat pagi Pak!" balas mereka semua dengan kompak.
Pelajaran pertama telah dimulai, suasana kelas seketika hening setelah pak Choi mulai menjelaskan materi pertamanya.
__ADS_1
"Pak, saya ingin pergi ke belakang," ucap Hanbyeol Sook dengan tangan yang diangkat ke atas. Kemudian pak Choi membalasnya dengan mengangguk kecil.
Hanbyeol keluar dari ruangan kelas menuju pintu belakang, dimana di sana dirinya menatap sinis pada Hyejin. Selama ini Hanbyeol selalu iri terhadap Hyejin yang selalu di puji oleh banyak guru yang mengajar di kelasnya.
Beberapa saat kemudian, pak Choi menyuruh murid muridnya untuk membacakan hasil jawabannya di depan kelas. Atau yang biasa disebut dengan presentasi.
Anak yang pertama maju adalah Daeshim Gu, anak laki-laki yang selalu mendapat peringkat pertama di sekolah sebelumnya.
Dia terkenal akan ketampanan serta kecerdikannya. Bukan hanya itu, Daeshim juga berasal dari keluarga yang amat kaya. Dirinya tinggal di sebuah apartemen besar di Gangnam bersama sang Ibu.
"Ekhem ... ekhem ..., berdirinya saya di sini saya akan mempresentasikan hasil jawaban dari mata pelajaran Studi Sosial kali ini," ucap Daeshim membuka pembicaraan.
Kemudian ia berangsur membacakan hasil jawabannya dengan begitu lancar, hingga semua anak ternganga menatapnya.
Prok ... prok ... prok ...
Sorak sorai dan tepuk tangan terlintas padanya. Daeshim pun kembali duduk setelah mendapat nilai A+ di buku penilaian pak Choi.
Daeshim memiliki badan yang tinggi, berkulit putih serta rambut berwarna hitam. Kedua bola matanya juga bahkan berwarna hitam. Anak itu jarang sekali berbicara, apalagi tersenyum. Seakan memikul beban berat dalam hidupnya.
Hyejin melirik pada Daeshim, dilihatnya wajah yang suram seperti biasanya. Dengan memberanikan diri, Hyejin pun lantas bangkit dari kursinya dan perlahan melangkah menuju ke depan kelas.
Banyak sepasang mata memandangnya buruk, sorotan mata dari orang orang itu terlihat sinis di wajah Hyejin.
"Selamat pagi semua ..., saya Hyejin Oh. Apakah kalian tau tujuan saya berdiri di sini? Yap! Benar sekali, saya akan membacakan hasil jawaban saya dalam presentasi berikut."
"Sialan, aku menyesal satu kelas dengan gadis gila ini," ucap Hanbyeol dalam hati.
Selang beberapa waktu, Hyejin pun kembali ke tempat duduknya. Dia mendapat nilai yang sama besarnya dengan Daeshim. Banyak anak menganggap keduanya saling bersaing meraih nilai tertinggi di kelas.
"Dua anak ini memang incaran sekolah mana saja, ya," lontar pak Choi yang sontak membuat Hanbyeol dengan dua sahabatnya itu geram.
Kring!!! Bel istirahat berbunyi nyaring. Seluruh guru yang masih sibuk mengajar lantas beranjak meninggalkan ruangan kelas. Disusul oleh siswa siswi yang tak sabar menuju kantin untuk mengisi perut mereka masing masing.
__ADS_1
"Hei!" Hanbyeol berteriak, membuat seluruh anak di dalam ruangan kelas menatapnya. Termasuk Hyejin.
Dengan perlahan, Hanbyeol bersama Naseo dan Jinsang pun mendekati Hyejin yang tengah terduduk diam di kursinya. Ia masih menatap bingung orang orang itu.
"Kau hanya gadis biasa, jangan sok pintar," kata Naseo tiba tiba.
"Bocah gila ini ingin mati, ya?" tanya Jinsang sembari mendekatkan wajahnya pada Hyejin.
Tangannya gemetaran, ingin secepatnya pergi dari situasi saat ini. Namun apa boleh buat? Mereka sudah terlanjur mengepung Hyejin di tempat duduknya.
"Sudahlah, kenapa kalian terus mengganggu Hyejin? Nanti keluarganya bisa marah, loh ... " sindir Ye-In pelan.
"Kau tidak perlu ikut campur jika tidak ingin terkena masalah!" tandas Hanbyeol dengan tatapan sinis tertuju pada Ye-In.
Ruangan kelas menjadi ramai karena ulah Hanbyeol dan dua sahabatnya. Yah, memang sejak awal tidak ada satupun orang yang menyukai Hyejin kecuali Ye-In.
Tetapi keadaan terus membela Hyejin, yang mana dirinya terpilih sebagai wakil ketua kelas. Mungkin karena dia terlalu pintar untuk dijadikan orang biasa di kelas tersebut.
Beberapa anak yang selalu membela Hanbyeol lantas ikut mencemooh Hyejin. Karena hilang kesabaran, ia pun dengan berani mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk takut.
"Kalau kau iri, bilang dong!" Hyejin beranjak keluar dari ruangan kelas. Langkahnya cepat sampai sosoknya tidak terlihat hanya dalam sekedip mata.
Lantas Ye-In pun ikut keluar dari ruangan kelas. Dia tidak tega melihat sahabatnya yang pergi sendirian tanpa seorang pun teman disisinya.
Begitu tiba di kantin, Hyejin yang masih dengan langkah cepat itu tak sengaja menabrak seorang lelaki tampan dengan kedua bola mata berwarna coklat. Rambutnya berwarna hitam dan badannya terlihat tinggi.
Sorot matanya itu menatap Hyejin yang begitu pendek jika dibandingkan dengan lelaki di hadapannya.
"Ah, ma-- maaf," ucap Hyejin gugup. Ye-In yang melihatnya dari kejauhan pun langsung berlari menghampiri dua orang yang sepertinya sedang ada masalah.
"Maafkan teman saya, Kakak."
Anak laki-laki itu berlalu meninggalkan keduanya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Untung saja Ye-In ada di sana, jika tidak mungkin saja Hyejin sudah terlibat masalah dengan anak tadi.
__ADS_1
Bersambung🍁
Jangan lupa like dan komennya ya guys. Gratis kok🥺