
Happy Reading🌹
Suasana kantin sekolah yang ramai. Beberapa anak berebut untuk mendapatkan makanan yang mereka inginkan. Hyejin dan Ye-In duduk di sebuah kursi dengan tatapan canggung yang terpampang di mata mereka.
"Hah ..., untung saja aku datang. Bagaimana jika tidak?!!" oceh Ye-In. Dia membelai rambut dengan tangan kanannya.
"Kenapa kau bicara seperti itu terus sejak tadi?" tanya Hyejin merasa heran dengan sikap sahabatnya yang agak aneh.
"Kau tidak tau, ya? Dia kan anak dari seorang konglomerat generasi ke-2 di kota ini. Sifatnya juga tidak sebaik yang kau bayangkan," ungkap Ye-In.
"Oh, begitu. Berarti aku sudah bersalah telah menabraknya tadi." Ye-In mengangguk.
"Ye-In," panggil Hyejin seraya manatap Ye-In yang tengah melamun entah memikirkan apa.
"Ya?"
"Aku takut jika akan kembali ke kelas. Aku tidak tau kenapa aku bisa berkata seperti itu tadi," ucap Hyejin. Dia merasa tidak tenang setelah mengatakan hal konyol terhadap Hanbyeol dan dua sahabatnya.
"Tidak papa. Justru jika kau bersikap berani seperti tadi, mungkin mereka akan berhenti mengganggumu?" sahut Ye-In.
*****
Waktu telah menunjukkan pukul 17.22. Seluruh anak berdesakan untuk bisa keluar dari halaman sekolah. Anak anak itu sudah tak sabar untuk kembali ke rumah mereka masing masing.
Hyejin memperhatikan sekeliling, namun tak tampak seseorang yang sedang ditunggu olehnya sejak tadi. Sesaat ia baru tersadar, bahwa kakaknya itu sedang ada tugas kerja kelompok di rumah temannya.
Dengan pasrah, Hyejin pun melangkah secepat mungkin agar dapat segera tiba dirumahnya. Apalagi dengan langit yang sudah terlihat gelap, membuatnya takut untuk berada di jalanan seorang diri.
Hari telah berlalu. Hyejin terbangun kan oleh sebuah alarm yang berbunyi nyaring tepat di sebelah telinganya.
"Hoam ... jam berapa ini?" Hyejin menatap sebuah jam yang terpampang di dinding kamarnya. Ternyata dia tak sengaja ketiduran sejak pulang sekolah kemarin.
Seusai membersihkan diri, seperti biasa Hyejin langsung menuju ruang makan untuk menyantap makanan buatan kakaknya.
Dilihatnya sebuah meja makan yang kosong dan tak terlihat satupun makanan di atasnya. Hyejin menengok ke arah dapur, yang mana biasanya Yohan sibuk berada di sana.
"Ish, kemana kakak?" tanya Hyejin pada dirinya sendiri setelah melihat ruangan dapur yang kosong.
__ADS_1
"Ka-- "
"Aku tidak membuat sarapan pagi ini," ucap Yohan cepat. Dia muncul secara tiba tiba dari balik pintu kamarnya, sontak hal itu membuat Hyejin sedikit terkejut.
"Kemarin aku pulang malam, jadi aku tidak sempat bekerja. Sebagai gantinya, aku sudah membuatkan bekal untukmu," imbuh Yohan.
Hyejin pun mengangguk setelah dirinya mengerti. Yah, meskipun hal seperti ini baru terjadi sekali dalam hidupnya.
Hyejin meraih ransel yang sudah disiapkan di atas lemari kecil dan menggendongnya. Dia berjalan pelan menuju pintu keluar rumah.
Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, keduanya pun tiba di sekolah tujuan. Begitu Hyejin memasuki halaman sekolah, sang kakak langsung berlalu meninggalkannya.
Yohan juga akan pergi ke sekolahnya yang cukup jauh dibandingkan dengan sekolah Hyejin. Dia tidak tega jika melihat adik kecilnya itu pergi ke sekolah hanya seorang diri.
Kring!!! Bel masuk berbunyi. Seluruh anak yang sedang mengobrol di luar kelas lantas seketika buyar menuju ruang kelas mereka masing masing.
Baru beberapa saat setelah bel masuk berbunyi, suara langkah kaki yang terdengar familiar berjalan menuju kelas Hyejin. Mereka yang berada di dalam kelas lantas mengeluarkan bukunya dari dalam ransel.
"Selamat pagi anak anak," sapa bu Suji dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Pelajaran pertama pun dimulai, suasana kelas yang begitu hening membuat siapa saja nyaman untuk berada di dalamnya.
*****
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 09.30. Begitu bel istirahat berbunyi, siswa siswi itu langsung berlarian menuju kantin bersama teman terdekat mereka.
Berbeda dengan kelas 10#4. Di dalam ruang kelas itu belum ada satupun anak yang berjalan menuju kantin. Entah apa yang membuat mereka menatap sinis pada Hyejin.
"Apa gara gara kemarin?" batin Hyejin merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Kemudian seorang anak laki-laki berlari mendekatinya. Ia meraih ransel milik Hyejin dan dengan santai melemparkan nya pada anak yang lain secara bergantian.
"Ti-- tidak! Ada makanan didalamnya," ucap Hyejin berusaha menghentikan tingkah anak anak itu.
"Hah? Makanan? Pasti enak, kan?" Hanbyeol membuka ransel Hyejin. Lalu ia menemukan sebuah kotak makan berwarna biru muda, warna kesukaan Hyejin.
Tanpa rasa belas kasihan, Hanbyeol lantas membuka kotak makan itu lalu menumpahkan nya ke bagian kepala Hyejin.
__ADS_1
Seketika teman-temannya itu langsung tertawa terbahak-bahak melihat kejadian yang menurut mereka menyenangkan. Meskipun sebenarnya hal itu benar benar membuat Hyejin merasa sakit hati.
Kejadian itu terhenti saat seorang kakak kelas tak sengaja memasuki ruang kelas 10#4. Hanbyeol dengan cepat menyembunyikan kotak makan Hyejin di tangannya.
"Eh? Anak itu kenapa?" tanya seorang anak laki-laki. Yah, namanya adalah Duho Lee. Lelaki itu terkenal dengan ketampanannya serta hatinya yang baik. Dia juga begitu murah senyum terhadap siapa saja.
"Ti-- tidak apa apa. Dia memang begini anaknya, lucu ya?" kata Hanbyeol berusaha mencairkan suasana.
Kemudian Duho dengan mudahnya percaya pada omongan gadis itu. Memang, keduanya adalah teman dekat. Siapa sih yang tidak mengenal Hanbyeol? Seorang gadis yang begitu populer di kalangan sekolah dan medsos.
"Kakak mencari Hanbyeol?" tanya Jinsang sedikit menebak. Namun ternyata tebakannya itu benar, setelah Duho membalasnya dengan anggukan pelan.
"Hanbyeol sangat beruntung," timpal Naseo sedikit merasa jengkel lantaran dirinya tidak sepopuler sahabatnya.
"Kau iri, ya?" ledek salah seorang temannya. Naseo pun hanya menatap sinis temannya itu.
"A-- aku, keluar dulu ... " ucap Hanbyeol seraya meninggalkan ruangan kelas bersama Duho. Banyak sekali gosip mengatakan bahwa keduanya memiliki hubungan, namun itu belum jelas.
"Ahh ..., jadi tidak menyenangkan," kata Jinsang sembari duduk di kursinya. Seketika suasana kelas kembali damai seakan tak terjadi apa apa.
Lantas Hyejin pun berlalu meninggalkan kelas bersama Ye-In menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah kotor penuh dengan makanan.
"Kau, tidak papa?" tanya Ye-In merasa khawatir dengan keadaan gadis di sebelahnya itu. Namun Hyejin hanya tersenyum dan tak merespon apa apa.
"Bagaimana caranya agar dia tidak lagi di ganggu?" batin Ye-In.
Tok ... tok ... seseorang tiba tiba mengetuk pintu kamar mandi itu. Sontak membuat keduanya terkejut.
"Siapa?" tanya Ye-In dari balik pintu.
"Naseo. Anggap saja kau beruntung, ya?" balas gadis itu yang kemudian berlalu angkat kaki meninggalkan ruang kamar mandi.
Bersambung🍁
Bantu dukung karya ini, ya! Dengan cara like, komen, vote, gift, and fav. Oh ya, beri tips juga jika kalian bisa.
Thank you🥀
__ADS_1