Gadis Cupu Anak Konglomerat

Gadis Cupu Anak Konglomerat
Bab 5 : Tidak Perduli


__ADS_3

Happy Reading🌹


Terik matahari yang sudah berlalu tergantikan oleh langit gelap, suasana ramai dipenuhi oleh orang orang yang sedang sibuk beraktivitas menjalankan kegiatan masing masing. Lalu angin bersiul mampu merontokkan dedaunan dari batang pohonnya.


"Hai, gadis kecil," sapa Yohan dengan tubuh berdiri tegak memandang Hyejin. Ia sudah berdiri kurang lebih selama 30 menit di tempat itu.


"Ah, Kakak? Ayo pulang," ajaknya tidak sabar seraya menarik lengan sang kakak. Yohan hanya tersenyum melihat tingkah Hyejin.


Tak terasa keduanya pun akhirnya tiba di sebuah perumahan kecil tempat tinggal mereka. Hyejin langsung berbaring di ranjangnya dengan raut wajah lesu.


Begitu langit semakin gelap, Yohan pun berpamitan akan bekerja paruh waktu di sebuah toko swalayan di seberang jalan. Seperti biasa, ia akan bekerja mulai pukul tujuh malam hingga pukul dua belas malam.


Hal itu Yohan lakukan setiap harinya demi memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang adik.


"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik baik," ucapnya yang kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah.


Waktu menunjukkan pukul 01.13. Hyejin yang belum terlelap dalam tidurnya lantas membuka kedua bola matanya lebar lebar. Ia menatap angka jarum jam yang terpampang di dinding di kamarnya.


"Sudah jam segini, kenapa kakak belum kunjung pulang?" gumamnya seraya turun dari ranjang. Ia berdalih menuju dapur untuk membuat sesuatu.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu tiba tiba terdengar. Sontak hal itu membuat Hyejin kalang kabut. Dia segera berlari kembali menuju kamarnya untuk bersembunyi. Bahkan dirinya belum sempat menuju dapur.


Tok ... tok ... tok ...


Suara itu kembali terdengar di telinganya. Dengan gugup Hyejin meraih sebuah selimut lalu mengurung dirinya di dalam selimut tersebut. Seluruh tubuhnya telah dibasahi oleh keringat dingin yang terus mengalir.


Cek lek ...


Pintu itu terbuka, lalu terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah kamar Hyejin.


Gadis itupun seketika teringat dengan pintu kamar yang belum sempat ia kunci. Segeralah dirinya bangkit dari ranjang untuk mengunci pintu kamarnya.


"Khiekkkk." Sebuah monster aneh tiba tiba muncul dari balik pintu sebelum Hyejin berhasil mengunci pintunya.


Alhasil ia pun terseret keluar dari kamar karena monster itu menarik lengannya. Tanpa sadar, sebuah dimensi aneh telah membawanya ke dunia yang berbeda bersama dengan monster itu.


*****

__ADS_1


Kring!!!


"Hosh ... hosh...." Hyejin terbangun dari mimpi buruk nya setelah mendengar suara alarm berbunyi.


Wajahnya telah dipenuhi oleh keringat, bahkan tangannya terlihat begitu gemetaran. Dia menoleh ke arah jam dinding dan terlihat waktu telah menunjukkan pukul 05.00 tepat.


Dengan cepat ia bangkit dari ranjang untuk membersihkan tubuhnya. Begitu selesai membersihkan tubuh, Hyejin beralih menuju ruang makan untuk menyantap sarapannya.


"Kenapa wajahmu begitu?" tanya Yohan yang menyadari akan raut wajah aneh dari gadis di hadapannya.


"Aku bermimpi aneh. Sangat menyeramkan," balasnya. Ia meraih sebuah piring serta garpu dan sendok untuk digunakannya.


Seusai sarapan, keduanya pun langsung menuju SMA Chunja. Namun pagi ini Yohan tak bisa mengantarkan adiknya ke sekolah karena dia sendiri harus menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda semalam.


"Baiklah, tidak masalah. Aku akan berangkat sendiri," ujarnya seraya berlalu meninggalkan rumah.


Hanya dalam waktu kurang lebih 20 menit lamanya, Hyejin akhirnya tiba di sekolah tujuan. Belum sempat menaruh ranselnya di kelas, ia sudah dihampiri oleh anak anak yang menyebalkan menurutnya.


Mereka berdiri di koridor sekolah, banyak sekali sepasang mata menatap Hyejin serta tiga anak dihadapannya.


"Berikan tas mu," kata Hanbyeol berusaha meraih ransel di punggung Hyejin.


"Belagu sekali kau!" timpal Naseo merasa kesal dengan tingkah Hyejin pagi ini.


"Masih pagi sudah bikin keributan, apa tidak lelah?" Ia berusaha menyindir anak anak itu. Namun mereka tak menggubris nya, justru malah semakin berulah.


Jinsang dengan cepat menarik ransel Hyejin lalu mendorongnya, dia belum puas akan hal itu.


"Hei! Kembalikan tas ku!!" teriaknya berusaha membela diri.


Anak anak lain yang melihat kejadian itu lantas hanya terdiam, mereka merasa hal seperti ini seru untuk ditonton. Apalagi jika protagonis nya adalah orang yang lemah.


"Sialan, bikin malu saja," decak Hyejin dalam hati.


Karena geram, Hyejin pun tidak tinggal diam. Dia langsung bangkit dan berlalu pergi meninggalkan anak anak itu. Yah, gadis itu tidak perduli dengan ransel yang berada di tangan mereka.


"Dia pergi?" tanya Hanbyeol menatap Naseo. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.


Kring!!!

__ADS_1


Suara bel masuk berbunyi nyaring di setiap ruang kelas, bahkan sampai terdengar di koridor sekolah. Lantas suara itupun membuyarkan kerumunan siswa yang masih berada di koridor tadi.


Mereka memasuki ruang kelas masing masing dengan tergesa-gesa. Peraturan di SMA itu memang terlalu ketat, tapi Hyejin tidak pernah sekalipun merasa keberatan.


Suasana hening berada di setiap kelas. Tidak ada satupun siswa maupun siswi yang berani membuka mulut mereka setelah guru memasuki ruangan kelas.


"Selamat pagi semuanya, bagaimana kabar kalian?" Seorang guru yang berdiri di depan kelas itu menyapa seraya bertanya. Dia terlihat begitu gembira pagi ini.


"Pagi Pak, kami baik ... " sahut mereka semua dengan kompak.


Pelajaran pertama dengan mata pelajaran Sains pun dimulai. Mereka mendengarkan penjelasan dari guru dengan seksama. Bahkan semuanya terlihat begitu fokus saat mengerjakan soal latihan.


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


Sementara itu, seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah lain tengah sibuk mendengarkan musik di ponselnya. Dia tidak sadar jika seorang gadis tengah duduk disebelahnya sejak tadi.


"Hei," sapa gadis itu yang sontak membuat Yohan kalang kabut. Dia merasakan sensasi berbeda saat gadis di sampingnya itu menyentuh tangannya.


"Apa?" tanya Yohan dengan tatapan sinis. Dia memang tidak menyukai gadis itu, yakni teman satu kelasnya.


"Aku hanya menyapa. Bisa tidak jika kau menatapku biasa saja?" sergah nya merasa sedikit jengkel.


Gadis itu memiliki rambut pendek sebahu dengan tubuh yang elok. Banyak anak lelaki yang mendekatinya, bahkan rumor tentangnya tersebar bahwa gadis itu memiliki banyak mantan kekasih.


Namanya adalah Hana Jung, gadis yang lumayan populer.


"Tidak bisa," balas Yohan acuh tak acuh. Dirinya segera bangkit dari kursi dan tidak memperdulikan Hana yang tengah berbicara dengannya.


Yah, banyak anak yang menganggap Yohan sebagai anak tak punya hati karena sikapnya yang jarang perduli terhadap orang lain. Mereka juga mampu mengetahui beban hidup yang ditanggung hanya dengan melihat dari sorot mata Yohan.


"Ayolah, jangan pergi ... " ucap Hana lirih. Dia pun pasrah dan tak ingin mengejar lelaki yang sudah berlalu meninggalkannya sendirian di tempat itu.


Tanpa disadari, ternyata teman teman Hana juga tengah menyaksikan hal itu. Mereka melihat dengan jelas bahwa Yohan mengabaikan perempuan secantik Hana. Lebih tepatnya idaman para anak lelaki di sekolah.


Bersambung 🍁


Tinggalkan jejak kalian dengan cara like, komen, vote, gift and fav. Kalian juga bisa memberi tips pada karya ini^^


Salam manis Author, semoga kalian selalu bahagia ya. Thanka you🥀

__ADS_1


__ADS_2