Gadis Cupu Anak Konglomerat

Gadis Cupu Anak Konglomerat
Bab 12 : Menyadari Sesuatu


__ADS_3

Happy Reading🌹


Suasana yang damai nan sunyi. Tampak beberapa perumahan yang tidak terawat. Bahkan seperti tidak berpenghuni. Satu-satunya sebuah rumah yang bersih hanyalah milik Hyejin.


Terlihat jelas bahwa disekeliling rumah juga terdapat beberapa tanaman serta beberapa botol bekas yang sengaja dibuat untuk hiasan. Hal itu membuat kawasan disekeliling rumah tempat tinggalnya jadi lebih berwarna.


Keduanya melangkah menuju kediaman Hyejin setelah turun dari mobil. Jowon yang melihatnya lantas hanya bisa ternganga. Bahkan mulutnya sama sekali tidak bisa berucap seakan membisu.


"Paman ingin masuk dulu atau tidak?" tanya Hyejin menawarkan.


Meskipun rasanya ingin menolak, namun pria disebelahnya mengangguk tanpa alasan yang jelas. Lantas Hyejin bersama Jowon pun masuk ke dalam rumah tersebut.


"Silahkan duduk di sana dulu. Akan aku buatkan minuman," kata Hyejin seraya melangkah menuju dapur dan meninggalkan ruang tamu.


"Hidupnya sungguh malang."


Setelah beberapa saat, Hyejin pun kembali menuju ruang tamu dengan segelas air putih di tangannya. Dia meletakkan gelas itu di atas meja yang kecil dan bahkan hanya muat untuk beberapa benda saja.


"Sudah lama kau tinggal di sini?" tanya Jowon tiba tiba. Lantas Hyejin hanya mengangguk kecil sebagai tanda jawaban.


Drrttt ...


Ponselnya tiba tiba berdering, segera mungkin Jowon meraih ponselnya yang simpan di dalam saku jas.


"Halo, ada apa?" tanya Jowon sekaligus membuka pembicaraan.


Suara bising terdengar jelas dari tempat seseorang dalam telepon itu. Jowon bangkit dari kursi untuk sedikit menjauh dari gadis yang kini tengah duduk berhadapan dengannya.


"Ayah dimana? Ada seseorang yang ke rumah. Katanya mencari Ayah," ujar seseorang dari telepon itu. Ternyata Yongju lah orang yang sedang mengobrol dengan Jowon, ayahnya sendiri.


"A-- Ayah akan segera pulang," balasnya dengan terbata-bata. Lantas ia pun segera mengakhiri panggilan secara sepihak. Mau atau tidak, dirinya harus segera kembali ke rumah.


"Maaf, Paman harus pulang. Terima kasih untuk airnya," tutur Yongju seraya berlari menuju pintu utama. Yah, meskipun dirinya belum sempat meminum seteguk air itu.


Hyejin sendiri hanya bisa terdiam tanpa bisa berucap. Lagipula, apa yang bisa dilakukan oleh anak biasa seperti dirinya?


Waktu telah menunjukkan pukul 15.22. Namun seseorang yang tengah ditunggu-tunggu olehnya sejak tadi tidak juga kunjung datang. Ia hanya bisa menantinya lebih lama lagi.


Setelah 30 menit berlalu, Yohan akhirnya pulang. Ia membawa sebungkus makanan yang terlihat enak. Yah, meksipun belum tau apa isinya.

__ADS_1


Anak lelaki itu meletakkan sebungkus makanan di atas meja ruang tamu, dilihatnya sebuah gelas berisikan air putih masih berada di atas meja tersebut. Hal itu mampu membuat Yohan menjadi bertanya-tanya dalam benaknya.


"Hyejin, kau dimana?" Yohan berjalan ke sana kemari mencari keberadaan sang adik.


Meskipun sudah mengeraskan volume suaranya saat memanggil nama adiknya, namun hasilnya tetaplah nihil karena Hyejin tidak juga menjawabnya.


Begitu Yohan melangkah memasuki ruang kamar, barulah ia tau bahwa Hyejin tengah tertidur pulas di atas ranjang. Pakaiannya yang belum sempat ia ganti sejak terkena air hujan membuat sensasi tubuhnya menjadi terasa dingin.


"Bangun, ini Kakak!" ucap Yohan sedikit tegas.


"Jam berapa ini?" tanya Hyejin setelah berhasil dibangunkan oleh lekaki di hadapannya.


"Lihat jam itu ... " cakap nya seraya menunjuk sebuah jam yang terpampang di dinding kamar.


Sontak gadis itu seketika langsung mengangkat tubuhnya dari ranjang. Ia berlalu meninggalkan ruang kamar untuk menuju kamar mandi.


"Seharusnya aku tidak membangunkannya dulu. Aku kan juga ingin mandi," jengkel nya dengan berjalan menuju ruang kamarnya sendiri.


Sementara itu, suasana canggung tengah menyelimuti antara pasangan ayah dan anak. Keduanya duduk di sebuah sofa mewah dengan mata yang saling memandang satu sama lain.


"Aku ingin bertanya, Ayah darimana tadi?" tanya Yongju langsung menuju intinya. Dia adalah tipe anak yang suka berbicara langsung daripada harus basa basi.


"Apa Ayah bertemu gadis itu lagi?"


Jowon terdiam, ingin berbohong namun rasanya sangat sulit baginya lantaran selama ini tidak pernah berbohong sepatah katapun pada putranya itu.


"Iya."


"Ada apa dengan Ayah sebenarnya? Aku tidak tau kenapa Ayah jadi seperti ini. Lagipula, apa istimewanya anak itu?" Yongju bangkit dari sofa. Dia berjalan dan mendekati dimana sang ayah tengah duduk.


"Saat hari dimana kau berdiri bersebelahan dengannya, Ayah mulai menyadari sesuatu ...."


"Apa maksud Ayah?" tanya Yongju yang merasa bingung dengan kata kata yang baru saja terucap dari mulut Jowon.


"Ayah yakin, dia adalah Songyu."


Deg?!!! Anak itu terdiam. Jantungnya seakan berhenti berdetak lantaran terlalu kaget dengan ucapan yang belum terlalu pasti.


"Bagaimana Ayah bisa membuktikannya?"

__ADS_1


☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎☁︎


"Enak tidak?" tanya Yohan sembari menatap gadis yang tengah melahap makanan enak. Gadis itu lantas mengangguk dengan di iringi senyuman lebar.


"Lain kali beli lagi, ya!" kata Hyejin bersemangat. Dia asyik memakan makana itu sendiri sampai tak sadar bahwa kakaknya itu hanya terdiam sejak tadi sembari memperhatikan dirinya.


Setelah cukup lama sibuk dengan makanan di piringnya, ia pun berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring yang terkena noda oleh makanannya.


"Besok bangun pagi loh, kau harus berangkat sekolah," ucap Yohan sambil berlalu meninggalkan ruang makan.


"Oke."


Kring!!!


Semburat mentari pagi menyambut hari baru di pagi yang cerah ini. Suara kicauan burung terdengar merdu bagai alunan musik. Disertai dengan sorot cahaya matahari yang menembus kaca jendela mampu memanjakan mata Hyejin yang baru saja terbuka.


"Hoam ...."


Gadis itu bangkit dari ranjang setelah melihat jarum jam tengah menunjukkan pukul 05.00 tepat. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi.


Sebelum masuk ke dalamnya, Hyejin memastikan terlebih dahulu apakah ada seseorang di dalamnya atau tidak. Yap! Tepat sekali. Dia trauma akibat kejadian kemarin.


Setelah dipastikan bahwa tidak ada seseorang dalam kamar mandi, Hyejin lantas masuk dan langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Begitu selesai dengan bebersih nya, seperti biasa dirinya langsung menuju ruang makan. Sudah pasti untuk menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan oleh Yohan.


"Sepertinya Kakak tidak akan menjemput mu lagi," tutur Yohan seraya menatap gadis di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Hyejin. Ia sendiri tak habis pikir dengan sikap kakaknya yang mulai berubah belakangan ini.


"Yah, sudah pasti ada kesibukan. Tidak papa ya," tandas nya. Apa boleh buat? Hyejin hanya bisa mengangguk meskipun hal itu berat baginya.


Bersambung🍁


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca karya novel ini! Dukungan mu sangat berarti bagi saya^^


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, ya. Karena membuat novel itu tidak semudah apa yang kalian bayangkan.


Terima kasih🙏💕

__ADS_1


__ADS_2