Gadis Cupu Anak Konglomerat

Gadis Cupu Anak Konglomerat
Bab 14 : Aneh


__ADS_3

Happy Reading🥀


Suasana bising menyelimuti halaman sekolah, tampak ramai siswa-siswi yang berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Langit biru dengan dominasi merah muda itu sukses memikat perhatian orang-orang yang tengah memandangnya.


Hyejin berjalan memasuki ruang kelas, terdapat beberapa anak tengah memandangnya sinis. Termasuk Hanbyeol dan dua sahabatnya, mereka berjalan mendekati Hyejin yang baru saja menginjakkan kaki di pintu kelas.


"Hei, aku ingin bertanya!" kata Jingsang yang sontak membuat Hyejin merasa heran. Tidak biasanya ia mau bertanya pada Hyejin, apalagi berbicara hal yang tidak penting dengan gadis itu.


"Bicara apa?" tanya Hyejin dengan memasang raut wajah heran.


Anak lelaki itu lantas menarik lengan Hyejin dengan keras, ia menbanting tubuh kecilnya ke lantai.


Brugh!


"Ah, auu ...!!" Hyejin memegang kepalanya yang baru saja terbentur di lantai, seluruh isi dalam kepalanya terasa sakit.


Akibatnya, kepala Hyejin mampu mengeluarkan darah yang terus mengalir cukup deras. Hal itu sukses menghebohkan seluruh anak di dalam ruangan kelas. Semuanya berlarian dan berteriak histeris melihat darah yang bercecer di lantai kelas.


"Bangun, bocah!" tegas Hanbyeol seraya menarik kerah baju Hyejin. Gadis itu lantas terbangun dari lantai, ia bertatapan dekat dengan Hanbyeol.


"Kemarin kau sudah membuat harga diriku hancur. Aku tidak tau, kenapa Yongju menyelamatkan bocah biasa sepertimu. Jika persahabatan kami hancur gara-gara kejadian kemarin, aku tidak akan tinggal diam terhadapmu!" ucapnya dengan kedua bola mata yang telah membendung banyak cairan bening.


Hyejin hanya terdiam tak berulah. Kemudian seorang anak laki-laki tiba-tiba masuk ke dalam ruang kelas. Sontak hal itu membuat seluruh anak di dalamnya merasa terkejut melihat kehadiran Duho.


"Hei, ada ap-- " ucapannya terhenti, ketika melihat sebuah darah bercecer di lantai.


"A--- apa itu?!!!" Anak itu berteriak histeris. Ternyata laki-laki juga bisa bertingkah seperti itu ketika melihat sebuah darah.


"Duho, ada apa?" tanya Hanbyeol seraya berjalan mendekati sosok Duho yang masih berdiri di pintu kelas.


Wajahnya terlihat panik tak tertolong. Dia ingin agar temannya itu segera pergi dari ruangan kelas ini. Tanpa pikir panjang, Hanbyeol segera menyeret Duho keluar. Dia membawa anak itu menuju kantin sekolah yang di dalamnya sudah tampak ramai meskipun di pagi hari.


"Darah apa tadi? Itu bukan darah manusia, kan?" tanya Duho berusaha memastikan dengan apa yang dilihatnya barusan. Namun gadis di depannya itu hanya menggeleng pelan dengan di iringi senyuman tipis.

__ADS_1


Sementara itu, ruang kelas 10#4 masih terlihat geger dengan kejadian tadi. Jinsang selaku orang yang terlibat lantas menjadi bahan perbincangan teman-teman di kelasnya.


"Ayolah, apa kalian juga akan berpihak pada gadis itu?" tanya Jinsang meninggikan nada bicaranya.


Mereka terdiam, lalu berdalih memandang Jinsang yang juga tengah memandangi mereka. Tidak ada satupun anak dikelas yang berani membicarakannya lagi, mereka memilih untuk diam dan membuka buku.


Sementara itu, Hyejin yang masih berdiri dengan tas di punggung nya itu lantas berjalan mendekati tempat duduknya. Dia melirik ke arah tempat duduk di sebelahnya, dimana sahabatnya itu belum juga hadir di sekolah.


"Apa Ye-In akan berangkat hari ini? Aku masih merasa khawatir karena kemarin nomornya juga tidak bisa dihubungi," gumamnya dalam hati.


Waktu telah berlalu, begitu bel masuk berbunyi nyaring di setiap lorong, seluruh anak berlarian menuju kelas masing-masing. Mereka tidak perduli dengan obrolan yang tengah diperbincangkan.


Drap! Drap! Drap!


Seorang guru memasuki ruang kelas 10#4. Wajahnya terlihat syok begitu melihat seragam Hyejin telah penuh dengan darah merah. Dia berjalan mendekati gadis itu, lantas membuat teman-temannya menjadi sedikit khawatir.


"Ada apa dengan Hyejin?" tanya bu Suji, guru yang kini tengah berdiri di sebalah tempat duduk Hyejin.


"Saya tidak apa-apa. Ini hanya noda," jawabnya berbohong.


Untung saja Hyejin sempat membersihkan darah yang telah tercecer di lantai, jika tidak mungkin saja guru itu akan curiga dan mulai menyelidikinya.


*****


Waktu telah menunjukkan pukul 12.33. Seluruh anak langsung buyar begitu mendengar suara bel istirahat berbunyi. Mereka berpasang-pasangan untuk berjalan menuju kantin. Lain halnya dengan Hyejin.


Gadis itu masih termenung di kursinya, menahan rasa sakit yang tengah dialaminya saat ini. Beberapa kali Hyejin mencoba untuk menahan rasa sakit di kepalanya, namun hal itu sia-sia saja karena ia adalah gadis yang lemah.


"Ambil ini," seorang anak laki-laki memberikan sebuah tisu pada Hyejin. Hyejin memandang ke atas, dimana terlihat sosok Daeshim yang sedang menatapnya.


"Tidak mau?" tanya Daeshim dengan memasang raut wajah dingin. Meskipun mungkin ia merasa kasihan terhadap gadis itu.


"Terima kasih," balas Hyejin dengan menerima tisu darinya.

__ADS_1


"Apa kau sudah makan?" tanya Daeshim tiba-tiba. Sontak hal itu mampu mengejutkan sosok gadis yang masih terduduk di kursi.


"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba perduli padaku? Padahal selama ini yang aku tau darinya, Daeshim adalah anak yang fokus dengan pelajaran. Dia belajar keras, dan aku adalah saingannya. Tapi dia masih perduli terhadapku ... "


Akhirnya, Hyejin dan Daeshim memutuskan untuk pergi ke kantin bersama. Terlihat sosok Yongju yang tengah memperhatikan keduanya dari arah yang cukup jauh.


Tidak ingin menggagalkan rencana, Yongju pun segera berlari menghampiri Hyejin yang tampak sedang bersama dengan teman laki-laki di sebelahnya.


"Hyejin!" teriaknya yang sukses membuat beberapa anak disekitar memandang nya. Mereka menatap sosok Yongju yang bersikeras menghampiri Hyejin. Yah, tentu saja hal itu menjadi pusat perhatian banyak orang.


Hyejin menoleh, lalu menghentikan langkah kakinya yang hendak menuju kursi kantin.


"Ada apa, Kak?" tanya Hyejin memandang Yongju yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Ti-- tidak, aku hanya, hanya-- " ucap Yongju terhenti. Mulutnya bahkan tidak dapat berkata apa-apa lantaran selama ini jarang sekali berkomunikasi dengan anak perempuan.


"Ada apa dengan kak Yongju? Kenapa dia jadi berbicara gagap seperti itu?" pikirnya heran dalam hati.


"Lupakan." Yongju memutar badannya, dia berlalu meninggalkan Hyejin dengan satu teman laki-laki di sebelahnya. Tentu saja, berbicara dengan Hyejin adalah hal yang cukup sulit menurutnya.


"Kau makan saja duluan, aku akan mengejar kak Yongju," ucapnya memberitahu pada Daeshim.


"Baiklah."


Hyejin pun segera berlari mengejar sosok Yongju yang sudah cukup jauh dari pandangan matanya. Ia mampu menarik lengan kemeja anak lelaki itu setelah berhasil mengejarnya.


"Lagi-lagi seperti ini!" ucapnya kesal. Namun sepertinya tak terdengar oleh Hyejin lantaran volume suaranya yang sengaja dikecilkan.


Bersambung🍁


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.

__ADS_1


Terima kasih~


__ADS_2