Gadis Cupu Anak Konglomerat

Gadis Cupu Anak Konglomerat
Bab 15 : Mencari Keberadaan Seseorang


__ADS_3

Happy Reading 🥀


Suasana canggung lantas menyelimuti keduanya. Tak ada satupun diantara mereka yang membuka mulut. Akibatnya, Hyejin pun terpaksa berbicara terlebih dahulu. Memang sulit, jika sudah berhadapan dengan lelaki dingin seperti Yongju.


"Ada apa tadi Kakak memanggilku?" tanya Hyejin sedikit menaikkan kepalanya, lantaran Yongju terlalu tinggi jika dibandingkan dengan tubuh kecilnya.


"Tidak ada. Lupakan," balasnya yang kemudian kembali meninggalkan Hyejin.


"Tunggu!" Yongju menghentikan langkah kakinya, dia berbalik memandang gadis yang masih ditempatnya semula.


"Apa kita bisa makan siang bersama?" tanya Hyejin yang sontak membuat Yongju kalang kabut. Dia jadi salah tingkah dibuatnya.


******


"Kakak ingin pesan apa?" tanya Hyejin. Posisinya sekarang adalah duduk berhadapan dengan kakak kelas itu. Yah, sedangkan Daeshim hanya bisa menyimak pembicaraan antara kedua orang yang berada di sebelahnya.


"Apa saja."


Setelah cukup lama menunggu menu pesanan, seorang wanita dengan sebuah nampan di tangannya pun menghampiri ketiga orang tersebut. Ia meletakkan sebuah mangkuk berisi makanan pesanan masing-masing di atas meja.


"Terima kasih," ucap Daeshim yang hanya di angguki oleh wanita tersebut. Lantas wanita itupun kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Yongju yang sedari tadi terdiam tanpa melahap sesendok makanan pun lantas membuat Hyejin menjadi sedikit khawatir. Ia mengira kalau anak lelaki itu sedang sakit atau semacamnya.


"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Hyejin seraya menatap wajah Yongju dari dekat. Yap! Anak itu reflek memalingkan pandangannya.


"Aku harus pergi," ucapnya beranjak meninggalkan kedua orang yang tengah menikmati makanan mereka.


Tidak ambil pusing, Hyejin pun membiarkan Yongju untuk pergi. Yang terpenting sekarang adalah mengisi penuh perutnya dengan makanan.


"Kau tinggal dimana?" tanya Daeshim menghentikan suapan nya.


"Aku tinggal di perumahan blok Gangnam nomor 11. Memangnya ada apa?" ujar Hyejin dengan rasa heran dalam benaknya. Namun Daeshim hanya menggeleng menanggapi pertanyaan dari gadis itu.


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


Waktu telah berlalu, langit yang semula cerah telah digantikan oleh gelapnya langit malam. Hyejin berjalan melewati sebuah jembatan dengan seragam sekolah yang masih ia kenakan. Serta sebuah ransel yang masih menempel di punggungnya.

__ADS_1


"Tuhan! Apa kau bisa menolongku?!" teriak Hyejin layaknya seperti orang gila.


Sepasang mata lantas menatapnya dari kejauhan. Berusaha melihat sosok gadis yang baru saja berteriak kencang seraya berkata aneh.


"Astaga, apa kau sudah gila?" pikir Hyejin. Ia menatap lautan di bawah jembatan yang tengah di injak nya. Pemandangan malam itu sungguh menggugah kedamaian.


"Aku harus mengerjakan pekerjaan rumah untuk besok, kenapa juga aku kemari?" ujar nya seraya berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Hyejin berjalan di tepi jalan raya. Itu adalah jalur yang biasa dilewatinya setiap kali berangkat dan pulang sekolah.


Begitu melewati sebuah jalan raya yang tampak begitu ramai, Hyejin pun memasuki sebuah gang sempit di antara bangunan besar kota. Di gang tersebut tidak terlihat sedikitpun sorot cahaya. Akibatnya, gadis itu tak sengaja menabrak seseorang di depannya.


"Hati-hati kalau berjalan," ucap seorang lelaki tua yang baru saja bertabrakan dengan Hyejin.


Hyejin hanya bisa menunduk malu dan meminta maaf padanya. Yah, meskipun ia tak dapat melihat dengan jelas wajah lelaki tua itu.


Setelah kurang lebih dua puluh menit diperjalanan, Hyejin pun akhirnya tiba di rumahnya. Tampak sebuah pintu rumah yang masih terbuka lebar serta cahaya lampu yang tersorot dari dalam ruangan.


Ia berlari masuk melalui pintu utama. Dilihatnya sesok Yohan yang sudah terlelap di sofa lantaran terlalu lama menunggu kepulangan sang adik.


"Eh? Kakak tidak bekerja?" tanya Hyejin pada dirinya sendiri. Tentu saja ia merasa bingung karena Yohan tidak pergi untuk bekerja.


〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎〰︎


"Ayah, apa Ayah tidak lelah?" tanya Yongju seraya menatap wajah sang ayah. Lantas pria tersebut hanya menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Kalian, cari tahu soal gadis ini. Aku ingin mendapat laporan besok pagi!" ujar Jowon. Dia menunjukkan sebuah gambar gadis di ponselnya.


"Baik!" Anak buahnya pun berjalan meninggalkan ruang utama. Kini hanya tersisa Yongju dengan ayahnya.


"Kenapa tidak belajar?" tanya Jowon merasa heran dengan keberadaan Yongju saat ini. Bukannya belajar, anak itu malah memperhatikan kerja keras ayahnya mencari keberadaan seseorang.


"Tidak. Justru aku ingin bertanya satu hal."


"Apa itu?"


"Aku harus berbuat apa, agar bisa membuktikan bahwa gadis itu memang benar adikku yang sudah hilang selama empat belas tahun lamanya?" tanya Yongju. Kedua bola matanya tampak menunjukkan tatapan sedih.

__ADS_1


"Songyu, dia memiliki tanda di bagian dada kirinya. Namun, apakah kau akan membuktikannya dengan melihat tanda itu?" ungkap Jowon yang sontak membuat Yongju gelagapan.


"Te-- tentu saja tidak! Bisa-bisa aku dikata cabul oleh orang-orang nanti!"


"Makanya, kau hanya perlu diam tanpa harus melakukan apapun."


"Baiklah."


Sepasang ayah dan anak itu berlalu meninggalkan ruang utama, mereka berjalan menuju ruang makan untuk acara makan malam berdua. Hal seperti itu sudah biasa mereka lakukan sejak Yongju masih berusia satu tahun.


Begitu tiba di sebuah ruang makan, tampak beberapa makanan mewah telah disajikan di atas meja makan. Tentu hal itu membuat Yongju menjadi bertanya-tanya dalam benaknya.


"Untuk apa makanan mewah ini? Bukankah tidak ada acara apapun?"


"Duduklah," kata Jowon mempersilahkan anaknya itu untuk duduk.


"Kenapa wajahmu terlihat aneh begitu?" imbuhnya bertanya. Dia melihat tatapan aneh dari mata sang anak.


"Tidak apa. Aku hanya bingung saja," balasnya tanpa sedikitpun senyuman di wajahnya.


Mereka pun makan malam bersama dengan menikmati makanan mewah tersebut. Lain halnya dengan Hyejin, gadis itu sudah terbaring lelap di ranjangnya bersama sang kakak tercinta.


Baru kali ini, Hyejin dengan Yohan tidur dalam satu ranjang di dalam kamar yang sama. Meskipun mereka adalah sepasang kakak dan adik, namun rasa aneh selalu dirasakan oleh Yohan.


"Selamat malam," ucap Yohan seraya mengelus kepala Hyejin.


"Malam juga, Kak!" Gadis itu menutupi dirinya dengan selimut, dia mengubah postur tidur dengan menghadap ke arah tembok.


"Besok bangun pagi, aku akan membuatkan mu sarapan enak," kata Yohan sontak mampu membulatkan kedua bola mata Hyejin. Dia memutar tubuhnya, lalu menatap sang kakak.


"Biarkan aku membantu Kakak untuk memasak."


Bersambung🍁


Jangan lupa untuk dukungannya, dengan cara like, komen, vote, and fav ya!


Apa kalian tau? Membuat karya itu tidak semudah kelihatannya, maka dari itu Author senantiasa berharap pada kakak semua untuk mendukung karya novel ini.

__ADS_1


Terima kasih~


__ADS_2