
Happy Reading🌹
Langit semakin gelap, awan sore sudah mulai menjelang malam. Namun keberadaan orang orang di sebuah gang sempit itu masih tampak terdiam.
Tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Yongju. Termasuk Hanbyeol, dirinya sibuk menatap lelaki itu.
"Aku bertanya tadi, apa kalian tidak punya telinga?" ucap Yongju dengan tegas. Lantas hal itu membuat Hanbyeol mampu membuka mulutnya.
"Ti-- tidak, kami hanya sedang bermain main!"
"Dia berbohong," timpal Hyejin dengan raut wajah cemas.
"Kemarilah ... " kata Yongju dengan suara lirih, ia mengulurkan tangannya pada sosok gadis yang sedang berada di zona tak aman.
Hyejin berlari ke arahnya, tanpa sadar dirinya langsung memeluk erat tubuh Yongju. Tentu saja hal itu membuat detak jantung lelaki dalam pelukannya berdetak kencang. Bagaimana tidak? Dia dipeluk oleh seorang gadis kecil.
"Apa apaan kau?!" Hanbyeol kesal, ia merasa bahwa dirinya telah tersingkir dalam pertemanannya dengan Yongju.
Yap! Hanbyeol dan Yongju sudah berteman kurang lebih satu tahun lamanya. Mereka dipertemukan pertama kali saat saling mengikuti akun instagram.
Lalu keduanya menjadi dekat meskipun hanya sebatas teman chat, namun takdir mempertemukan mereka dalam satu sekolah yang sama di tahun ini.
"Jangan pernah ganggu orang yang tidak bersalah!" ujar Yongju sembari memalingkan pandangannya dari orang orang itu.
Dirinya menggenggam erat tangan Hyejin dan membawanya berjalan memasuki mobil. Meskipun merasa ragu untuk masuk ke dalam mobil itu, namun Hyejin tidak ada pilihan lain jika ingin selamat.
Begitu keduanya masuk ke dalam mobil, sang sopir itupun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Suasana canggung lantas menyelimuti keduanya lantaran tidak ada topik yang bagus untuk dibicarakan.
Sementara itu ...
"Sial! Kenapa Yongju memihak nya?" Hanbyeol merasa kesal, beberapa kali dirinya membenturkan kepalanya ke dinding.
"Ayolah, jangan seperti itu," sergah Naseo merasa tidak tega saat melihat sahabatnya sendiri seperti orang tidak waras. Apalagi tepat di depan matanya.
"Bagaimana dengan kami?" tanya salah seorang pemimpin preman. Ia terus menatap Hanbyeol sedari tadi.
"Pergi saja, aku sudah tidak membutuhkan kalian."
Para preman itupun seketika pergi setelah mendengar perintah dari Hanbyeol. Sepertinya hari ini adalah keberuntungan mereka lantaran para preman itu tidak menjalankan tugas meskipun sudah mendapat bayaran besar.
__ADS_1
Kini suasana di gang sempit itu tatkala berubah hening. Jinsang dan Naseo hanya terdiam melihat Hanbyeol, yakni sahabat mereka sendiri sedang termenung duduk di lantai yang kotor.
******
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman sebuah rumah besar. Disekeliling rumah itu terdapat banyak sekali tanaman indah nan berwarna.
Hyejin yang melihatnya lantas hanya terdiam, dirinya sendiri tidak tau keberadaannya saat ini. Entah sedang berada di rumah Yongju atau rumah orang lain.
"Turunlah," ucapnya menarik lengan Hyejin untuk segera keluar dari dalam mabil tersebut.
Yongju melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan gadis yang masih terdiam mematung menatap sekeliling.
"Kenapa tidak masuk?" tanyanya dengan kepala setengah menoleh ke belakang.
"Ini rumah siapa?" jawabnya bertanya balik.
Yongju hanya bisa menghembuskan nafas panjang karena melihat tingkah Hyejin yang masih memiliki sifat kekanak-kanakan.
"Rumahku," balasnya dingin seraya kembali melangkahkan kakinya.
Setelah beberapa saat, Hyejin akhirnya mampu memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah besar nan mewah itu.
"Silahkan diminum." Seorang pelayan menuangkan air teh dari dalam termos ke dalam sebuah gelas yang telah dihidangkan.
Begitu selesai menuangkan air tersebut, pelayan itu langsung kembali ke ruangannya dimana ia harus melanjutkan pekerjaan rumah. Tidak heran jika pelayan yang bekerja di rumah itu mencapai lebih dari tiga puluh orang.
Hyejin meneguk segelas teh, sensasi enak mampu dirasakan olehnya. Rasa yang jauh berbeda dengan teh biasa membuatnya jadi bertanya-tanya dalam benaknya.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Yongju menatap heran pada Hyejin yang tiba-tiba saja meletakkan kembali gelasnya ke meja.
"Rasanya berbeda dengan teh di rumahku, hehe ... " ucapnya pringas pringis.
Lagi lagi Yongju hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah dan sifat gadis dihadapannya. Ia sendiri tak habis pikir mengenai Hyejin.
"Kau tinggal dimana?" tanya Yongju dingin. Ia sengaja untuk tidak menatap Hyejin.
"A-- aku, aku tinggal di sebuah perumahan kecil blok Gangnam nomor 11. Sebenarnya, aku malu mengatakan ini. Tapi ya ... sudahlah ..., tidak apa." Hyejin menundukkan kepalanya, membuat Yongju semakin kebingungan.
"Kenapa harus malu?"
"Ah, lupakan!" tegas Hyejin. Dia tersenyum tipis pada anak laki-laki yang duduk berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Aku harus pulang, ini sudah sore. Kakakku pasti mencariku, kan?"
Gadis itu lekas bangkit dari kursi, dia berjalan menuju pintu keluar rumah dengan sebuah tas yang masih terpikul di punggungnya.
Bruk!
"Astaga, siapa dia? Apa aku telah melakukan kesalahan?" pikirnya.
Tanpa disengaja, dirinya telah menabrak seorang pria tinggi berbadan kekar yang baru saja masuk ke dalam rumah melalui pintu utama. Pria itu dikelilingi banyak sekali anak buah. Yah, dia terlihat begitu mirip dengan Yongju.
"Maaf Paman, saya tidak sengaja," kata Hyejin seraya membungkukkan tubuhnya.
Yongju yang melihat hal itu lantas berlari menghampiri sang ayah. Tepat sekali! Itu adalah ayah Yongju. Namanya adalah Jowon Kim, seorang konglomerat generasi ke-2.
Tidak heran jika Yongju tinggal disebuah rumah besar ini. Apalagi dengan pelayan yang begitu banyak, pasti anggota keluarganya juga banyak.
"Dia adik kelasku," ungkap Yongju tiba tiba.
Jowon memandang anaknya, dia memperhatikan dengan seksama wajah anaknya itu dengan Hyejin. Gadis yang berdiri di sebalah Yongju.
"Kenapa buru buru pergi?" tanya Jowon. Dirinya berusaha menahan agar Hyejin tidak segera pergi dari rumahnya.
"Iya, saya khawatir kalau kakak saya akan menunggu saya. Saya permisi, terima kasih untuk teh nya juga."
Ia pun berlalu meninggalkan ruangan tamu. Dia menoleh ke kanan dan kiri, lalu memperhatikan jalanan yang akan dilewati olehnya.
Sepasang ayah dan anak itu hanya bisa menatap sosok Hyejin yang sudah semakin menjauh dari kalangan rumah mereka.
"Siapa dia?" tanya Jowon memasang raut wajah serius.
"Sudah kubilang adik kelasku," balasnya acuh tak acuh. Yongju yang sudah merasa lelah setelah seharian berada di sekolah pun menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya yang terletak di lantai tiga.
Rasanya tubuh itu sudah tidak bisa digerakkan lagi. Tujuannya adalah kasur, kasur empuk dan luas yang siap membuatnya merasa nyaman berbaring seharian.
"Apa benar dia adik kelas Yongju? Bagaimana dia bisa mengenali anak seperti itu?"
Bersambung🍁
Hai para pembaca semua, Author ingin meminta tolong pada kalian untuk meninggalkan jejak di karya ini. Yah, sekalian dukung karya lah. Untung-untung jika kalian ikhlas😣
(๑`✪̤◡✪̤)◞ღԵհɑղƘՏღ
__ADS_1