
"Tunggu, ka-kau mengenal siapa aku?" tanya Andika merasa heran. Padahal sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan gadis cantik ini. Lagi pula identitasnya sebagai anak orang nomor 1 di Negara ini telah di rahasiakan sejak lama.
Jadi tidak ada orang yang mengetahui bahwa dirinya adalah putra dari seorang Presiden.
Itu adalah pilihan nya sejak dulu. Andika tidak ingin kehidupan nya terusik oleh media dan ingin hidup tenang tanpa terganggu oleh ancaman.
Dia masih ingin hidup bebas tanpa adanya seorang paspampers yang selalu menjaganya setiap saat.
Sementara Fatima hanya bisa mengulas senyuman. Lalu menunjukan tangan nya ke arah gelang tangan milik Andika. Di gelang itu tertulis dengan jelas nama pria itu yang tertulis dengan huruf latin.
Maka dari itu Fatima dapat mengetahui siapa nama pria yang sudah berhasil ia selamatkan.
"Oh, jadi kau mengetahuinya lewat tulisan di gelang ini?" balas Andika.
Fatima lantas mengangguk.
"Baiklah, terima kasih banyak ya karena kau sudah menolong ku." ujar Andika merasa sangat terharu, dan tak tau harus membalas nya dengan apa.
"Mungkin kalau tidak ada kau, aku pasti sudah ma_"
"Sama-sama!" tukas Fatima pula, sehingga membuat omongan Andika langsung terhenti.
"Boleh aku tau siapa nama mu?" tanya Andika perlahan.
"Nama ku Fatima."
Setelah menjawab nya, gadis itu pun memutuskan untuk pergi, namun Andika begitu sangat tidak rela ketika harus di tinggalkan oleh perempuan itu.
"Akhh, kenapa dia pergi secepat ini? Padahal aku masih mau bersamanya lebih lama lagi." gerutu Andika merasa sangat kesal, namun meskipun tidak ingin di tinggalkan. Andika malah diam saja di tempat, bukan nya mengejar Fatima. Pria itu malah marah-marah tidak jelas.
__ADS_1
Sungguh membingungkan! Tidak ingin di tinggalkan, namun sama sekali tidak mau berusaha mengejar.
...****************...
"Aku bertemu dengan seorang pria tadi." ucap Fatima mengadukan kejadian yang baru saja di alami nya kepada sang rekan kerja.
Namanya adalah Mura, merupakan salah satu karyawan dan juga teman dekatnya Fatima.
Mura adalah satu-satunya teman Fatima yang tulus dan mau menjalin persahabatan dengan nya. Mura yang sudah berusia 20 tahun dan juga telah menikah beberapa bulan lalu, gadis itu mendapatkan pria asli yang berasal dari kota ini. Sehingga membuat Mura sudah sah menjadi penduduk tetap dan tidak akan kembali ke kampung halaman nya, karena memang kedua orang tua Mura telah meninggal sejak lama.
"Benarkah? Apakah tampan? Barang kali dia adalah jodoh mu." balas Mura sambil tertawa dan mencoba untuk membuat candaan sekaligus menghibur sahabatnya itu.
"Ck, sangat mustahil. Dia sepertinya adalah orang kaya, dia pasti tidak sudi menikah dengan gadis cacat dan juga miskin seperti ku." sahut Fatima merasa sangat sedih.
"Hey, kau bersedih? Kenapa? Apakah kau mencintai pria itu? Sepertinya sangat tampan ya?" tebak Mura sembari memegang pundak Fatima.
"Ya, sepertinya begitu! Baru pertama kali aku memiliki perasaan pada lawan jenis. Tapi salahnya dia pria yang sangat dewasa dan tidak cocok dengan ku."
Kedengaran nya aneh, namun seperti itulah faktanya. Jatuh cinta dengan seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal, dan baru saja di temuinya beberapa jam lalu. Itu pun karena tabrakan yang tak di sengaja, sehingga mempertemukan mereka berdua.
"Dengarkan aku tidak ada yang mustahil selagi kau mau berjuang untuk mendapatkan nya. Apa salahnya berharap terlebih dahulu, soal hasil itu sudah tergantung dari sebuah takdir yang tertulis di tangan mu Fatima." nasehat Mura mencoba untuk memberikan semangat pada sahabatnya tersebut.
Namun pada saat Mura memegang tangan Fatima, dia baru sadar jika tangan sahabatnya itu sedang terluka.
"Apa yang terjadi kepada mu? Kau kecelakaan?" tanya Mura yang terkejut.
"Oh ya, aku tadi juga sempat menolong seorang pria yang hampir tertabrak oleh sebuah mobil truk. Kami berdua jatuh ke pinggir jalan secara bersamaan dan mengakibatkan tangan ku harus terluka." sahut Fatima menjelaskan.
"Lalu, kau sudah menyelamatkan nya. Tapi apa yang dia berikan kepada mu? Bahkan untuk mengobati luka mu saja dia tidak sudi, benar-benar kejam." kata Mura yang merasa marah.
__ADS_1
Menurutnya ini tidak sepadan dengan yang sudah di lakukan oleh sahabatnya untuk menolong pria itu. Jika seandainya dia ada di posisi Fatima, mungkin Mura akan lebih baik mendorong nya saja kembali ke jalan raya agar tertindas oleh mobil bus dan membuat pria itu mat* di tempat.
Lalu Mura pun langsung mengambilkan kotak obat milik Talia, dan mulai mencuci luka di tangan Fatima.
"Tahanlah, mungkin ini akan sedikit perih." ujar Mura yang langsung saja menyiramkan cairan obat merah sehingga membuat Fatima menjadi kesakitan dan ingin menjerit sekuat mungkin.
"Kau sudah salam paham! Mungkin pria itu tidak tau jika tangan ku sedang terluka. Karena setelah menolong nya, aku memutuskan untuk segera pergi dan meninggalkan nya begitu saja." ucap Fatima mencoba untuk memberikan penjelasan lebih lanjut, supaya sahabatnya tidak berpikiran buruk kepada pria yang bernama Andika itu.
"Siapa namanya?" tanya Mura penasaran.
"Andika, tapi aku tidak tau nama panjangnya."
"Kau tidak perlu mengetahuinya Fatima, itu sangat tidak penting bagi mu." sahut Mura dengan cepat.
"Kalau di lihat dari namanya, sepertinya pria itu masih muda dan juga tampan. Apakah benar?" tanya wanita itu lagi, sehingga membuat Fatima hanya bisa tertawa kecil.
Dugaan sahabatnya itu selalu saja benar. Sudah seperti seorang peramal saja, dan hal itu mampu membuat Fatima sampai geleng-geleng kepala.
Fatima tidak tau harus menjawab apa dan hanya diam saja. Lalu tak lama kemudian Talia pun datang, dan memanggil sahabatnya itu.
"Aku pergi sebentar!" pamitnya kepada Fatima.
Kini tinggal lah gadis itu seorang diri, duduk sendirian sambil merenung dan memikirkan tentang pria dewasa itu.
Apakah benar ini yang di sebut sebagai cinta. Tapi apa alasan dirinya bisa mencintai pria itu? Wajah tampan atau kedudukan?
Bukan, semua itu salah! Karena faktanya Andika bahkan jauh lebih tampan dan muda dari pria tersebut. Pastinya Andika juga merupakan orang yang sama-sama bersatus tinggi dan memiliki kedudukan sosial yang berada. Namun buktinya Fatima sama sekali tidak tertarik kepadanya, dan lebih memilih untuk terus memikirkan pria dewasa itu.
Sepertinya kharisma dari seorang Reno yang mampu membuat Fatima bisa menaruh hati kepadanya. Tatapan serta aura yang mempesona dapat memancing hati wanita manapun.
__ADS_1
Jiwa-jiwa pemimpin yang berwibawa memang sudah melekat pada tubuh Reno. Apalagi di usianya yang kini, Reno sudah terbilang sangat dewasa. Fatima berpikir jika pria itu merupakan seorang calon suami yang sempurna.
Tapi balik lagi seperti awal, jika gadis itu masih ingat akan siapa dirinya yang sebenarnya.