
"Apa maksudmu? Tentu saja aku mencintai Samantha karena dia adalah putri ku." sahut Reno merasa tidak terima.
"Kalau begitu berpura-puralah seperti yang selama ini kita lakukan sebelumnya. Menjadi keluarga cemara yang harmonis dan bahagia." jawab Sonia dengan cepat, sehingga membuat Reno langsung mengusap secara kasar wajahnya sendiri akibat merasa sangat prustasi.
"Percayalah pada ku bahwa orang yang kau cintai itu akan hancur sehancur-hancurnya pada saat mengetahui tentang bagaimama rusaknya hubungan kita yang sebenarnya. Kau lihat secara jelas bagaimana dia tertawa lepas ketika mengabiskan waktu bersama kita beberapa minggu yang lalu? Kau melihat nya sendiri menggunakan mata kepala mu, atau selama ini ternyata kau buta dan tidak melihatnya?" tanya Sonia lagi, berbicara dengan penuh penekanan.
Sehingga mengantarkan ingatan Reno pada saat itu juga untuk mengenang lebih banyak kenangan bersama putrinya yang sedang tertawa lepas tanpa beban sedikit pun.
Namun pikiran nya menolak untuk sadar.
"Semua anak memang menginginkan hal seperti itu Sonia. Tapi pendapat kita berdua berbeda. Aku hanya memikirkan bagaimana perasaan Samantha kalau tau bahwa selama ini kita sudah berbohong. Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali kepadanya karena sudah membuat drama ini?" tanya Reno yang sama sekali belum paham dengan jalan pemikiran istrinya tersebut.
"Setidaknya berikan dia waktu lebih lama, sebelum kita mengakhiri drama ini. Kau tenang saja, Samantha tidak akan tau yang sebenarnya. Akan aku pastikan hal itu." balas Sonia dengan segera dan terus berusaha membujuk suaminya itu.
Mau tak mau akhirnya Reno hanya bisa mengiyakan akibat merasa lelah untuk berdebat tanpa henti dengan istrinya itu.
"Aku tidak bisa janji, tapi aku akan berusaha."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Reno pun langsung pergi meninggalkan Sonia.
Wanita itu hanya bisa memandang sendu punggung suaminya yang telah menghilang dari balik pintu kamar.
Rasa senang bercampur sedih kini telah menjadi satu di dalam hatinya.
Senang karena mendengar bahwa suaminya tidak akan meninggalkan dirinya dan juga Samantha demi wanita yang di cintai oleh pria itu.
Namun rasa sedih juga ikut hadir ketika mengetahui bahwa hati suaminya telah di miliki oleh perempuan lain.
__ADS_1
"Semoga saja kau bisa memegang kata-kata mu dan bertahan bersama kami disini. Aku mencintai mu suamiku!" ucap Sonia pelan.
Sementara itu, Reno bergegas pergi dengan beberapa bodyguardnya menuju ke suatu tempat.
Boby di tugaskan oleh Reno untuk menjadi supirnya, dan mobil mereka akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah mewah tersebut.
"Tuan, kita mau kemana?" tanya Boby merasa bingung, karena pasalnya dia tidak tau hendak kemana tujuan pria itu.
Karena sebelumnya Reno hanya memerintahkan anak buahnya tersebut untuk menjadi supir saja dan tidak bilang ingin pergi kemana.
Pria itu langsung memijit keningnya yang kini tengah berdenyut hebat. "Entahlah, kau kendarai saja mobil itu. Aku rasanya muak ketika berada di dalam rumah dan ingin mencari tempat yang bisa membuat hati ku tenang dan juga tidak gelisah." sahut Reno setelahnya.
"Baiklah tuan!" Tanpa berbasa-basi Boby langsung menjalankan perintah dari Reno sambil berpikir tempat apa yang cocok untuk di kunjungi oleh tuan nya tersebut.
Saat sedang sibuk berpikir, tiba-tiba saja Reno kembali berbicara.
"Ma/maksud tuan?" tanya Boby berpura-pura tidak tau, meskipun perasaan nya kini sedang was-was.
Bagaimana mungkin tuan nya itu bisa tau? Boby tak bisa membayangkan hukuman apa yang akan di dapatkan olehnya setelah ini.
"Jangan berpura-pura bodoh, aku tau jelas bentuk tubuh mu. Sudah pasti itu adalah kau!" bentak Reno merasa sangat heran.
Bisa-bisanya pria itu tidak mau mengaku dan malah bertanya kepadanya.
"Tidak masalah kau ingin mengetahui tentang pertengkaraan ku dengan Sonia. Kami benar-benar sama sekali tidak ada kecocokan, jadi bertengkar adalah suatu hal yang wajar." sambung Reno lagi, sembari menghela nafas.
Sementara Boby hanya bisa tersenyum miring, terlihat jelas bahwa raut wajah tuan nya itu sedang sangat tertekan dan menderita. Tapi anehnya Reno sangatlah egois dan lebih memilih untuk mempertahankan pernikahan nya, dari pada hidup bahagia bersama wanita yang ia cintai.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa anda tidak memilih untuk bercerai saja tuan? Kalau memang tidak ada kecocokan untuk apa rumah tangga anda dan juga nona Sonia di pertahankan?" ucap Boby memberikan sebuah pendapat, barang kali tuan nya itu mau berubah pikiran dan memilih untuk mengejar Fatima si gadis polos yang berhasil mengambil hati tuan nya tersebut.
Walaupun kedengaran nya sangat mustahil, tapi tidak ada salahnya untuk berekspetasi.
"Aku hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup, itu adalah keputusan ku. Aku bertahan karena memikirkan Samantha putriku, dia masih membutuhkan sesosok ayah dan juga ibu yang lengkap. Anak mana yang ingin kedua orang tua nya bercerai? Pasti tidak akan ada. Aku tidak boleh egois dan memikirkan tentang kebahagiaan ku sendiri, sementara putri ku harus menderita ketika melihat ayahnya pergi mencari kebahagian dengan wanita lain." jawab Reno dengan penuh keyakinan.
Boby seakan mendapat sebuah tamparan, dia juga merupakan seorang ayah dan tentu pastinya paham ketika sedang berada di posisi Reno.
Samantha adalah satu-satunya kelemahan bagi pria itu. Perjuangan seorang ayah yang lebih mementingkan kebahagiaan anaknya dari pada kebahagiaan untuk dirinya sendiri.
"Lebih baik kau antarkan aku untuk pulang ke rumah orang tua ku. Mungkin dengan begitu aku bisa sedikit tenang!" perintah Reno pada akhirnya karena melihat bahwa sejak tadi Boby hanya mengajaknya mutar-mutar tidak jelas tanpa tau arah dan tujuan.
"Ba-baiklah tuan!" sahut pria itu dengan cepat.
...****************...
Pada keesokan paginya.
Sonia merasa bingung kenapa suaminya tidak pulang semalam. Entah kemana perginya Reno bersama dengan anak buahnya tersebut, sehingga menimbulkan tanda tanya bagi Sonia.
"Mah, apa papa akan ikut ke rumah kakek?" tanya Samantha yang terlihat sedang menunggu, karena rencana nya pagi ini mereka berdua akan berkunjung ke rumah keluarga besarnya Sonia.
Tadinya wanita itu memang ingin mengajak Reno, tapi karena suaminya itu tak juga kunjung pulang. Akhirnya Sonia memilih untuk pergi berdua saja dengan putrinya.
"Tidak, sepertinya papa ada urusan. Jadi kita pergi berdua saja!" sahut Sonia sambil tersenyum manis.
"Urusan apa? Urusan pekerjaan? Papa selalu saja begitu, belakangan ini papa selalu saja sibuk dan tidak punya waktu untuk kita berdua. Lagi pula bukan nya sekarang adalah hari libur? Kantor pasti lagi tutup kan? Mana mungkin papa kerja. Apa jangan-jangan papa lagi berkencan sama wanita lain?" tebak Samantha dengan begitu enteng nya, sehingga membuat Sonia langsung spontan melotot karena terkejut dengan omongan putrinya yang tidak di sangka-sangka akan keluar begitu saja.
__ADS_1