
Akhirnya mereka berdua pun sampai ke tempat rumah makan yang dekat dengan rumahnya Reno.
Karena tuan nya itu terlanjur lapar, akhirnya Boby membawa Reno untuk makan ke tempat makan biasa yang jaraknya cukup dekat.
Tidak ada yang mengira jika Sonia akan pergi ke rumah keluarga nya bersama Samantha. Boby tidak bisa memprediksi jika nona nya tidak akan masak hari ini, jadi tidak ada niatan awal untuk mereka berdua sarapan di luar.
Secara perlahan Reno pun mulai turun dan juga melangkah kan kakinya hendak masuk, memperhatikan para pengunjung di rumah makan ini. Suasana nya begitu ramai, sepertinya rumah makan ini memiliki masakan yang sangat khas dan juga lezat, sehingga banyak pengunjung yang antri meskipun hari masih sangat pagi.
Reno memilih untuk duduk di salah satu meja yang sudah di sediakan, tak lama kemudian salah satu pelayan datang dan langsung mengantarkan buku menu nya.
Setelah Reno dan juga Boby selesai memilih-milih, pelayan itu pun sudah bersiap ingin kembali untuk menyiapkan pesanan nya.
"Silahkan di tunggu tuan!" ucap Pelayan itu dengan ramah.
Boby hanya tersenyum sementara Reno tidak menunjukan ekspresi sedikit pun.
Mata pria itu menangkap 2 orang pengunjung yang seperti nya sedang membicarakan tentang nya saat ini.
"Bukankah dia menantu Presiden kita?" tanya salah satu wanita parubaya berbicara dengan rekan di samping nya.
"Mana?" balas rekan nya tersebut dan langsung menoleh ke belakang untuk memastikan apakah omongan teman nya tersebut benar.
Ternyata memang benar! Secara bersamaan mereka berdua memandang ke arah Reno yang saat ini juga terlihat sedang memandang ke arah mereka juga.
"Wajahnya sangat tampan dan juga dewasa, tidak menyangka kalau kita akan berjumpa dengan orang sepenting dia di sini." ujar wanita itu.
__ADS_1
"Ya kau benar! Meskipun dia keturunan bangsawan tapi dia sama sekali tidak malu untuk singgah di rumah makan biasa ini. Karena kau tau, biasanya orang kaya akan makan di tempat mewah seperti restoran."
"Ck, kata siapa? Justru orang kaya yang sesungguh nya lebih suka berbaur dengan masyarakat. Malahan orang kaya yang tidak benar-benar kaya justru lebih cenderung pamer kekayaan dan sombong." sahut wanita satunya yang menyangkal omongan dari rekan nya tersebut.
"Tuan, seperti nya mereka semua membicarakan mu. Anda jadi pusat perhatian disini. Atau mau ku kosongkan saja rumah makan nya supaya Tuan tidak merasa terganggu?" tawar Boby yang paham dengan kondisi sekarang.
"Tidak perlu, mereka juga ingin makan disini. Lagi pula selagi mereka tidak melakukan hal-hal yang di luar batas wajar, tidak masalah." sahut Reno langsung menolak secara mentah-mentah usulan dari anak buah nya itu.
"Baiklah tuan!" Boby akhirnya hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan tuan nya.
Tak lama berselang, terlihat seorang wanita yang tak lain adalah Fatima tengah membawakan pesanan ke arah meja mereka.
"Gadis itu?" tanya Reno yang langsung mengarahkan pandangan matanya ke arah Boby.
"Bukan tuan! Saya sama sekali tidak bermaksud."
"Diam kau!" bentak Reno akibat merasa sangat geram.
Fatima pun langsung menghidangkan pesanan nya lalu pergi setelah itu.
Sementara Boby benar-benar tak tau dan pertemuan ini bukanlah sengaja ia rencanakan. Bahkan dia pun sama sekali tidak mengetahui jika gadis itu bekerja di sini. Tapi ah sudahlah, tuan nya itu terlanjur salah paham kepada nya.
"Hei tunggu dulu! Kenapa kau pergi secepat ini? Aku belum selesai memesan." tegur Reno, sehingga membuat Fatima langsung menghentikan langkah kakinya.
Dia sendiri bingung dan terpaksa kembali lagi ke arah mereka.
__ADS_1
"Maksudnya tuan? Bukankah tuan sudah memesan makanan tadi? Dan ini semua pesanan nya baru saya bawakan." jawab Fatima dengan penuh kehati-hatian.
"Aku belum memesan minum, apa kau pikir aku ini sudi untuk meminum air putih saja?" ucap Reno, nadanya terdengar seperti protes.
"Pria ini sombong sekali, apakah semua orang kaya berprilaku seperti dia?" ucap Fatima di dalam hati.
"Tuan, apa yang anda lakukan? Ini bukanlah Restoran yang memiliki banyak aneka minuman seperti bir dan juga vodka. Anda hanya bisa meminum air putih saja di sini, karena rumah makan ini adalah rumah makan biasa. Cobalah untuk mengerti, anda sudah sangat kelewatan!" tegur Boby memberanikan diri, berbicara kepada tuan nya itu dengan nada sepelan mungkin agar tidak di dengar oleh orang lain termasuk Fatima.
Tak lama kemudian Talia pun datang untuk melihat secara langsung keributan yang sedang terjadi. Karena dari arah belakang dia dan juga para karyawan nya yang lain dapat mendengar suara bentakan seseorang dan sangat yakin jika ada sebuah pristiwa tidak mengenakan.
"Ada apa ini?" tanya wanita itu kepada Fatima, hingga pada akhirnya dia melihat ke arah 2 orang tamunya yang tak lain adalah Reno dan juga Boby.
"Dia sangat tidak becus dalam melayani kami. Setelah Fatima selesai menghidangkan makanan nya, selanjutnya dia malah pergi dengan mudahnya tanpa bertanya terlebih dahulu tentang keluhan kami sebagai pelanggan. Apa kau tidak mengajarkan karyawan mu bekerja dengan benar? Dari 1 sampai 10, rumah makan mu hanya mendapat penilaian 1 karena kualitasnya sangat buruk." jawab Reno secara tiba-tiba.
Pria itu langsung bangun dari duduknya, sehingga membuat Talia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
Mengingat betapa besar nya kekuasan yang sedang di pegang oleh pria tersebut. Membuat Talia benar-benar takut jika permasalahan ini akan fatal karena yang sedang ia hadapi bukanlah orang sembarangan. Selain menjadi pengusaha kaya dan juga keturunan bangsawan, Reno adalah menantu dari orang nomor satu di Negara ini.
"Apa? Kenapa dia malah menyalahkan ku? Dan dari mana pria itu bisa tau tentang siapa namaku." batin Fatima yang hanya bisa mengeluh di dalam hatinya, dengan sekuat tenaga untuk mencoba menahan tangis.
Dia sama sekali tidak tau di mana letak kesalahan nya, tapi malah di tuduh tidak becus dalam bekerja. Padahal sebelum-sebelumnya memang seperti inilah pekerjaan nya. Mencoba untuk berpikir positif, mungkin hari ini adalah hari sialnya yang mendapatkan pelanggan seperti Reno.
Dan bodohnya lagi Fatima malah mencintai pria sombong itu. Jika tau kalau sifat aslinya seperti ini, mungkin gadis itu tidak akan pernah mau jatuh cinta kepadanya. Karena menurutnya sikap pria itu sangat jauh berbeda dengan yang ia temui sewaktu dirinya berada di depan toko roti. Pada saat itu pria tersebut terlihat sangat ramah dan juga perhatian. Tapi kini kenyataan sangat jauh berbeda, dan Fatima sangat terkejut awalnya.
Tapi bagaimana pun juga ia mengaku salah karena sudah menilai orang terlebih dahulu sebelum mengenal orang itu lebih dalam. Fatima merasa bahwa dirinya ini sangat murahan karena sudah jatuh cinta dengan mudah nya kepada orang asing yang dia sendiri pun sampai sangat terkejut ketika mengetahui sifat asli dari orang itu.
__ADS_1