Gadis Polos Dan Pria Sombong

Gadis Polos Dan Pria Sombong
Bab 18


__ADS_3

Di saat Reno merasakan jika gadis itu sudah cukup tenang. Akhirnya dia memutuskan untuk melpaskan tangan nya dari mulut Fatima dan memandang wajah wanita itu yang kini terlihat sembab akibat menangis.


"Kau, untuk apa kau datang kesini?" tanya Fatima berbicara dengan nada yang tinggi.


Suasana hatinya sedang memburuk karena telah kehilangan pekerjaan, namun sekarang Tuhan malah menghadirkan sesosok pria yang sudah membuat dia di pecat dari pekerjaan nya.


"A-aku?" tanya Reno dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Sejujurnya dia juga sangat bingung harus menjawab apa. Karena tujuan nya datang kemari sangatlah tidak jelas. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja dengan cara mengikuti kemana Fatima pergi.


"Sebenarnya aku ingin menanyakan kepada mu. Apa kau lihat seorang pria yang tadi pagi datang bersama ku ke rumah makan? Apa dia sudah membayar makanan nya sebelum dia pergi?" tanya Reno berbicara dengan wajah yang tidak berekspresi.


Untuk meyakinkan agar Fatima tidak curiga. Karena bohong, bukan itu sebenarnya alasan dia datang kemari dan sampai niat mengikuti Fatima hingga masuk ke dalam kost-kostan seorang gadis muda.


Tapi entah mengapa secara bersamaan pikiran nya malah tertuju ke arah sana, suatu ketepatan yang begitu menguntungkan. Dengan begitu maka Fatima tidak akan mengira yang aneh-aneh tentang nya.


"Ya, pria itu sudah membayarnya secara langsung kepada Nona Talia sebelum pergi menyusul anda ke dalam mobil." jawab Fatima berkata dengan jujur.


"Oh, baguslah kalau begitu." sahut Reno yang akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Terlihat dengan jelas bahwa saat ini gadis itu sedang curiga, lewat pandangan matanya saat sedang menatap wajah Reno.


"Memang nya kenapa? Dan apa urusan nya dengan anda masuk ke kost-kostan saya?" tanya Fatima lagi. Dan suaranya mulai meninggi akibat tidak mendapat kejelasan yang tepat dari pria itu.


Reno yang kebingungan akhirnya mulai berusaha menjelaskan secara perlahan. Namun sebelum itu dia sempat menyuruh agar Fatima mau berbicara pelan saja, karena takut akan ada warga yang salah paham kepada mereka berdua nantinya.

__ADS_1


"Anak buah ku yang bernama Boby sudah berbohong dengan mengatakan bahwa ia belum membayar makanan nya. Jadi aku memutuskan untuk kembali lagi dan berniat ingin membayar, tapi atasan mu mengatakan jika anak buah ku sudah membayarnya saat sebelum pergi. Dia juga mengatakan, jika aku tidak percaya aku bisa menanyakan tentang hal ini kepada mu. Karena atasan mu bilang pada saat anak buah ku membayar makanan itu, kau juga ada di sana dan menjadi saksi nya. Maka dari itu aku datang kesini dan mengikuti mu untuk menanyakan hal tersebut. Dan rupanya Bobya memang sudah membayarnya." ucap Reno berbicara panjang lebar demi menjelaskan agar Fatima mau percaya dengan alasan kebohongan nya.


"Oh," Fatima lantas mengangguk paham.


"Iya, Boby memang sudah membayar nya tadi. Bahkan dia memberikan uang lebih pada Nona Talia, dia memang sangat baik tidak sama seperti mu." sahut Fatima berbicara dengan gemblangnya sehingga mampu membuat Reno menjadi tersedak karena terlelan oleh ludahnya sendiri.


"Gadis ini, berani sekali menyindirku secara terang-terangan." batin Reno merasa jengkel.


Padahal Fatima sama sekali tidak berniat menyindir pria itu, hanya saja dia mengatakan apa yang sudah di lihatnya.


Karena memang kelihatan nya. Jauh lebih baik Boby dan pada pria yang tengah ada di hadapan nya saat ini.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Izin Reno berpamitan pergi kepada Fatima.


"Yasudah, pergilah sana. Tidak ada juga yang menyuruh mu untuk datang kesini." sahut nya dengan cepat, dan lagi-lagi mampu membuat Reno merasa malu sekaligus harga dirinya sudah di injak-injak oleh gadis berusia 17 tahun itu.


Tapi memang begitu lah faktanya. Karena memang dia tidak menyuruh Reno untuk datang ke kost-kostan nya, dan hanya membalas sesuai kenyataan.


Sementara Reno, dengan berat hati pria itu pergi dan berjalan menuju ke arah mobilnya. Sangat tidak rela rasanya ketika wanita itu malah membiarkan nya pergi begitu saja tanpa berniat untuk menahan nya.


Reno benar-benar gila. Lagi pula untuk apa Fatima menahan pria itu? Sungguh membingungkan, jatuh cinta membuat akal sehat pria itu menjadi tiada dan tidak berfungsi lagi.


...****************...


"Suamiku kau sudah kembali?" tanya Sonia pada saat melihat Reno pulang.

__ADS_1


"Sudah ku katakan_" Bentakan Reno spontan terhenti pada saat baru menyadari jika putrinya Samantha juga sedang berada di ruang tamu dan tengah duduk di sofa..


"Sudah ku katakan padamu jangan berbasa-basi seperti itu, karena aku sangat muak ketika mendengarnya. Telinga ku serasa panas dan ingin marah saja kepada mu. Jadi mencoba lah untuk paham dengan keadaan suami mu ini! Karena aku sudah mencoba untuk memahami keinginan mu dengan cara berpura-pura bersikap romantis di depan anak kita." Pada akhirnya Reno berusaha untuk berbicara dengan nada yang sepelan mungkin namun dengan penuh penekanan sambil merangkul pinggang Sonia agar tidak membuat Samantha menjadi curiga.


Sementara gadis berusia 12 tahun itu hanya bisa tersenyum manis pada saat melihat papa nya bersikap romantis terhadap sang mama.


"Ba-baiklah, maaf kan aku!" balas Sonia yang ikut berbicara dengan nada pelan.


Setelah itu Reno langsung melepaskan rangkulan tangan nya dari pinggang sang istri dan secara perlahan mulai membuka satu-persatu kancing kemejanya akibat merasa sangat gerah serta panas.


Pria itu pergi menuju ke meja makan dengan di susul oleh Sonia.


"Kau pergi dan sudah lalai terhadap kewajiban mu sebagai istri. Bisa-bisanya kau tidak membuatkan ku sarapan sehingga membuat ku jadi kelaparan sampai sekarang." ucap Reno, kali ini dia sudah bisa berbicara dengan nada yang tinggi karena sudah beralu pergi dari ruangan tamu.


"Maafkan aku suamiku! Aku pikir kau tidak akan pulang, habisnya semalaman kau sama sekali tidak ada kabar. Dan aku mengira jika dirimu sedang ada tugas di luar kota." balas Sonia merasa sangat panik.


Sementara Reno tak menjawab dan hanya diam saja.


"Lagi pula bukankah masih ada pelayan di rumah ini, kau bisa meminta mereka untuk membuatkan mu sarapan." ujar Sonia lagi pada akhirnya.


Setelah wanita itu selesai berbicara, tak lama kemudian terdengar suara gebrakan meja yang di perbuat oleh Reno sehingga membuat istrinya itu menjadi terkejut dan berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya sedang bergemuruh dan tidak menentu.


"Kau adalah istri ku dan bukan pelayan itu. Sudah seharunya kau lah yang melayani ku dan membuatkan ku sarapan pagi." tekan Reno berbicara sambil menatap wajah Sonia.


"Tapi aku dan Samantha memang sudah membuat jadwal akan pergi pada pagi hari. Bahkan aku sampai rela pulang lebih awal untuk membuatkan mu makan siang, padahal tadinya ayah ku mencoba untuk menahan karena masih sangat merindukan ku." balas Sonia memberikan alasan yang sesungguhnya. Berharap agar suaminya itu mau mencoba untuk paham dengan keadaan nya.

__ADS_1


Tapi sepertinya harapan nya itu tidak akan sesuai, karena berharap kepada pria itu adalah sebuah keputusan yang sudah pasti sangat salah!


"Itu bukan urusan ku!" Setelah lama terdiam akhirnya Reno kembali membuka suaranya dan langsung pergi meninggalkan wanita itu sendirian.


__ADS_2