Gadis Polos Dan Pria Sombong

Gadis Polos Dan Pria Sombong
Bab 19


__ADS_3

Sonia langsung terdiam dan hanya bisa memperhatikan punggung suaminya itu sembari menghela nafas panjang.


Sementara Reno lebih memilih untuk berlalu menuju ke dalam kamarnya. Rasa kesal membuat rasa laparnya menjadi hilang seketika, dia benar-benar sedang tidak nafsu untuk makan dan lebih memilih untuk istirahat saja.


1 Bulan Kemudian.


Entah mengapa hari ini Reno menjadi sangat penasaran dengan keadaan gadis polos itu.


Sudah lama dia tidak pernah bertemu lagi, dan kejadian pada saat di rumah makan itu adalah pertemuan yang keterakhir kalinya.


Reno juga sempat beberapa kali datang berkunjung ke rumah makan tempat Fatima bekerja dengan alasan untuk sarapan pagi atau sebagainya. Namun Fatima tidak pernah muncul dan terlihat.


Hingga pada akhirnya Reno memberanikan diri untuk bertanya kepada Talia kemana pergi nya gadis itu. Dan rupanya Fatima sudah tidak bekerja lagi di rumah makan tersebut atau di pecat.


Dan yang lebih mencengangkan lagi, Reno baru mengetahui jika alasan Fatima di pecat adalah karena dirinya yang pada saat itu merasa tidak puas dengan pelayanan yang di berikan oleh gadis itu.


Merasa bersalah dan cukup prustasi. Tidak seharusnya ia melakukan semua ini sehingga membuat Fatima kehilangan pekerjaan nya.


Akhirnya dia berinisiatif untuk datang secara langsung ke kontrakan Fatima untuk meminta maaf secara langsung, namun sayang nya dia sedang tidak ada.


Padahal hari sudah sangat sore. Dalam hatinya pun bertanya-tanya, apakah mungkin Fatima sudah tidak tinggal di kontrakan ini lagi? Atau kah lebih memilih untuk pulang kampung karena Reno mengingat betul tentang informasi yang di berikan oleh Boby kepadanya bahwa Fatima adalah seorang gadis yang merantu ke kota . Al hasil Reno pun akhirnya memutuskan untuk pergi saja namun pada saat pria itu berbalik badan. Orang yang sedang di carinya tiba-tiba malah sudah berada di hadapan nya saat ini.


"Fatima!" ucap Reno pelan sembari memegangi bagian dadanya karena sempat terkejut atas kehadiran wanita itu yang secara tiba-tiba.


Fatima terlihat mengerutkan kening nya karena bingung.


"Untuk apa tuan datang ke sini?"

__ADS_1


Pertanyaan itu mampu membuat seorang Reno menjadi kebingungan sekaligus panik.


"A-aku_" Belum lagi pria itu selesai melanjutkan pembicaraan nya. Namun Fatima sudah pergi meninggalkan nya begitu saja.


Spontan Reno pun ikut masuk ke dalam kontrakan gadis itu sehingga membuat Fatima langsung melotot.


"Apa anda gila? Bagaimana jika salah satu orang memergoki kita berdua dan menimbulkan salah paham? Semua nya akan rumit." protes Fatima dengan cepat.


"Tidak masasalah jika hal itu memang benar terjadi. Anggap saja sebagai takdir." sahut Reno pula dengan entengnya.


Kali ini Fatima telah kehabisan kata-kata. Sangat sulit untuk memahami apa sesungguh nya keinginan dari pria yang ada depan nya saat ini.


Begitu aneh, entah apa alasan pria itu datang ke kost-kostan nya seperti seorang pencuri yang mengendap-endap.


Gelagat yang di tunjukan oleh Reno patut untuk di curigai oleh Fatima.


Karena di kost-kostan miliknya tidak ada sofa atau pun kursi yang layak akhirnya Reno hanya duduk di lantai saja. Lagi pula pria itu juga tidak mempermasalahkan nya.


Fatima datang dengan membawakan secangkir teh hangat dan menyajikan nya tepat di depan pria itu.


"Maaf, tapi aku tidak punya makanan yang bisa di sajikan. Hanya secangkir teh saja!" ujar Fatima merasa sangat canggung.


Karena pasalnya jangankan membeli makanan untuk cemilan, bahkan untuk makan nasi saja dia sangat susah dan harus menghemat.


"Tidak masalah!" balas Reno yang langsung meminum segelas teh tersebut.


Namun baru saja beberapa detik kemudian, pria itu tanpa sengaja malah menyemburkan kembali teh dari dalam mulutnya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Reno melakukan itu, tapi karena rasa teh yang di hidangkan oleh Fatima terasa begitu hambar. Namun Reno tidak berani untuk mengatakan nya karena tidak ingin m3nyinggung gadis itu.


Fatima yang menyadari alasan mengapa Reno menyemburkan teh buatan nya. Akhirnya hanya bisa mengulas senyuman singkat.


"Rasanya tidak enak bukan? Ya, aku memang tidak punya uang untuk membeli gula, jadi aku membuat teh itu dengan bahan seadanya. Keuangan ku sedang sulit sekarang bahkan aku tidak bisa mengirimi ibu ku uang seperti yang sebelumnya." ungkap Fatima merasa sangat sedih dan juga terpuruk dengan keadaan nya sekarang.


Setelah dia di pecat oleh Talia, Fatima memutuskan untuk tidak pulang kampung karena sama sekali belum siap. Budenya pasti akan sangat kecewa, jadi gadis itu memutuskan untuk tetap bertahan di kondisi yang seperti ini. Berusaha untuk mencari pekerjaan lain, meskipun kenyataan tak sesuai dengan ekspetasinya. Karena sangat sulit untuk mencari kerja baginya yang hanya seorang gadis tamatan SMP dan belum memiliki pengalaman kerja yang baik.


Apalagi Fatima lupa membawa ijazah sekolahnya. Membuat semua orang mengira bahwa dirinya tidak bersekolah sama sekali. Hingga pada akhirnya Fatima menemukan pekerjaan di sebuah toko pakaian dengan gaji yang sangat rendah, yaitu hanya 300 rb sebulan.


Dari pada menjadi seorang pengangguran di kota asing. Akhirnya Fatima mau menerima pekerjaan itu, meskipun sering kali dia merasa lelah. Karena tenaga kerja yang di keluarkan tidak seimbang dengan bayaran nya.


Tapi meskipun begitu, ia masih bisa tetap bersyukur karena di terima bekerja.


Mendengar ucapan gadis itu seketika membuat Reno teringat akan tujuan awalnya datang kesini yaitu untuk meminta maaf.


"Aku dengar kau di pecat dan tidak bekerja lagi di rumah makan itu? Apakah benar?" tanya Reno ingin memastikan.


"Hm, ya! Karena aku tidak becus dalam bekerja makanya aku di pecat oleh Nona Talia." balas Fatima dengan cepat, sehingga membuat Reno semangkin di penuhi oleh rasa bersalah.


"Bukan, sebenarnya itu bukan kesalahan mu. Kerja mu tidak terlalu buruk dan tidak seharusnya di berhentikan oleh Talia." sahut Reno menyangkal anggapan Fatima.


Sehingga membuat gadis itu langsung menautkan kedua alisnya.


"Tidak terlalu buruk? Bukankah tuan yang mengatakan sendiri jika pelayanan ku adalah 1 dari 10." tanya Fatima lagi, padahal dirinya mengingat dengan jelas bagaimana angkuh dan juga sombong nya pria itu pada saat sedang menghardiknya di depan banyak orang dan mengatakan bahwa dia sangat tidak becus dalam bekerja.


Tapi sekarang? Kali ini sikap pria itu seolah-olah berubah 99% dan seperti merasa tidak terima jika dirinya di pecat dari pekerjaan nya. Padahal alasan dia di pecat adalah karena pria itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2