GADIS PURNAMA

GADIS PURNAMA
Capture 14


__ADS_3

Irma tak bisa terima tentang ucapan sang Ibu mertua yang menurutnya sangat melukai hatinya. Dia sendiri selalu saja berusaha untuk memberikan seorang bayi yang cantik untuk sang suami namun Irma masih belum juga di berikan kepercayaan untuk hal berharga itu.


"Ini bukan kemauanku ya Allah aku juga ingin memiliki seorang bayi dan aku juga tak mau jauh dari suamiku,apa yang harus aku lakukan ya Allah."suara Irma terdengar memilukan.


Hati siapa yang tak sakit jika dia sudah rela berkorban banyak namun tak di hargai? Hati mana yang tak merasakan sakit jika dia sudah sekuat hati bertahan dengan pernikahan yang tak seharusnya namun kini ternyata dia tak di anggap ada?


Irma pun berteriak sekuat tenaga untuk mengeluarkan semua yang sedang dia rasakan..


Sementara itu Nyonya Wijaya pun sangat senang karena pada akhirnya ingatan Purnama telah kembali pulih dan hal itu membuatnya bersemangat untuk merebut Gadis dari tangan Ibunya.


"Bunda apa benar aku telah menikahi Irma selama lima tahun? Terus anak yang ada di kandungan Gladis bagaimana nasibnya Bunda? apa selama ini Bunda memberikannya haknya?"Purnama tiba tiba saja bertanya hal yang membuat Nyonya Wijaya kaget.


Nyonya Wijaya pun hanya diam saja hal itu membuat Purnama memikirkan sesuatu.


"Jangan bilang jika selama ini Bunda telah menelantarkan anakku dan apakah ini semua rencana Bunda menikahkan aku dengan Irma. Kenapa Bunda tega sama aku memisahkan aku dengan Gladis dan juga anakku. dimana hati nurani Bunda."Purnama pun telihat sangat kesal lalu pergi dengan sejuta kekecewaan...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat Gladis berserta Daffa kini mereka sedang menikmati waktu bersama dengan Gadis putri mereka.


Daffa sangat bahagia karena pada akhirnya Gladis mau menerima dirinya untuk menjadi calon imam baginya dan bagi Gadis..


"Dis setelah ini kamu mau kemana lagi aku akan siap mengantar kamu kemanapun kamu mau. Dan aku juga ingin mengajak kamu dan Gadis kesatu tempat dimana kita bisa melihat sun rise dan juga kita bisa menghirup udara yang sangat segar. Tempatnya gak jauh dari sini apa kamu gak keberatan?"Daffa pun mencoba memperlakukan Gladis secara istimewa setelah Gladis menerima lamarannya. ..


Gladis hanya mengangguk dan tersenyum dengan sangat manis.


"Terserah Abang saja aku dan Gadis ikut. Iya gak sayang kita ikut Papi ya."Gladis pun menoleh kearah sang putri yang sedang menikmati ice cream.


Gadis pun dengan antusias menjawab pertanyaan sang Bunda.


"Iya Bunda kita ikut Papi,Bunda benarkan kalau sebentar lagi Papi akan tinggal sama kita Papi gak akan pernah pulang ke rumah Papi lagi?"pertanyaan Gadis membuat Gladis dan Daffa saling tatap..


Daffa pun berjongkok mensejarkan tubuhnya dengan tubuh putri kecilnya itu..

__ADS_1


"Iya sayang tapi tunggu Papi sama Bunda menikah dulu setelah itu kita akan bersama selamanya."Daffa pun mencoba memberikan pengertian kepada putri kecilnya itu.


Gladis terlihat sangat senang menatap kearah Daffa yang begitu lembut memberitahu putri kecilnya dan Gladis sendiri semakin yakin bahwa Daffa adalah Ayah yang tepat untuk Gadis.


"Sayang udah tahu kan apa yang di katakan sama Papi, sekarang Gadis harus nurut semua yang Papi Daffa katakan ya gak boleh bandel. Gadis tahu apa yang Bunda maksud?"Gladis pun mencoba memberikan pengertian dengan lembut.


Gadis hanya mengangguk lalu tersenyum kearah Daffa dan sang Bunda..


"Iya Papi,Bunda aku sayang sama kalian berdua."ucap Gadis sembari memeluk keduanya...


Tepat beberapa hari kemudian tanpa di sengaja Gladis yang sedang berada di sebuah pusat berbelanja pun bertemu dengan Purnama untuk pertama kalinya setelah lima tahun lamanya.


"Gladis... Gladis itu benar-benar kamu kan?"tanya Purnama sembari mengejar Gladis yang nampak berlari..


"Mas Purnama? Enggak aku gak mau bertemu dengan dia lagi. Aku gak mau nantinya perasaan aku melukai hati Bang Daffa,laki laki yang selalu ada buat aku dan juga Gadis."pekik Gladis sembari berlari sekuat tenaga...


Namun kekuatan Gladis terlalu mudah untuk di patahkan oleh Purnama dengan cepat Purnama berhasil menghentikan langkah Gladis.


"Kenapa kamu menghindariku? Aku perlu bicara sama kamu Dis?"ucap Purnama sembari memegang tangan Gladis dengan lembut.


"Kenapa Mas. apa ada yang penting?"tanya Gladis mencoba acuh tak acuh.


Purnama pun menatap wajah cantik Gladis dia terlihat semakin cantik dan juga semakin dewasa Gladis juga telihat sangat kuat dan bahagia.


"Bagaimana kabar kamu? Maafkan aku Dis jika selama ini aku telah..."ucapan Purnama terhenti ketika Daffa dan Gadis datang menemuinya.


"Bunda...."panggil Gadis lalu berlari kearah Gladis yang sedang berbincang dengan seorang laki laki yang ternyata adalah Ayah biologisnya.


Gladis nampak panik melihat Gadis bertemu dengan Purnama dia merasa takut jika Purnama akan mengambil Gadis dari tangannya.


"Sayang dia siapa?"tanya Daffa yang sebenarnya tahu tentang Purnama laki laki yang tak bertanggung jawab yang telah menghancurkan kehidupan wanita yang sangat dia cintai itu..


Purnama pun kaget setelah mendengar laki laki itu memanggil sayang pada mantan kekasihnya itu..

__ADS_1


Sementara Gladis masih diam membisu pikirannya melayang jauh entah kemana untung saja dia bisa membaca situasi...


"Bang ini Mas Purnama dia adalah teman aku di kampus dulu. Mas Purnama kenalin dia Daffa suami aku."ucapan Gladis membuat Purnama sangat syok..


"Apa suami.."ucap Purnama tak percaya.


Sementara itu mata Purnama tertuju pada Gadis wajahnya sangat mirip dengan dirinya waktu kecil, Purnama pun meyakini bahwa Gadis adalah putrinya.


"Daffa.."ucap Daffa membuatkan lamunan Purnama yang sedang menatap kearah Gadis.


Setalah itu tak lama kemudian mereka pun berpisah.


Setalah bertemu dengan Purnama wajah Gladis berubah muram dia tak seperti biasanya dia diam dan juga tak banyak bicara.


Daffa sendiri sangat tahu tentang perasaan Gladis saat ini tak mudah untuknya meluapkan laki laki yang telah masuk terlalu dalam di dalam kehidupannya hal itu membuat Daffa memilih untuk membuatkan Gladis tenang dengan sendirinya.


"Papi,,kenapa Bunda diam saja apa Bunda sakit?"tanya Gadis dengan polosnya.


Daffa pun menatap kearah Gladis yang masih nampak diam dan mematung.


"Bunda gak sakit kok sayang,Bunda hanya kecapean aja. Jadi Papi minta Gadis jangan ganggu Bunda ya.."ucap Daffa lirih.


Gladis pun menatap kearah Daffa dan kemudian menatapnya dalam dalam..


"Bang maafkan aku,aku belum bisa..."ucapan Gladis tertahan ketika jari manis Daffa menghentikannya.


"Gak apa apa Dis aku bisa mengerti dan aku juga gak keberatan untuk hal itu.. Aku percaya sepenuhnya sama kamu."Daffa pun tersenyum mencoba membuat Gladis merasa nyaman dengan dirinya.


Setelah itu tiba tiba saja Gladis langsung memeluk Daffa dan kemudian menangis.


"Bang maafkan aku,aku sudah tak memiliki perasaan apapun sama dia tapi aku cuma takut jika suatu saat nanti dia akan mengambil Gadis dari tanganku."Gladis pun terlihat berada di dalam dilema yang berat.


Daffa pun membalas pelukannya dengan sangat erat dan mencoba menenangkannya...

__ADS_1


"Sayang jangan khawatir aku janji aku akan melindungi kamu dan Gadis dengan cara apapun. Dan aku juga tak akan pernah membiarkan siapapun mengambil putri kita. Gadis adalah putriku dan selamanya akan tetap begitu."Daffa pun berhasil membuat hati Gadis merasa tenang.


__ADS_2