GADIS PURNAMA

GADIS PURNAMA
Capture 09


__ADS_3

Sementara itu Pak Anjas menatap wajah sang istri yang nampak sedang tersenyum melihat sang cucu yang sedang bermain dengan Daffa.


"Bun kenapa senyum senyum sendiri? Apa ada hal yang bikin kamu bahagia?"tanya Pak Anjas sembari menatap heran sang istri.


Bu Inez pun menatap sang suami lalu menunjukkan kedekatan Daffa dan Gadis..


"Lihatlah Pak cucu kita dia terlihat sangat bahagia bermain dengan Daffa seandianya saja Daffa bisa benar benar menjadi Ayah buat Gadis mungkin Gladis dan Gadis akan menjadi sangat bahagia."Ibu Inez pun berandai andai.


Pak Anjas pun ikut merasakan betapa sayangnya Daffa terhadap Gadis,jika itu bisa terjadi kenapa enggak bukankah keduanya juga bukan saudara kandung jadi wajar aja jika mereka bisa menikah terlebih lagi Gladis dan Daffa hanya saudara sepupu...


"Bunda doakan saja yang terbaik buat Gladis,Ayah yakin suatu saat nanti Gladis pasti akan bertemu dengan laki laki yang begitu tulus mencintainya dan jika itu memang Daffa orangnya Ayah gak akan kebertaan."Pak Anjas pun tersenyum..


Tak lama setelah itu Gladis pun keluar dari toilet dan melihat Gladis yang sedang bermain dengan Daffa.


"Aduh anak Bunda asik banget main sama Papi Daffa,wah Bunda gak di ajak ya?"ucap Gladis sembari tersenyum..


Daffa pun menatap Gladis sekilas dan kemudian tersenyum...


"Sayangnya Papi lihat Bunda kamu mau ikut main apa kamu mengizinkannya sayang?"Daffa pun bertanya pada Gadis dengan lembut.

__ADS_1


Gadis pun mengangguk dan kemudian memegang tangan sang Bunda dengan lembut..


"Boleh Bunda,Bunda sama Papi adalah kedatangan Gadis?"ucapan Gadis membuat Daffa dan Gladis saling tatap...


❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️


Ketika sedang berada di taman tiba tiba Nyonya Wijaya melihat Gadis,Nyonya Wijaya langsung tahu tentang cucunya itu..


"Gadis cucuku.."ucap Nyonya Wijaya sembari berusaha memeluk Gadis..


Gadis yang syok dan juga takut pun langsung berteriak..


Daffa dan Gadis langsung berlari mendekati Gadis yang kebetulan tak jauh dari tempat mereka berdiri..


Gladis menatap wajah wanita yang begitu femiliar untuknya wanita paruh baya yang telah memaksanya untuk menjadi seorang single perents dan wanita paruh baya juga yang telah begitu menginjak harga dirinya kala itu.


"Apa yang Ibu telah lakukan?"ucap Gladis sembari menarik lengan Gadis dengan lembut.


Nyonya Wijaya pun tak mau diam saja dia kembali menarik lengan Gadis dengan kasar sehingga membuat bocah itu merasa kesakitan.

__ADS_1


"Bunda,,sakit..."teriak Gadis sembari menangis.


Gladis pun langsung memeluk Gadis yang nampak ketakutan.


"Apa Ibu dulu lupa bagaimana perlakuan Ibu kepadaku? Bukankah Ibu tak pernah menginginkan kami,lalu kenapa sekarang Ibu mau ambil Gadis dariku?"Gladis pun berusaha untuk melawan.


"Tapi Gadis adalah anak Purnama dan kami berhak atas dia,dia cucuku jadi aku mau dia ikut aku bersama dengan Ayah kandungnya."ucap Nyonya Wijaya bersi keras..


Gladis pun tertawa mendengar ucapan wanita yang pernah akan menjadi mertuanya itu.


"Berhak? Bukankah Ibu dulu memintaku untuk membuang anak ini? Bukankah dulu Ibu sendiri yang mengatakan bahwa dia bukan keturunan Wijaya? Lalu apa maksudnya semua ini?"Gladis pun kini terlihat kesal..


Nyonya Wijaya menampar pipi Gladis karena berani bertindak kurang ajar kepadanya.


plaakkkkkk sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Gladis yang mulus..


"Jangan sakiti Bundaku,Dasar nenek nenek jahat Gadis benci nenek."ucap Gadis sembari berteriak histris melihat Bundanya di pukul..


"Bunda ayo kita pergi aku gak mau disini aku mau pulang sama Papi."Gadis pun masih menangis.

__ADS_1


"Sekarang Nyonya lihat sendiri bahkan Gadis pun bisa merasakan apa yang tak pernah aku cerita dan Ibu jangan pernah berfikir untuk bisa mengambil Gadis dariku."ucap Gladis sebelum pergi meninggalkan Nyonya Wijaya yang masih mematung diam seribu bahasa.


__ADS_2