Gadis Yang Merindukan Cinta

Gadis Yang Merindukan Cinta
Chapter 11


__ADS_3

Aku masih segan hidup di dunia ini selama cerita aku Arka dan Rahul masih tetap tertulis. Aku bangun dari tidur aku di rumah masih sepi dan belum solat subuh. Oh tuhan aku malas bangun pagi.


Aku bangun dari tempat tidur aku sambil mencari sesuatu, menghilangkan rasa kantuk dan terasa lapar.


"Ibu pertunangannya kapan?" kataku dalam hati. Aku lalu di kaget kan dengan bunyi jam yang berdentang pukul delapan pagi, apa aku mimpi.


"Ibu..?" Aku memanggil ibuku. Di bawah terdengar suara riuh. Itu pasti tetangga sedang memasak. Aku pergi ke dapur, ibu sedang berdiri memasak di dapur.


"Aurel, kamu tidak mandi?" Ibuku bertanya, aku tetap berdiri mematung. "bentar lagi tamunya datang loh, cepat mandi dan ganti baju. Nanti ibu yang dandanin kamu." kata ibuku. Aku tidak percaya apa yang sedang ibu katakan barusan, apa benar tamunya akan datang sebentar lagi. Aku lalu pergi ke kamar mandi lalu mandi. Setelah selesai aku langsung berdiri sambil melihat ponsel aku yang berisi SMS chat dari teman aku.


Arini : hai Aurel, aku bentar lagi mau ke rumah kamu loh, di tunggu ya, aku masih siap-siap mandi.


"Ya Tuhan, Arini siap banget buat menyambut kedatangan tamu itu." Ucapku dalam hati.


Raka : Aurel, bisakah kamu datang ke rumah aku sekarang, aku butuh teman Aurel.


Aku balas SMS itu.


Aurel : aku gak bisa datang, maaf.


Aku baca SMS yang lain lalu aku tutup ponsel baik itu yang banyak mendatangkan Rizki buat aku. Klik, suara pintu di buka. "Ibu, ada apa?"


"Kamu belum dandan?" Ibuku bicara pada aku dari balik pintu kamar.


"Aku barusan mandi, masih belum sempat. Oh iya, ini ada teman ibu yang mau dandanin kamu, ibu sibuk tidak bisa dandanin kamu sayang, bentar lagi orangnya masuk, oke!" jelas ibuku padaku.


"Iya." jawabku canggung.

__ADS_1


Aku tidak percaya akan terjadi apa, tapi perempuan paruh baya itu datang ke kamar aku untuk make-up in aku buat tampil cantik.


"Permisi, maaf sudah siap untuk dandan?" tanya perempuan itu padaku. Aku mengangguk iya, aku sudah siap untuk dandan, pertunangan itu pun di langsungkan.


Setelah larut malam para tamu sudah pada pulang tinggal aku, Mama, Papa dan Arkana yang masih ada dan tinggal di rumah aku, di tambah Bibi Ijah dan beberapa tetangga yang lain yang masih sibuk di dapur belakang. Aku duduk di luar di teras depan rumah sambil lihat pemandangan, Arka sedang telfonan sama temannya di taman depan, aku sedikit memperhatikan dia.


"Aurel, Arka mana, di mana dia sekarang..?" Ibuku datang dan langsung tanya aku. Aku langsung jawab,


"dia ada di taman depan sedang telfonan." jawabku ke ibu.


Heran, kenapa ibu mencari Arkana, ibu perlu apa sih sama Arkana. Aku melihat ke arah taman depan, Arkana masih saja menelepon temannya itu, dia sama sekali tidak merespon aku yang lagi kesepian, mungkin sedang tidak enak hati sama aku atau bagaimana. Aku jadi salah tingkah di depan dia, kalau memang begitu, kenapa Engkau hadirkan Arkana di dalam hidup aku ya Tuhan, ini semua adalah salah Ibu, dia terlalu mencintai dan menyukai Arkana.


"Ada apa Ibu, Ibu perlu sama Arkana, kalau memang butuh biar aku panggil dia sekarang!" aku berkata pada ibuku yang masih berdiri di sebelah pintu depan rumah aku sambil memandang Arkana. Mungkin perasaan ibu sama aku sama, Arkana tidak begitu perhatian padaku. Ibu lalu berjalan pelan dan mendekat padaku,


"Aurel ibu baru tahu kalau Arkana suka telfonan. Dia orangnya suka begitu ya?" tanya Ibuku cemas.


"Enggak Ibu, Arkana orangnya baik kok. Teman-temannya banyak cerita kalau Arkana itu baik." aku mencoba membela Arkana di depan ibu aku, laki-laki yang menurut aku susah di tebak dan suka ngerepotin orang.


"Coba kamu panggil Arkana sekarang!" ibu meminta aku untuk memanggil Arkana, aku langsung pergi berjalan menghampiri dia meski aku sedikit malu dan kaku di depan dia. Aku berjalan mendekat pada Arkana yang masih berdiri di depan halaman rumah, di taman.


"Arkana, kamu di panggil sama ibu, sekarang!"


"Aku masih telfon, sebentar lagi aku ke situ." kata Arkana menjawab aku langsung. Aku langsung buruk sangka sama dia, aku pikir dia sedang menelepon teman perempuannya.


"Iya, jangan pakai lama." kataku mencoba untuk sedikit mengatur Arkana, dia malah melihat aku dengan tatapan tidak suka. Aku langsung pergi dan serasa pengin menangis di depan dia. Aku langsung lari ke kamar dan tidak mau melihat wajah dia lagi. Aku menangis dan ingin mengadukannya pada Kak Raka, orang yang mau mendengarkan keluh kesah aku.


Sebelumnya ibu sempat memanggil aku, "Aurel kamu mau ke mana..?" aku langsung berlari menuju ke kamar aku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar, aku tidak tahu apa yang di lakukan oleh Arkana dan Ibu aku.

__ADS_1


Tiba-tiba, pintu kamar aku di buka oleh seseorang dan itu adalah Arkana. Malam itu sekitar pukul 08.01 wib. Aku melihat ke arah pintu, dan itu benar Arkana.


"Ada apa, kenapa ke mari, di suruh ibu ya, mending kamu pergi sekarang, tidak usaha dekat sama aku lagi. Aku bukan siapa-siapa kamu, aku orang yang paling kamu benci!" kataku ke Arkana. Aku lalu dengar suara hati aku, hey dengar, itu bukan kenyataan, kamu masih belum bilang apa-apa ke Arkana.


Aku masih berimajinasi dengan kalimat aku sendiri yang akan aku ucapkan kepada Arkana, tapi kalimat itu aku simpan dan tidak aku ucapkan ke Arkana malam itu juga. Aku langsung mengusap air mataku, membuat aku tenang dulu sebelum Arkana berpikir yang tidak-tidak, dan aku coba untuk menenangkan diri sebelum Arkana datang padaku dan berhadapan dengan dia.


Aku membalik kepalaku dan melihat Arkana datang, "ada apa..?" aku langsung bicara di depan Arkana tanpa rasa malu sedikit pun. "Kamu kenapa, kamu habis nangis, siapa yang buat kamu nangis..?" Arkana tanya padaku.


"Tidak ada, aku tidak nangis kok, aku baik-baik saja." kataku ke Arkana. Dia memilih duduk di kursi kamar yang bersebelahan dengan meja kecil di dalam kamar aku.


"Aku mau pamit pulang, sudah larut malam." katanya padaku. Aku kaget kenapa dia ingin langsung pulang padahal aku masih belum bicara padanya.


"Kenapa secepat itu?" aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya ke dia untuk kedua kalinya, aku ingin tahu respon dia padaku kali itu juga. Sikap Arkana padaku cukup dingin malam itu. "Sudah larut malam, tidak mungkin kan aku menginap di sini, di sini bukan rumah aku, ini rumah kamu, kamu yang berhak tidur di sini."


"Kamu juga berhak kok mulai malam ini, kamar ini adalah kamar aku sekaligus kamar aku juga. Aku dan kamu adalah sepaket sekarang." jawabku ngelantur. Arkana tertawa mendengar kalimat itu, hahahaha. Aku jadi ikut tersenyum mendengar tertawaan dia.


"Kenapa tertawa, ada yang lucu?" tanyaku lagi. Aku mencoba untuk mencairkan suasana. Tiba-tiba Arkana datang padaku dan mengulurkan tangannya. "Aku pergi dulu, sampai jumpa besok siang."


"Besok siang ada acara apa..?" kataku tanya. Aku tidak tahu kalau besok Arkana ada acara dengan aku. "Besok siang aku akan jemput kamu buat jalan bareng, tadi ibu kamu sudah bilang ke aku buat jemput kamu pukul dua sore." jelas Arkana padaku.


"Untuk apa acara itu, bukannya besok hari Minggu, hari libur..?"


"Oleh karena itu, ibu kamu menyuruh aku untuk mengajak kamu jalan-jalan keluar, kamu bersedia, kan..?" Aduh, bagaimana nih, besok aku punya acara ke rumah Arini buat makan kue bareng di rumah dia. Aku tidak begitu siap untuk menyanggupi ajakan Arkana itu. Bagaimana ini?


"Bagaimana, kamu setuju bukan..?" Arkana tanya lagi ke aku. Aku masih kelabakan mencerna pertanyaan dia itu.


"Eh, insya Allah." jawabku langsung.

__ADS_1


"Jangan lupa besok jam dua siang." kata Arkana padaku.


TBC.


__ADS_2