
Sepulang dari pesta yang di adakan di rumah Norman yang punya berlian itu, Arkana langsung mengantar aku pulang. Yah, pulang ke rumah.
"Dah Arkana!"
Aku menyampaikan salam aku ke dia. Dia tersenyum padaku di dalam mobil dan dia pun pergi meninggalkan aku dengan mobilnya. Aku sempat berpikir, senangnya jadi orang laki-laki yang bebas seperti Arkana.
Rumah aku kosong memang, ibuku dan bapakku pergi entah ke mana.
"Hello, ada orang tidak?"
Aku biasa begitu, menyapa orang yang tidak ada di dalam. Aku langsung pergi ke dalam kamar dan langsung rebahan. Malam itu aku tertidur.
Paginya aku bangun, mandi dan siap-siap untuk ke sekolah.
...***...
Entah kenapa aku ingin keluar waktu itu dan ingin jalan-jalan keluar. Aku pakai jaket merah tebal dan aku berjalan sendirian. Aku melihat pemandangan sekeliling dan mulai masuk ke toko-toko terdekat. Aku lalu melihat seseorang yang aku kenal, dia adalah Rahul.
Aku pura-pura tidak melihat dia, aku sengaja menghindari dia. Dia seperti tengah belanja atau beli baju. Aku berjalan saja ke sekeliling toko dan kau menghilang. Aku menghembuskan napas. Ya tuhan, aku baru tau kabar Rahul bagaimana sekarang. Sewaktu aku berdiri ada yang menepuk pundak aku dari belakang.
"Hei!" aku tersentak dengan suara itu. Aku menoleh dan tak salah lagi itu adalah Rahul.
"Ya tuhan Rahul, kamu, kamu ada di sini..?" kataku ketakutan.
"Iya, aku di sini kamu ngapain di sini, belanja?" Rahul bertanya padaku.
"Tidak, aku jalan-jalan saja. Di rumah sumpek." kataku menjawab.
"Kalau begitu ikut aku!" katanya padaku sambil mengajak aku ke suatu tempat. "Mau di ajak ke mana Rahul..?"
"Ke kafe." katanya menjawab.
"Ngapain?"
"Minum kopi."
"Sepagi ini..?" kataku ke dia.
"Iya. Kamu mau kan ngopi bareng aku?"
__ADS_1
"Aku tidak biasa ngopi. Aku biasa ngemil." Rahul diam dan terus saja berjalan. Setelah sampai aku memilih tempat duduk untuk bisa duduk nyaman di depan Rahul.
"Rahul, kenapa kamu ajak aku ke sini, kamu punya niat untuk bicara dengan aku tentang suatu hal atau cuma iseng saja..?"
"Mas..!" kata Rahul mengabaikan pertanyaan aku. Jengkel sekali aku di buatnya.
"Dua kopi susu." katanya memesan. Sumpah aku tidak enak kalau minum kopi pagi-pagi. Sebenarnya sudah pukul sepuluh pagi di mana orang-orang masih sepi dan ada yang berkeliaran juga.
Oh tuhan, males banget.
"Sebenarnya ada acara apa kamu mengundang aku ke sini, ke tempat ini. Minum kopi pula, padahal aku tidak suka minum kopi. Aku itu sukanya makan roti apa gitu."
"Iya, kapan-kapan kalau aku udah ada uang. Bisanya cuma beli kopi." ujar Rahul padaku. Senang bisa bertemu dengan dia. Kenapa aku mau ketemu sama dia, karena aku kangen ke Rahul. Lama sekali tidak bertemu.
"Aku dengar kamu sudah tunangan sama laki-laki bernama Arkan. Betul begitu?"
"Benar. Aku tunangan sama Arkan yang tidak mungkin aku lepas dia. Laki laki ganteng, cakep, baik, tajir lagi. Tidak seperti kamu. Eh, maaf. Bukannya sombong tapi memang kenyataannya begitu. Iya kan?"
"Dari dulu kamu selalu menghina aku Aurel. Dari aku sekolah, kuliah, sampai sekarang. Oke, aku jujur kalau aku orang tidak punya. Aku kalah jauh sama keluarga tunangan kamu itu."
"Arkana, namanya Arkana. Aku akan perkenalkan kamu sama dia kapan-kapan." selaku langsung.
"Tidak, itu tidak penting buat aku. Aku tidak butuh buat bertemu sama kamu. Yang aku butuhkan cuma kamu saja. Emang kamu pikir aku homo? Berharap laki-laki untuk jadi pacar aku?"
"Eh tunggu Aurel, mau ke mana, kopinya masih belum kamu minum." Rahul memegang tangan aku.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau kamu permainkan aku. Dengar ya, sampai kapan pun aku tidak akan selingkuh sama kamu. Jangankan aku, semir pun tak akan aku biarkan berhubungan sama kamu! Lepaskan aku!"
"Sebegitu bencinya kamu sama aku, ada apa Aurel. Aku punya salah sama kamu?"
"Maaf, dari dulu aku memang tidak suka kamu. Kamu itu jelek Rahul!" aku berteriak di depan laki-laki baik itu meski jelek sebenarnya. Makanya aku tidak mau temenan sama dia. Hitam juga.
"Oh jadi karena aku jelek kamu tidak mau berteman dengan aku gitu. Oke, aku terima. Tapi jangan salahkan aku sama Tuhan kalau suatu saat nanti anak kamu akan lebih jelek daripada aku. Ingat itu Aurel!"
Aku masih berdiri nanar, dan cabut dari tempat itu.
"Aku sama sekali tidak mau berhubungan sama pria tidak tahu di untung itu. Nggak ada untungnya juga aku berteman sama dia. Rugi aku ketemu sama orang hitam seperti dia. Rahul Khan, tarik dah." Aku menggerutu sendiri sambil berjalan, menuruni tangga mall besar di kotaku.
Seketika aku melihat Arkana melenggang di tempat itu. Dia berjalan masuk tapi aku tidak menyapa dia karena tidak enak. Aku berbalik dan melihat dia dari belakang. Ngapain Arkana ada di sini, di mall. Dia pergi sendirian, mungkin dia sedang ingin belanja atau apa.
__ADS_1
...***...
Arkana masih menyetir di dalam mobil aku, sendirian dan aku sempat berpikir untuk tidak segera pulang ke rumah. Aku mau duduk dulu di atas jembatan, di atas sungai yang kamu tidak tahu di mana. Jembatan besar yang di bawahnya ada sungai.
Arkana turun dari mobilku setelah mematikan mesin dengan cepat. Oh tuhan, aku kesepian sekarang, cuma ada sunayi besar yang mengalir airnya di bawah. Aku masih melihat keadaan, sambil sesekali melihat arah mobil yang berjalan di sebelah kiri jembatan. Ya tuhan, malam ini aku benar-benar kesepian. Aku harus pergi dulu.
...***...
Pagi-pagi sekali Aurel langsung di sapa sama ibu.
"Udah pulang Aurel..?" kata ibu padaku. Aku menoleh ke arah dia,
"Iya ibu, aku nyampek tadi malam bareng Arkana. Dia yang ngantar aku ke rumah." jelasku ke ibu sambil tetap rebahan. Aku males sekali bangunnya seperti orang malas gitu, malas bangun.
"Ya jelaslah Arkan, kan yang ngajak jalan dia, lagian siapa pula yang mau nyetir kalau bukan tunangan kamu itu?"
"Ibu gak perlu berlebihan menilai Arkana, dia itu orang biasa Bu, meski dia kaya raya. Malah sampai saat ini, aku masih belum benar-benar suka sama dia, kayak kepaksa gitu!" jelask lu ke ibu.
"Nggak boleh gitu Aurel, Arkana itu orang baik, ikhlas, nggak pandang bulu, rela orangnya, Nerima apa adanya kamu dan keluarga kita. Kalau yang lain mah jangan harap begitu. Dia itu sudah jodoh kamu! Senang tidak senang, itu sudah di bawa kalian berdua nantinya!" jelas ibu.
"Ibu kok jauh banget sih ngomongnya?"
Ibu sudah pindah duduk di atas kasur tempat tidur aku. "Ya mau ngomong gimana lagi kalau ibu suka banget sama Arkana yang ganteng, dingin, dan cool gitu!"
"Ibu mulai lagi deh. Udah deh Bu muji Arkananya, aku males dengarnya. Aku lebih suka ibu itu kasih aku makanan apa kek gitu?"
"Aurel, ibu bilang itu demi kebaikan kamu, demi kebahagiaan kalian berdua. Kamu tidak tahu masalah ibu apa, sekarang ibu lagi susah cari duit buat nikahin kamu nanti!" ibu kelihatannya susah di depan aku.
Aku lalu berpikir, "kenapa ibu tidak pinjam aja ke Arkana, dia kan kaya Bu!" aku langsung menggeliat senang. Kalau udah ingat Arkana sama kekayaannya itu aku langsung kayak punya semangat lagi gitu.
Ibu menoleh ke aku. "Bukan begitu caranya Aurel, udahlah ibu mau ke kamar dulu, mau istirahat. Ibu capai kerja nyiapin makanan buat kamu dan papa kamu. Kamu kalau makan, ambil di lemari dapur ya!" ucap Ibuku padaku.
"Ibu, maafin Aurel. Aurel tidak sengaja ngomong yang tidak baik ke ibu!" aku masih tetap duduk di atas kasur tempat tidur aku, empuk rasanya.
"Iya ibu maafkan."
Ibu lalu pergi meninggalkan aku, aku ingin SMS Arkana dulu, siapa tahu dia mau balas. Kalau Arkana mah kayak enteng banget buat di hubungin tapi susah buat datang ke rumah. Dia selalu punya alasan buat nggak datang. Kecuali kalau aku udah bilang itu adalah perintah dari ibu aku. Hehe.
Kuliah aku masih libur mungkin sebulan lagi.
__ADS_1
Aurel : Halo Arkana, kamu udah bangun?
Arkan : belum