Gadis Yang Merindukan Cinta

Gadis Yang Merindukan Cinta
Chapter 15


__ADS_3

Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Arkana. Yah, Arkana Banaspati. Repot mungkin tapi tidak buat aku. Aku masih mau persiapan mandi, dandan dan lain sebagainya. Duh, Arkana lama sekali sih. datangnya.


Di kamar aku di temani oleh perias wajah yang khusus ibu pesan dari kota. Aku di rias sebegitu cantik dan menarik untuk di lihat. Pipi aku di bersihkan dengan pembersih yang mengandung air alkohol, lalu di poles dengan lulur di seluruh tubuh dan bedak di wajah. Alis juga di lukis bagus, mata di kasih Sido, dan bibir di kasih lipstik secukupnya.


Aku masih di poles sedemikian rupa untuk bisa tampil cantik menawan. Aku tampil berubah sekarang. Wajah aku penuh dengan bedak, lipstik dan Sido. Rambut aku di sisir, di tata dengan rapih dan lembut. Setelah terlihat menarik dan tertata menurut keinginan perias, aku di suruh berdiri dan siap-siap untuk memakai baju adat Jawa, semisal kebaya.


Aku merasa beda waktu itu, ini simpel sekali karena masih acara tunangan bukan kawinan. Setelah beberapa lama, aku di tinggal duduk di dalam kamar. Aku menunggu datangnya tamu. Setelah menunggu beberapa jam lamanya, rombongan itu datang. Arkana datang dengan seluruh keluarganya.


Keluarga aku menyambut kedatangan mereka. Para tamu yang ada memberikan bawaannya pada keluarga aku. Semua di terima dan di bawa ke dalam rumah. Aku mencari Arkana yang telah siap untuk menjadi calon tunangan aku hari itu. Aku tidak menduga kalau Arkana mau bertunangan dengan aku. Dia adalah laki-laki surgaku, yang siap melindungi aku nantinya di kehidupan selanjutnya. Arkana adalah orang yang istimewa buat aku.


"Arkana di mana..?" kataku bingung. Satu persatu aku perhatikan dari tamu lelaki itu tapi Arkana tidak aku temukan. Aku lalu id datangi Ibu, katanya di suruh siap-siap untuk bersalaman.


"Iya." jawabku sambil mencoba untuk menenangkan diri.


Aku sedikit nervous dan tidak enak hati. Tapi cuma salaman kok. Setelah di panggil, aku pergi menemui beberapa tamu perempuan yang ada. Aku percaya diri banget di depan mereka, berhubung aku adalah wanita tangguh yang siap untuk menghadapi segalanya. Aku maju dengan langkah pelan ke mereka yang duduk di kursi tamu dan satu persatu aku Salami dengan santun.


Selesai bersalaman aku kembali ke tempat semula, aku di temani oleh Arini teman aku. Dia menemani aku di rumah karena hanya dia teman aku di sekolah. Aku diam saja sambil menunggu makanan di hidangkan. Para tamu sudah mulai bersua satu persatu, ada yang bicara ada yang tidak.


Aku duduk sambil mengipas-ngipas tubuhku yang gerah dan sedikit berkeringat. Ya Tuhan kuatkan aku. Aku masih bingung dengan posisi Arkana sekarang. Aku tidak tahu dia ada di mana.


Makanan pun datang, aku dan Arini makan tapi sedikit. Arini makan banyak. Aku tidak mau dandanan aku belepotan. Aku cuma menghargai saja meski aku tidak begitu merasa lapar. Aku selalu berusaha untuk hati-hati dan waspada. Setelah selesai acara makan bersama, tamu masih menunggu untuk makan es puding yang rasanya enak sekali. Aku tahu, dan penasaran sekali ingin makan es itu dari tadi. Aku makan berdua sama Arini sambil sesekali mengobrol.


"Arini, tadi kamu lihat Arkana tidak?"


"Tidak, aku tidak lihat dia. Aku kan ada di belakang kamu. Lagian malu lihatin tamu laki-laki." jawab Arini sambil makan es puding. Aku sih biasa saja. Aku mau menghubungi laki-laki itu tidak ada nomor. Aku tidak punya nomor HP-nya. Aku biarkan saja itu terjadi padaku. Aku menunggu para tamu selesai bersua di ruang tamu.


"Aku mau keluar dulu ya, bantu-bantu di dapur."


"Jangan, temani aku Saja. Aku tidak ada temannya di sini." cegah aku ke Arini. Biar dia menemani aku dulu. Aku melihat ke sekitar, beberapa orang sedikit memperhatikan aku karena dandanan aku yang sebegitu-nya. Norak paling, ya.


Setelah acara itu, aku di uji untuk bertemu Arkana.


"Hai." sapaku ke Arkana. Aku tersenyum ke dia karena senang. Aku rada nyentrik memang.


"Ini rumah kamu, ya kayaknya perlu di renovasi."


"Duduk, aku mau cerita, aku sama kamu kan pernah ketemu waktu di kota itu, kan, iya kan, ayo jawab!"


"Emang kenapa, biasa aja."

__ADS_1


Deg. Aku terhentak, Arkana seperti tidak berharap aku sama sekali.


"Kamu boleh pergi sekarang." kataku ke laki-laki brengsek itu. Menyesal aku ketemu sama dia, nggak punya perasaan juga. Sumpah, kalau bukan karena Ibu, aku gak mau ngejalanin hubungan ini sama dia.


"Sudahlah Aurel, kamu tidak perlu cemas, kita bisa atasi itu semua. Arkana baik kok, kamu coba deh pikirkan lagi. Enggak mudah dapat cowok kayak dia, sumpah!" jelas Rini padaku.


"Iya, dia itu dari keluarga kaya raya, punya mobil, keluarga kaya raya, nggak lihat apa kalau mobil yang kemarin datang itu bagus-bagus, kamu bilang aja ke Arkan kalau kamu pengin jalan bareng. Aku yakin, Arkan pasti mau, tapi ya gitu, kamu harus sabar dulu bareng dia,


"kalau di pikir lagi, aku kayaknya salah bilang seperti ini di depan kamu, meski kalian tidak pada suka, tapi aku yakin kalian akan baik-baik saja.


"kalian tidak pada benci kan?" Rini sudah ngelantur ke mana-mana. Aku juga bingung mau ngapain.


"Kamu belajar suka ke dia, Arkana itu laki-laki baik loh, ganteng, kaya raya, aku mau jadi pacarnya dia!"


"Ih, genit deh." kataku ke Rini.


Suatu saat ibu menyuruh aku untuk menemui Arkana, katanya aku di suruh ikut dia ke acara keluarganya. Aku ikut, dan di situ aku bertemu keluarga itu, keluarga yang tak pernah aku harapkan pertemuannya.


Aku masuk ke rumah itu dan lalu aku di pertemukan dengan seorang laki-laki bernama Norman.


"Kenalkan, ini saudara aku Norman." tanpa sadar aku telah bertemu dengan laki-laki yang tidak aku harapkan pula.


Aku mencoba untuk tersenyum kesal. Aku tahu siapa laki-laki bernama Norman ini, semoga saja saja aku tidak pernah bertemu dia lagi, ucapku dalam hati. Aku lalu di bawa keliling oleh Arkan ke meja makan.


Aku senang sekali kalau di bawa ke tempat penuh rasa itu. Tapi Arkan tak pernah sekali pun mentraktir aku makan. Arkan langsung ambil makanan yang dia inginkan, aku juga. Sebotol wayne, yang harganya cukup mahal. Aku tahu ini adalah kejutan yang di berikan oleh keluarga Pak Brata malam itu juga.


"Arkan, Pak Brata orang kaya ya?" tanyaku ke Arkan.


"Iya, Pak Brata itu pengusaha kaya, dia punya pabrik yang berjalan sampai sekarang."


"Pabrik apa?"


"Sepatu."


"Nanti aku ketagihan sama sepatunya." kataku bercanda. Aku dan Arkana langsung makan dan menikmati hidangan itu.


Aku perhatikan Norman sedang berdua dan mengobrol dengan seorang perempuan, dia cantik dan mereka terlihat cukup akrab.


"Arkan, kamu tahu Norman?"

__ADS_1


"Kenapa, Norman adalah laki-laki nakal yang tidak aku suka, dia tidak mau menikah dan tidak mau hidup susah, dia lebih suka menggoda perempuan. Semoga saja kamu tidak ikut kepincut sama dia." Norman sedikit mengada-ada.


"Kamu apaan sih!" kataku menyela. Selepas makan, aku coba mengajak Arkan untuk mengobrol bareng Norman sebentar.


"Sudah makannya?" kata Norman padaku.


"Iya." jawab Arkan.


"Aku akan tunjukkan sesuatu pada kalian, ikut aku!" Arman menyuruh aku dan Arkan untuk ikut ke sebuah kamar, dia membuka lemari dan dia menunjukkan sebuah perhiasan termahal yang belum pernah aku lihat seumur hidup aku.


"Perhatikan ini, ini adalah kalung emas 24 karat yang aku dapatkan dari teman aku dari luar negeri, tepatnya di Eropa. Perhiasan ini akan aku jual dengan harga seratus milyar rupiah, kalau kalian berminat, kalian boleh ambil ini." ucapnya enteng.


"Saya dapat dari mana yang sebanyak itu Norman, harta bapak saja tidak sebanyak itu." jelas Arkan.


"Kalau gratis sih boleh." kataku yang tak punya malu.


"Kalau gratis boleh saja, asal kamu mau jadi milik aku, bagaimana?"


"Boleh saja, asal kamu selamat. Iya kan Aurel?"


"Betul sekali." kataku lanjut. Aku jadi pusing, apa Arkan cuma menggertak saja, atau serius dengan kalimat itu. Di mobil aku masih berpikir, kalau seandainya aku jadi milik Norman, mungkin sudah dari tadi aku pakai perhiasan berharga itu, tidak sedih seperti ini.


Tapi aku coba untuk mengalihkan pikiran aku, aku coba untuk mengobrol dengan Arkan. "Arkan, kamu bisa tidak kapan-kapan antar aku ke toko perhiasan?"


"Tutup mulut kamu Aurel, kamu tidak boleh seperti Norman, Norman itu jahat, kamu tidak boleh seperti itu." Arkan mencegah aku untuk punya keinginan seperti Norman.


"Aku cuma ingin perhiasan!" kataku di dalam mobil.


"Tenang dulu, kamu yang sabar, aku akan usaha bilang ke Papa dan Mama, insya Allah, mereka mengijinkan." kata Arkan padaku yang membuat hati aku lega. Aku lalu mencium pipi Norman dan dia tersenyum padaku.


Aku bahagia sekali malam itu, sepertinya Rini ada benarnya juga, di balik pertemuan aku dengan keluarga Norman Sander, ada hikmah yang aku peroleh, aku jadi tidak canggung lagi berdua dengan Arkan.


To be Continue.


Gimana perasaannya, berdebar-debar atau malah melempem, semoga harapan aku sama dengan harapan kamu. Jangan lupa untuk selalu setia di ceritaku.


Cerita ini hanya ada di sini, di lapak Sulastrieris.


Jangan lupa vote dan komen tinggalkan jejak kamu di sini!

__ADS_1


__ADS_2