Gadis Yang Merindukan Cinta

Gadis Yang Merindukan Cinta
Chapter 18


__ADS_3

Besoknya aku ke rumah Arkana, tapi aku tidak menemukan siapa pun di situ, cuma satu satpam. Yang bilang padaku kalau keluarga Arkana sedang pergi ke luar negeri. "ya udah pak, makasih."


Hal itu sempat aku bicarakan sama ibu, keluarga Arkana Gilang kontak. Ibu bilang padaku.


"Kalau memang keluarga Arkana nanti menghilang begitu saja, baiknya kamu putuskan saja pertunangan kamu sama Arkana. Kamu tidak perlu bertunangan lagi sama dia. Ibu tidak mau menggantungkan hubungan kamu seperti itu. Ibu mau hubungan kamu yang jelas dan serius." kata ibuku lanjut padaku.


"Tapi ibu, bagaimana kalau sewaktu-waktu keluarga Arkana datang, dan minta pertanggung jawaban. Kan status aku sama Arkana kan masih bertunangan." ucapku lirih.


"Sama saja Aurel. Keluarga Arkana juga tidak kasih kabar ke keluarga ibu. Ke kamu, ke Ibu atau ke Bapak.


"Mereka secara tidak langsung telah memutus tali kekeluargaan itu. Dan ibu tidak suka dengan cara seperti itu. Ibu tidak mau kamu di tinggal seperti ini. Padahal rencananya Ibu mau menikah kan kamu sekitar enam bulan lagi. Kan sudah lumayan dekat?" kata ibuku sedikit Bego.


"Tapi, tidak harus secepat itu Ibu. Ibu harus sabar dulu, siapa tau Arkana nanti datang kasih kabar kedatangan dia ke sini. Aku masih berharap bisa bertemu dengan Arkana tunangan aku. Aku tidak mau berharap yang lain dulu ibu.


"Status ini masih ingin aku perjelas. Aku akan cari tau kabar Arkana Atua keluarganya. Sedang ada di mana dia? Aku akan cari mereka sampai dapat?"


"Akmu berani ke luar negeri?"


"Kata siapa Arkana ke luar negeri?"


"Siapa tau dia pergi ke luar negeri?" kata ibuku.


"Entahlah, yang penting aku usaha dulu sampai tau di mana mereka berada. Aku akan cari informasi dulu tentang keberadaan mereka."


"Kenapa sampai segitunya, kayak tidak punya harga diri saja kamu. Ibu tidak suka kamu bela-belain orang uang tidak becus sama kamu!"


"Ibu, sabar!" kataku ke ibu. Mencoba untuk mendinginkan emosi ibu.


"Ibu tak sampai hati kalau kamu di siksa seperti ini. Kalau sampai ibu habis kesabarannya nanti, ibu langsung hadapi siapa pun yang mencoba berbuat seperti ini! Main pergi saja tanpa kasih tau orang!"


"Ibu akan kasih dulu kesempatan sama kamu Aurel. Satu Minggu kamu cari tunangan kamu itu, kalau tidak ketemu, kamu putus saja sama dia! Ibu tidak ingin berharap lagi sama keluarga mereka. Anaknya juga tidak begitu menguntungkan di sini!


"Ibu harap, kamu mengerti ibu!" Ibu pergi setelah mengatakan itu padaku. Ya tuhan, kenapa aku harus menerima cobaan seperti ini. Padahal Arkana dan keluarga nya tidak salah apa-apa. Bisa jadi kan mereka kepepet pergi karena ada urusan?


Ya tuhan.. tolonglah aku, kuatkan aku menerima cobaan ini!


Kalau menurut aku, waktu itu cukup lama buat transisi keluarga Pak Ilham. Yaitu Bapaknya Arkana dan Ibu Reni Ibunya Arkana.


Tapi status aku sebagai tunangan Arkana, aku masih berpikir positif kok kalau aku masih punya kesempatan untuk jadi tunangan Arkana seterusnya. Kecuali kalau Arkana sudah betul-betul kasih tau aku kalau dia tidak mau bertunangan dengan aku lagi alias sudah putus.


Untuk sementara waktu, Arkana masih bisa aku hubungi nanti di media sosial.


Aku akan kirim pesan ke dia di akun Facebook, Instagram, atau Twitter nya.


Beruntunglah aku kalau sewaktu-waktu aku dapat bertemu Arkana di media sosial. Semoga saja amin. Selebihnya terserah tuhan yang menjawab.


...***...


Aku tersenyum sendiri dengan pengharapan aku yang seperti itu. Aku tau kalau keluarga Arkana semuanya baik-baik. Mereka menerima aku kok. Tapi sekarang, aku benar-benar kehilangan mereka. Aku rindu keluarga mereka. Lalu, aku harus ke mana.


"Aurel, kamu tidak mau masuk ke sekolah sayang..?" Ibu menyapaku. Semoga ibu masih mau kasih kesempatan padaku untuk bisa menunggu atau memberikan waktu buat aku untuk menunggu Arkana tiba, pulang ke Indonesia bersama keluarganya.


"Ya tuhan, tolong bantu aku dan kuatkan aku dalam hubungan ini." Ucapku dalam doa. Aku akan masuk ke sekolah meski aku merasa sedih karena aku tidak akan bertemu dengan Arkana lagi. Paling teman aku Yeni, Sulastri dan Evi.

__ADS_1


Aku masuk ke sekolah naik ojek. Sekolah sudah masuk. Sekarang sudah pukul delapan pagi. Ya tuhan, ada beberapa anak yang keluar, laki-laki. Aku tidak tau dia namanya siapa, aku tidak kenal. Sepertinya dia adalah adik kelas aku. Tahukah kamu aku kelas berapa? Aku kelas 3. Sebentar lagi aku sudah mau lulus dan aku akan segera ujian.


"Permisi..!" kataku ke guru dan teman-teman. Ibu guru Winda melihat aku masuk.


"Aurel, silahkan masuk!" kata Ibu Winda padaku. Dia adalah gutu IPA. Aku merasa takut sekali dan seperti gawat.


"Kamu telat datangnya ya, kenapa kamu sampai telat begini masuknya? Baru bangun, bangun kesiangan, atau kamu lupa kalau hari ini hari Sabtu?" kata Ibu Winda padaku yang langsung di sambut oleh tawa anak-anak sekelas. Aku meliat ke arah mereka.


"Maaf Ibu, tadi aku kesiangan bangunnya. Aku, aku lupa kalau hari ini adalah hari Sabtu." kataku berkata sekenanya. Aku malu sekali berbicara di dan berdiri di depan teman-teman. Ya tuhan, kenapa harus seperti itu ya. Kalau Arkana tau, dia pasti tertawa melihat aku seperti itu. Tapi, sekarang, aku tidak tau harus cerita ke siapa. Arkana sudah tidak ada di hidup aku lagi. Dan aku tidak bisa bilang ke siapa-siapa.


"Kamu berdiri saja di luar selama tiga puluh menit. Berdiri di bawah tiang bendera!" kata Ibu Winda padaku. Ya tuhan, aku masih mau menerima hukuman ini setelah apa yang terjadi padaku. Aku tidak mau seperti itu ya tuhan. Tapi sudahlah, aku harus berdiri di bawah tiang bendera itu dan harus menanggung malu di depan teman-teman.


"Baik ibu. Aku akan ke sana." jawabku ke ibu Winda. Akhirnya aku pergi dan berdiri di bawah tiang bendera itu. Sendirian. Di belakang aku lihat Yeni sedang bicara ke Ibu Winda. Aku tidak tau di perlu Ama sama Ibu Winda yang telah menghukum aku sekarang ini. Ya tuhan, ampuni lah aku.


Tidak begitu panas terasa tapi sedikit gerah saja. Aku meliat sekeliling sekolah, sepi. Tidak ada yang keluar, kecuali beberapa guru yang sedang ada di situ. Sedang mengajar.


Tiba-tiba Yeni datang padaku. "Aurel!" Sapanya padaku. Dia datang padaku sambil berjalan. "Yeni, kenapa kamu d sini..?" tanyaku ke Yeni yang baru datang.


"Aku ijin ke Bu Winda. Aku ingin menemani kamu di sini."


"Tidak perlu Yeni. Aku bisa kok. Nanti kamu kepanasan." kataku ke Yeni.


"Kamu yang kepanasan, bukan aku." kataku ke Yeni.


"Yeni, Aurel, kalian bole masuk sekarang." kata Ibu Winda padaku. Aku sudah siap masuk ke kelas sekarang. Aku lihat beberapa teman-teman lelaki aku di kelas. Di situ ada Angga, Edi, Tian, Ahmad dan beberapa orang lagi yang sedang mengerjakan tugas sekolah. Ya tuhan, aku jadi takut. Yang jelas mereka sudah mau selesai mengerjakan tugas ujian try out itu. Ibu Winda datang untuk memberikan tugas ujian itu padaku. Setelah berterima kasih aku langsung mengerjakan tugas itu. Hidup aku aman akhirnya.


...***...


Aku mulai mengerjakan tugas sekolah itu dengan baik, meski banyak yang salah dan tidak aku tau. Tidak seperti Ayu yang pintar sekali mengisi soal-soal sekolah. Dia selalu peringkat satu setelah Angga. Angga dan Ayu adalah anak-anak yang pintar di sekolah. Aku tau itu.


Setelah kurang lebih satu jam, aku pun selesai mengerjakannya. Masih ada loh yang masih belum selesai mengerjakan soal-soal ujian itu. Ada tiga anak. Satu cowok, dua cewek. Mereka adalah Tio, Wati dan Ana. Aku tidak tau kenapa. Setahu aku mereka memang kurang pintar dan kurang tanggap dalam belajar. Tapi aku akan selalu doakan mereka yang terbaik, karena mereka adalah teman-teman aku di sekolah. Tanpa Mereka, aku tidak bisa apa-apa. Merekalah yang telah buat aku semangat belajar setiap hari di sekolah. Meski aku tidak banyak cerita tentang dunia belajar sekolah aku di bab sebelumnya. Atau di bagian halaman-halaman sebelumnya.


Ingatlah, kalau aku masih kehilangan seseorang yang aku rindukan dan aku sayangi, yaitu Arkana.


...***...


Akhirnya aku ke kantin sekolah bersama Yeni teman aku. Aku masih sedikit gelisah karena kepergian Arkana yang mendadak. Entah Yeni tau apa tidak kejadian ini. Sesampainya di kantin aku memilih tempat duduk, aku merasa terusik dengan keramaian di tempat itu.


"Aku mau pindah." kataku ke Yeni.


"Pindah ke mana?"


"Ke perpus."


"Ya udah ayok." Yeni mau ajakan aku. Akhirnya aku dan Yeni pergi ke perpustakaan berdua. Aku berjalan bersama Yeni sambil menyusuri lantai kelas dan melewati ruang kelas satu persatu. Ruang kelas 10A, 10B, 10C, 10D, 10E, 10F. Sebelahnya lagi perpustakaan. Kelas 11A sampai 11E ada di atas. Aku jadi ingat film-film sekolah yang pernah aku tonton.


Akhirnya sampai juga di perpus, tempat itu sepi. Di dalamnya terdapat beberapa pengunjung kurang lebih lima orang duduk sambil baca dan tiga orang berjalan sambil cari buku. Aku datang berdua bersama Yeni.


Setelah aku masuk, menulis buku daftar masuk yang di jaga oleh petugas. Aku menulis nama, alamat, kelas dan keperluan plus tanda tangan. Yeni juga. Saat Yeni menulis aku melihat sekitar. Buku-buku yang di letakkan di rak buku dan terlihat kumuh dan lama. Perpustakaan sekolah yang cukup buat aku tersenyum. Buku-buku lama yang tidak di perbarui buat aku kesal. Tapi tak mengapa. Lebih bagus perpustakaan yang ada di kota. Tempatnya bersih dan terawat. Buku-buku nya juga bagus.


Aku mendengar suara beberapa orang anak yang sedang masuk dengan suara berisik. Aku melihat siapa, mereka sedang menulis absen kelas. Aku penasaran sama mereka. Kenapa ya begitu. Oh itu ternyata teman-temannya Dilan. Adik kelas aku.


"Yeni, kamu kenal sama Dilan?"

__ADS_1


"Dilan, oh anak kelas sepuluh itu?"


"Iya."


"Tidak, aku tidak kenal dia. Kamu kenal dia?" Yeni balik nanya.


"Tidak, aku tidak kenal."


Yeni terus saja mencari buku yang dia inginkan. Entah buku apa, biasanya Yeni sukanya buku cerita kayak aku.


Setelah itu ada perempuan yang datang menyusul. Aku tidak tau siapa dia. Dia langsung pergi ke arah Dilan dan mengobrol sebentar. Dilan lalu pergi bersama dia. Aku tidak tau siapa perempuan itu, bisa jadi pacarnya.


"Eh, kok aku tidak liat Arkana ya?" Yeni nyeletuk.


"Arkana, dia.. dia paling masih di kelasnya."


Sanggup aku bicara seperti itu meski aku masih merasa degdegan dan tak enak diri. Perasaan aku langsung getir.


Yeni menoleh ke arah aku. Dia memperbaiki posisinya dengan berdiri.


"Ada yang aneh Aurel..?" Yeni tanya lagi.


"Tidak, tidak ada." Aku berusaha menutupi. Yeni lalu mengambil satu buku dan menunggu aku sambil buka-buka buku cerita itu. Bodohnya aku sampai sekarang aku tidak menemukan buku cerita yang aku suka.


"Buku cerita apa ya?" ucapku dalam hati. Aku lalu mengambil buku berjudul Dilan 1991. Buku Dengan sampul cokelat.


"Yuk!" aku lalu mengajak Yeni untuk pindah ke tempat duduk.


Waktu sudah lewat sepuluh menit, lima menit di kantin dan 15 menit di perpustakaan. Dan aku masih belum beli apa-apa. Belum sarapan juga. Yeni diam saja sambil duduk baca buku. Aku pura-pura semangat baca buku meski aku tidak begitu niat baca buku-buku itu. Sekedar tau saja.


Tiba-tiba ada seseorang yang datang, yang buat aku kaget.


"Permisi..!" suara itu datang.


Aku langsung menoleh. Ya tuhan, dia adalah laki-laki yang sama sekali tidak aku kenal.


"Johan!" kata Yeni berucap.


Oh tuhan. Johan, siapa lagi dia. Aku meliat ke arah Yeni. Dia senang sekali melihat laki-laki itu datang. Namanya Johan. Aku baru tau dia sekarang.


"Sebentar ya..!" Yeni pamit ke aku dan meletakkan bukunya di meja. Yeni pindah ke tempat rak-rak buku bersama laki-laki bernama Johan itu. Laki-laki yang sedikit berkumis.


Aku di tinggalnya sendirian. Aku jadi gelisah, harus ke siapa lagi aku harus mendekat. Aku meliat satu anak perempuan sedang baca buku. Aku lanjut baca buku saja. Aku cukup mendalami bacaan itu dengan karakter Milea.


Setelah lama, kira-kira sepuluh menit Yeni datang dan laki-laki itu tidak tau ke mana.


"Yuk, masuk. Sudah pukul sepuluh."


"Iya." Aku meninggalkan buku cerita itu di meja baca dan langsung pergi bersama Yeni ke kelas. Di kelas masih rada kosong. Aku menghembuskan napas dan terasa lapar.


Selamat hari Valentine.


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini. Maaf, konfliknya tidak terlalu berat.

__ADS_1


Sulastri Eris.


__ADS_2