Gadis Yang Merindukan Cinta

Gadis Yang Merindukan Cinta
Chapter 9


__ADS_3

Semua itu adalah mimpi, mimpi aku yang aku buat sendiri di dalam catatan usang aku. Aku sekarang sudah bangun pagi. Aku adalah Aurelia Michelle, perempuan yang sampai sekarang masih tiduran di rumah.


Besok adalah hari pertunangan aku, di mana semuanya harus terjadi. Di belakang rumah sudah ibu siapkan para pembantu untuk mempersiapkan kue-kue untuk jajanannya. Kursi-kursi juga sudah di tata oleh ayah bersama abang-abang yang sedang duduk di luar. Aku tidak tahu harus menelepon siapa, aku punya teman bernama Arini.


"Halo Arini?"


"Iya Aurel ada apa?"


"Aku butuh teman sekarang, tapi aku tidak akan banyak mengobrol karena waktunya sudah dekat."


"Kenapa, belum siap buat tunangan besok ya?"


"Iya, kamu punya nomor telepon RAKA kan?"


"Iya, kenapa?"


"Aku ingin nomor telepon dia."


"Oke, aku kasih, bentar lagi aku kirim."


Aku menunggu sambil tetap menyalakan ponsel aku, setelah itu aku pamit ke Arini. Aku pencet tombol biru lalu telepon itu terhubung,


"Halo, ini siapa..?* Suara Raka masih terdengar bersih dan nyaring. Laki-laki harapan ke dua aku setelah Rahul.


"Aku Aurel. Aku Aurel teman kamu."


"Kenapa, kamu perlu sesuatu, kenapa tidak telepon Arini saja, aku masih ada kerjaan nih!"


Ya Tuhan, Raka jahat, dia tidak mau menerima aku buat teleponan sebentar saja. Aku menatap lesu, aku lalu buka akun Facebook. Di situ aku banyak orang, aku lalu sempatkan untuk pergi ke dapur melihat beberapa orang yang sedang bekerja.


"Aurel kamu ngapain saja sayang, kamu buat kue itu bersama Bu Anggi." kata ibuku padaku.


"Iya." aku jawab lemah.


Setelah beberapa menit, aku putuskan untuk keluar dari rumah. Aku ingin jalan-jalan. Teman-teman aku mungkin sudah tahu kalau besok di rumah akan ada lamaran, aku baca chat di wa cuma sedikit yang mau menghubungi aku. Aku menatap lesu.


Aku lalu pergi ke toko buku untuk menghabiskan waktu, aku juga markit di alun-alun kota. Arini lalu menelepon aku, katanya dia mau ke rumah aku.


"Nanti saja kalau aku sudah pulang." jawabku lanjut. Sin berikutnya adalah Arini yang banyak mengobrol dengan aku ini itu di dalam kamar.


***


Di kamar, aku dan Arini tengah sibuk mencari identitas seorang ARKANA BANASPATI. Arini berhasil menemukan nama itu di Instagram. Dia bisa di bilang ganteng, gaul dan masih muda. Aku suka, karena itu gestur yang aku inginkan.


Untungnya aku segera bertunangan bareng dia, kalau enggak, aku bisa keriputan nanti buat ketemu sama jodoh aku.


"Gimana, cakep kan?"


"Lumayan,"


Aku tahu, ternyata laki-laki itu adalah laki-laki yang aku temui di jalan seminggu yang lalu. "Awas besok, kalau sudah ketemu sama aku. Aku buat keki dia." ucapku dalam hati.


Aku mencari kegiatan untuk menghabiskan waktu seperti buat cerita di APK, dan lain sebagainya. Aku memang penasaran sama Arka, tapi yang lebih penasaran lagi adalah sama RAKA yang ingin aku temui sekarang.


"Rin, aku tinggal kamu di sini boleh?"


"Mau ke mana, gatel memang. Terus, aku mau di buang di mana?*


"Kalau penting, kamu boleh ikut. Aku mau ke rumah seseorang sekarang."

__ADS_1


"Siapa, eh Rel, kamu mau ngapain. Nanti kalau ketahuan sama keluarga kamu bagaimana..?"


"Udah kamu di sini saja, nanti kalau ibu tanya, bilang aku keluar sebentar, Oke!" akhirnya aku keluar juga. Aku sampai di rumah RAKA pagi-pagi sekitar pukul sebelas pagi.


"Aurel, kamu ke sini rupanya?"


"Iya, aku sengaja pergi ke sini. Maaf kalau buat kamu terganggu. Boleh kan aku ke sini..?" aku sempat mengemis di depan Raka.


"Boleh, silahkan duduk." Raka mempersilahkan aku duduk. Aku mengikuti langkah dia untuk duduk di taman depan rumah dia.


"Duduk," Raka mempersilahkan aku duduk.


"Tumben kamu mau ke mari, bukannya kamu sekarang sudah persiapan buat tunangan..?"


"Iya, aku sudah siap kok."


"Terus..?"


"Aku bosan di rumah, aku ingin bertemu kamu." ucapku jujur di depan Raka.


"Kamu kenapa Aurel, kamu kesepian, atau kamu butuh teman buat ngobrol..?"


"Iya, aku butuh teman buat ngobrol. Maaf, aku buat kamu terganggu."


"Tidak masalah selama niat kamu baik-baik ke sini. Ibu kamu sudah tahu?"


"Belum, aku tidak ijin sama ibu. Aku jalan ke sini diam-diam."


"Apa, oh my God Aurel. Kamu salah besar, harusnya kamu ada di rumah kamu sekarang. Kamu tidak boleh ngeyel seperti ini."


"Raka, please tolong aku. Aku pengin ngobrol sama kamu sebentar."


"Raka, aku mau tanya. Sampai sekarang kamu sudah punya pacar..?"


"Mau langsung aku jawab atau tidak?"


"Jawab sekarang?"


"Belum, aku belum punya pacar. Aku masih sibuk melihat burung. Aku senang ngerawat burung sekarang. Hehe." Raka tertawa di depan aku.


"Terus, kapan kamu mau pacaran..?"


"Pacaran, mungkin sambil jalan. Soalnya aku kan pernah nembak kamu, kamu tidak mau. Jadi ya, begitulah."


"Di rumah ada Arini kok."


"Arini?"


"Arini di rumah aku sekarang. Mau aku telepon dia sekarang?"


"Tidak perlu, aku kuatir saja, orang tua kamu datang ke sini dan mencoba untuk menyalahkan aku. Aku takut Aurel."


"Oh, kalau begitu aku pamit saja. Aku tidak mau lama-lama di sini."


"Sebentar dulu Aurel!" Raka mencegah aku.


"Kamu tidak perlu sungkan buat ke sini lagi lain waktu, ajaklah tunangan kamu kalau kamu ingin ke rumah."


"Iya." aku langsung pergi dengan perasaan puas. Aku heran pada diri aku, kenapa pada saat-saat seperti ini aku harus butuh pada orang lain. Oh tuhan.

__ADS_1


ARKA


Jujur aku belum siap untuk bertemu calon pengantin besok. Meski ibu sudah menyiapkan semuanya mulai dari pakaian, jajanan, baju-baju dan mobil yang sudah siap jalan. Richard menelepon aku,


"Gimana besok, sudah siap jalan?"


"Alhamdulilah sudah siap, tapi aku bingung, aku mau ngapain sekarang?"


"Kamu santai saja di rumah."


"Iya, tapi kalau bisa kamu ke sini sekarang, aku butuh teman buat ngobrol."


"Oke" Richard jawab.


Teman aku yang satu itu datang ke rumah aku setelah beberapa menit berlalu. Aku langsung mengajak dia ke kamar aku.


"Kenapa di sini bro, kenapa tidak di luar saja, lebih santai."


"Di sini saja, banyak orang." jawabku sambil berusaha menghindar dari pekerjaan.


"Oh iya, ngomong-ngomong pekerjaan kamu tidak bantu mas-mas yang ada di luar itu?"


"Tidak, tidak perlu, aku kan tuan rumah di sini. Ngapain juga bantu mereka. Kamu tenang aja di sini, temani aku saja."


"Oke, tenang saja semuanya bisa di atur."


Aku dan Richard duduk tenang di atas kasur, dengan posisi aku rebahan sambil bermain game mobile legen.


"Gimana kabar Aurel, kamu udah kenal dia kan?"


"Belum, aku tahunya sekilas saja. Lihat fotonya di hp."


"Terus, kamu tidak pernah teleponan sama dia?"


"Nggak pernah sekali pun. Dia juga begitu. Semua masih rahasia. Sebenarnya aku pernah bertemu dengan dia di kota, seminggu yang lalu. Aku kaget ngelihat dia ada di depan aku, dia malah marahin aku karena sempat ketabrak. Aneh memang.


"Terus..?"


"Ya udah, sampai di situ saja."


"Kamu tidak minta nomor HP-nya dia?"


"Tidaklah, mungkin aku mintanya besok." aku masih terus main game. Richard memilih rebahan sambil nonton televisi di kamar aku.


Richard pulang setelah sore, aku sendirian di rumah. Detik-detik pertemuan aku dengan Aurel.


"Mama..?" aku memanggil mamaku. Aku lapar.


"Arka, kamu udah coba baju kamu belum..?"


"Belum, aku coba nanti." Mama menunggui aku makan.


"Mama, aku belum ngomong sama Mama. Mama sudah siap buat Nerima calon menantu baru, aku takutnya Mama tidak suka sama tingkah laku Aurel nantinya?"


"Tidaklah sayang, Mama sudah bicara sama Tante Hana kok. Mama sudah tahu siapa Aurel. Nanti kamu tinggal bilang ke Mama saja kalau terjadi sesuatu sama Aurel."


"Iya Ma." aku terus makan di meja makan.


Salam.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ceritanya. Jangan lupa vote atau komen.


__ADS_2