
Gak ada kabar. Arkana hari ini gak ada kabar. Aku lanjut hubungi dia di telepon, teleponnya gak aktif. Heran. Aku biarkan saja. Eh malah musuh aku, si Rahul SMS aku dan minta maaf ke aku.
Rahul : Aurel, maafin aku ya. Aku tidak sengaja berkata kasar sama kamu. Aku janji tidak akan kasar lagi sama kamu.
Aurel: iya gak papa. Tapi aku mohon kamu jangan pernah ganggu lagi hidup aku.
Rahul : jangan gitu Aurel, kita masih temenan kan. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku butuh seseorang di sisi aku.
Klik. Heran, kenapa juga si Rahul yang aneh itu tidak cari pacar atau cari pasangan di luar untuk dia jadikan pacar. Kenapa harus pilih aku yang jelas-jelas udah ada yang punya. Yaitu Arkana. Laki-laki yang sampai saat ini gak ada kabar.
Akhirnya aku telepon Jenny teman aku.
Aurel : hallo jenny.
Jenny : tumben kamu telepon. Kemana aja. Lama gak ada kabar.
Aurel : aku tunangan sekarang. Kamu gimana?
Jenny : aku kuliah S1. Cita cita aku.
Aurel : enak ya kuliah. Beda sama aku yang bucin banget sekarang. Aku tidak tau nasib aku gimana nantinya Jenny.
Jenny : kamu tenang, banyak berdoa dan usaha sebaik mungkin. Aku tau kita kan wanita, pasti perasaan tersiksa itu pasti ada, iya?
Aurel : tidak, aku biasa aja. Kabar kamu gimana?
Jenny: alhamdulilah, baik. Kamu apakabar?
Aurel : baik. Sangat baik. Cuma aku resah saja.
Jenny : kenapa, kan udah ada tunangan. Siapa nama tunangannya kamu?
Aurel : Arkana. Kesal banget sama dia. Aku di tinggalin sekarang, gak ada kabar. Aku kecewa sama dia.
Jenny : kamu udah telepon dia?
__ADS_1
Aurel : teleponnya gak aktif.
Percakapan sama jenny terus saja aku lakukan sampai akhir. Usai menelpon teman aku yang dari Jember itu. Aku duduk di dalam kamar sambil berpikir. Kenapa ya, aku benci banget sama Arkana. Apa aku harus ke rumah dia, buat temui dia?
Aku akhirnya berdiam diri di rumah sebentar sambil tunggu kabar dari teman-teman aku, siapa tau ada yang chat. Aku SMS Arkan akhirnya.
Aurel : Arkan, telepon kamu kok gak aktif sih. Aku pengin ngobrol sama kamu. Kamu masih ada di situ kan?
Aku tunggu SMS balasannya, tapi dia tidak balas. Sudahlah, mungkin dia lagi tidak punya paketan. Pikiran aku beralih pada Rahul. Masa-masa pertemanan sama dia, sangat memukau. Pasalnya waktu itu, aku ada di supermarket waktu pilih-pilih barang, eh, ternyata barang - barang itu jatuh ke aku. Rahul melihat itu, dan aku kerepotan mengemasi barang-barang itu. Ya tuhan, kenapa harus seperti itu. Akhirnya Rahul membantu aku untuk membereskan barang-barang itu.
***
"Maafin ya, udah ngerepotin." kataku ke Rahul.
"Santai aja. Kamu sendirian?"
"Iya, aku sendirian."
"Kamu?"
Ini adalah pengalaman pertama aku jalan bareng laki-laki dan itu adalah Rahul, laki-laki yang sangat aku benci sekarang. Aku memilih tempat duduk yang nyaman bersama Rahul.
"Namaku Rahul Khan. Aku ada keturunan India, sedikit." katanya padaku. Aku mengangguk tanpa menjawab. Aku melihat sekeliling. Rahul memesan kopi buat aku dan dia. Jujur aku tidak suka ngopi. Hal itu terpaksa aku lakukan.
Aku tidak urus dia mau keturunan apa saja. "Aku tidak bisa lama di sini aku harus cepat pergi. Maaf kalau cepat." Kataku ke Rahul. Aku tidak tau harus ngapain.
"Kamu tidak suka ya aku undang kamu ke kafe ini? Kalau tidak suka tidak apa-apa sih."
"Maaf, aku harus cepat pergi. Permisi." kataku ke Rahul. Jujur aku masih sedikit kepikiran ke dia tapi mau bagaimana lagi.
***
Aku akhirnya pulang dan berusaha menenangkan diri aku. Ada telepon dari teman aku katanya aku harus ke rumah dia, katanya ada acara.
Ingatan aku kembali ke awal. Di mana Arkana Mash belum datang. Andai Arkana itu ada di dalam hidup aku mungkin betapa bahagianya aku. Aku lalu membuat cerita baru di akun aku. Siang hari sampai malam tak ada kabar dari Arkana. Aku sampai lupa kalau cerita ini mungkin akan berakhir. Ya tuhan, aku kesepian sekali.
__ADS_1
"Ada Saudara Tante katanya dia mau datang bentar lagi." kata ibu aku. Dia adalah ibu Santi. Dia membawa anaknya, namanya Farel. Aku sempat berkenalan dengan dia. Aku dan Farel sengaja duduk di belakang taman setelah lama ibu dan Ibu Santi mengobrol lama di ruang tamu.
"Nama kamu Farel ya?"
"Iya."
"Kamu masih kuliah atau..?" aku memulai pertanyaan dengan kalimat itu.
"Aku masih kuliah semester dua. Kuliah ekonomi." katanya padaku.
"Oh, masih kuliah. Aku tidak tau kuliah itu seperti apa?" Dia tersenyum.
"Oh, nanti juga tau." katanya padaku. Farel terlihat sabar. Aku jadi lupa pada Arkana.
Jeda sejenak.
"Sebenarnya kuliah itu menurut bidang kamu saja."
"Nama kamu siapa?"
Aku kaget mendengar pertanyaan itu. Sungguh, aku merasa insecure di depan dia. Baper banget. Soalnya Farel itu ganteng loh, cakep. Rambutnya sedikit panjang, muka bersih dan putih. Badannya kurus, seperti tipe kesukaan aku.
Dia hampir miri Andre saudara aku. Tapi tubuh Andre lebih berisi ketimbang Farel.
"Nama aku Aurelia Michelle, kamu bisa panggil aku dengan nama Aurel atau Michelle." jawabku ke Farel.
"Bentar, aku ijin dulu." katanya padaku. Dia pergi ke depan taman, ke posisi tengah taman, sambil menelepon seseorang. Aku tidak tau siapa dia. Yang aku ingat cuma baju Farel yang berwarna biru kotak-kotak.
Harapan aku, semoga dia tidak menghilang dari kehidupan aku. Semoga dia bisa jadi pengganti Arkana yang hilang walau pun sementara. Lama juga gak papa, tapi keinginan yang sebenarnya adalah bersama Arkana, bukan Farel.
...Bagaimana nantinya kalau pas Farel suka sama aku? UPS! Kok aku jadi berpikir jauh ya? Padahal belum tentu juga Farel suka sama aku....
Aku dan Farel bicara lama dan menyudahi itu. Tidak ada sesuatu yang terjadi diantara aku dan Farel. Cerita baru dalam hidup aku. Farel akhirnya pulang. Kini aku sendiri lagi.
...***...
__ADS_1
bersambung