
Aku kaget tiba-tiba dia kasih kecupan di kening aku. Ya tuhan, aku kaget seketika, mana bisa seorang Arkana Banaspati mau memberikan sebuah kecupan padaku saat itu juga. Arkana langsung pergi meninggalkan aku, aku turun dan melihat Arkana balik dari rumah aku. Dia berjalan pelan menuruni tangga bawah. Jaketnya berwarna kuning dan cokelat, celananya putih dengan separuh putih yang dia kenakan. Tangan kirinya masih di pegang ponsel sambil turun ke bawah.
Dalam hati aku, aku tidak habis pikir, kenapa Arkana begitu menerima aku malam itu, bagaimana dia bisa menerima aku, aku yang punya sifat seperti ini, kekanak-kanakan dan tidak punya rasa malu sedikit pun. Jantung aku berdegup kencang saat Arkana mulai meninggalkan aku. Aku langsung merasa kesepian setelah dia pergi dari rumah aku, aku mulai tenang sekarang.
Aku langsung mengambil ponsel aku dan mulai menelepon Arini. Telepon Arini tidak aktif rupanya, Ya Tuhan harus aku adukan ke siapa kisah aku ini sekarang. Aku lalu mengambil laptop kesayangan aku lalu aku mulai bercerita di situ. Setelah beberapa saat kemudian ibu datang menemui aku. ***
"Arkana sudah pulang ya?" Aku kaget setelah ibu datang, dia tidak permisi dulu ketika dia datang padaku.
"Iya ibu, Arkana telah pulang. Baru saja dia turun dari tangga bawah, kenapa Ibu?" tanyaku lanjut.
"Kenapa kamu tidak antar dia ke bawah, capai mungkin ya naik turun tangga?"
"Bukan begitu ibu, Aurel masih belum siap untuk mengantar Arkana sampai ke bawah, Aurel kan baru kenal sama Arkana. Malah Aurel tidak tahu siapa Arkana sebenarnya, karena perjodohan ini ibu kan yang menginginkan, jadi Aurel menurut saja. Lagi pula, Arkana tidak minta Aurel untuk mengantar dia ke lantai bawah kok, dia cuma bilang ke Aurel kalau besok, UPS!" Aku lupa kalau aku harus merahasiakan ini ke ibu, aku tidak ingin menceritakan ini ke ibu, aku tidak ingin membahasnya kali ini.
"Kenapa, kamu tidak meneruskan kalimatnya, kamu malu ya sama ibu?" Ibu masih berjalan ke sekeliling kamar aku meski aku belum mengurus kamar itu dengan baik.
"Bukan begitu begitu ibu, aku tidak siap saja untuk bicara di depan ibu. Lagi pula itu sifatnya rahasia." kataku mengarang meski ibu sudah tahu kalau rencana itu telah di ketahui sebelumnya.
"Itu ide ibu kok, ibu yang menyuruh kamu jalan bareng Arkana, ibu ingin kalian akur dan bersahabat tidak jauh-jauh seperti tadi." kata Ibuku padaku, ternyata ibu menilai semua apa yang telah di lihatnya. Aku diam sejenak. Aku berpikir sudah sampai di mana Arkana sekarang, aku lupa tidak minta nomor ponselnya ke dia tadi.
"Ibu punya nomor ponsel Arkana?"
"Kenapa, kamu tidak punya nomor ponsel dia, kamu butuh dia sekarang..?" kata ibuku sedikit merayu aku.
"Bukan begitu ibu, aku ingin tahu kabar Arkana sekarang, siapa tahu dia kena macet di jalan?" ***
"Ya sudah sebentar lagi ibu kirim nomor Arkana ke kamu. Kamu di sini dulu ya, ibu mau ke belakang sebentar." pamit ibu padaku. Aku melihat ibu pergi dari kamar aku. Aku sendirian sekarang. Aku menghembuskan napas lesu. Aku masih menunggu kiriman SMS dari ibuku, dia punya nomor Arkana duluan ketimbang aku. Rupanya ibu punya rumus pdkt sama Arkana, sedang aku tidak. Nasib aku memang malang, sebelumnya aku menerima telepon dari RAKANSA alias RAKA.
__ADS_1
"HALO RAKA, ADA APA..?" kataku menjawab panggilan telepon itu.
"Kamu bisa tidak ke rumah aku sekarang, aku butuh kamu sekarang, please!" Raka memohon padaku, tapi aku tidak bisa, aku tidak menjadi teman atau sahabatnya lagi sekarang. Ini adalah detik-detik aku mulai dekat dengan Arkana Banaspati dan akan ada banyak lagi cerita tentang aku dan dia pada akhirnya. Seseorang menelepon aku lagi, dia adalah Arini teman aku. Ya Tuhan, kenapa Arini malah menelepon aku sekarang?
"Halo Arini, ada apa, kenapa kamu langsung menelepon aku sih?" tanyaku tiba-tiba ke Arini, aku tidak terima Arini telfon aku mendadak.
"Hali Aurel, kamu tadi kan telfon aku, ada apa, soalnya tadi aku masih di jalan. Aku masih mampir ke toko dulu sebelum balik ke rumah kamu!" kata Arini padaku. Ini berkenaan dengan buku novel yang akan aku beli nanti, novel Teluk Alaska. Atau aku harus kehilangan uang aku lagi nantinya. Mungkin aku harus sabar dulu.
"Kamu beli buku apa?"
"Nggak jadi beli bukunya, besok-besok aku belinya. Aku masih belum siap. Bagaimana, Arkana masih di situ?"
"Duh, Arkana sudah pulang dari tadi, ngapain kamu nanya-nanya Arkana segala, haram hukumnya!" kataku ke Arini tegas. Padahal aku cuma bercanda.
Sebenarnya dalam hati aku merelakan Arkana untuk berhubungan dengan siapa saja termasuk Arini. Aku tidak ingin mengekang Arkana sebegitu-nya di depan aku, apalagi Arkana kan cowok, dia harus lebih bebas dari aku. Aku ingin tahu kelangsungan hidup Arkana selanjutnya.
Aku kaget mendengar itu, apa mungkin Arini sudah punya pacar? Tidak mungkin.
"Siapa..?" lanjut aku setengah takut dan setengah penasaran.
"Papa sama Mama aku. Hehe." Arini malah bercanda, dasar bego. Masak hari begini tidak punya pacar, kasihan sekali nasibnya. Arini adalah teman aku yang kiper protektif terhadap yang namanya hubungan. Sekali saja laki-laki berbuat salah ke dia, maka selamanya laki-laki itu tidak akan Arini anggap sampai kapan pun.
"Ya udah, nanti malam kan kamu tidur bareng dia, anak Papa sama Mama." kataku ke Arini.
"Biasalah, eh tadi Raka sempat telfon aku, katana kamu tidak bisa di ganggu, apa benar begitu..? Aku sih menyadari kalau kamu masih bingung sama tamu kemuliaan kamu itu!"
"Ngapain bingung, enggaklah, sama sekali aku tidak bingung. Arkana adalah laki-laki ke berapa yang aku kenal, selain Raka dan Richard, iya kan?"
__ADS_1
"Iya, tapi apa kamu sudah positif sama Arkana, soalnya takutnya Raka dekat-dekat kamu nantinya. Ngapain juga dia nelpon aku hanya buat nanyain keberadaan kamu, aku kan tidak bisa berbuat apa-apa selain bilang sabar ke dia. Lagi pula, Raka kok bisa-bisanya sih menaruh harapan sama kamu, kamu kan sudah ada yang punya, yaitu Arkana." Arini cukup jelas di depan ponsel aku, aku tidak tahu kenapa itu terdengar jelas di telinga aku malam itu. Bersamaan dengan itu pula, Ibu mengirim aku nomor ponsel Arkana. Yes! Akhirnya aku berhasil mengelabuhi Arkana sekarang dengan memiliki nomor ponselnya untuk pertama kali. Meski niat aku ini tidak jahat loh, aku cuma pengin tahu saja sebetulnya Arkana akhir-akhir ini dekat dengan siapa sih?
"Halo, Arini, teleponnya aku tutup dulu. Aku ada perlu sebentar, besok aku telepon lagi oke! Dah Arini!"
"Dah Aurel!" Kami berdua akhirnya menutup ponsel itu. Aku tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan, aku takut terjadi sesuatu pada diriku, Arini atau pun Arkana. Juga pada Raka yang jelas-jelas telah rela mengharapkan aku siang tadi. Apa dia tidak tahu kalau aku sedang acara tunangan bareng si tampan Arkana? Tiba-tiba feeling aku berkata kalau aku harus cepat menelepon RAKANSA ADIPATI.
"Halo Raka, apa kabar?"
"Halo Aurel, kamu. Ada apa, tumben telefon aku malam-malam..?"
"Tidak aku cuma tanya saja, tadi kamu perlu apa sama aku?"
"Tidak ada, aku iseng saja kok, kamu udah baikan sekarang?"
"Emang aku kenapa?"
"Katanya sakit?"
"Kata siapa?"
"Kata Arini!" Jawab Raka padaku. Dasar Arini suka buat-buat fitnah di depan orang. "Tidak, aku tidak sakit kok, aku baik-baik saja. Aku cuma ada acara saja di rumah, kamu belum tahu?"
"Belum acara apaan?"
"Ada deh kapan-kapan kamu tahu!" kataku ke Raka. Aku tidak percaya kalau Raka tidak dengar rumor aku tunangan sama Arkana. Panggilan itu lalu aku tutup, aku tidak mau perhatian sama laki-laki yang tidak di utus buat aku, aku ingin menghubungi Arkana, yang jelas-jelas sudah sah jadi tunangan aku sekarang, meski acaranya masih satu kali yaitu di rumah aku.
Sampai di sini dulu ya ceritanya, semoga berkenan di hati para pembaca. Kritik dan saran aku tunggu! Jangan lupa follow, vote dan komen.
__ADS_1
Sulastri Eris