
Pertama, aku memang niat mau telepon Rakansa, tapi laki-laki itu telah ada di depan mata aku sekarang. Aku jadi terhanyut dan tersanjung. Aku juga sebenarnya sih lagi butuh teman.
Aku jadi tidak enak sama Raka, sekarang. "Hubungan kamu sama Arkana, enak kan?" kata Arini padaku.
"Alhamdulilah, biasa saja. Arkana baik sama aku, Arkana bukan orang jahat kok. Kalau sudah kenal sama dia, kalian akan tahu siapa Arkana. Penasaran nggak?"
"Nggak sih, biasa aja."
"Ya udah, yang penting tasyakuran nya udahan. Aku lega kalian mau ke sini, soalnya besok kan libur jadi aku tidak perlu repot-repot bawa ke rumah kalian. Meski ide pertama aku pengin bawa roti itu ke sekolah." kataku sewot.
"Kan besok libur." kata Arini menjelaskan.
"Besoknya lagi."
"Sampai basi kue tart nya."
"Ada kulkas kok."
"Enakan sekarang!" Arini jelas dan tegas. Kalau di pikir-pikir iya juga sih. Lebih enak di makan sekarang.
"Aku pamit dulu ya, eh Raka ada yang ingin kamu bilang ke Aurel, dari tadi diam terus!"
"Enggak ada, biar nanti aku dan Aurel ngomong di telepon saja."
"Oh, main rahasia - rahasia-an nih ceritanya..?" kata Arini curiga.
Aku tersenyum biasa. "Ya udah aku pamit dulu ya Aurel, assalamualaikum." Arini pamit keluar.
"Wa'alaikum salam." aku lega akhirnya melihat mereka keluar dari rumah aku. Persoalan aku sampai sekarang, hati aku masih dongkol sama mereka. Aku masih belum ikhlas terima mereka malam itu juga. Setelah aku mau masuk rumah, Ibu langsung menghadang aku.
"Aurel, masuk!" Ibuku sengit. Plak!
Aku di tampar sama ibu karena aku telah mencuri kue itu. "Bukan begitu caranya Aurel, kamu harusnya bilang ke ibu dulu, itu mencuri namanya. Ibu tidak pernah ajarkan kamu untuk mencuri sesuatu di rumah. Siapa yang ngajarin kamu begitu?"
"Nggak ada, Aurel sendiri yang melakukannya Ibu."
"Sekarang kamu tidur di luar, ibu mau menghukum kamu. Besok kamu sapu semua lantai di rumah lalu di pel biar bersih!"
"Berat amat tugasnya!"
"Biar kamu terbiasa nanti, kalau sudah berkeluarga seperti ibu. Kamu sudah punya tunangan sekarang." jelas Ibuku padaku.
"Tapi kenapa harus bekerja, bukan berduaan sama Arkana!"
"Itu bab cinta, bukan bersih-bersih!" kata ibuku sambil senyum. Dasar ibu, ada-ada saja. Aku jadi kedinginan malam ini, kalau aku pas sakit bagaimana, kan besok aku tidak jadi jalan bareng Arkana!
Akhirnya aku tidur di luar pakai selimut. Paginya aku bangun, sholat subuh dan langsung bersih-bersih rumah. Aku di bantu Bibi Ijah bersih-bersih lantai. Capai banget.
"Biar saya saja yang ngerjain non!" kata bibi padaku.
"Tidak usah Bibi, biar aku saja." kataku pasrah.
__ADS_1
Setelah itu aku mandi dan kembali ke kamar. Aku ceritakan semua ke Arkana.
"Kenapa bisa?" tanya Arkana tidak percaya padaku.
"Ceritanya panjang, soalnya semalam aku kedatangan tamu." kataku ke Arkana.
"Siapa tamunya, tamu spesial ya?" Arkana tanya unik.
"Bukan Arini sama Rakansa, dua temannya lagi." jelas aku ke dia.
"Terus, mereka mau apa ke situ?"
"Buat makan kue bareng aja. Terus kuenya itu aku ambil di kamar tanpa sepengetahuan ibu. Aku langsung di marah sama ibu, di tampar juga, di suruh bersih-bersih rumah juga malah. Kasihan deh akunya. Seumur hidup aku belum pernah di hukum begini cuma malam ini saja. Itu gara-gara kamu juga!"
"Kok bisa begitu sih?" Arkana tidak percaya dengan penjelasan aku barusan.
"Ibu bilang, itu semua karena aku sudah punya tunangan kamu. Kamu selalu di bawa-bawa di rumah ini sejak kamu hadir di rumah ini. Kamu bagai mahligai buat mereka, sedang aku di ibaratkan sebagai pembantu di rumah ini." ucapku sedih.
"Tidak perlu begitu, masih ada aku kok. Sekarang udah jam sepuluh ya. Ya udah, nanti sore kita kan jalan bareng, sebagai balasannya, kamu boleh belanja apa saja di toko. Kamu boleh beli apa saja yang kamu mau, beneran!" Arkana buat aku bermimpi sejenak.
"Beneran, kamu tidak bohong!?*" aku kegirangan waktu dengar kabar itu.
"Tidak, aku serius sama kamu. Kamu kan tunangan aku!" kata Arkana yang buat aku ciut. Aku tidak enak kalau di kasih embel-embel tunangan.
"Bagaimana?"
"Oke, aku setuju. Tapi kamu tidak boleh menyesal kalau aku sudah belanja nanti."
"Tenang saja, kamu kan tidak akan beli banyak, paling seperlunya." kata Arkana kerdil.
"Ya udah, tidak usah sedih lagi, kamu istirahat dulu, nanti jam dua belas kamu bangun dan siap-siap menyambut ke datangan aku. Aku sudah siap-siap baju nih soalnya. Kamu udah setrika baju kamu?"
"Sudah sama Bibi." ucapku singkat.
"Ya udah, aku pamit dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aku bahagia banget bisa ngobrol bareng Arkana. Duh, Arkana kenapa jadi milik aku sekarang, Arini pasti iri sama aku. Dia tidak tahu siapa Arkana sebenarnya. Ibu benar, Arkana adalah laki-laki terbaik buat aku. Setelah pukul dua laki-laki itu datang menemui aku di rumah aku sudah siap-siap jalan bareng dia.
"Duduk dulu bentar lagi jalan. Aku sudah persiapkan kue buat kamu." kataku awal mula ke Arkana.
"Udah gak usah, aku sudah sering makan kayak gitu mah. Mending kita jalan aja langsung." kata Arkana keburu. Aku jadi curiga, jangan-jangan Arkana akan terjadi sesuatu pada dia.
"tidak perlu keburu santai saja. Kita mau ke mana, palingan ke kota doang kan?" tanyaku iseng.
"Nggak, kita nggak akan ke kota, tapi kita ke sekolah." jawab Arkana ke aku.
"Apa sekolah, ngapain ke situ, ada-ada aja. Nggak kebayang niatnya seperti apa. Kamu punya rencana apa ke tempat itu. Itu adalah tempat umum, lagian kan udah mulai sore, mana ada sekolah buka?"
"Ada, aku udah janjian sama orang itu." lanjutnya.
__ADS_1
"Siapa?" tanyaku tidak mengerti.
"Ada deh, yuk!" Arkana mengajak aku, aku sudah siap-siap jalan bareng dia. Aku mulai mengambil dompet aku, handphone aku dan lain sebagainya untuk aku bawa keluar. Dan ternyata benar, Arkana membawa aku ke sekolah seperti yang dia kabarkan padaku.
"Kita beneran ke sekolah ini acaranya?" tanyaku ragu ke Arkana.
"Iya, kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja kok." jelas Arkana padaku.
"Iya, aku akan ikut perintah kamu. Aku masih asing di tempat ini. Ini sekolah apa bukan, sepi sekali." kataku sedikit takut. Arkana pergi menuju ke kantor. Di situ sudah ada ibu guru, Arkana dan aku bersalaman ke dia.
"Silahkan duduk." kata ibu itu padaku dan Arkana. Suasananya tenang dan sepi sunyi.
"Apa maksud kedatangan anda kemari bapak Arkana BANASPATI..?" Perempuan itu tanya ke Arkana, aku memperhatikan.
"Kedatangan kami ke mari untuk memberikan sebuah bingkisan buat anak-anak, sebentar barangnya masih ada di dalam mobil." kata Arkana pada Ibu guru itu yang bernama Yuli Andari. Aku masih menunggu Arkana yang masih mengambil suatu bingkisan di dalam mobil. Aku baru tahu sekarang kalau Arkana punya rencana seperti itu. Mulia sekali niatnya. Kenapa sih Arkana punya niat seperti itu, heran juga aku. Aku belum tanya juga ke dia. Arkana orangnya tidak cukup rahasia tapi dia cukup buat aku sedikit takut. Arkana datang dengan membawa sekotak kardus yang isinya aku tidak tahu apa. Arkana meletakkannya di bawah lalu menjelaskannya.
"Ini ada kotak yang berisi buku-buku bacaan dan satu kotak lagi masih ada di mobil. Niat kami adalah untuk berbagi ke anak-anak dan dewan guru yang ada di sini, yang bersekolah dan mengajar di sini." jelas Arkana ke Ibu Yuli.
"Oh begitu, terimakasih Pak Arkana, bingkisan anda kami terima." Arkana menyerahkan kotak kardus itu ke ibu Yuli. Aku melihatnya sendiri.
"Terimakasih anda telah menerimanya." lanjut Arkana ke Ibu itu.
"Aurel, ini adalah tempat aku sekolah dulu. Aku sekolah SMP di sini, Ibu Yuli yang menjadi wali kelasnya dulu. Iya kan Bu?" Arkana menoleh ke arah aku dan Ibu Yuli sambil bicara.
"iya, bapak masih ingat rupanya. Kira-kira bapak akan memberikannya sendiri ke anak-anak atau melalui perwakilan guru-guru bapak?" perempuan itu tanya. Aku masih menunggu pembicaraan itu dan berharap pertemuan itu cepat selesai. Tidak ada harapan aku sama sekali di situ di mana Arkana menaruh pengharapan besar di situ.
"Aku akan datang lagi besok ke sekolah Ibu. Aku dan tunangan aku yang akan kasih hadiah itu ke anak-anak sekolah di sini." kata Arkana jelas. Aku kaget dan berat hati mendengar itu, besok Arkana masih mau ke sini lagi. Aku malas pergi ke tempat ini, tidak biasa.
"Terimakasih Pak, kedatangan anda sangat kami harapkan." kata ibu itu ke Arkana.
"Kalau boleh tahu nama ibu ini siapa..?" tanya ibu itu ke aku. "Oh nama aku Aurel ibu." ucapku ke Ibu guru itu.
"Aurel, nama yang bagus, cantik juga orangnya. Semoga berjodoh dengan Bapak Arkana." kata ibu itu mendoakan.
"Terimakasih." kataku ke ibu itu. Arkana lalu pamit dan mengambil kotak yang ke dua di dalam mobil dan memberikannya ke ibu itu. Besok Arkana masih mau balik lagi ke tempat itu. Aku menunggu Arkana di sebelah mobil. Setelah Arkana balik, aku berbicara ke dia.
"Sudah sayang?" tanyaku ke Arkana. Waktu itu sudah mulai Maghrib. Aku tidak menyuruh Arkana untuk mampir dulu ke Masjid, aku mengikuti niat Arkana ke mana pun dia pergi. Arkana mulai menyetir mobil kesayangan dia itu.
"Kamu masih mau sholat Maghrib ya?" kata Arkana ke aku.
"Iya, tapi itu terserah kamu, aku ngikut saja." kataku sedikit takut.
"Ngikut gimana, kewajiban juga. Ya mesti mampir lah ke masjid." kata Arkana padaku yang buat aku merasa senang sekali. Aku ingin Arkana tahu kalau Islam itu indah.
"Kamu tidak mau solat juga?" tanyaku ke dia.
"Aku juga mau solat kok tapi nanti setelah aku menikah sama kamu." kata dia menjawab.
"Kamu tidak mau solat sekarang?" tanyaku balik sambil berharap dia mau ikut solat berjamaah di masjid.
"Nanti sajalah, kamu saja duluan yang solat. Aku masih mau beli rokok di luar." katanya lanjut sambil memutar arah ke masjid.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa baca terus cerita aku, vote dan komen. Tinggalkan jejak kamu di sini! Ting! 🐱