
Aku masih penasaran keesokan harinya apakah Arkana akan datang beneran atau tidak, meski sebelumnya aku telah janji buat ketemu sama dia, besok hari Minggu jam dua sore. Lama amat ketemuannya. Aku iseng nelepon Arkana sore itu pas bakda sholat Maghrib.
"Halo, bisa bicara dengan Arkana..?" katanya, aku langsung bahagia dan senang bisa ketemu sama Arkana waktu itu. Siapa lagi yang mau nerima aku kalau bukan Arkana tunangan aku. Sok ya!
"Halo, iya di sini Arkana, dengan siapa di mana..?"
"Maaf, ini aku Ar, Aurel." jawabku ke Arkana. Aku tidak tahu ekspresi apa yang aku dapat nantinya.
"Aurel, Aurel siapa?" Arkana sedikit menyentak aku. Ya Tuhan, masak Arkana tidak kenal sama aku atau suara aku, nggak mungkinlah Arkana begitu ke aku.
"Aku, Aurel tunangan kamu!" Ucapku jelas ke dia.
"Oh Aurel, iya ada apa sayang, tumben kamu nelpon jam segini, udah solat belum?"
Duh, kok nanyain solat sih, malas amat deh. Aku malas kalau pas di tanyain solat sama orang.
"Udah, aku udah solat, aku mau tanya, besok kamu mau datang beneran ke rumah aku, mau jemput aku gitu?" jawabku menyesal.
"Iyalah, insya Allah. Jam dua kan?"
"Iya, sebenernya aku maunya besok pagi kita jalan."
"Nggak bisa dong, kalau udah pukul dua, pukul dua. Tidak boleh ganti jadwal, pamali."
"Oh gitu, ya, ya udah."
"Kira-kira mau jalan ke mana?"
"Ada deh, aku yakin kamu tidak akan kecewa, percaya deh sama aku." kata Arkana yakin.
"Tapi kamu yang nyetir ya!" kataku memerintah Arkana.
"Terserah, mau kamu yang nyetir juga nggak apa-apa. Hehehe." Arkana tertawa padaku di telepon.
Aku senang sekali bisa begitu ke Arkana. Hidup aku kian berubah dan kian bahagia bersama satu orang itu. Arkana seperti seorang malaikat buat aku, dia adalah penolong aku waktu itu, dia adalah seseorang yang dapat merubah sedihku menjadi bahagiaku.
"Ya udah, aku tutup dulu, bye!" kataku ke Arkana.
"Oke, bye." Arkana menutup telepon itu dan mengakhirinya.
Perasaan aku mulai lega sekarang, pasalnya aku udah telpon Arkana dan dia mau jawab telepon aku waktu itu. Sekarang tinggal sholat Isyak dan makan malam bareng keluarga. Aku i
"Ibu, kamu di mana..?" Aku mencari ibuku sambil berjalan. Ya Tuhan, ibuku ke mana sih.
Aku kesal sekali kali ibuku pas tidak ada di rumah. Aku lalu masuk ke kamar lagi sambil duduk di atas kasur. Aku belum mandi bagaimana kalau Arkana tahu aku belum mandi. Biarkan saja, kalau aku maunya begitu. Di dapur sudah ada bibi Ijah yang sedang masak. Aku menunggu dia menyiapkan segalanya buat aku dan ibu. Papa masih ada di kamarnya.
"Aurel, kamu di mana sayang..?" Itu suara ibu mencari aku. Aku langsung berlari mendekat ke dia.
"Iya, ada apa ibu. Aku masih di kamar. Aku perhatikan sudah pukul 7.30pm.
"Ibu tidak makan malam bareng ayah?"
"Tidak, kamu makan dulu aja, ayahmu ada kerjaan. Ibu nunggu ayah kamu selesai kerjaannya."
"Oh gitu, aku nunggu ayah aja deh." kataku menyahut. Pukul 8.00pm. kami makan bersama ayah dan ibu.
"Aurel sekarang udah tunangan ya?" tanya ayahku ke aku. Aku melihat ayah sambil makan.
"Iya ayah, kenapa?" tanyaku balik.
"Kalau sudah tunangan, jangan manja lagi, malu sama tunangan kamu. Lagi pula Aurel kan sudah gede sekarang. Tambah rajin ya sholatnya, biar di terima sama Allah. Di sekolah juga harus tambah rajin. Ayah pengin punya anak yang pinter, rajin bekerja dan rajin ibadah." jelas ayah padaku.
"Insya Allah Ayah." ucapku sambil makan. Setelah makan aku balik ke kamar. Aku langsung telepon Arkana. Aku pencet nomor hp dia langsung. Dia menerima telepon aku.
__ADS_1
"Halo, Arkana, selamat malam." ucapku pertama kali. Ini adalah telepon kedua setelah telepon yang tadi habis sholat Maghrib.
"Iya, Aurel ada apa?"
"Aku kesepian di kamar. Kamu tidak ya?"
"Tidak dong, aku kan punya chat. Kamu tidak punya WhatsApp..?"
"Punya, tapi jarang aku baca."
"Bacalah, hargai mereka. Aku suka begitu kok. Di rumah juga ada play station jadi aku sambil main."
"Asik ya."
"Kalau kamu?" Arkana tanya kegiatan aku di rumah.
"Kadang aku menulis, kadang juga aku baca buku-buku novel aku. Aku suka mengarang."
"Terusin saja, siapa tahu laku. Apalagi kalau sudah jadi penulis beneran, bisa laku banyak tuh buku novelnya." kata Arkana padaku.
"Kamu kok pas mau sih, tunangan sama aku, kan di luar banyak cewek-cewek yang lebih baik dan lebih cantik dari aku, kenapa?"
"Aku tidak punya pilihan lain Aurel, ibu aku langsung menentukan pilihannya sama kamu, meski teman-teman cewek aku banyak yang ngantri di belakang, tapi keputusan orang tua tidak bisa di gugat dan di bantah. Hak veto." kata Arkana padaku. Aku tersenyum lugu. Berarti Arkana sebelumnya punya pacar dong.
"Kamu punya pacar?"
"Maksudnya?"
"Sebelum kamu tunangan sama aku, kamu punya pacar, enggak..?"
"Punya, namanya Sandra."
"Terus, hubungan kamu sama Sandra bagaimana sekarang?"
"Ya putus lah, aku langsung putus sama Sandra setelah orang tua aku membicarakan pertunangan itu ke aku. Aku sudah tidak lagi mikir Sandra sekarang, aku lebih fokus mikirin kamu."
"Iya, aku prihatin ke dia sampai sekarang. Tapi mau bagaimana lagi?"
"Aku diam sebentar, aku ingin bertemu sama Sandra dan ingin bicara ke dia.
"Boleh enggak, aku minta sesuatu ke kamu?"
"Minta apa, minta cium, boleh, boleh banget. Aku bersedia cium kamu kapan saja."
"Hehehe." aku tertawa lucu. "Bukan begitu," sergahku ke Arkana.
"Terus apa sayang..?" Arkana narsis amat, baru kenal saja, sudah kelihatan rapet. Tidak bisa jaga jarak.
"Aku minta ke kamu, tolong antar aku ke rumah Sandra!"
"Ngapain ke rumah Sandra, nggak, nggak bisa. Aku sudah putus sama Sandra, aku tidak enak ketemu sama dia. Apalagi bawa kamu ke situ, malu, ah. Ada-ada saja kamu maunya. Aku tidak mau, please!"
"Ya udah, gak papa. mungkin lain kali aku minta alamatnya ke kamu."
"Kamu mau ngapain ke rumah Sandra, mau cari gara-gara?"
"Ya enggak juga sih Arkana, aku mau ngobrol saja sama Sandra dari hati ke hati." kataku ke Arkana.
"Aneh kamu." ucap Arkana padaku.
"Bukan begitu, Arkana. Aku pengin tahu bagaimana sikap Sandra setelah dia tahu kalau kamu bertunangan sama aku."
"Mau jadi sok malaikat begitu, di depan Sandra. Sandra udah gak suka sama kamu lagi Aurel, percaya deh sama aku, kamu bisa pikir sendiri." ucap Arkana jelas padaku. Kalau di pikir-pikir memang iya sih, tapi kan niatnya aku bukan begitu.
__ADS_1
"Ya udah, aku tutup dulu ya teleponnya."
"Oke, jangan lupa besok jam dua." kata Arkana menyusul.
"Oke." Klik. Telepon itu telah aku tutup. Aku tidak bersinergi dengan laki-laki bernama Arkana Banaspati lagi. Laki-laki bawel yang pikirannya suka masuk akal. Aku masih berpikir bagaimana baiknya hubungan aku sama Sandra, aku masih tidak tahu caranya. Sebelum tidur aku masih baca-baca buku dulu sebelum semuanya berakhir.
Ibu aku lalu datang mengetok pintu padaku, Ibuku perhatian banget sama aku. "Aurel, kamu sudah mau tidur sayang..?"
"Iya, Ibu. Aku udah mau tidur." ucapku ke Ibu. Ibu kembali menutup pintu kamar aku kembali. Setelah itu aku mendengar ada yang mengetok jendela kamar aku,
Tok tok tok. "Aurel..!!" ada suara di balik jendela kamar aku, aku kaget minta ampun. Ya tuhan, siapa malam-malam begini datang ke rumah aku, lewat jendela lagi.
"Masya Allah, Raka, ngapain ke sini malam-malam begini?" tanyaku sambil buka jendela kamar.
"Ada teman-teman di luar. Ada Arini teman-teman yang lain." kata Raka, aku langsung melihat keluar. Ada empat orang di situ, aku tidak tahu dua diantara mereka siapa. Yang aku kenal cuma Arini saja. Mereka menunggu aku di taman depan rumah.
"Aku turun ke bawah bentar lagi." Raka langsung turun setelah aku jawab. Aku masih ingin turun lihat mereka. Sebenarnya dalam hati aku tidak suka mereka datang malam-malam begitu.
"Kalian ngapain datang malam-malam begini?" tanyaku kesal.
"Katanya ada pesta di sini?" kata Arini padaku.
"Kamu juga, kenapa tidak menunggu sampai besok, kue tart nya masih ibu simpan, kamu jangan keburu, bahaya kalau sampai ibu tahu!" kata aku ke Arini.
"Terus, kita ke sini mau ngapain dong..?"
"Kita duduk aja, sambil tanya."
"Ya udah." Aku ngikutin perintah Arini dan kawan-kawan. Kami berkumpul di teras depan barengan.
"Langsung saja, mau tanya apa..?" aku bertanya kesal.
"Kamu tanya duluan." kata Arini memandang aku benci.
"Mau tanya apa, katanya mau makna bareng ke sini, iya kan?" Raka menjawab sambil memandang ke dua orang laki-laki temannya itu.
"Ini siapa?"
"Itu Abdul dan Abidzar." jawab Arini langsung. Aku berpikir lain.
"Ya udah, aku akan ambilkan kue buat kalian tapi jangan berisik." kataku sambil niat mengambilkan kue buat tamu aku yang empat orang itu. Aku suka banget mereka datang malam itu, tapi waktunya saja tidak tepat. Aku jalan sembunyi ke kamar sambil melirik beberapa kue yang di taruh di atas kasur tempat tidur Ibu aku.
Aku ambil satu kue roti saja. Aku bawa untuk mereka. "Ini dia!" kataku ke mereka. Kami akhirnya makan kue itu satu persatu.
"Enak tidak kuenya?" tanyaku ke mereka.
"Enak banget." kata Arini lahap. Aku masih terus melahap kue aku. Aku tidak tahu harus bagaimana di depan mereka.
"Minumannya bentar lagi aku ambil." kataku ke mereka. Meski dengan berat hati aku katakan pada mereka. Aku jadi pesuruh mereka, mereka malah sebaliknya duduk santai.
Aku bawa botol air dari kulkas itu, aku berikan langsung pada mereka. "Nih minum!" kataku setengah kasar.
"Kamu ikhlas kan Aurel?" Arini resek amat. Ya ikhlas lah, masak cuma makanan saja aku tidak ikhlas. Meski ini resiko buat aku, aku belum bilang ke ibu pasal roti cake ini.
"Iya aku ikhlas." jawabku datar.
"By the way, Arkana bagaimana sikapnya ke kamu?" Arini ngarang di depan aku.
"Dia baik, baik banget sama aku, perhatian dan suka di telepon. Dia menerima aku apa adanya aku. Dia juga punya mantan pacar. Tapi aku tidak mau bilang ke kalian."
"Terus..?"
"Terus, kalian kok malam banget datangnya, terus nggak bilang lagi sama aku. Kok gitu sih niatnya?"
__ADS_1
"Sebenarnya, ini itu ide Raka sih. Aku tadi telepon ke dia, eh dianya malah sewot dan ngajak aku ke sini, ke rumah kamu. Pertama aku ragu dan tidak enak sama kamu, tapi Raka maksa buat pergi ke rumah kamu, katanya kangen, mau ketemu sama kamu." Arini menjelaskan padaku.
Bersambung