Gadis Yang Merindukan Cinta

Gadis Yang Merindukan Cinta
Chapter 8


__ADS_3

Aku sempat bermimpi ketika aku bertemu dengan Arkana. Apa yang terjadi ketika aku bertemu dengan dia?


DUAR..!!


AKU DAN ARKANA bertabrakan. Aku tidak kenal Arkana, dia juga. Aku dan Arkana tidak saling menyapa, ragu. Aku dan Arkana berada di jalan yang sulit untuk di mengerti.


"MAAF, Aku telah menabrak kamu barusan. Aku tidak sengaja." kata Arkana jujur. Dia tidak bisa melepaskan kata maaf dari bibirnya yang merah dan mungil.


AKU langsung pergi menjauh dari ARKANA.


___________


Cerita kedua, di pesta. AKU melihat suatu keanehan yang mengganjal dalam diri AKU. AKU melihat laki-laki yang sedang berdiri dan kencing sembarang.


"HEH, SIAPA KAMU?" AKU membentak laki-laki itu yang tidak lain adalah ARKANA.


"KAMU LAGI, TIDAK ADA BERHENTINYA KAMU SELALU MENGEJAR AKU!" Arkana membentak AKU, langsung. Dia tidak sadar atas apa yang di lakukan olehnya.


"HEH, hati-hati ya kalau ngomong. Aku ke sini bukan untuk bertemu sama kamu, NAJIS TAHU ENGGAK!" AKU cukup kasar pada ARKANA.


"PEREMPUAN NAJIS!" kata Arkana sebelum dia pergi. AKU langsung mengambil bahunya dan membalikkan badan Arkana yang sebelumnya sempat mengejar ARKANA.


"HEH, APA KATAMU. NGOMONG LAGI YANG KERAS! AKU INGIN DENGAR!"


"MINGGIR!"


"SEENAKNYA NGUSIR ORANG! RAKA!!" AKU langsung memanggil nama RAKA. Raka adalah laki-laki yang sedang berulang tahun.


"DIAM!" ARKA membentak dan menutup mulut AKU.


"Lepaskan aku! Kamu tidak berhak menutup mulut aku. Sekarang kamu minta maaf sama aku!" AKU BERTERIAK SEKENANYA.


"Heh, siapa ini. Ada apa ini, ngapain kamu di sini Arka!?" ARINI langsung datang pada AKU DAN ARKANA.


"MAAF, DIA duluan yang mulai." kata Arka membela diri. Arini bingung yang mana yang sebenarnya yang salah.


"ENGGAK, KAMU DULU YANG MULAI. AKU YANG TELAH DI SAKITI OLEH DIA ARINI. yang pasti kamu percaya sama aku, kan!" AKU memohon pada Arini untuk percaya pada AKU.


"SUDAH-SUDAH, BUBAR..!!" ARINI BERTERIAK. semuanya pada bubar dan berakhirlah cerita itu. Arkana langsung pergi dengan nada benci pada AKU.


Dia pergi menghampiri Richard yang sedang duduk santai tidak ikut campur dalam urusan itu. "Richard, kamu ke mana saja, kamu tidak tahu kalau aku habis berantem sama perempuan?"


"Iya, aku tahu kawan, tapi apa masalahnya aku ikut campur ke urusan yang nggak jelas itu, malah aku nanti yang kena gasak sama yang punya rumah. Mending aku di sini. Untung aku tidak ikut campur ke situ. Tuh orangnya datang." Richard menunjuk seseorang yang datang pada AKU. DIA ADALAH RAKA.


"AUREL, KAMU TIDAK APA-APA KAN..?" RAKA sedikit mencemaskan AKU.


"Kau tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." AKU masih dendam pada Arka. Kedua matanya tidak lepas dari pandangannya pada Arka.


"Apa benar Arka yang telah berbuat itu padamu. Apa yang dia lakukan?"


"Tidak ada, dia hanya menutup mulut aku saja. Tidak di sangka dia bersikap seburuk itu padaku."

__ADS_1


"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Biar aku yang minta maaf pada dia. Sekali-kali aku kasih pelajaran pada dia."


AKU diam, dia ingin tahu apa yang akan Raka lakukan untuk DIRIKU. Keduanya lalu berkelahi. Raka memukul pipi Arka, Arka kaget bukan main. Dia juga ikut menyerang, dari mulutnya keluar darah segar. Arka mengusapnya, dia langsung membalasnya dengan pukulan di perutnya berulang. Satu kali di pelipisnya. Raka juga keluar darah.


"TIDAK..!! TIDAK- TIDAK, HENTIKAN, HENTIKAN KALIAN!


"ARKA PERGI KAMU SEKARANG DARI TEMPAT INI. TEMPAT INI TIDAK NYAMAN BUAT KAMU! CEPAT PERGI SEBELUM AKU LAPOR POLISI!" ARINI mencoba untuk melerai keduanya. Dia tidak mau hal itu terus terjadi.


Arka akhirnya keluar dari halaman belakang itu, halaman belakang rumah Raka. Arka tidak habis pikir kenapa Raka tega memukuli dia hanya karena perempuan najis itu.


"RAKA, INGAT PEMBALASAN AKU NANTI!" ARKA langsung bilang ke Raka di depan orang-orang. Arini jadi takut dan miris.


"BUBAR- BUBAR, BUBAR SEMUANYA..!!" ARINI berteriak lagi. Dia tidak mau terjadi sesuatu di situ. Apalagi harus kedatangan polisi, itu tidak mungkin.


Arini menghembuskan napas lesu, apalagi AKU yang tidak berhentinya terus mengadu domba para lelaki yang semena-mena PADAKU.


PLAK! "AAUU..!!" AUREl berhasil di tampar oleh ARINI.


"ITU SEBAGAI BALASAN TERHADAP APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ARKA DAN RAKA. MASIH MAU PUKUL AKU!"


"SAKIT NYET!"


IH! "AAUU..!" AKU menendang kaki Arini. AKU DAN ARINI hampir berkelahi, Untung Raka dan Richard datang melerai.


"Apa-apaan ini! Kenapa kalian harus ikut berkelahi, apa tidak cukup perkelahian yang aku lakukan tadi. Kamu Arini, ngapain juga kamu berkelahi sama Aurel. Kamu tahu kan, kalau Aurel itu adalah teman kita!?" RAKA MEMELAS DI DEPAN ARINI.


Sebetulnya, RAKA masih ada rasa PADAKU. DIA tidak mau kekasihnya itu di apa-apakan sama orang.


"RAKA, AKU PAMIT." UCAPKU KE RAKA. MALAM ITU.


"AUREL, tolong jangan pergi dulu. Temani aku di sini. Aku sendirian." Raka memelas di depan Aurel. Arini yang melihat itu jadi cemburu. Dia ikut keluar bersama Richard.


"Ada apa RAKA, sudah larut malam, aku harus pulang. Aku takut di marahi ayah sama Ibu." ucapku lirih.


"Di sini saja dulu, aku butuh kamu. Malam ini saja." Raka tidak tahu kalau AKU sudah ada yang punya yaitu Rahul. AKU TERPAKSA menerima ajakan Raka.


"Ada apa?" AKU menunggu jawaban dari Raka. Laki-laki malang, laki-laki yang harus rela berkorban demi perempuan seperti Aurel.


"Aurel, maukah kamu jadi pacar aku?" pinta Raka pada Aurel.


"Apa, pacar. Tidak Raka, itu tidak mungkin. Itu omong kosong. Aku tidak mungkin bisa jadi pacar kamu." AKU mengelak.


"Kenapa, apa aku tidak pantas buat kamu, apa aku bukan orang yang baik-baik?"


"Tidak Raka, kamu adalah orang baik yang pernah aku kenal. Tapi, masalahnya, aku sudah punya pacar. Aku tidak mau berkhianat pada pacar aku. Dia terlalu setia pada aku.


"Setiap malam dia selalu berkirim pesan padaku, kalau dia akan datang ke rumah aku kemudian tapi sampai sekarang, aku tidak bisa mendatangi dia.


"Aku telah jahat pada dia.


"Karena aku berjanji, selama dia tidak ke rumah aku, aku tidak akan pergi menemui dia. Karena dia tidak punya alasan yang masuk akal sampai mendekat padaku tanpa izin dulu padaku."

__ADS_1


Arka mengangkat kepala, dia tidak tahu masalahnya apa. "Apa maksud kamu?"


"Dia telah pindah rumah di dekat rumah aku." jawab Aurel dengan jujur.


"Jadi, pacar kamu ada di sini..?"


"Iya, tapi tolong, jangan pernah kamu ganggu dia. Dia tidak pernah ikut campur dalam urusan kita. Hanya teman-teman kita sajalah yang boleh ikut merasakan kehangatan kasih sayang ini, kebencian ini dan kemurkaan ini. Dia tidak boleh tahu masalah ini.


"Dan tolong, jangan pernah bawa-bawa nama dia di sini. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku minta sekali lagi padamu tolong jangan sakiti dia, dia tidak tahu apa-apa." jelas Aurel ke Raka.


Tapi masalahnya, kenapa Aurel tidak mau tahu bagaimana perasaan RAKA ke dia sekarang?


Telepon bergetar,


"IYA HALO..,?" AUREL mengangkat telepon itu dari dalam sakunya.


"Iya, ada apa Rahul..?"


"Aku masih sibuk, aku di rumah teman. Tolong jangan hubungin aku dulu."


RAKA melihat itu, hatinya sedikit sakit mendengar AKU di telepon oleh RAHUL.


"Baiknya kamu pergi sekarang, sudah larut malam." RAKA kecewa pada AKU malam itu. Dia telah tega mengusir aku dari rumah DIA.


"BAIKLAH AKU AKAN PERGI, SEKARANG. SELAMAT MALAM." AKU JADI SADAR, kalau Raka tidak sebegitu cintanya padaku. Buktinya aku di usir dari rumahnya.


Di luar masih ada ARINI dan RICHARD. "KALIAN MASIH BELUM PULANG..?" kataku pada Arini dan Richard.


"Aku masih menunggu KAMU. AKU TIDAK MAU KAMU PULANG SENDIRIAN." kata Arini padaku.


"ITU SIAPA..?" AKU KAGET MELIHAT ARKANA TENGAH DUDUK DI DALAM MOBIL RICHARD.


"SUDAHLAH, TIDAK USAH DI PIKIR. SEMUANYA SUDAH BERAKHIR. KAMU TIDAK PERLU CEMAS, ARKA SUDAH MEMAAFKAN KAMU." AKU sedikit lega mendengar itu. Tapi, kenapa mereka begitu kompak ingin mengajak aku malam itu.


Aku masih curiga pada Richard dan Arini. Aku tidak mau terjadi apa-apa padaku.


"KALIAN TIDAK MERENCANAKAN SESUATU, IYA KAN..?" ARINI, melihat aku seketika aku bertanya pada dia.


"AUREL, DENGAR YA. KAMI ITU MASIH TEMAN KAMU, TIDAK MUNGKINLAH KAMI MACAM-MACAM PADA KAMU." kata Arini lirih padaku. Aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Di mobil aku tidak bisa diam, Arka duduk di depan sedang Arini tengah asyik bermain handphone. Dia sedang berbicara dengan seseorang, mungkin temannya. Aku bersyukur setelah aku sampai di rumah. Aku masih melihat Arka, dia sama sekali tidak menoleh ke arahku.


"DAH ARINI..!"


"DADA AUREL..!" ARINI pamit bersama Richard. AKU masih berdiri terdiam mematung.


Malam itu aku menyesal telah berkelahi dengan Arka. Aku juga menyesal telah memukul Arini di salah satu kakinya. Aku heran, kenapa hal itu terjadi padaku. Aku ingat, kalau RAKA sempat memberikan sebuah minuman pada aku, Arini, dan Richard. Minuman beralkohol sedang, termasuk Arka. Kami sama-sama menikmati minuman itu, dan kami merasa tidak sadar.


Kenapa juga, tiba-tiba kepala aku pening dan serasa pusing. Aku lalu cepat pergi ke depan halaman rumah. Aku lalu ambruk di depan halaman rumah, tidak sadarkan diri.


Salam.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ceritanya, semoga menghibur dan suka. Jangan lupa vote dan komen.


__ADS_2