
Sean mengajak Yanto ke sebuah acara pernikahan besar-besaran, yang diadakan di hotel bintang lima, yang menikah adalah anak laki laki Si Boss, yaitu Romi kakaknya Lisa.
Yanto berjalan santai satu langkah di belakang Sean, ternyata ada banyak sekali orang terkenal yang hadir di pesta ini.
Secara tiba-tiba Sean menghentikan langkahnya, membuat Yanto kaget kemudian tersandung tubuh Sean yang berdiri tegak. Tiba-tiba saja pria dengan julukan Macan Putih ini malah mematung, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Yanto mencoba mencari tahu ke mana arah pandangan Sean. Begitu melihat apa yang ada di depannya, Yanto langsung membatin, "Bukankah mereka?"
"Nenek dan Bibi Sean!" ucap Yanto dalam hati. Yanto saja sangat terkejut, apalagi Sean? Mereka adalah bagian dari masa lalu, keluarga yang dulu dia tinggalkan.
"Nenek? Bibi? Apakah kalian masih mengingatku?" Sean hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
Nenek dan bibinya duduk di kursi yang tersedia di samping pelaminan, sebagai keluarga dari mempelai wanita.
"Berarti pengantin wanita itu, dia? Yuli?" Sean menatap nanar sang mempelai wanita.
Yuli adalah adik kecilnya yang dulu sering dia gendong. Sekarang ia sudah jadi wanita dewasa dan menikah. Pandangan Sean semakin berkabut, cairan bening menguar dari matanya, menetes jatuh ke pipinya.
Penyesalan yang dalam lalu merasuk di hatinya, "Oh tidak! Dia menikahi pria brengsek seperti Romi." Sean sangat kesal menerima kenyataan.
Yanto tentu saja tau apa yang dirasakan Sean saat ini, kalau saja Sean menyadari bahwa dia adalah Yanto kawan kecilnya dulu. Sean melangkah mundur ingin pergi meninggalkan tempat itu, tapi Yanto dengan sigap merangkul bahu Sean dan menyeretnya maju menuju pelaminan.
Akhirnya, dengan menahan segala perasaan yang bercampur aduk dalam diri, Sean menatap Yuli yang sudah dewasa ini dari dekat.
"Betapa cantiknya adikku." Dalam hati sean berkata.
Bibi Sean seperti mengenali dirinya yang sudah dewasa ini. Tetapi, sang nenek yang sudah sepuh dan duduk di kursi roda, sama sekali tidak mengenalinya.
Saat bersalaman dengan mempelai wanita, Yuli terlihat sedikit kaget. Bagaimana tidak, wajah pria di hadapannya ini sangat mirip dengan kakaknya Siao. Walaupun Yuli tidak ingat kalau ia memiliki dua orang kakak, karena dulu dia masih berusia empat tahun saat Sean kabur dari rumah.
Sean hanya bisa menatap Yuli penuh makna. Dalam hatinya, Sean sangat ingin memeluk sang adik yang sangat mirip dengan ibunya ini, di balik segala sifat buruknya, masih ada rasa kasih sayang terhadap adik kandungnya ini.
Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sean kemudian turun dari pelaminan dengan perasaan sedih dan bahagia. Bahagia karena pertemuan kembali dengan sang adik, sedih karena Sean hadir sebagai tamu, bukannya wali dari adik perempuannya.
__ADS_1
Yanto menepuk punggung Sean, seolah tau apa yang Sean rasakan saat ini. Sean mencoba menahan emosinya yang meluap-luap, sungguh ia tidak pernah ingin terlihat lemah, apalagi di hadapan Yanto.
"Kenapa sikapmu seperti ini padaku?" tanya Sean pada Yanto yang sedari tadi menatapnya dengan berbeda.
"Tidak apa-apa, kau sudah mengajakku kesini, ayo kita nikmati pestanya," jawab Yanto dengan ceria.
...***...
Seseorang yang juga hadir di pesta itu terus memperhatikan mereka berdua, sementara Yanto dan Sean seperti berada di dunianya masing-masing. Akhirnya pria gembul yang sedari tadi sudah memperhatikan keduanya memberanikan diri untuk mendekati mereka berdua.
Pria ini ternyata adalah Jody sepupu sekali Sean, dari caranya melihat Sean sepertinya Jody mengenali sepupunya itu, dan yang membuat Jody penasaran ingin mendekati mereka berdua adalah, Jody mengetahui identitas Yanto yang sebenarnya.
Saat langkah Jody sudah semakin dekat dengan dua pria itu, ia berusaha untuk menyapa, tapi untung saja Yanto terlebih dahulu melihat kedatangan Jody, dan berpura-pura hendak mengambil hidangan prasmanan yang telah di sediakan.
"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan!" tanya Yanto menawarkan bantuan pada Sean.
"Aku masih kenyang, ambilkan minum saja," pinta Sean.
Dengan dalih seperti itu, Yanto bergegas pergi ke arah Jody dan merangkul lehernya, lalu menyeret secara paksa ke sudut ruangan yang sepi.
"Gak usah pakai hormat segala! Ngapain kamu di sini?" tanya Yanto sedikit geram.
"Ini, kan, pernikahan adik sepupu saya, Pak!" jawab Jody.
"Ga usah panggil saya pak!" tegas Yanto.
Semenjak Yanto menjadi Polisi dan pernah menangkap Jody karena judi online beberapa waktu lalu, Jody jadi lebih segan padanya, padahal dulu waktu SD, si Jody ini malah yang sering membully dirinya.
"Aku sedang tidak ada waktu untuk melayani kamu, sebaiknya kamu pulang sekarang!" perintah Yanto pada Jody.
"Tapi, Pak! Ibu saya masih di sini," jawab Jody memelas.
"Ah! Gak ada urusan! Pulang sekarang atau kutangkap lagi kamu!" ancam Yanto.
__ADS_1
"Eh, I, iya, iya!" ucap Jody, untung saja ia mau menurut dan langsung meninggalkan pesta itu. Setelah Jody pergi Yanto segera ingin kembali, namun saat ia berbalik, ternyata Sean sudah berada di dekatnya.
"Apakah kamu di sini dari tadi?" tanya Yanto dengan perasaan kaget.
"Tidak, baru saja, aku mencarimu ke mana-mana, bukankah kau mau mengambilkanku minum?" tanya Sean sedikit bingung. Sepertinya Sean tidak mendengar pembicaraan mereka barusan.
"Oh, iya, aku nyasar, hotel ini sangat luas, mau aku ambilkan sekarang?" tanya Yanto lagi.
"Tidak usah, kita pulang saja, aku bosan di sini," jawab Sean sambil melonggarkan dasinya.
"Ya sudah, kita pulang saja," beo Yanto menuruti keinginan Sean.
Saat berjalan menuju pintu keluar, Sean tanpa sengaja berpapasan dengan Lisa yang langsung menyunggingkan senyum manis padanya. Tak menghiraukan perempuan itu, Sean tetap berjalan lurus, dan berpura-pura tidak kenal dengan gadis yang sudah cinta mati dengannya ini. Lisa yang diperlukan seperti itu, terlihat sangat kecewa sampai matanya mulai berair menahan tangis.
Lisa tahu kalau hubungan mereka berdua sudah diketahui oleh ayahnya. Romi kakaknya sendiri yang melaporkan setelah mengikuti Lisa dan melihatnya menghabiskan waktu bersama Sean di hotel tempo hari.
Akan tetapi, walaupun sudah seperti ini, ia tetap tidak terima kalau Sean sampai bersikap sangat dingin padanya. Dengan perasaan pilu, Lisa kemudian mengejar Sean sampai ke tempat parkir.
"Sean! Apa kau tidak melihatku?" Lisa menarik lengan Sean yang ingin segera masuk ke dalam mobilnya.
Sean langsung menoleh ke arah wanita yang sudah sering ditidurinya ini.
"Untuk apa kamu mengikuti aku?" Sean berkata sambil melepaskan pegangan tangan Lisa pada lengannya.
"Sean, kenapa kamu seperti ini?" tanya Lisa, heran dengan perubahan sikap Sean.
Sementara Yanto yang sudah lebih dulu masuk di dalam mobil hanya bisa menyaksikan adegan seperti di drama ini dalam diam.
"Kembalilah ke dalam, nanti ayahmu mencarimu," ucap Sean mengalihkan pembicaraan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," Lisa masih diliputi perasaan gundah.
"Kembalilah ke sana, kita bahas ini lain kali," ucap Sean lalu ia masuk ke dalam mobilnya, mobil itupun berlalu meninggalkan Lisa yang masih termenung.
__ADS_1
Sean sudah tidak perduli padanya, bukan hanya karena Boss besar yang memerintahkan, tapi juga karena Sean sama sekali tidak punya perasaan pada Lisa.
Bersambung