Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Kematian


__ADS_3

Bau khas darah menyeruak di udara.


Sean berdiri termangu dengan palu di tangannya dan tatapan kosong di matanya.


Di bawah kakinya tergeletak seonggok tubuh manusia.


"Ngik...."


Terdengar bunyi nafas terakhir. Begitu memilukan. Sean tetap tegap berdiri sampai akhirnya menjadi hening ... senyap hilang suara.


Peristiwa kematian yang dilihatnya berkali-kali.


Pembunuhan yang dilakukannya berulang kali. Seperti pisau bermata dua, juga merusak jauh ke dalam diri.


Matanya lantas tertuju kepada seorang anak yang meringkuk menggigil ketakutan. Begitu malangnya, tak pelak membuat hatinya tertegun. Gundah, merasa bersalah, benar-benar salah.


"Oeekk...!"


Anak itu memuntahkan darah segar tepat di depan matanya. Sekarat bernapas terpenggal-penggal lalu terkulai ke tanah yang keras.


Sean langsung tercekat saat berusaha berteriak. Suaranya lumpuh tak bisa keluar dari mulutnya. Sean terus berusaha berulang kali sampai suaranya keluar melengking bersamaan dengan matanya yang terbuka.


"Tidak! Yanto!"


Datang lagi ... Mimpi buruk itu semakin parah dari hari ke hari. Begitu nyata saat berada di dalamnya, sangat menyiksa sampai ia tidak mau memejamkan mata untuk tidur kembali.


"Kenapa hal ini terjadi padaku?" gumamnya sendiri, bertanya pada diri sendiri tetap tidak ada gunanya.


Terbangun di tengah malam, mungkin sudah jadi hal biasa bagi Sean. Padahal ia sudah memiliki segalanya. Padahal ia sudah menjadi Boss besar gang Harimau, tapi kenapa ia merasa tidak tenang?


Barangkali masih ada yang mengganjal, barangkali ini imbas dari kejadian pembunuhan itu, entahlah, tidak ada yang bisa mendalami hati seorang Sean, bahkan dirinya sendiri akan tenggelam dan mati dalam kegelapan terdalam.


...***...


Sementara itu di lain pihak, para penegak hukum sudah semakin gerah dengan tingkah tanduk Macan putih dan komplotannya, tapi ketua gang Harimau itu sangatlah licin.


Tidak ada bukti yang bisa dipakai untuk menjeratnya. Setiap tindak kejahatan yang sekiranya bisa untuk menjeratnya. Pasti ada saja yang menjadi kambing hitam untuk menutupi kesalahannya.


Para anak buah Sean, anggota gang Harimau juga sangat setia kepada Boss mereka, tidak ada yang akan mau menghianatinya meskipun sudah dihajar habis-habisan.


Yanto sendiri sudah gagal menjalankan misinya menjadi orang terdekat Sean, tapi Yanto masih yakin Sean masih memiliki kebaikan di dalam hatinya. Pria lugu ini percaya kalau Sean masih bisa bertobat dan berhenti berkecimpung di dunia hitam.

__ADS_1


Dengan kepercayaan absurdnya itu, ia kembali mendatangi apartement tempat tinggal Sean.


...***...


Dengan wajah memelas Yanto berdiri di depan pintu, sekarang ia tidak bisa leluasa masuk ke dalam. Sean sudah mengubah kode nomor sandi pintunya, Yanto hanya bisa memencet bell dan menunggu Sean membukakan pintu.


Sean yang melihat Yanto dari layar monitor hanya berbicara melalui speaker tanpa membukakan pintu.


"Berani sekali kamu datang lagi, pergi!" Suara Sean terdengar kasar.


"Sean ijinkan aku masuk, kita perlu bicara," pinta Yibo.


"Pergi! Tidak ada yang perlu dibicarakan," Sean kembali mengusirnya.


"Aku tahu kamu sangat kecewa padaku, tapi bisakah kita bicara baik-baik sekali ini saja? Demi masa lalu, demi janjimu padaku?" Yanto masih belum menyerah, ia bertanya karena yakin Sean masih perduli padanya.


Tidak ada jawaban dari dalam, Sean sudah tidak menghiraukannya lagi. Yanto bersandar pada pintu yang tertutup. Apakah ini sudah jalannya? Yanto harus membuang semua ingatan masa kecilnya bersama Sean.


Di balik pintu Sean juga menyandarkan dirinya, dadanya terasa sakit, bukan cuma karena penghianatan Yanto, tapi juga karena rasa kecewa yang teramat dalam. Dengan susah payah Sean menahan rasa sakit, sakit yang tak akan pernah bisa terobati.


Setelah beberapa lama akhirnya Yanto pergi dengan perasaan pilu, kalau begini suatu saat bila bertemu lagi sebagai seorang Polisi dia harus meringkus sahabatnya sendiri yang merupakan seorang penjahat.


...***...


Yanto mengetahui sebagian besar orang yang terlibat. Walaupun belum mengantongi bukti, tapi pelaku kejahatan ini menjadi sulit bergerak karena terus diawasi.


Sean mulai kewalahan menghadapi para aparat penegak hukum. Manusia kejam ini sudah merasa terdesak, tidak mustahil kalau akhirnya ia akan mengambil tindakan untuk menyakiti siapapun yang menghalangi jalannya. Siapapun! Tak terkecuali Yanto.


...***...


Setelah lelah dengan pekerjaannya, Yanto pulang ke rumah di sore hari seperti biasa. Semua terlihat normal, tapi saat masuk ke rumah dia merasa sedikit heran.


Kenapa ada yang berbeda


Yanto merasakan firasat yang aneh, mungkin karena biasanya kucing kesayangan akan menyambut di depan pintu.


Dimana mereka?


"Pussss, ckckck," ujarnya memanggil kedua kucing.


Saat melangkah masuk Yanto kemudian terhenti, ia seperti tak percaya dengan apa yang dilihat, Yanto kemudian terduduk.

__ADS_1


Dua kucing kesayangan sudah tergeletak bersimbah darah. Kucing itu mati bersisian, kepalanya hancur seperti terkena tumbukan palu. Sungguh tega! Ini merupakan peringatan dari Sean agar Yanto berhenti menghalangi jalannya.


Dengan matanya yang berkaca-kaca Yanto yang sudah pupus harapan kemudian bergumam, "Sean memang sudah tidak punya perasaan, dia seorang psikopat!"


Lelaki ini membuang jauh segala perasaan yang pernah ada di hatinya. Yanto sekarang bertekad akan menangkap si Macan putih itu. Walau nyawa taruhannya.


...***...


Sepandai pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Mungkin itu pribahasa yang cocok untuk menggambarkan keadaan saat ini. Kebenaran akhirnya terungkap kepermukaan, Sean sudah menjadi tersangka atas pembunuhan Subrata.


Dengan sigap Inspektur Yibo beserta pasukannya mengepung apartement tempat Sean bersembunyi.


Detasemen khusus yang berjumlah tidak kurang dari sepuluh orang, bersenjata lengkap sudah siap menyerang kediaman Boss gang Harimau yang sangat ditakuti di kota itu.


Brakkk!


Pintu apartement di lantai paling atas itu didobrak masuk, para petugas langsung menyebar di ruangan luas tak bersekat itu mencari keberadaan si Macan putih.


Sementara itu Sean terlihat ketakutan berdiri di balkon dan terus mundur sampai ke ujung pagar rendah di ketinggian belasan lantai itu.


Yanto yang pertama kali melihat, menyadari bahwa nyawa Sean berada dalam bahaya, ia kemudian panik dan berusaha menenangkannya, "Sean! Kemarilah! Serahkah dirimu, jangan bertingkah konyol!"


Sean hanya diam saja.


"Kemarilah, semua akan baik-baik saja," Yanto terus membujuknya.


Sean mulai terbujuk lalu melangkah kecil menjauhi pagar balkon.


Lalu Sean melihat pasukan bersenjata mencoba mendekatinya, hal itu membuat Sean semakin ketakutan.


Sean malah kembali mundur sampai kakinya tersandung pagar kemudian terjungkal keluar dari balkon, jatuh dari ketinggian!


"Aaaaaaaaaaaa."


Sean menghilang dari pandangan jatuh ke bawah!


Yanto berusaha mengejar mencoba meraihnya, "Seaaan...!"


Apalah daya, Yanto tidak berhasil meraihnya, cuma sekian detik tubuh Sean sudah jatuh ke permukaan tanah!


"Kyaaaaaa."

__ADS_1


Orang-orang di sekitar yang melihat jatuhnya tubuh Sean berteriak histeris. Darah merah menggenangi tubuh Sean di tanah, benarkah sang Macan putih sudah meninggal dunia?!


Bersambung


__ADS_2