
Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mengistirahatkan hati dan pikiran yang tidak tenang, saat ini Yanto tengah berbaring di tempat tidurnya, wajah datarnya berbanding terbalik dengan perasaan sebenarnya yang dia rasakan di dalam lubuk hatinya.
Dia termenung menatap langit langit kamarnya, dalam hati timbul dilema antara misi yang harus di selesaikan, dan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Ternyata pentolan gang Harimau yang sedang ia selidiki adalah sahabat lamanya Sean.
Sean sudah lama jadi target DPO, tapi selama ini tidak pernah ada bukti, apa lagi saksi untuk menjerat pria dengan julukan Macan Putih itu.
Sekarang Yanto punya cara untuk menjeratnya, tapi hati berlawanan dengan pikiran yang sama sekali tidak ingin hal buruk menimpa sahabatnya.
"Ah!"
Persetan dengan dunia, Yanto kemudian menarik selimut sampai ke kepala, dan memaksakan diri untuk tidur.
...****...
Di lantai paling atas sebuah apartemen mewah, Sean tengah tidur dengan gelisah, matanya terpejam, tapi kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, seperti sedang mengalami mimpi yang sangat buruk.
Kain sprei digenggam dengan erat, keringat terus bercucuran dari keningnya. Mimpi yang sama kembali menghantui.
Dalam mimpinya, Sean yang masih berusia sebelas tahun membawa sebuah palu hendak memukul anak culun yang meringkuk di hadapannya.
"Jangan sakiti aku, Sean! Bukankah kita berteman?" tanya anak culun itu sambil menggigil ketakutan.
Anak itu menangis, tapi Sean mengangkat tangannya kemudian tanpa ampun melayangkan palu di tangannya.
"Tidak! Jangan!"
Sean mengigau, ia terbangun dan langsung terduduk.
Napasnya menjadi tersengal-sengal dan tidak beraturan. "Kenapa aku bermimpi buruk tentangnya lagi?" Sean bergumam.
Sean beranjak bangun dari tempat tidurnya, kemudian melihat ke arah jam dinding besar di ruangan luas, tanpa sekat kamarnya ini.
Dilihatnya jarum jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Sean kemudian berjalan perlahan ke arah balkon, dari tempat yang tinggi ini, Sean dapat melihat pemandangan dari luar apartemen yang terlihat begitu indah bila dipandang dari atas.
Semua gemerlapan cahaya itu seolah menyerupai bintang di langit, kota seperti tidak pernah tidur, cahaya lampu dari jalan, dan gedung di sekitar menyala dengan terangnya, ia lalu berkata pada dirinya sendiri, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Dengan susah payah Sean sudah berhasil sampai seperti sekarang ini, walaupun itu dengan jalan yang salah.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, bagaimana dirinya yang saat itu masih berumur sebelas tahun harus menjalani kerasnya hidup di jalanan, tak jarang ia harus mengais sampah hanya untuk mencari sisa-sisa makanan.
__ADS_1
Menjadi pencopet pun pernah dia lakukan untuk menyambung hidup, kalau sedang tidak beruntung dia akan tertangkap warga dan menjadi bulan-bulanan mereka.
Sean beruntung akhirnya bertemu dengan Boss besar yang mau mengajarinya dan membuatnya berkecimpung di dunia maksiat ini sekarang. Karena jerih payahnya juga, nama Gang Harimau menjadi begitu terkenal dan disegani banyak orang.
Semua yang telah ia lewati untuk jadi seperti sekarang, sungguh tidaklah mudah. Oleh karena itu, Sean tidak akan membiarkan dirinya jatuh dengan mudah pula.
...****...
Pagi-pagi sekali, Aceng sudah bertandang ke rumah Yanto. Aceng berdiri di depan pintu rumah Yanto sambil menggedor pintunya beberapa kali. Ia menunggu dengan tak sabar si pemilik rumah untuk membukakannya pintu. Setelah menunggu akhirnya pintu terbuka, Aceng melihat wajah Yanto masih dalam keadaan kusut, mungkin karena semalaman dia tidak bisa tidur.
Aceng langsung masuk begitu dibukakan pintu, dengan gaya selengean langsung membantingkan dirinya di atas sofabed di ruang tamu.
"Yanto, saya, kan, tamu. Masa gak dikasih minum?" tanya Aceng dengan santainya, karena mengganggap rumah Yanto seperti rumahnya sendiri.
Yanto hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkahnya. Si empunya rumah berjalan ke arah dapur, mengambil teko, kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Yanto lalu menaruhnya di atas meja tempat Aceng tengah duduk.
"Cuma air? Kamu ga punya minuman lain?" tanya Aceng, tidak puas dengan pelayanan Yanto.
"Apa? Mau teh? Atau kopi?" tanya Yanto melayani omongan Aceng.
"Vodka, mansion, kek," sahutnya lagi.
"Ya sudah," kata aceng sambil menenggak habis air putihnya.
"Ayo ikut denganku," ajak Aceng kemudian.
"Kemana?" Yanto bertanya.
"Kamu beruntung, Sean menyukaimu, kelak kamu tidak usah jadi petarung jalanan lagi, Sean pasti akan merawat kalau kamu mau setia sama dia," ujar Aceng panjang lebar.
"Jadi anak buahnya maksudmu?" tanya Yanto.
"Orang kepercayaan, seperti aku ini, nanti apapun yang kamu inginkan, uang? wanita? Bisa dengan mudah kamu dapatkan kalau mau mengikuti dia," Aceng menyakinkan.
Memang ini tujuan Yanto sebenarnya, mendekati Sean lalu menjadi orang kepercayaan, dan pada akhirnya akan mengungkap setiap tindak kejahatan yang dia lakukan.
"Jadi sekarang, kita sebenarnya mau kemana?" Yanto terus bertanya pada Aceng.
"Sean akan mengajak kita bertemu Boss besar," jawabnya.
__ADS_1
...****...
Yanto pergi bersama Aceng mengendarai sepeda motornya, setelah diajak ke suatu tempat oleh preman yang mengaku sebagai orang kepercayaan si Macan Putih itu.
"Berhenti!"
Tiba-tiba saja Aceng menepuk punggung Yanto saat di bonceng naik motor. Yanto langsung menghentikan laju sepeda motornya dan mereka berhenti di depan sebuah pasar tradisional.
"Kenapa berhenti? Masa di sini bosnya?" tanya Yanto heran.
"Bukan."
Aceng turun dari motor lalu anehnya mulai bicara dengan suara pelan.
"Apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh? Dari tadi kita sudah dibuntuti," ujar Aceng.
Yang benar saja?
Aceng ternyata memiliki insting yang cukup kuat. Memang benar anak buah Yanto, Aipda Andika dan Bripka Ridwan, sedang mengikuti mereka saat ini.
Aceng kemudian mendekat ke telinga Yanto dan mengatakan, "Di belakangmu yang pakai jaket OJOL, dia pasti Polisi."
Yanto mencoba menoleh ke arah Aipda Andika, tapi dengan cepat Aceng mencegahnya.
"Jangan menoleh! Biarkan dia mengikuti percuma, kita akan berputar-putar saja mengecoh dia," tegas Aceng.
Yanto memberikan kode menyilang kedua jari telunjuknya di belakang punggung, mencoba memberitahukan kalau penyamaran sudah terbongkar. Andika yang menyamar jadi tukang OJOL, langsung pergi menjauh dari situ.
"Dia sudah pergi, aneh sekali instingku tidak pernah salah," kata Aceng sedikit bingung.
Setelah OJOL itu pergi, Aceng kembali melihat sekeliling dengan sangat seksama, "Lihatlah! tukang Bakso itu juga mencurigakan," Aceng kembali berbisik.
"Dari tadi dia bikin Bakso padahal gak ada yang beli, dan lagi urutannya salah! aturan Soun dulu baru Baksonya," lanjutnya.
Astaga! kali ini penyamaran Ridwan yang terbongkar. Yanto hanya bisa geleng-geleng menanggapi kegagalan anak buahnya.
Misi penyamaran yang sudah direncanakan dengan baik pun akhirnya bisa digagalkan oleh seorang Aceng, preman yang memiliki insting seperti anjing pelacak.
Bersambung
__ADS_1