Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Sadis


__ADS_3

Satu jam sebelum penyergapan di rumah Subrata, dengan penuh amarah, Sean mendatangi rumah mewah itu setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Subrata yang saat itu tengah duduk di ruang kerjanya merasa heran dengan kedatangan Sean yang tiba-tiba.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" tanya Subrata, ia langsung menatap pria yang telah lama menjadi anak buahnya itu.


"Bukankah aku sudah kau anggap seperti anak sendiri? Apa tidak boleh aku masuk tanpa permisi?" Sean bertanya sambil menyunggingkan senyum jahatnya.


"Apa maumu, bukankah sudah kuberi tahu jangan datang ke tempatku pada saat siang hari begini," tegas Brata, ini kali pertama Sean melanggar aturan yang ia buat.


"Aku ke sini untuk meminta penjelasan," terang Sean, tanpa ragu ia mendekati pria paruh baya itu.


"Apakah benar, kau yang telah membunuh ayahku?!" Sean setengah berteriak saat menanyakannya.


Anehnya Subrata tidak merasa kaget saat mendengar pertanyaan Sean, ia melipat tangannya di dada kemudian berkata, "Ternyata benar kau adalah anak lelaki Hartanto." Bola matanya bergulir rupanya Subrata sedang mencoba membaca situasi. "Sebenarnya aku sudah diberi tahu oleh bibimu waktu kau datang ke pernikahan Romi, aku tidak menduganya waktu itu, ternyata aku telah membesarkan anak dari seorang penghianat!" tambahnya, dengan licik Subrata mencoba memutar balikkan fakta.


"Memang benar aku sendiri yang telah membunuh Hartanto, bukankah kamu sudah tau prinsip gang kita adalah tidak ada ampun bagi penghianat," tukas Brata mengakui perbuatannya.


"Ayahmu pantas mati karena dia sudah berkhianat." Subrata berdusta untuk membela diri, tapi tentu saja tak semudah itu dia bisa mempengaruhi Sean.


"Penghianat apa maksudmu?" tanya Sean, gejolak emosinya semakin menjadi mendengar kebohongan dari Subrata. "Itu hanya akal-akalan kau saja, 'kan? Aku sudah tau bahwa kau ingin memperkosa ibuku sampai dia jadi gila, 'kan?!" bentak Sean dengan mata merah menyala penuh dengan amarah, emosi sudah merasuk ke jiwa, darahnya seolah mendidih, rasa sakit hatinya tak bisa ditahan lagi, Subrata orang yang selama ini ia hormati, tak lain hanyalah manusia bajingan yang membuat seluruh keluarganya menderita.


Sean tetap menatapnya dengan penuh dendam, meski Subrata sudah berusaha untuk membohongi, tetap saja usaha itu sia-sia. Subrata sudah tidak dapat mengelak, Sean sudah mendengar semua cerita yang sebenarnya dari sang kakak, ia sama sekali tidak percaya dengan satupun perkataan yang dilontarkan.


Sean mulai melangkah mendekat, awalnya Subrata masih belum merasa takut sampai ia melihat Sean mengeluarkan sebuah palu dari balik jas hitamnya.


"Apa yang akan kau lakukan! Kau tau akibatnya kalau berani menyakitiku?" Subrata akhirnya gemetaran melihat wajah Sean yang mengeluarkan aura pembunuh.


Duak!


Tanpa peringatan Sean mengayunkan palunya tepat di wajah Brata membuat gigi-giginya rontok dan gusinya mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


Subrata memegangi mulutnya dengan telapak tangan, tapi tetap tidak bisa membendung aliran darah yang mengalir dari sela jarinya. Dengan susah payah Brata berusaha keluar dengan berlari menuju pintu, tapi tentu saja dia kalah cepat dari Sean.


Sean menjambak rambut tipis Brata menariknya ke bawah sampai ia terlentang di lantai.


"To-tolong saya!" Subrata merintih kesakitan.


Sean tersenyum dan berkata, "Siapa yang akan menolong mu? Semua anak buahmu sudah setia padaku."


"Ampuni aku Sean, kamu bisa minta apa saja yang kau mau, kalau kau menginginkan Lisa anakku ambilah! Kau boleh memilikinya kalau menyukainya." Subrata akhirnya menyembah meminta untuk diampuni.


"Sst." Sean menaruh jari telunjuk di depan bibirnya. "Tidak perlu banyak bicara, satu satunya yang kuinginkan saat ini adalah mengambil nyawamu!" tegas Sean.


Sean kembali menyeret tubuh Subrata kemudian mengangkatnya sampai terlentang di atas meja, lelaki paruh baya itu sudah tergeletak tak berdaya seperti tumbal di meja persembahan, Sean mengangkat tinggi palunya di atas kepala lalu dengan sekuat tenaga menurunkannya ke sasaran.


Bak! Bak! Bak!


Palu itu dengan mudahnya memecahkan batok kepala yang keras, otak busuk Subrata berhamburan keluar dari kepala, darah kental mengalir dari atas meja membasahi lantai di bawahnya. Setelah mencabut palu yang terbenam di dalam kepala korbannya Sean masih bisa berdiri tegak, dengan penuh kesadaran menggenggam erat palu merah di tangannya.


...***...


Dengan kematian Subrata otomatis akhirnya Sean didapuk menjadi Boss besar yang baru. Walaupun Romi anak lelaki Brata menentang keras, tapi keputusan dari sebagian besar anggota gang tidak dapat di ganggu gugat.


Hari ini Sean beserta anak buahnya menghadiri acara pemakaman Subrata, dari awal Sean masuk ke rumah duka Romi sudah menatapnya dengan pandangan tidak suka.


"Untuk apa kamu ke sini, hah?" Romi langsung berdiri menghalangi Sean masuk rumah.


"Aku hanya ingin menyampaikan belasungkawa, aku turut berduka atas kematian Ayahmu," ucap Sean.


"Pembohong! Kau pasti senang dengan kematian Ayahku kamu bisa menguasai bisnisnya." Romi mengatakannya dengan lantang.


Sean hanya tersenyum lalu berkata, "Baiklah kalau aku tidak diijinkan masuk, yang penting aku sudah menyampaikan maksud tujuanku datang kemari."

__ADS_1


Saat Sean berbalik untuk pergi Romi berkata di belakangnya, " Aku yakin bahwa kau yang telah membunuh Ayahku!"


Sean tidak berbalik untuk menatap lawan bicaranya itu, dia bicara sambil memunggunginya, "Apa kau punya bukti kalau aku yang melakukannya?"


Setelah mengatakan hal itu Sean diikuti rombongannya melenggang pergi. Saat hendak masuk mobil, Yanto yang selama ini selalu berdiri di sampingnya dengan sigap membukakan pintu mobil.


Belum sempat pintu mobil ditutup seorang wanita muda langsung masuk kemudian duduk di samping Sean.


"Apa maumu," ucap Sean tidak senang dengan kedatangan Lisa.


"Sean, kenapa perlakuanmu berubah padaku?" tanya Lisa.


"Heh." Sean menaikan sudut bibirnya, "Memang beginilah aku yang sebenarnya, tidak ada yang berubah," jawabnya.


"Bukankah kita memang tidak punya hubungan apapun? Untuk apa aku harus bersikap baik padamu?" Sean malah balik bertanya.


Lisa tidak dapat menjawab, karena memang mereka hanya menjalani hubungan tanpa status, tapi ia sangat yakin kalau dulu Sean juga mencintainya.


"Aku tau apa yang ayahku lakukan agar kau menjauhiku, tapi dia sudah meninggal Sean... Tidak ada yang akan menghalangi cinta kita." Lisa berkata sembari berusaha menggenggam tangan Sean.


"Cinta?"


Sean melepaskan tangan Lisa dengan kasar.


"Aku tidak pernah mencintaimu," kata-kata Sean membuat hati Lisa hancur berkeping-keping.


Sean yang dulu selalu memanjakannya, menatap penuh cinta, bersikap manis padanya, sekarang benar-benar ketus dan kaku seperti tembok batu, tidak mengapa kalau Sean sudah tidak mencintainya lagi, tapi haruskah ia mendapat perlakuan seperti ini? Habis manis sepah dibuang.


Lisa keluar dari mobil lalu berlari dengan air mata bercucuran. Sean memang tidak punya perasaan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2