
Enam belas tahun yang lalu…
"Ayah! Aku mau ikut!" rengek Sean saat sang ayah hendak pergi padahal sudah berjanji akan membawanya ke taman bermain hari ini.
"Ayah sebentar saja Sean, bermainlah bersama Siao dulu, besok saja kita ke taman bermainnya, ya?" bujuk ayahnya sebelum memasuki mobil dan berlalu pergi.
Sean sangat kesal, kakinya menendang tanah dengan gusar. "Ayah pembohong!" ucapnya marah. Sean tidak tahu apa pekerjaan ayahnya, yang ia tahu kalau ada seseorang yang memanggil ia pasti segera pergi dan melupakan janjinya.
Siao yang tidak tau apa-apa malah tersenyum dan menghampiri Sean dengan riang.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Aku sedang kesal tahu!" Sean menghardik kakak kandungnya itu.
Siao lalu memegang tangan Sean, "main, main!" serunya riang.
"Pergi sana! Aku tidak mau bermain denganmu!" tukas Sean malas melayani kakaknya ini, tapi karena Siao tidak mengerti suasana hati sang adik, ia terus saja menggoyang tangan Sean minta diajak bermain.
"Hentikan! Baiklah! Ayo main petak umpet! Kamu sembunyi nanti aku yang mencari," ucap Sean licik.
"Yeay!"
Siao menepuk tangannya riang kemudian berlari masuk rumah hendak bersembunyi, ia melihat sebuah lemari besar di ruang tamu lalu kemudian bersembunyi di dalamnya, Siao sama sekali tidak bersuara, ia menunggu dengan sabar sampai Sean menemukannya.
Sementara itu Sean malah pergi ke rumah nenek yang berada tidak jauh dari rumahnya, ia sengaja membohongi Siao agar kakaknya itu berhenti mengganggu.
...***...
Ting tong!
Bell rumah itu berbunyi, Xiao sa Ibu Sean yang sedang menidurkan Yuli di kamar lalu keluar setelah memastikan Yuli tidur dengan nyenyak.
Xiao sa membuka pintunya, seorang pria yang diketahui sebagai atasan dari suaminya itu berdiri di depan pintu.
"Pak Subrata? tanto baru saja pergi," ucap Xiao sa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya akan menunggunya, boleh saya masuk?" tanya pria itu dengan sopan.
"Silahkan masuk," Xiao sa yang tidak mengetahui niat busuk Subrata malah membiarkan ia masuk.
Memang sudah sejak lama Subrata mengagumi kecantikan Xiao sa, wanita keturunan Tiongkok yang berkulit putih dan bertubuh ramping. Alisnya tebal dengan mata yang jernih, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir mungilnya yang merona merah, sungguh sangat sempurna seperti bidadari surgawi.
Subrata sengaja memanggil Hartanto agar dia keluar dari rumah supaya istrinya ini sendirian tanpa perlindungan. Sekarang serigala berbulu domba itu bisa dengan leluasa mendekati Xiao sa.
Setelah dipersilahkan masuk, subrata lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa?" Xiao sa melayani tamunya ini dengan ramah.
"Teh, boleh?" tanya Subrata.
"Tunggu sebentar, ya." Xiao sa lalu pergi ke dapur kemudian kembali dengan secangkir teh hangat. Lalu saat menaruh tehnya di atas meja, tiba-tiba Subrata malah menggenggam tangan Xiao sa.
"Lepaskan saya!" Xiao sa mulai merasa aneh dengan gelagat Subrata, ia segera berusaha melepaskan diri tapi cengkraman tangan pria itu semakin kencang.
Subrata langsung berdiri kemudian menjambak rambut panjang Xiao sa lalu menariknya secara paksa ke arahnya.
Sementara itu, Siao yang melihat kejadian itu melalui celah sempit dari dalam lemari, hanya bisa diam sambil menggigil ketakutan.
Subrata mencium Xiao sa secara paksa. Walaupun ia sudah berusaha merapatkan mulutnya, tapi pria ini tidak kenal lelah, tanpa henti terus saja menggerayanginya.
Plak! Plak!
Tamparan keras pun dilayangkan ke wajah Xiao sa, tubuhnya dibanting ke sofa.
"Hentikan! jangan!" Xiao sa berusaha berontak sekuat tenaga, tapi tubuhnya sudah dikunci dengan kuat.
Sambil tersenyum jahat Subrata mengangkat baju atasan Xiao sa kemudian menggigit bagian sensitifnya dengan ganas.
Brakkk!
__ADS_1
Seseorang membanting pintu dengan keras, Hartanto datang di waktu yang tepat untuk menolong istrinya yang hampir saja di perkosa bosnya sendiri.
"Bangsat kamu!" teriaknya penuh amarah. Hartanto lalu memberikan bogem mentah di wajah Bosnya itu, dengan susah payah Xiao sa yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari Subrata kemudian segera merangkak menjauh, sambil terus menangis Xiao Sa keluar rumah untuk meminta pertolongan.
"Pak! Pak! Pak!" Subrata tidak dapat berkutik, Hartanto menduduki tubuhnya dan terus memukul tanpa ampun.
Dor!
Bunyi letusan pistol membuat gerakan Hartanto terhenti. Subrata memang sangat licik, ia menyembunyikan pistolnya di balik saku celana selama ini, tubuh Hartanto pun langsung roboh menimpa tubuh Subrata dengan bersimbah darah.
Siao menutup mulutnya dengan telapak tangan agar tidak mengeluarkan suara, ia begitu syok melihat kematian ayahnya sendiri, tapi tidak berani keluar dari tempat persembunyiannya.
Subrata melempar jasad Hartanto begitu saja kemudian melarikan diri dari rumah itu. Setelah kejadian itu, Ibu Sean menjadi gila karena kematian suaminya, sedangkan Siao terus dihantui rasa ketakutan, ia tidak pernah berani menceritakannya kepada siapapun. Hingga akhirnya setelah bertemu lagi dengan Subrata, membuat Siao akhirnya menceritakan kejadian enam belas tahun silam itu kepada adiknya. Sean yang baru mengetahui kebenaran dari kakaknya merasa sangat marah. Walaupun selama ini Subrata sudah banyak membantunya, tapi itu semua tidak bisa membayar kejahatan yang telah ia lakukan terhadap keluarga Sean.
...***...
Di markas besar kepolisian, para petugas sudah siap siaga menjalankan tugas mereka memberantas kejahatan.
"Kita sudah mengumpulkan bukti yang cukup untuk menangkap Subrata ketua gang Harimau." Andika memberikan laporan kepada Yanto.
Senyum mengembang di bibirnya, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. "Baiklah, kita jemput dia sekarang," Yanto memberi perintah.
Tak perlu menunggu waktu lama, hari itu juga satu kompi pasukan bersenjata lengkap mengepung rumah mewah kediaman tokoh politik tersebut.
Setelah melakukan penyamaran selama enam bulan lamanya, Yanto akhirnya akan meringkus Boss besar gang yang licin itu.
Ini seharusnya menjadi momen bersejarah dalam karirnya, tapi kenyataannya tidak demikian. Boss besar ditemukan sudah tergeletak tak bernyawa dengan luka parah di kepala akibat benda tumpul.
Ridwan hampir tak kuasa memeriksa mayat Subrata yang wajahnya saja hampir tidak dapat dikenali lagi. Ridwan lalu berkata, "Subrata sudah tewas."
Ini kegagalan untuk kesekian kalinya bagi Yanto, kita tidak mungkin bisa menghukum orang yang sudah mati, kerja keras Yanto selama ini menjadi sia-sia.
Sementara itu, di dalam kamar mandi apartemennya, Sean mencuci baju yang penuh dengan noda darah, mencucinya sekuat tenaga sampai tidak ada setitik pun jejak darah di bajunya.
__ADS_1
Sean mengangkat kepalanya kemudian menatap pantulan dirinya di cermin, dia menatap diri sendiri seolah bangga dengan perbuatan keji yang telah ia lakukan. Setelah sekian lama, akhirnya Sean bisa membalaskan dendam keluarganya.
Bersambung