Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Persahabatan


__ADS_3

Yanto belum terbiasa dengan Apartemen mewah tanpa sekat milik Sean ini, tapi Sean dengan santainya membuka baju dan jas kemudian melangkah menuju ke kamar mandi. Setelah Sean keluar dari kamar mandi, gantian Yanto yang masuk ke sana untuk membersihkan diri, tak lama Yanto keluar dan melihat Sean yang sudah membaringkan diri di ranjangnya yang berukuran cukup lebar.


"Tidurlah di manapun kau mau," kata Sean sebelum dia bersiap untuk tidur.


Ruangan yang luas ini jadi terasa sunyi, dengan jentikan jari penerangan di sekitar tempat tidur meremang secara otomatis.


Yanto lalu mendekati Sean yang sudah mulai terlelap. Walaupun kasurnya berukuran sangat lebar Yanto merasa segan untuk tidur di sebelahnya.


Yanto lalu berjalan menuju pantry, bahkan dari sini ia masih bisa melihat Sean yang berbaring di tempat tidurnya. Ia bingung dan merasa sedikit lapar, tapi saat membuka kulkas dua pintu di hadapan, isinya hanya ada botol air mineral yang disusun rapi seperti di market, terpaksa Yanto mengambil satu dan membukanya.


Saat akan minum air dari botol, Yanto tersentak kaget melihat pembersih debu otomatis yang berjalan di dekatnya.


"Kaget aku! kukira hantu!" Hampir saja Yanto menyemburkan air yang diminumnya. Sedikit risih, Yanto kemudian berjalan menuju sofa beberapa langkah dari pantry, ia melihat ke sana-sini berusaha mencari remote teve tapi tidak menemukannya, akhirnya Yanto berbaring dan terlelap di sofa itu.


...***...


Kring!!!


Pukul enam pagi, Sean dibangunkan oleh panggilan telepon.


Sean mengintip layar smartphone dan mengangkat telepon dari Aceng, "Halo."


Ternyata bukan Aceng sendiri yang bersuara melainkan petugas kebersihan di tempat hiburan malam yang mengatakan Aceng saat ini masih teler karena mabuk semalam.


Sean beranjak dari tempat tidurnya dan mulai mencari Yanto, akhirnya ia menemukan yang dicari masih terlelap seperti bayi di sofanya, ada perasaan aneh saat Sean melihat Yanto, tidak dapat dipungkiri Sean masih menaruh curiga dengan anak buah barunya ini. Sean lalu menggoyangkan tubuh Yanto dengan kasar untuk membangunkannya.


"Hei bangun," kata Sean.


"Hn?" Yanto membuka matanya.


Slurup...! Yanto malah menelan liur basinya di hadapan Sean, membuat yang melihat jadi geleng-geleng kepala.


"Jemput Aceng di tempat semalam, dan tolong antarkan dia pulang ke rumahnya," perintah Sean kepada Yanto yang sedang berusaha bangun.


"Dia teler di sana," Sean menjelaskan secara singkat, "kamu boleh bawa mobilku," tambahnya.


Yanto langsung bangun dan pergi dari Apartemen Sean menuju tempat Aceng berada, sungguh sangat merepotkan si pemabuk itu.


...***...


Pagi hari ini begitu cerah, Yanto mengendarai mobil porsche milik Sean kembali ke club malam tempat Aceng berada. Padahal Yanto sudah cukup lelah dan sangat ingin beristirahat sekarang, tapi ia harus menjemput Aceng yang masih teler di sana.


"Ceng, ayo bangun! Sudah pagi ini, ayo pulang!" Yanto mengguncang tubuh Aceng yang masih terkapar di atas meja.

__ADS_1


"Mmmmm," Aceng terbangun lalu membuka matanya yang masih berwarna merah, "Yanto! Dasar kamu penghianat! Kenapa kamu pergi dengan Sean gak ngajak aku? Hah??" Aceng sepertinya sedang kesal.


"Aku tidak bermaksud seperti itu..." Yanto membela dirinya.


"Lantas apa? Kamu tidak setia kawan, begitu dekat dengan Sean kamu melupakanku!" racau Aceng.


"Kamu masih mabuk ya? Cepatlah sadar, aku harus mengantarmu pulang." Yanto mengangkat tubuh Aceng yang masih limbung dan membopongnya keluar dari tempat itu.


Setelah lelah mengantar Aceng si pemabuk itu pulang. Yanto masih harus membuat laporan hasil dari pengamatan kepada atasannya, belum lagi Yanto juga harus mengadakan rapat rahasia dengan anggotanya untuk menyusun rencana selanjutnya di dalam misi yang berbahaya ini.


...***...


Pukul sembilan pagi, bertempat di markas besar Polisi, Irjen Sukamto memimpin langsung rapat untuk memberantas para gang yang sudah sangat meresahkan masyarakat ini. Pak Kamto menunjuk Yanto untuk mempresentasikan misi rahasia yang sudah di jalankannya.


Dengan gagah dan berwibawa, Yanto memberikan laporan hasil penyelidikannya dengan penuh percaya diri.


"Dalam penyelidikan langsung oleh saya sendiri, saya menemukan Fakta bahwa gang Harimau yang sangat meresahkan ini dipimpin oleh seorang tokoh politik."


Inspektur Yanto menjelaskan hasil temuannya kepada para atasannya.


Yanto menyalakan layar LCD proyektor yang terhubung dengan komputernya dan memasang foto Subrata di sana agar dapat dilihat para atasan yang hadir di rapat itu.


"Subrata bisnisnya bukan cuma jasa peminjaman modal tapi juga perdagangan miras dan obat obatan terlarang," jelasnya.


"Saat ini kami sedang dalam tahap mengumpulkan bukti terkait untuk segera meringkus dan menjebloskannya ke jeruji besi," Yanto berkata dengan percaya diri, dia yakin akan sukses menyelesaikan misinya.


Setelah selesai mendengar hasil kerja keras Yanto, Jendral Kamto kemudian keluar ruangan. Para atasan puas dengan kinerjanya, kalau misi ini sukses tentu dia akan mendapat penghargaan.


Sekarang hanya tinggal Yanto beserta timnya yang masih tersisa di ruangan itu. Yanto memberi pengarahan kepada para anak buahnya agar tidak terjadi kegagalan dalam menjalankan misi.


"Andika kamu harus lebih hati-hati kalau membuntuti anggota geng Harimau, terutama si Aceng, penyamaran bisa dengan mudah dikenalinya," kata Yanto kepada inspektur yang satu tingkat di bawahnya ini.


"Siap pak!" jawabnya.


"Kamu juga Ridwan, harusnya kamu lebih mendalami peran sebagai tukang bakso jangan ngasal." Yanto juga menasihati Bripka Ridwan.


"Siap pak, saya akan belajar lagi cara membuat bakso yang baik dan benar!" jawabnya.


"Baiklah, bukti apa yang sudah kalian kumpulkan?" Yanto kemudian bertanya kepada para bawahannya.


"Sangat sulit melacak jejak pencucian uang yang sudah dilakukan Pak Brata, tapi kita sudah mendapat titik terang, salah seorang sekretarisnya bersedia menjadi mata-mata membantu mengumpulkan bukti aset dari hasil penjualan obat-obatan terlarang." Andika memberi laporan.


"Bagus, lanjutkan," kata Yanto puas.

__ADS_1


"Kita sudah dapat informasi kalau transaksi mereka akan dilakukan dalam waktu dekat," tambah Andika.


Yanto juga saat ini berusaha semakin dekat dengan Sean si Macan putih, bukan tidak mungkin Yanto akan dilibatkan dalam transaksi penjualan. Kalau benar adanya dia pasti bisa menangkap pentolan gang Harimau itu di tempat beserta barang buktinya.


"Saya juga menemukan fakta baru," kata Ridwan tidak mau kalah.


"Kematian Hartanto orang kepercayaan Subrata 16 tahun yang lalu juga berkaitan dengannya, diduga kuat kalau Subrata Lah yang telah menghabisinya." Ridwan menjelaskan.


Yanto tercengang dengan fakta yang baru saja ia ketahui, bukankah Hartanto adalah Ayah kandung dari Sean? Sungguh ironi saat ini Sean menjadi orang kepercayaan dari pria yang telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Bagaimana perasaan Sean saat mengetahuinya? Timbul tanda tanya dalam pikiran Yanto, seharusnya ia hanya harus fokus dengan misinya, jangan sampai melibatkan perasaannya.


Cepat atau lambat, ketika sudah tiba waktunya ia harus meringkus si Macan Putih apapun resikonya.


"Baik, sekian pertemuan kita hari ini. Kembali ke tugas kalian masing masing," Yanto membubarkan rapat.


...***...


Hari ini sungguh hari yang sangat melelahkan bagi Yanto. Sesampainya di rumah Yanto langsung mandi dengan air dingin. Tubuh berototnya dialiri air dari Shower mulai dari kepala sampai ke mata kaki.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu rumahnya, karena tidak ada yang membukakan pintu dia lalu masuk sendiri karena pintunya tidak di kunci.


Tak berapa lama Yanto keluar dari kamar mandi "Loh, kapan datang?" tanya Yanto saat melihat sosok pria yang duduk di kamarnya.


"Baru saja, pintunya tidak dikunci jadi aku masuk," Sean menjawab.


"Apa kau sibuk hari ini?" gantian Sean yang bertanya.


"Tidak," jawab Yanto, "memangnya kenapa?"


"Ikutlah denganku," ajak Sean.


"Baiklah aku berpakaian dulu," jawab Yanto kemudian melangkah menuju lemari pakaian, setelah Yanto siap mereka lalu pergi bersama.


...***...


Ternyata Sean mengajak Yanto ke sebuah acara pernikahan besar-besaran, yang diadakan di hotel bintang lima, mempelai pria adalah anak laki-laki Boss Subrata, yaitu Romi kakak laki-laki dari Lisa.


Mereka berjalan dengan bergaya, Yanto berada satu langkah di belakang Sean. Ada banyak sekali orang terkenal yang hadir di pesta ini, Yanto melihat beberapa tokoh politik bahkan ada juga pejabat tinggi yang menghadiri pesta.


Mungkin sebagian besar mereka tidak mengetahui siapa dan apa pekerjaan Subrata sebenarnya, pencitraan yang di lakoni Subrata sudah berhasil menutupi tindak kriminal yang ia perbuat selama ini.


Tiba-tiba Sean menghentikan langkahnya, membuat Yanto kaget lalu tersandung tubuh Sean yang berdiri tegak. Entah apa yang terjadi, Sean tiba-tiba mematung, tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


Yanto mencoba mencari tahu kemana arah pandangan Sean, begitu tahu ia tersentak, "Bukankah mereka?"


Bersambung


__ADS_2