
Karena Yanto sedang dalam penyamaran, maka Andika sebagai wakilnya memimpin pasukan yang sudah disiapkan untuk menjalankan misi penjebakan di pelabuhan.
Para Tamtama bersenjata lengkap sudah siap di tempat tersembunyi menunggu perintah dari sang Komandan pasukan.
Sementara itu Inspektur Yanto yang melakukan penyamaran menyusup menjadi salah satu orang kepercayaan si Macan putih, saat tengah malam tiba mereka sudah tiba di lokasi penjebakan.
Ridwan melapor kepada Andika melalui Walkie talky, "Lapor! Macan sudah tiba di lokasi, ganti."
Andika menjawab,"Kita tunggu waktu yang tepat, lanjutkan."
Sean dan kawan kawan sedang menunggu Speedboat yang memuat barang haram itu merapat ke dermaga.
"Apa yang terjadi, mereka memutar haluan!" Aceng bingung sembari menunjuk ke arah Speedboat itu.
"Lokasi kita sudah ketahuan!" Sean berkata sambil melihat ke sekeliling.
"Lapor Komandan, target berbalik arah! Menunggu perintah selanjutnya, ganti!" Ridwan memberi laporan cepat.
"Jangan sampai lolos! Amankan barang bukti!" Andika memberi perintah dan langsung melepaskan tembakan di udara.
Dor!
Sean dan anak buahnya langsung terpencar, Aceng yang lebih dulu berlari cepat di depan berusaha membawa koper berisi uang barang bukti kejahatan.
Sean yang tidak tahu arah tembakan itu mengarahkan pistolnya ke segala arah, keadaan malam itu menjadi tidak terkendali.
Peluru berterbangan di udara, Yanto berlari di belakang Macan putih, sambil menghindari peluru yang masih beterbangan.
"Apa kau baik baik saja?" Yanto yang melihat Sean terluka berusaha membawanya pergi dari tempat itu.
Aipda Andika berusaha mengendalikan keadaan,"Hentikan Tembakan!"
"Bagaimana ini komandan, apakah kita sergap Macan putih sekarang?" tanya Ridwan menunggu perintah Andika.
"Jangan! Itu akan membongkar penyamaran inspektur Yanto, biarkan Macan putih pergi." Dengan memikirkan segala pertimbangan Andika akhirnya membiarkan sang Macan putih lolos begitu saja.
Sekarang misi mereka telah gagal, tidak ada satupun barang bukti yang berhasil diamankan.
Aceng berhasil melarikan diri dengan uangnya sedangkan barang bukti, obat terlarang sudah dibuang ke laut. Ridwan hanya berhasil menangkap dua orang WNA yang berhasil diangkat dari laut.
...***...
Setelah menemukan tempat persembunyian yang aman, Yanto menurunkan Sean di lantai berdebu di dalam sebuah rumah tak berpenghuni, Yanto yang biasanya terlihat tangguh kini tangannya bergetar saat ia melihat jemari tangan yang sudah basah berlumuran darah.
Sean mengalami pendarahan hebat, darah segar terus mengalir dari bahunya, membuat Yanto ketakutan dan teringat sebuah kejadian di masa lalu, Yanto juga ternyata memiliki trauma yang berat akibat kejadian penculikan yang mereka berdua alami dulu.
Sean yang melihat Yanto gemetar mencoba untuk menenangkannya, "tenanglah, aku tidak apa-apa, aku tidak akan mati hanya karena ini."
"Kita harus segera ke Rumah sakit," ajak Yanto lirih.
__ADS_1
"Jangan! Ini luka tembak, sama saja aku menyerahkan diri kalau ke Rumah sakit." Sean menolak ajakan Yanto.
"Jadi kita harus bagaimana?" Yanto semakin bingung.
"Kau saja, lakukan pertolongan pertama, aku akan menahannya sekuat tenaga," pinta Sean.
Akhirnya dengan terpaksa, Yanto sendiri yang melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan yang dialami Sean.
Sret!
Yanto merobek baju Sean untuk melihat luka tembak pada bahunya, timah panas masih bersarang di dalam kulit bahunya, tapi untung saja tidak masuk ke dalam tulang.
"Kita harus mengeluarkan timah panas ini kalau tidak bisa infeksi," ujar Yanto sambil melihat sekeliling mencari-cari sesuatu sebagai alat untuk mengeluarkan benda asing dari tubuh Sean itu.
Setelah lama mencari dan tidak menemukan apapun. Akhirnya Yanto mendekati Sean yang sedang meringis menahan sakit ini, Yanto menyentuh bahu yang terluka dan nekat berusaha mengeluarkan timah itu dengan mulutnya.
"Tahanlah, ini akan terasa sakit."
Sean merintih menahan sakit saat Yanto mengarah lubang masuknya peluru yang berdarah itu, jantung Sean berdetak tidak keruan, napasnya menjadi tidak teratur.
Yanto memegangi kedua bahu Sean yang sedang menggigil menahan sakit, kemudian lidahnya mencari serpihan peluru. Setelah menemukannya Yanto menggunakan giginya untuk menarik serpihan itu keluar.
"Fluh!" Yanto membuang serpihan itu.
Sedangkan Sean mencoba untuk mengatur napasnya. Langkah selanjutnya Yanto merobek lengan bajunya sendiri untuk membalut luka pada bahu Sean. Pertolongan pertama pun selesai dilakukan, sekarang Sean merasa bahunya sudah tidak terlalu sakit lagi, tetapi napasnya jadi tidak teratur, dan ia mulai merasa mengantuk.
"Kau kehabisan banyak darah, bangunlah! jangan sampai tertidur," pinta Yanto mencoba menyadarkan si macan putih.
...***...
"Ke Jalan Sudirman, Pak," Yanto memberi alamat yang di tuju kemudian bajaj pun melaju.
...***...
Sudah tiga hari Yanto bersembunyi di rumah Sean, sambil merawatnya yang sedang terluka. Yanto juga setiap hari belanja ke pasar dan memasak di pantry yang selama ini jarang digunakan. Ketika Sean bangun tidur, bubur masakannya sudah siap menunggu untuk disantap.
"Apa lukamu sudah baikan? Tidak sakit lagi?" Yanto bertanya.
"Tentu saja, aku baik-baik saja ini hanya luka kecil mana ada sakitnya, jangan remehkan Macan putih," jawabnya.
Yanto lalu menyentuh bahu Sean pelan.
"Aduh!" Sean mengaduh karena lukanya masih sakit.
"Katanya sudah tidak sakit," kata Yanto menggoda Sean.
Yanto tertawa melihat tingkah Sean, pria ini hanya perduli dengan kesehatan Sean, sama sekali lupa dengan misi penting yang sudah digagalkannya. Setelah ini Yanto pasti akan menanggung akibat dari kegagalan dirinya dalam mengemban tugas.
...***...
__ADS_1
Sudah tiga hari belum ada kabar dari Aceng beserta uang yang sudah ia bawa lari. Sean mulai menaruh curiga kepada Aceng karena sudah pasti ada penghianat yang membocorkan lokasi transaksinya pada malam itu.
Selama tiga hari pula Sean hanya berdiam diri di rumah untuk memulihkan diri, Yanto juga tetap tinggal untuk merawatnya.
"Aku sudah hampir sembuh, kamu boleh pulang ke rumahmu," ucap Sean kepada Yanto.
"Aku akan di sini sampai kau benar-benar pulih," sanggah Yanto.
Sean menganggap Yanto sebagai anak buahnya yang sangat setia, sedangkan Aceng yang selama ini dia percaya malah kabur entah ke mana, segera setelah dia pulih Sean berencana untuk memberi perhitungan kepada Aceng yang sudah lama jadi orang kepercayaannya itu.
Sean harus mencari kebenaran apakah betul Aceng orang yang telah mengkhianatinya. Tidak akan ada ampun, karena Sean tidak pernah memaafkan siapapun yang berani mengkhianatinya.
"Meskipun itu Aceng aku tidak akan segan untuk menghabisinya," Sean bergumam, sebenarnya ia merasa sangat kecewa dengan Aceng yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri.
Wajah Sean terlihat sangat marah, baru kali ini Yanto melihat Sean semarah itu. Bagaimana kalau sampai Sean tahu siapa dirinya sebenarnya, suatu saat nanti Sean pasti akan mengetahuinya.
Yanto memgambil posisi duduk di kursi yang sengaja ia taruh di samping ranjang Sean, seperti biasa Yanto akan memeriksa luka di bahunya. Dengan telaten Yanto membuka perban yang melilit di bahu Sean dan menggantinya dengan yang baru.
"Kau merawatku dengan baik, terima kasih," ucap Sean dengan tulus.
Yanto tersenyum mendengarnya, "ini karena kamu bersikeras tidak ingin ke Rumah sakit, aku melakukannya dengan terpaksa," candanya.
Setelah selesai membalut luka Sean dengan perban yang baru, Yanto membuang perban lama dan merapikan peralatan yang ia gunakan tadi ke dalam kotak.
Saat Yanto ingin bangkit dari tempat duduknya, Sean juga segera mengikuti.
"Menurutmu di mana saat ini Aceng berada?" tanya Yanto tiba-tiba.
"Mabuk dan berjudi dia pasti menghabiskan uang itu di suatu tempat," jawab Sean kesal.
"Apakah kau ingin aku mencari Aceng untukmu?" Yanto bertanya lagi.
"Tidak perlu, setelah kehabisan uang dia akan muncul dengan sendirinya," jawab Sean.
Yanto akhirnya bangun dari duduknya di samping tempat tidur, ia kemudian menggambil jaketnya, sepertinya ia ingin pergi ke suatu tempat.
"Kamu mau kemana?" Sean lalu bertanya.
"Mau beli minyak goreng, sudah habis," jawab Yanto.
"Aku mau ikut." Sean berkata sambil bangun dari tempat tidurnya.
"Yakin?" Yanto bertanya lagi.
"Ya iya, memangnya kenapa?" Sean balik bertanya.
"Kamu kan masih belum pulih sepenuhnya, sebaiknya tinggal di sini saja, biar aku yang pergi," ujar Yanto sedikit khawatir.
"Aku sudah bosan rebahan terus, biarkan aku ikut denganmu, ya?" pinta Sean dengan nada bicara yang dibuat-buat, Macan putih meminta dengan manja, sungguh bukan gayanya.
__ADS_1
"Baiklah, kau boleh ikut, tapi jangan salahkan aku kalau nanti kamu bosan menunggu, ya?" Akhirnya Yanto menyerah dan mereka pun pergi bersama.
bersambung