Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Pemimpin


__ADS_3

Kejayaan Macan putih telah tiba, sekarang Sean telah menguasai segalanya, sebagai Ketua gang yang paling kuat dan sangat ditakuti, Sean semakin kejam dari hari ke hari. Gang Harimau di bawah kepemimpinannya juga semakin merajalela, bukan hanya bisnis Narkoba yang melanggar hukum, Sean juga menjadi pelaku jual beli senjata api ilegal dan juga prostitusi.


Yanto yang selama ini berada di sisinya untuk memata-matai juga mengetahui segala tindak kejahatan yang dilakukan Sean beserta gangnya, Yanto sadar dia harus mengungkap kejahatan Sean, tapi Yanto semakin ragu dengan keputusannya.


"Apa yang kau pikirkan?" Pertanyaan Sean mengagetkan Yanto yang tenggelam dalam lamunannya. Yanto hanya menggeleng kemudian tersenyum menutupi hal yang ada dalam pikirannya.


Sean mendekati Yanto kemudian memperbaiki letak dasinya yang sedikit miring. "Mulai saat ini kau adalah orang kepercayaanku, kita akan berbagi kejayaan bersama, dengan kamu di sisiku tidak ada yang perlu kutakuti, dunia ini akan menjadi milik kita berdua."


Sean menatap Yanto penuh harapan, sementara Yanto semakin memiliki rasa bersalah dalam hatinya, apa yang akan dia pilih? Tidak mungkin selamanya ia tetap berada di sisi Sean, cepat atau lambat ia harus mengungkap kejahatan.


...***...


Andika menemui Yanto secara rahasia di samping kuburan China setelah menyadari perubahan sikap dari komandannya ini, saat akhirnya bisa bertemu dia bertanya, "Apa yang terjadi denganmu? Bukankah kamu sangat dekat dengan Macan putih, apa sulitnya mengumpulkan bukti kejahatannya? Sudah berapa bulan ini misi kita berada di jalan buntu."


Yanto sangat menyadari hal itu, cepat atau lambat dia harus meringkus Sean dan menjebloskannya ke penjara, tapi dia terus saja merasa ragu.


"Bersabarlah, tunggu waktu yang tepat, aku masih perlu waktu sedikit lebih lama lagi," pinta Yanto.


Pembicaraan mereka berlangsung sedikit alot, karena Yanto terkesan menunda-nunda untuk mengumpulkan bukti kejahatan Sean.


"Baiklah, tapi tidak akan lama, para atasan sudah mendesak hasil dari penyelidikan kita." Akhirnya dengan berat hati Andika setuju untuk menunggu.


"Kamu harus tetap fokus, jangan pernah libatkan perasaan." Andika menasihati.


Yanto terdiam, hati dan perasaannya benar-benar sudah goyah. Bukan tidak mungkin ia lebih memilih sahabat ketimbang negaranya sendiri.


Melihat reaksi pria yang ia segani ini, membuat Andika kembali meyakinkan Yanto agar kembali ke jalurnya yang benar. "Ingatlah kita ini Polisi, tugas kita adalah menangkap para pelaku tindak kriminal!"


Tanpa mereka sadari sudah ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua. Cukup lama ia mencuri dengar dari balik pohon kamboja, saat melihat Andika pergi meninggalkan Yanto ia langsung menunduk, menyembunyikan diri di dedaunan agar tidak ketahuan. Tak lama Yanto pun pergi meninggalkan tempat itu, setelah yang dilihatnya semakin menjauh pergi ia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.


Orang ini ternyata adalah Aceng, ia sudah curiga dan mengetahui kalau Andika adalah seorang Polisi, sekarang dia juga sudah tahu kalau Yanto juga anggota Polisi.


...***...


Aceng yang tengah asyik mabok-mabokan ditemani oleh seorang pelayan wanita di Club milik Bambang, tak disangka Bambang yang mengetahui kalau Aceng sedang dicari oleh Sean, segera menghubungi pria yang baru saja jadi Boss besar itu.


"Halo Boss, ada Aceng di sini, Boss!" Kata Bambang melalui sambungan telepon.


"Tahan dia, aku segera ke sana," jawab Sean dari seberang.


Tak berapa lama, anggota gang Harimau sudah tiba di 'Stardust' Club malam milik Bambang.

__ADS_1


Brakkk!


Lele anak buah Sean menendang pintu ruangan tempat Aceng berada, setelah terbuka secara paksa, Sean kemudian masuk.


"Sean!" Aceng langsung terkesiap kaget.


"Aceng, oh Aceng, apa sih yang kurang dari kebaikanku selama ini? Kamu itu dikasih hati minta jantung!" Sean berujar kepada Aceng.


"Sean, Sean! Dengar dulu penjelasanku," Aceng berusaha membela diri.


"Penghianat! Tidak akan ada ampun bagimu," ujar Sean saat mendaratkan kaki dengan sepatunya ke wajah Aceng.


"Sean! Dengar dulu, bukan aku penghianatnya!" Aceng yang terdesak berusaha meyakinkan Sean.


Akhirnya Sean memberi perhatiannya, ia menurunkan kakinya lalu bertanya, "Kalau bukan kamu, lantas siapa? "


"Yanto! Yanto seorang penghianat!" Aceng menjelaskan.


"Apa?" Sean mencoba mencerna perkataan Aceng.


"Bukankah kamu yang mengenalkan dia padaku?" tanyanya masih tak percaya.


"Memang benar, tapi selama ini aku juga sudah dikelabui, Yanto adalah seorang Polisi," tukasnya.


"Aku berani bersumpah demi makam ibuku, aku lihat dengan kedua mataku sendiri, dia bersama rekannya sudah memata-matai kita selama ini." Aceng mengangkat dua jarinya, bersumpah agar Sean percaya.


Sean tak bisa berkata-kata, tapi diam membuatnya menjadi lebih menakutkan.


Aceng menelan ludahnya dengan kasar, ia tahu kalau Sean sudah diam, berarti dia sudah siap untuk menghabisi nyawa seseorang.


...***...


Yanto sedang berbelanja di mini market di dekat tempat tinggal Sean, hari ini dia berencana ingin memasak lagi di apartemen milik kawan baiknya itu. Entah kenapa, belakangan ini Yanto jadi hobi memasak, walaupun masakannya tidak enak, Sean selalu menghabiskan apapun yang dia buat.


Saat tiba di unit milik Sean, ia menekan nomor sandi di pintu kemudian masuk membawa barang belanjaannya, Yanto bisa dengan mudah masuk karena sudah menghapal nomor sandinya.


Sekarang ia menyiapkan bahan untuk memasak Hot pot kesukaan Sean, tidak lupa Yanto memakai celemek berwarna pink miliknya.


"Pertama aku harus memotong sayurannya," gumamnya, Yanto lalu mengambil pisau dapur dan mulai memotong sayuran, di tengah aktivitasnya memasak, Sean tiba-tiba datang. Karena unitnya yang luas tanpa sekat ini, Sean bisa melihat Yanto yang sedang memasak begitu masuk dari pintu depan.


"Kau sudah pulang, aku memasak Hot pot kesukaanmu," Yanto langsung menyapanya.

__ADS_1


Sean yang masih diam saja tanpa ekspresi, kemudian melangkah menuju pantry. Ia lalu mendekati Yanto dan merebut pisau dapur di tangannya. Dengan wajah yang dingin ia langsung menodongkan pisau itu ke hadapan Yanto kemudian bertanya, "Siapa yang mengijinkanmu masuk?"


Ujung mata pisau itu tepat di depan wajahnya, tapi Yanto hanya tersenyum seperti tidak takut bahwa hal ini bisa saja mengancam nyawanya.


"Hei, jangan bercanda kawan," ucapnya, jelas Yanto masih belum mengerti keadaan.


"Kamu pikir aku bercanda?" Seringai jahat pun tersirat di wajah Sean.


Sean lalu mengarahkan pisau ke leher Yanto, menekan sedikit lebih dalam, sampai ujung pisaunya menusuk kulit putih dan mengeluarkan sedikit darah.


"Aku sudah tau siapa kau sebenarnya," ucap Sean.


Yanto tidak dapat berkata-kata, hanya bisa menelan air liurnya dengan kasar, Adam apple miliknya bergerak naik turun, seolah tercekat, tapi Yanto tetap tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Apa kau takut mati?" Sean tersenyum saat menanyakannya. "Ada kata kata terakhir?" tanyanya lagi.


"Aku tidak takut mati, tidak masalah aku mati di tanganmu, tapi aku ingin kamu mengingat janji yang pernah kau ucapkan dulu kepadaku," tukas Yanto.


"Janji apa?" Sean tidak ingat pernah menjanjikan apapun kepada Yanto.


"Kau pernah berjanji akan selalu melindungiku, teman selamanya apa kau ingat?" Yanto berusaha mengingatkan Sean kembali.


Enam belas tahun yang lalu


Seorang anak culun terisak, duduk dengan memeluk lututnya di bawah pohon ketapang, Sean yang masih berusia 11 tahun lalu menghampirinya.


"Apa kamu anak perempuan? Kenapa kamu menangis seperti itu?" Sean bertanya kepada Yanto.


Yanto kecil mendongak lalu memperbaiki letak kacamatanya dan berkata, "tidak ada yang mau berteman denganku, mereka bilang aku sangat jelek."


"Siapa yang berani mengolokmu seperti itu? Biar kuhajar dia!" kata Sean geram.


Sean kemudian duduk di samping Yanto, "kalau kau mau mengikuti semua perintahku, aku akan selalu melindungimu."


"Benarkah? kau berjanji?" tanya Yanto.


"Iya, aku berjanji kita akan jadi teman selamanya," jawab Sean.


"Ingat janjimu, teman selamanya," Yanto menegaskan kembali.


"Teman selamanya," dan Sean tidak ragu mengulanginya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2