
Setelah mendengar bahwa anak buah Mr. M musuh bebuyutannya juga berada di tempat ini, membuat Sean jadi naik darah dan langsung berdiri dari tempat dia duduk sekarang.
"Bukankah kau pandai berkelahi?" Sean bertanya pada Yanto.
"Hm." Yanto menganguk.
"Ayo ikut! kalau kau bisa buktikan dirimu, akan aku jadikan kau tangan kananku." Sean mengajak Yanto yang kemudian langsung berdiri mengikuti.
"Apa? Jadi aku apa dong? Kita kan sudah lama kenal?" tanya Aceng, ia jadi cemburu sosial saat mendengar perkataan Sean pada Yanto.
"Ya tangan kiri," jawab Sean bercanda.
Aceng menjadi heran tidak tahu mengapa Sean langsung menyukai Yanto, padahal mereka baru pertama kali bertemu. Sebenarnya Sean bukanlah orang yang mudah berteman dengan orang baru, mungkin saja Sean menyukai Yanto karena namanya sama seperti nama sahabatnya dari masa lalu.
Mereka bertiga lalu pergi bersama-sama dengan formasi Sean di depan lalu Yanto di kanan dan Aceng di sebelah kirinya.
Sean, Aceng, dan Yibo mendekati lima orang bertubuh tambun anak buah Mr. M yang diceritakan Bambang.
"Ayo keluar, jangan bikin keributan di sini," ujar Sean menegur mereka dengan santai.
Perkataan Sean malah tidak dihiraukan, sepertinya mereka belum tahu siapa Macan Putih sebenarnya. "Kalian siapa?" tanya salah satu dari mereka.
Pranggg!
Lelaki ini malah memecahkan botol miras di tepi meja kemudian menodongkannya tepat di depan wajah Sean.
Sean hanya menyeringai, lalu sedetik kemudian.
Duakkk!
Sean melancarkan serangan mematikan, seketika itu pria gembul ini langsung terkena tendangan kaki belakang Sean sampai terpental ke meja bar.
Tranggg!
Botol-botol miras berjatuhan, pecah tumpah ruah di lantai.
Clap! Dengan kode jentikan jari dari Sean, Aceng langsung maju menerjang lawan diikuti Yanto di belakangnya.
Bagh! Bugh!
__ADS_1
Walaupun dalam keadaan mabuk, Aceng tidak kalah jago berkelahi, Aceng memanfaatkan benda-benda di sekitarnya untuk menghantam lawannya!
Aceng bergerak dengan lincah, "Eits!" Dengan gerakan yang sempoyongan Aceng cukup lihai menghindari pukulan kemudian memberi serangan mematikan.
Brugh! Kepala salah seorang dari mereka di benturkan ke tembok!
Sementara Yanto memang pandai berkelahi. Setiap pukulan dan tendangan yang dia layangkan selalu tepat sasaran. Membuat musuh-musuhnya babak belur tanpa melukai sehelai pun rambut Yanto.
Sungguh tindakan pengecut, salah seorang dari mereka mencoba menyerang Sean dengan botol kaca dari belakang!
Yanto yang melihatnya langsung menuju ke tempat Sean berdiri, lalu dengan cepat melindungi kepala Sean dengan lengan atasnya.
Prang! Botol kaca itu pecah mengenai bahu Yanto, serpihan kecil kacanya masih menempel di pipinya saat Yanto melakukan serangan balik.
Brugh! Satu tendangan saja sudah cukup untuk menumbangkan lelaki yang tubuhnya jauh lebih besar darinya.
Sementara Sean hanya bisa tertegun melihat Yanto yang ternyata menguasai seni bela diri dan juga sangat tangguh.
Tidak perlu menunggu lama, kelima pria ini pun tumbang, Sean lalu mendekati lelaki pertama yang mengancamnya dengan botol, ia mengambil botol miras baru kemudian
Praanggg!
"Bersyukurlah, aku tidak membunuhmu karena kamu harus menyampaikan pesan dariku untuk Mr. M," tutur Sean pelan.
"Katakan padanya wilayah ini sudah dikuasai oleh Macan putih, jangan berurusan denganku kalau tidak ingin bernasib sial," tambahnya.
"Bukan cuma itu, aku juga akan mengincar keluarga kalian, kenalan kalian bahkan kucing peliharaan kalian, jadi kalau kalian tidak ingin orang terdekat terluka jangan pernah mengusikku lagi! Ingat itu!"
Sean melepaskan mereka setelah mengutarakan maksudnya dan tentu saja dia tidak main-main dengan apa yang dia katakan. Sean tidak segan membunuh siapapun yang berani menghalangi jalannya.
Sean mengambil sapu tangan dari saku jasnya dan membersihkan noda darah di tangannya, sementara Yanto yang sedari tadi menatapnya hanya bisa diam kehabisan kata. Sean sudah jauh berbeda dengan anak lelaki yang dulu selalu tersenyum padanya. Sekarang dia menjadi lebih ganas, sadis, dan brutal, membuat Yanto merasa sedikit kecewa.
Entah kenapa, Sean terus saja merasa aneh saat Yanto menatapnya dalam diam seperti itu, untung saja perasaannya sedang dalam keadaan baik, kalau tidak, biasanya orang yang menatapnya seperti itu pasti langsung dihajarnya. Sean lalu mendekati Yanto yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangan mata, setelah berdiri di hadapannya Sean berkata, "Kamu memang pandai berkelahi."
Yanto tersenyum tipis mendengar pujian. Sean melangkah semakin dekat, saat mereka sudah berdiri sejajar, Sean mengulurkan tangannya ke pipi Yanto berusaha mencabut serpihan kaca yang masih tertancap di situ, Yanto sama sekali tidak bergerak, seperti patung batu, hanya matanya yang berkedip karena merasa canggung. Sean melangkah mundur setelah berhasil mencabutnya.
"Terima kasih," ucap Sean sambil tersenyum, itu senyum sama yang masih diingat Yanto sejak belasan tahun lalu.
Aceng yang masih sempoyongan sehabis perkelahiannya kemudian berujar, "Benar, 'kan? hhh ... apa kubilang, heh? Yanto memang pandai berkelahi."
__ADS_1
Sean lalu berpaling ke arah Aceng dan berkata, "Iya, tidak sepertimu yang sudah hampir kehabisan napas," jawab Sean meledek Aceng.
"Eh kata siapa? Aku yang melawan mereka semua sekaligus!" seru Aceng membela diri.
"Oh ya? Berapa yang kamu lawan?" Sean bertanya.
"Lima! eh, enam orang sekaligus!" lantang Aceng.
"Ha ha ha." Sean hanya tertawa mendengarnya.
Bambang keluar dari tempat persembunyiannya setelah kekacauan itu berakhir. "Apa-apa yang terjadi? Kacau semuanya!" Bambang lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Club miliknya sudah porak-poranda, botol miras sudah berserakan dan isinya berhamburan di lantai, entah sudah berapa banyak kerugian yang ditimbulkan akibat dari keributan tadi.
Para anak buah Mr. M sudah lari tunggang langgang, sementara tiga orang jago ini tetap berdiri dengan bangganya. Mereka bertiga keluar dari club itu meninggalkan kekacauan yang harus dibereskan Bambang sendiri.
Saat di luar, Yanto bertingkah aneh ia terus saja mengucek matanya dengan tidak nyaman.
"Kamu kenapa?" Aceng bertanya padanya.
"Aku menjatuhkan lensa kontak saat berkelahi tadi," jawabnya.
"Apa tidak apa apa? Kamu bisa bawa motor?" Aceng sedikit khawatir.
"Tidak apa, cuma agak kabur tapi aku bisa pulang sendiri," sahutnya.
"Aku akan mengantarmu pulang," tanpa diduga Sean mengajukan diri untuk mengantarkan Yanto.
"Lah, aku bagaimana?" rengek Aceng. Memang dasar si Aceng dan sifat cemburunya.
"Tolong bawakan motorku, aku tidak bisa membawanya," Yanto kemudian meminta tolong pada Aceng.
"Tadi katanya bisa! Ya sudah sini, mana kuncinya." Aceng akhirnya mau, tapi dengan perasaan yang kurang Ikhlas.
"Hati-hati. Motorku jangan sampai lecet," pinta Yanto karena itu adalah motor kesayangannya.
"Ya, elah, masih syukur aku mau bantuin." Aceng mendengus kesal.
Bersambung
__ADS_1