
Hari sudah semakin sore, Sean mengantar Yanto pulang ke rumah kontrakkannya, begitu sampai setelah turun dari mobil mewah itu Yanto bersandar pada pintu mobilnya hendak bicara sejenak dengan Sean, pria ini lalu menurunkan kaca mobilnya dan menoleh ke arah lawan bicaranya itu.
"Kau tidak ingin masuk dulu?" tanya Yanto sambil melipat tangannya pada pintu mobil.
"Tidak perlu, aku masih ada urusan," jawabnya.
"Oh." Yanto merasa sedikit kecewa, ia menurunkan tangannya mempersilahkan Sean untuk pergi.
"Bersiaplah, tengah malam nanti aku jemput," ucap Sean, ia lalu melambaikan tangan, dan berlalu pergi dengan mobilnya. Yanto membalas lambaian tangan Sean.
"Akhirnya kesempatan yang kutunggu sudah tiba," ucap Yanto dalam hati lalu segera menurunkan tangannya. Sekarang atau tidak sama sekali, ia harus meringkus sang macan putih, tapi entah kenapa hatinya semakin meragu. "Ingatlah kau seorang Polisi! Dan Sean adalah target operasi!" Yanto berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tapi mampukah dia mengatasinya?
...***...
Aceng menenggak air dari botol mirasnya dengan rakus. Padahal ini masih sore tapi Aceng sudah mabuk-mabukan seperti ini. Dalam hatinya Aceng merasa sangat kesal maka dari itu dia melampiaskan dengan minum-minuman keras.
Selama ini Aceng selalu merasa bahwa dialah orang terdekat dan paling terpercaya dari si macan putih. Tetapi nyatanya saat ini Sean lebih asyik bersama Yanto dibandingkan dengan dirinya.
Sean sering meninggalkannya, bahkan tidak mengajaknya ke pernikahan anak dari Boss besarnya.
"Yanto kamu memang kacang lupa kulitnya! Bisa-bisanya kamu melupakan jasaku dan malah merebut posisi yang seharusnya jadi milikku!" Aceng bergumam sebelum menelan isi botol minumannya hingga tandas tak bersisa.
Tak berapa lama Sean datang ke bar tempat dia biasa minum bersama Aceng ini, Sean langsung menyebarkan pandangannya ke setiap sudut untuk mencari kawannya itu.
Setelah menemukan Aceng, Sean menarik kursi tepat di samping Aceng sembari menepuk bahu kanannya.
"Bukankah masih terlalu sore untuk mabuk-mabukan seperti ini?" tanya Sean menegurnya.
Aceng hanya menoleh sesaat, kemudian kembali meminum minumannya.
"Ada apa lagi denganmu?" tanya Sean yang heran karena Aceng sudah bertingkah aneh.
" Tidak ada ... di mana Yanto kesayanganmu itu? Bukankah biasanya kamu selalu membawanya?" ujar Aceng dengan ketus.
"Ada apa denganmu? Bukankah kau yang mengenalkannya padaku?" Sean kembali dibuat heran.
__ADS_1
"Bagaimana dengan acara pernikahan yang kamu hadiri." Aceng mengalihkan pembicaraan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Sean belum mau menceritakan perasaan gundahnya saat ini.
Aceng merasa kecewa dengan jawaban Sean, sebelumnya tidak pernah dia tidak bicara jujur padanya.
"Bukankah kamu pernah berjanji padaku? Susah senang kau akan selalu membawaku." Air muka Aceng berubah masam menahan rasa kecewanya.
"Hei! Tentu saja, sebenarnya kamu kenapa? Perangainya aneh sekali, kamu lagi PMS?" Sean menggoda seperti biasa, tapi Aceng tidak menanggapinya.
Akhirnya Sean mulai serius. "Transaksi nanti malam kita bawa Yanto ikut serta," kata Sean.
"Heh, benarkan? Kau selalu membawa Yanto, seperti Aladin dan monyetnya." Aceng mulai mengomel seperti biasa.
Sean menjadi sedikit lega menganggap kawannya itu baik baik saja. Sean lalu memberikan kartu platinum miliknya kepada Aceng sebelum beranjak pergi meninggalkannya.
"Pergilah beli sesuatu, kau terlihat kusut," ujar Sean.
"Ya! Akan aku habiskan sebanyak banyaknya!" sahut Aceng dengan semangat.
...***...
Inspektur Yanto menyiapkan pasukannya setelah mendapatkan informasi akan adanya transaksi penjualan Narkoba di pelabuhan malam ini. Kebetulan juga Yanto sudah diajak untuk turut hadir dalam transaksi jual-beli barang haram tersebut.
Satu batalyon sudah siap tempur di tempat tersembunyi di lokasi yang telah diketahui.
Karena menurut infomasi yang dijamin akurat, transaksi malam ini adalah transaksi besar yang melibatkan jaringan Narkoba Internasional.
Ini kesempatan emas untuk meringkus mereka semua yang terlibat, tapi Yanto justru malah merasakan firasat buruk karena hal itu.
Yanto ragu-ragu menjalankan misi, hal ini sama saja ia akan membuat anak buahnya berada dalam bahaya, tapi Yanto tidak bisa mundur meninggalkan tugas negara.
Semua akan ditentukan malam ini, apapun yang terjadi siap tidak siap dia harus melakukanya.
...*** ...
__ADS_1
Yanto berada dalam porsche biru milik Sean yang menuju ke dermaga lokasi yang telah ditentukan. Sean, Aceng dan Yanto mereka sudah siap dengan 3 koper berisi uang tunai untuk melakukan pertukaran.
Setibanya mereka di lokasi mereka harus menunggu lagi sampai kapal speedboat dari seberang sana datang merapat. Belum juga Speedboat itu sampai, Nahkodanya malah berputar haluan.
"Apa yang terjadi?" Aceng kebingungan.
"Mereka berbalik arah! lokasi kita sudah diketahui!" Saat Sean menyadarinya semuanya sudah terlambat, sesaat kemudian,
Dorrr!
Suara tembakan menggelegar di malam sunyi dan menggema di sepanjang tepi laut, letusan itu sangat keras hingga membangunkan malam membelah kesunyian.
Keadaan bertambah kacau, Sean mengarahkan pistolnya ke segala arah karena tidak mengetahui di mana para sniper itu bersembunyi. Peluru berterbangan di udara tipis malam itu. Sedangkan di seberang sana Speedboat sudah membuang muatannya ke laut beserta para penumpangnya yang juga ikut menceburkan diri.
Sean dan anak buahnya langsung terpencar karut marut berusaha menyelamatkan diri, ia terus berlari kemudian bersembunyi di balik susunan kontainer di dekat dermaga. Yanto berusaha mengikutinya dengan susah payah.
"Apa kau baik-baik saja," Yanto mendekati Sean dengan perasaan khawatir.
"Aaahhhh." Sean mengeram menahan sakit, bahu kanan sang macan putih tertembak, tangan kirinya memegangi lengan basah yang sudah penuh dengan darah yang bercucuran.
Yanto terlihat kebingungan melihat Sean yang kesakitan sementara Aceng sudah terpisah jauh dari mereka berdua hanya demi menyelamatkan koper berisi uang transaksi.
"Brengsek! Ada penghianat diantara kita!" Sean bicara sambil menahan rasa sakit.
"Apa kamu yakin baik baik saja?" tanya Yanto yang semakin gemetaran seperti bocah kecil ketakutan melihat Sean terluka di hadapannya.
"Ayo, kita harus pergi dari sini!" tegas Yanto, yang ia pikirkan saat ini hanyalah berusaha untuk menyelamatkan Sean, dengan membawanya ke tempat yang lebih aman.
Dengan susah payah Yanto melarikan diri sambil membopong tubuh Sean yang sudah ringkih, mereka berusaha untuk mencari tempat yang aman, akhirnya mereka menemukannya, Yanto berencana sembunyi di sebuah rumah kosong tak berpenghuni yang Ia temukan tidak jauh dari pelabuhan kapal.
Yanto memecahkan kaca jendela dengan sikunya lalu membuka pintu rumah itu, Sean yang sedari tadi dibopong oleh Yanto kemudian diturunkan di dalam ruangan yang masih berdebu.
"Sepertinya sudah aman, kita di sini dulu sementara waktu," ucap Yanto kepada Sean, pria ini hanya mengangguk sambil menahan perih.
"Sean, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit," ucap Yanto setelah melihat darah segar yang terus mengalir dari dalam tubuh Sean.
__ADS_1
Bersambung.