
"Ada kata-kata terakhir?" Sean bertanya sambil menodongkan pisau ke leher Yanto, ujung pisau menusuk masuk ke kulit leher hingga mengeluarkan sedikit darah.
Wajah Sean begitu dingin, nampak berbeda dengan wajah yang biasanya ia tunjukan bila bersama orang kepercayaannya ini. Yanto menelan ludahnya dengan kasar, Adam apple-nya bergerak naik turun. Sean kemudian kembali bertanya,
"Apa kau takut mati?"
"Aku tidak takut," bantah Yanto, "aku tidak keberatan untuk mati di tanganmu, tapi aku ingin kamu mengingat janjimu dulu kepadaku."
Ucapan Yanto membuat Sean merasa bingung, ia tidak ingat pernah menjanjikan sesuatu kepada pria di hadapannya ini.
"Teman selamanya, kau ingat?" tanyanya lagi, hebatnya hanya dengan satu kata itu, Yanto mencoba mengingatkan kembali sahabatnya ini.
"Teman selamanya? Kau... Kau Yanto! Yanto culun itu?" Mata Sean terbelalak seketika, akhirnya ia mengingat Yanto, sahabatnya dari kecil dulu.
Sean menjatuhkan pisau yang digenggamnya tadi ke lantai, antara bingung dan tak percaya Sean mundur beberapa langkah ke belakang.
"Sean."
Yanto berusaha mendekati Sean dan berusaha untuk menyentuh pundaknya.
Sebelum tangan Yanto sampai berhasil menggapai, pria yang masih kalut itu bersuara dengan nada tinggi.
"Pergi! Jangan pernah datang ke tempatku lagi."
Yanto terhenti sejenak, tapi seolah tidak jera ia kemudian berusaha mendekati Sean sekali lagi, dengan telapak tangannya berharap sahabatnya itu akan melunak, tentu saja Sean segera menepis tangan Yanto.
"Pergilah! Jangan sampai aku melihatmu lagi atau aku akan membunuhmu!"
Yanto hanya bisa terdiam, sudut matanya melengkung, sungguh Yanto tidak pernah ingin melihat Sean jadi orang jahat seperti ini.
Sean merasa kesal melihat Yanto tidak kunjung pergi dari hadapannya, ia lalu berusaha mendorong Yanto dengan kasar, pria itu sama sekali tidak berusaha melawan. Sean semakin beringas, ia sangat ingin mengusir bagian dari masa lalunya itu.
Yanto tetap tidak ingin pergi, seharusnya ada sedikit saja rasa kasihan untuknya, sedikit saja Yanto ingin Sean mengerti perasaannya, tidak memandangnya sebagai seorang penghianat, tapi sebagai Yanto sahabat yang akan selalu berada di sisinya.
Brug!
Sean lalu meninju wajah Yanto sampai hidungnya berdarah, pukulan telak itu membuat Yanto tersungkur, jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin.
"Pergi! Sebelum habis kesabaranku!" Sean kembali mengusir Yanto, kali ini dengan mata menyala tidak bisa diajak kompromi lagi.
__ADS_1
Yanto kemudian berdiri, mata sedihnya tetap ingin meminta perhatian Sean, tapi pria itu segera membuang muka, dengan perasaan kecewa Yanto melangkah pergi dari tempat itu.
...***...
Semua ini sudah takdir, kenyataan kejam yang tak bisa dihindari, dua sahabat yang berjanji akan menjadi teman selamanya akhirnya kini berbeda jalan, Sean tetaplah seorang Macan putih Boss gang yang sangat ditakuti, sedangkan Yanto, kembali ke tempat asalnya sebagai aparat yang mengabdi pada negara.
Setelah identitas Yanto yang sebenarnya terungkap, kini Aceng-lah yang menjadi satu-satunya orang kepercayaan Sean sekarang.
Seperti biasa Aceng akan mendatangi Sean di tempat hiburan malam favorit mereka, beberapa hari ini Sean jadi selalu terlihat murung, Aceng mendekati Sean yang tengah minum-minuman keras untuk melampiaskan rasa kekesalannya.
"Apa kau masih kecewa karena Yanto?" Begitu sampai Aceng langsung memberi pertanyaan menohok, "Kenapa kamu melepaskannya kalau pada akhirnya jadi sakit hati seperti ini?"
Aceng menarik kursi duduk di samping Sean, pria di sampingnya ini kemudian menjentikkan jari ke pelayan untuk memberi Aceng minum.
"Tidak, tidak usah! mulai sekarang aku sudah berhenti minum-minuman keras," Aceng segera menolak.
"Masa? Pemabuk sepertimu mau berhenti minum alkohol?" Sean tidak percaya.
"Aku memikirkan masa depanku Sean, aku tidak mau cepat mati, aku belum menikah dan punya anak," ucap Aceng.
"Manusia tidak bisa berubah dalam satu malam, kamu seperti buang tabiat saja," Sean menanggapi sinis.
"Baiklah, aku akan mendukungmu saat waktunya tiba." Sean menepuk punggung Aceng dengan bangga. "Tetapi sekarang masih ada yang harus kamu kerjakan," lanjut Sean.
"Apa?" Aceng bertanya dan langsung menatap Sean.
"Mr. M si jepang itu sudah berani memasuki wilayah kita, bawalah pasukan untuk menyerang ke tempatnya," Sean memberi perintah.
"Beraninya si jepang itu!" Aceng menggebrak meja. "Malam ini juga kita serang mereka," kata Aceng bersemangat.
...***...
Aceng sudah siap dengan pasukannya, berdiri berhadap-hadapan dengan anak buah Mr. M yang juga sudah siap bertarung memperebutkan wilayah kekuasaan.
Masing-masing dari mereka memegang senjata, dari mulai tongkat pemukul baseball sampai golok panjang.
"Serbuuuu!"
"Hantam mereka!!"
__ADS_1
Tidak tau siapa yang memulai pertama kali, kerusuhan pun tidak dapat terelakkan lagi, jalanan sepi berubah menjadi ramai dengan suara teriakan dan adu golok. Aceng dengan ganas mengayunkan goloknya seperti orang yang sedang kesetanan, darah banyak orang tercampur di golok yang sudah terasah sangat tajam.
Bersyukurlah Polisi anti huru hara dengan sigap datang ke lokasi kerusuhan, bom asap dilemparkan di tengah-tengah kerusuhan, para Satpol PP dengan baju septy memisahkan orang berkelahi dengan pentungan panjang.
Melihat situasi yang sudah tidak terkendali, Aceng beserta anak buahnya memilih untuk mundur, saat berusaha untuk lari, tiba-tiba salah seorang anak buah Mr. M menumpas Aceng dengan golok dari belakang, memutuskan tangan kiri Aceng dari tubuhnya!
Srak!
Darah kental berhamburan keluar dari pembuluh darahnya!
Dengan tangan yang terlepas secara harfiah dari tubuhnya, Aceng kemudian terhempas di aspal jalan.
"Aaah!!"
Aceng menggeliat menahan sakit yang luar biasa, lengannya sudah terputus dari bahu.
Anak buah berusaha membawanya pergi sebelum para Polisi itu berhasil menangkap mereka, tapi Aceng tidak sanggup meninggalkan bagian tubuhnya yang sangat berharga tergeletak begitu saja di tengah jalan.
Padahal dia baru saja ingin meninggalkan dunia maksiat ini, nasibnya benar-benar sial, ia harus merelakan anggota tubuhnya, dan digiring para Polisi itu ke penjara.
...***...
Sean sangat terpukul mendengar kabar bahwa Aceng kehilangan lengan kirinya dan kini mendekam dibalik jeruji besi. Sekarang ia sudah tidak memiliki siapapun di sampingnya, benar-benar sebatang kara, hal ini membuat sifatnya semakin kejam tak terkendali, ia jadi tidak punya belas kasihan pada siapapun, Sean sudah jera. Mengasihi orang lain hanya akan membuatnya sakit hati, sebelum hatinya disakiti ia akan menyakiti orang lain terlebih dahulu.
Berselang seminggu dari kejadian itu, Sean bersama tukang pukul, Lele, mendatangi Bambang yang ternyata sudah berkomplot dengan Mr. M. Bambang yang sudah ketakutan karena mengetahui maksud kedatangan Sean langsung berlutut di kakinya memohon untuk diampuni.
"Bukankah kau tau betul kalau aku sangat membenci penghianat, HAH!" Sean menendang bahu Bambang sampai terjungkal di lantai.
"Maafkan aku kali ini saja, tidak akan ku ulangi lagi." Sambil menangis Bambang terus memohon.
Sean hanya tersenyum, kemudian menjentikkan jari, Lele yang berdiri di belakang Sean langsung maju menendang tubuh Bambang tanpa ampun sampai berkali-kali.
Bak!Buk!
Lele baru berhenti saat Bambang sudah muntah darah melalui mulut dan hidungnya.
Melihat Bambang yang sudah tersungkur kesakitan di lantai Sean lalu berjongkok di dekatnya, "Kamu beruntung palu ketinggalan di rumah, lain kali aku akan menghabisi kamu."
Sean lalu melenggang pergi meninggalkan Bambang yang sudah lemas hampir tak bernyawa.
__ADS_1
Bersambung