Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Penyamaran


__ADS_3

Pasar traditional merupakan tempat yang sangat ramai, apalagi di hari pasaran seperti sekarang ini, di antara hiruk pikuk para ibu yang sedang berbelanja kebutuhan makanan pokok, Aceng mengajak Yanto berjalan-jalan di Pasar menemui beberapa orang untuk menagih hutang.


"Kau bilang ingin mengajakku bertemu Boss Besar?" tanya Yanto dengan nada kecewa.


"Aku tidak punya wewenang untuk bertemu Boss, Sean yang akan membawa kita menemuinya," jawab Aceng dengan santai.


"Benarkah? Kenapa sulit sekali menemuinya?" tanya Yanto mulai mengorek informasi.


"Tentu saja! Beliau itu Boss Besar bukan kaleng kaleng, hampir semua club malam di kota ini punya jaringan bisnis dengannya," Aceng menjelaskan.


"Bisnis jasa peminjaman modal maksudmu," tanya Yanto pura-pura belum mengerti.


"Eh, bukan cuma itu." Aceng mengecilkan suaranya.


"Mulai dari bisnis penjualan Miras sampai obat-obatan terlarang di kota ini semua dikuasai Boss Besar," tambahnya.


Gang Harimau reputasinya memang sudah membahana di seluruh negeri, hal ini ternyata bukan cuma isapan jempol belaka. Bisnis haram yang dijalankan oleh mereka sudah sangat meresahkan, saingan bisnis Boss Besar mereka cuma si Jepang itu Mr. M. Dia adalah satu satunya yang berani menantang gang Harimau secara terbuka. Mr. M jualah yang sering memberikan informasi transaksi kejahatan dari gang Harimau kepada pihak kepolisian dengan harapan para penegak hukum dapat membantunya menghancurkan kerajaan bisnis mereka. oleh sebab itu, di sinilah Inspektur Yanto bertindak sebagai Komandan dalam misi penyamaran yang sudah berjalan selama enam bulan ini.


Masuk ke dalam ruang lingkup mereka bukanlah hal yang mudah. Yanto harus menjadi petarung jalanan untuk mencari keberadaan Macan putih yang kabarnya suka merekrut orang yang pandai berkelahi untuk menjadi anak buahnya.


Setelah melewati itu semua kemudian mulai mengenal, dan pada akhirnya berteman dekat dengan mereka, Yanto merasa sedikit kecewa karena sekarang dia hanya menagih hutang di Pasar.


Biasanya Aceng hanya menagih hutang seorang diri, tapi ada kalanya para krediturnya itu susah untuk dimintai uang karena bunga pinjaman yang terlampau tinggi.


"Itu dia! Orang itu sangat susah untuk ditagih." Aceng menunjuk seorang saudagar pedagang ikan di pasar.


Pantas saja Aceng kesulitan untuk menagihnya, lelaki itu bertubuh besar dengan urat-urat ototnya yang timbul, berwajah sangar dengan kumis yang tebal, terlihat begitu menakutkan.


"Coba kau patahkan jari-jarinya supaya dia tidak menyepelekan kita," ujar Aceng memerintah.


Aceng sudah lama ingin memberi pelajaran kepada si tukang ikan itu, tapi dia sendiri tidak berani bertindak karena takut dengan perawakannya.


"Tunggu disini," kata Yanto.

__ADS_1


Yanto kemudian berjalan menuju ke arah depan mendatangi pria berotot itu, sementara aceng hanya mendukung dari belakang, tepatnya dari jauh.


Aceng hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan di sana, tak lama ia melihat juragan itu terlihat ketakutan kemudian menyerahkan sejumlah uang.


Yanto kembali dengan santainya kemudian menyerahkan segepok uang kepada Aceng. "Ini, dia membayar lunas."


Aceng cuma bisa melongo, melihat betapa mudahnya Yanto menagih uang kepada juragan ikan itu. "Apa yang kau katakan? Kenapa dia ketakutan padahal belum satu jaripun kau patahkan," tanya Aceng penasaran.


"Aku hanya sedikit mengancamnya," jawab Yanto.


"Apa kau bilang?" Aceng jadi semakin penasaran.


"Kubilang kalau dia tak mau bayar hutangnya, akan ku umumkan pake pengeras suara di Mesjid kalau dia belum bayar hutang," jawab Yanto santai.


"Apa?" Seketika itu Aceng kaget. "Kenapa begitu caranya?? Kita ini anggota geng! Kamu gak bisa lebih galak? Pukul kek! Tampar kek! Jangan malah umumkan di Mesjid!" seru Aceng kecewa, padahal ia berharap tukang ikan itu bisa mengerjai Yanto sedikit.


"Yang penting dia bayar, 'kan?" Yanto kembali menjawab dengan santai membuat muka Aceng merah padam menahan amarah.


"Kamu!" Aceng mengangkat tangan ke atas lalu menurunkannya lagi, hampir saja Aceng menempeleng kepala Yanto, kalau saja dia tidak ingat kalau Yanto ini lebih jago berkelahi dari dirinya.


Hari ini hari yang cukup melelahkan bagi mereka berdua, tanpa terasa mereka sudah berkeliling pasar dan tempat-tempat lainnya sampai seharian, di malam harinya Akhirnya Aceng dan Yanto bertemu dengan Sean di tempat hiburan malam favoritnya.


Seperti biasa, Sean terlihat tampan dengan setelan jas hitamnya sedangkan Yanto sudah kusut karena berkeliaran di pasar seharian.


Melihat penampilan Yanto yang berantakan, membuat Sean menjadi kurang nyaman, "Tunggu, kamu tidak bisa menemui Boss dengan keadaan seperti itu, Ikut aku."


Sean membawa Yanto keluar dari tempat itu menuju mobilnya.


Yanto hanya menurut dan mengikuti Sean di belakangnya. "Kita mau kemana?" Yanto kemudian bertanya setelah berada di dalam mobil.


"Ke tempatku," jawab Sean singkat.


Sementara itu Aceng yang tadi mengambil minuman jadi bingung karena Yanto dan Sean sudah tidak terlihat di tempat itu. Pandangannya melihat ke sekeliling tempat itu sebelum menyadari kalau dia sudah ditinggal sendiri.

__ADS_1


...****...


Baru kali ini Sean mengajak orang lain bertandang di kediamannya karena selama ini Sean selalu waspada sebab dia memiliki banyak musuh. Anehnya, cuma saat bersama Yanto, Sean jadi merasa tidak harus mewaspadai apapun.


Saat tiba di Apartemen mewah itu mereka lalu naik lift sampai ke lantai paling atas. Yanto tercengang begitu masuk apartemen luas tanpa sekat milik Sean, dari mulai pantry sampai kamar tidur bisa dilihat di satu ruangan yang luas ini.


"Aku hanya sendiri jadi tidak terlalu perduli dengan privasi," kata Sean melihat wajah heran Yanto.


Sebenarnya ruang luas ini juga memundahkannya membela diri bila suatu hari nanti ada orang yang datang menyerang.


Sean kemudian mengambil remote untuk menyalakan lemari ruang baju otomatis di tengah ruangan.


Dengan hanya memencet tombolnya, lemari berbentuk tiang besar itu bergerak membuka memperlihatkan susunan baju bemerek yang tersusun rapi lengkap dengan tempat penyimpanan jam mahal seharga ratusan juta.


Yanto hanya bisa terngaga melihat kecanggihan technology yang ada di unit apartment milik Sean.


"Pilihlah yang kau mau, kau boleh mengambilnya," kata Sean. Yanto lalu mulai memilih baju, memakai dan memperlihatkannya kepada Sean.


Sean memberi penilaian dengan seksama, sebetulnya Yanto tetap cocok memakai baju apapun, tapi Sean lebih suka penampilan Yanto saat mengenakan setelan jas berwarna putih miliknya.


"Yang ini sangat cocok untukmu," tutur Sean.


"Hm." Yibo mengangguk setuju dengan pernyataan Sean.


Sean memandangnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, Yanto terlihat sedikit malu saat Sean terus memandangnya. Yanto lalu berkata, "Terima kasih." Sambil menundukkan kepalanya.


Sean kemudian mengambil jam tangan Zenith miliknya kemudian memakaikannya ke tangan Yanto.


"Wah, kau sangat tampan seperti seorang Aktor terkenal," goda Sean.


"Hm." Yanto menunduk saja.


Mereka berdua lalu berangkat pergi menuju tempat kediaman Boss Besar yang sudah tidak sabar ingin Yanto temui itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2