Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Pertemuan


__ADS_3

Setelah didandani kini Yanto sudah siap bak Aktor yang akan menerima penghargaan. Sean segera membawa Yanto melaju dengan porsche miliknya di jalanan aspal yang mulai sepi karena sekarang sudah hampir tengah malam.


"Apa tidak kemalaman kita menemuinya?" Yanto bertanya.


"Justru kita hanya bisa menemuinya di kediamannya pada malam hari," Sean kemudian menjelaskan.


Mobil Sean kemudian memasuki kawasan perumahan mewah dan bergengsi di pusat kota. Ketika memasuki gerbang rumah besar bercat putih ini, Yanto merasa Ingat kalau dia mengenali pemilik rumah mewah ini.


"Bukankah, ini rumah Subrata?" batin Yanto berkata.


Pak Subrata bukanlah nama baru di dunia politik. Beliau pernah menjabat sebagai salah satu Menteri negara, sekarang pun beliau masih aktif sebagai salah satu kader partai yang paling berpengaruh di Negara ini.


"Apakah mungkin Pak Brata adalah Boss besar yang Sean maksud?"


Batin Yanto terus berkecamuk.


Begitu tiba di rumah itu, mereka disambut oleh Bodyguard berbadan kekar yang langsung mengantarkan masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah yang begitu besar layaknya istana ini, di dalam ruangan itu mereka kembali diminta untuk menunggu.


Yanto jadi merasa semakin gugup dan tidak sabar.


Cukup lama mereka menunggu Boss besar itu, Yanto yang mulai bosan kemudian memainkan lidahnya, tidak tau sejak kapan Yanto mempunyai kebiasaan menggosok gigi ratanya dengan lidah.


Sean yang sedari tadi memperhatikan Yanto mulai merasa aneh dengan tingkahnya itu, tapi tetap saja Sean terus memperhatikan, tingkah aneh Yanto entah kenapa membuatnya sedikit heran, Sean tidak bisa berhenti menatap Yanto.


Sementara Yanto yang asyik sendiri tidak mau berhenti, terus saja melakukan hal itu tanpa menyadari sepasang mata yang sedari tadi terus saja menatapnya.


"Apa yang kau lakukan?" Sean yang sudah tidak tahan lagi kemudian bertanya.


"Apa...?" Yanto sama sekali tidak tau apa yang Sean maksudkan.


"Kau terus memainkan lidahmu," kata Sean serius.


"Oh ... Benarkah?" Yibo kemudian sadar.


"Aku dulu memakai behel dalam waktu yang lama, setelah di lepas aku jadi suka melakukanya karena gigiku jadi terasa aneh dan licin," jelasnya.


Sean terdiam mendengar pernyataan Yanto, ia mulai menyatukan beberapa ingatannya. Yanto menggunakan lensa kontak dan katanya dia juga pernah menggunakan behel, bukankah selain namanya yang juga sama, Yanto jadi semakin mirip dengan seseorang yang ia kenal?


"Tidak ... Itu tidak mungkin, Yanto yang dia kenal tidak mungkin dia." Sean membatin.


Sean melonggarkan kerah bajunya karena merasa udara sekitar menjadi panas walaupun AC di ruangan ini sangat dingin.

__ADS_1


Untung saja tak berapa lama si empunya rumah Akhirnya hadir ke ruangan itu. Sean berdiri menyambut kedatangan Boss besar.


Inspektur Yanto juga dengan lihai menutupi keterkejutannya dengan wajah es yang dia miliki.


Bukan main, benar benar tangkapan besar!


Yanto harus sangat berhati-hati, karir dan pekerjaannya di pertaruhkan di sini.


"Sean, inikah pria tangguh yang kau ceritakan." Pak Brata berkata sambil mengulurkan tangan seperti hendak berjabat tangan.


Dengan cepat Yanto menyambut tangannya dan menggoyangnya seperti jabat tangan pada umumnya.


Sean lalu menatapnya kemudian memberikan kode agar Yanto mencium tangan Pak Brata.


"Oh." Yanto lalu mencium tangannya diikuti oleh Sean setelahnya, Yanto baru tau kalau manusia satu ini orang yang gila hormat.


"Baiklah, karena Sean sudah memintanya kuucapkan selamat datang di keluarga besar kami," tutur Pak Subrata.


"Mulai saat ini kamu saya anggap anak sendiri, jadi kamu harus berbakti kepada orang tua, ok?" tanya Pak Brata menunggu jawaban Yanto.


"Ok! Eh maksud saya baik, Pak," Yanto menjawab dengan sedikit gugup.


"Baik Boss besar," kata Yanto menurut.


"Sekarang kamu tunggu di luar, ada urusan penting yang harus saya bicarakan dengan Sean," titahnya.


Yanto langsung menurut keluar ruangan dan menunggu di depan pintu yang kemudian ditutup oleh Sean.


Plak!


Suara tamparan kemudian terdengar dari dalam ruangan, diiringi suara lantang dari si Boss besar.


"Bangsat kamu!" hardiknya setelah menampar pipi Sean.


"Apa kamu tidak ingat? Aku yang telah memungutmu dari jalanan dan membuatmu sampai seperti sekarang ini! Tega-teganya kamu berbuat dengan anak perempuan saya." Wajah ramah yang tadi diperlihatkan Pak Brata sudah berubah sangat gahar.


"Kau lebih buruk dari anjing yang bahkan tidak akan menggigit tangan majikannya!" tambahnya.


Sean hanya terdiam seribu bahasa.


"Aku masih mempertahankanmu karna masih mengingat jasamu, tapi mulai saat ini aku perintahkan untuk jauhi anak saya, Lisa! ingat! Aku yang membuatmu berada di puncak seperti sekarang aku juga bisa menjatuhkanmu seketika."

__ADS_1


Setelah mengutarakan maksudnya Subrata pergi meninggalkan ruangan itu.


Yanto segera masuk setelah Pak Brata keluar, dilihatnya Sean masih mematung dengan pipinya yang sangat merah.


Yanto menatap kasihan kepada Sean yang masih menunduk malu, tak berapa lama Sean mengangkat kepalanya lalu berkata, "Ayo kita pergi." Tangannya masih mengepal menahan amarah.


Yanto mengikuti saat Sean berjalan cepat keluar dari rumah Boss besar itu. Saat akan masuk ke dalam mobilnya Sean melempar kunci ke arah Yanto yang langsung reflek menangkapnya.


"Kamu yang mengemudi, perasaanku sedang tidak enak," ucap Sean.


Yanto kemudian duduk di kursi pengemudi mencoba membawa Porsche itu dengan hati-hati, di sepanjang perjalanan menuju apartemennya Sean hanya diam saja sambil melihat deretan lampu jalan yang masih bersinar terang di jalanan yang sudah sangat sepi ini.


"Apa kau ingat?" Yanto bertanya mencoba memecah keheningan ini.


"Ingat Apa?" Sean mulai memberikan perhatian, ia menoleh ke arah Yanto yang tengah mengemudi.


Apakah memang betul Yanto adalah sahabatnya dulu? Apa Yanto ingin menceritakannya sekarang?


"Kucingku yang kau lihat di rumahku waktu itu," kata Yanto.


"Ya?" Sean sedikit kaget karena dia pikir Yanto ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting.


"Salah satunya membuncit seperti sedang bunting," ujar Yanto.


"Apa? kau bilang waktu itu dua-duanya jantan?" Sean kembali bertanya karena merasa heran.


"Maka dari itu, bukankah itu aneh?" Yanto balik bertanya lagi.


"Ha ha ha, kamu harus membawa mereka ke dokter hewan," Sean akhirnya tertawa lepas, mendengar kelakar Yanto.


Yanto cukup senang melihat Sean kembali ceria, kebersamaan mereka membuat Yanto teringat kembali saat mereka dulu sering bercanda tawa di bawah pohon ketapang, dulu mereka selalu menghabiskan waktu bersama, Sean sering bercerita mengenai mimpinya untuk menjadi orang kaya dan berkeliling ke seluruh dunia. Yanto sebenarnya masih memiliki perasaan yang sama, ia selalu ingin mengikuti Sean kemanapun ia pergi.


Perjalanan mereka menjadi tidak terasa, Yanto mengantar Sean sampai tiba di unit apartemennya.


"Sudah terlalu malam, bermalamlah di sini besok pagi baru kamu pulang," bujuk Sean.


Entah kenapa malam ini Sean terlihat rapuh, tidak seperti biasanya.


"Baiklah." Akhirnya Yanto menurutinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2