Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan

Gang ; Persahabatan Dan Penghianatan
Penghianatan


__ADS_3

Yanto dan Sean pergi berbelanja kebutuhan bersama di Swalayan, Yanto terlihat mendorong troli belanjaan dan mulai sibuk memasukkan bumbu masakan seperti, gula, garam, dan lain-lain, tidak lupa Yanto membaca dengan seksama tanggal kadaluarsa di kemasannya sebelum akhirnya memutuskan untuk membelinya. Sementara itu, di sampingnya Sean berjalan sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik kemudian ikut memasukkannya ke dalam troli.


"Apa ini?" tanya Yanto saat melihat bungkusan yang dimasukan Sean ke dalam troli.


"Cemilan," jawab Sean.


"Sebanyak ini? Kamu mau beli stok sampai sebulan?" tanya Yanto heran melihat banyak sekali cemilan yang dimasukan ke dalam troli.


"Aku bisa menghabiskan semuanya dalam beberapa hari," jawab Sean dengan santai.


"Hah? Makan beginian terlalu banyak sama sekali tidak sehat," ucap Yanto sambil mengembalikan beberapa bungkusan ke dalam rak semula.


"Yah, yah! Jangan yang itu, aku suka itu," rengek Sean.


"Kamu masih sakit, harus banyak makan sayur dan buah," ucap Yanto tidak peduli dengan rengekan Sean dan bibirnya yang sudah cemberut.


Terlepas dengan segala pertengkaran kecil yang terjadi, mereka tetap melanjutkan berbelanja, tak jauh dari sana terlihat para emak yang sedang berjejer rapi mengantre bahan pokok.


"Tunggu disini," ucap Yanto sambil mendorong troli belanjaannya menuju tempat yang terlihat sangat ramai itu.


Rupanya ada diskon minyak goreng murah di tempat itu, para emak ini mengantre untuk mendapatkannya. Ternyata reputasi gang Harimau cukup terkenal di wilayah ini, para anggota gang Harimau bisa dengan mudah dikenali dari aksesoris kalung berlambang harimau yang dikenakannya, beberapa orang bahkan langsung menyingkir memberikan tempat untuk Yanto.


Sejak kapan anggota gang jadi ikutan mengantre minyak goreng murah? Mungkin itu pertanyaan di benak para emak melihat Yanto yang juga ikut-ikutan berdesakan di sana.


Sementara itu Sean yang berdiri tidak jauh dari tempat Yanto mengantre mulai merasa bosan. "Seharusnya aku tidak usah ikut saja tadi, apa boleh buat aku juga bosan di rumah terus." Sean bergumam sendiri, tanpa ia sadari seorang wanita muda terus memperhatikan, wanita ini seperti mengenalinya, setelah yakin benar ia kemudian datang mendekati Sean. "Kaka kok bisa sampai ke tempat ini?" tanyanya.


Sean langsung kaget begitu wanita ini langsung mengajaknya bicara, wanita muda itu adalah Yuli adiknya Sean.


Dalam hati Sean berkata, "Apakah Yuli mengenaliku?"


"Kak Siao? Kenapa kamu disini sendirian?" Yuli kemudian tanpa ragu memegang tangannya.

__ADS_1


Sean hanya terdiam tidak tahu mau menjawab apa, rupanya Yuli mengira dirinya adalah kakak tertuanya Siao, Yuli kemudian menggandeng Sean masuk ke dalam mobilnya. "Lain kali kalau mau ke mana-mana, bilang sama Yuli, ya? Jangan berkeliaran sendiri," tukas Yuli lalu menyalakan mobil meninggalkan tempat itu.


Sean sama sekali tidak menyangka, ternyata Yuli membawa Sean ke rumah tempat tinggalnya dulu. Rumah ulin yang sudah tua tempat dia menghabiskan masa kecil tidak bahagia. Baru saja mereka turun dari mobil, Yuli langsung mendapat panggilan telepon.


"Ya halo ... Oh! iya! saya ke sana sekarang," ucapnya pada benda persegi itu.


"Kakak cepat masuk, jangan ke mana-mana lagi ya, saya mau pergi ga bisa mampir," kata Yuli kepada Sean.


Sean hanya diam terpaku di tempat itu sambil menatap mobil adiknya yang semakin menjauh, saat Sean berpikir hendak beranjak pergi dari rumah yang sudah lama ia tinggalkan itu, tiba-tiba dari dalam rumah Sean melihat seseorang berlari keluar mencoba mendekat dan menghampirinya.


"Sean! Kamu akhirnya pulang," ujar Siao ketika di hadapan saudaranya ini.


"Kamu baik baik saja? Mnn Apa anjing itu masih mengejar kamu?"


Siao berkata sambil memutar jari telunjuknya.


Sean cukup kaget dengan reaksi saudara kandungnya ini, "Apakah selama ini kamu menungguku pulang?" tanya Sean kepada Siao.


" Ya ... Aku menunggu lama sekali ... Akhirnya kau pulang juga...." Air mata Siao menetes dari matanya kemudian jatuh ke pipinya.


...***...


Setelah lelah mengantre, Yanto mencari Sean yang tadi berada tidak jauh darinya dan bergumam, "Ke mana perginya Sean? Tadi masih di sini."


Yanto baru sadar kalau Sean sudah pergi dari tempat itu, Yanto yang merasa sedikit kecewa akhirnya pulang seorang diri.


"Teganya dia pergi duluan, padahal sudah berbelanja sebanyak ini," keluh Yanto sambil membawa banyak barang belanjaan.


Sekarang saat sendiri ia baru bisa berpikir lebih jernih tentang misi yang harus diselesaikan, tidak tahu mengapa Yanto seperti hilang akal bila berada di dekat Sean, selama ini hubungan mereka sudah terlalu dekat, ia benar-benar sudah melenceng dari tugasnya sebagai Polisi, ia bahkan belum mengadakan pertemuan dengan Andika dan Ridwan terkait misinya terakhir kali.


Tempo hari misinya itu sudah gagal total, para atasan pasti merasa tidak senang, "Aku harus menemui mereka secepatnya," gumam Yanto kemudian.

__ADS_1


...***...


Syukurlah, berkat perawatan dari Yanto selama beberapa hari ini. Sean bisa pulih dengan cepat, ia sudah merasa sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa.


Semenjak pertemuannya dengan Siao tempo hari, Sean jadi sering kembali ke rumah lamanya untuk mengajak Siao pergi dengannya.


"Ikutlah denganku," ajaknya.


"Ke mana?" Siao bertanya dengan lugu.


"Kita cari makan, mau kan?" bujuknya.


Sean sudah sering mengajak Siao pergi bersama, seperti hari ini ia mentraktir Siao makan bakso di pinggir jalan. Sean rupanya ingin menyenangkan sang kakak dan menghabiskan waktu bersamanya.


Acara makan itu sempat terhenti saat sebuah mobil Alphard berhenti tepat di samping jalan tempat Sean dan Siao tengah duduk, Sean yang mengetahui siapa si pemilik mobil itu kemudian berdiri dari tempatnya untuk menghampiri.


Pemilik mobil itu adalah Boss Besar dia menurunkan kaca mobilnya untuk bertanya kepada Sean, "Apakah kamu sudah tau di mana Aceng berada?" tanya Boss dari dalam mobil.


"Aku belum menemukannya," jawab Sean.


"Dia sudah merugikan aku, kalau kamu sudah temukan dia, jangan diberi ampun sedikitpun!" tegasnya.


Kaca mobil kembali diangkat dan mobil langsung pergi meninggalkan tempat itu. Sean kembali ke tempat dia makan bakso lalu terkejut melihat kakaknya Siao yang sudah menggigil ketakutan.


"Siao? Ada apa?" Sean bertanya.


"Pembunuh! Pembunuh!" serunya sambil memegang telinga dengan kedua tangan.


"Apa?" Sean masih tidak mengerti maksud kakaknya.


"Dia, pria itu, di mobil itu, Ayah, Ayah sudah mati ... Dia yang membunuhnya!"

__ADS_1


Kata-kata itu keluar dari mulut Siao yang merupakan satu-satunya saksi pembunuhan sang Ayah.


Bersambung


__ADS_2