
Kejadian di lapangan sekolah Fandi telah membuat anak berandal terkena hukuman yang cukup berat dari yang diduga. Mereka tidak bisa mengikuti Ujian Nasional tahun depan akibat ulah mereka hari ini.
Fandi yang saat ini terbaring di ruang UKS masih tak kunjung sadarkan diri akibat perlakuan para berandal itu. Rahmat tampak sedih dan terpuruk melihat kondisi sahabatnya saat ini, begitu juga dengan Dinda yang hanya menangis melihat kondisi Fandi saat ini.
Dinda duduk di sebelah bed Fandi, dan menggenggam tangannya. Dinda berharap Fandi segera siuman dan kembali tersenyum melihatnya.
Jam pulang sekolah telah tiba tetapi belum ada tanda-tanda Fandi akan sadar. Air mata Dinda dan Rahmat mengalir deras hingga membuat mata mereka merah sembab. Tak lama seorang dokter kecil datang.
"Permisi ini ada surat rujukan dari dokter Joko buat mas Fandi."
Katanya dengan sopan.
"Makasih ya kak Ana."
Jawab Dinda sembari mengusap air matanya.
"Sebaiknya kalian segera mengantar mas Fandi. Nah itu mobilnya sudah siap."
"Iya kak kita pergi dulu ya. Makasih udah bantu kita."
Kata Rahmat dengan segera dan mengemasi barang-barangnya. Tak lupa ia juga mengambil seragam serta tasnya di kelas.
Tak lama petugas rumah sakit datang dan segera membawa Fandi ke ambulance yang sudah berada di depan gerbang sekolahan. Dinda, Rahmat dan Rayhan mengikuti para petugas medis dari belakang dengan tergesa-gesa.
Dalam perjalanan, seorang perawat tampak memasang alat infuse di tangan sebelah kiri Fandi untuk berjaga-jaga jika terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tampak di tempat duduk sebelah kanan Dinda menyandarkan kepalanya ke bahu Rahmat.
Jarak dari Sekolahan ke Rumah sakit tidaklah terlalu jauh. Hanya perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke sana dengan mengendarai mobil ambulance.
Sesampainya di depan pintu masuk ruang IGD, Fandi segera di bawa oleh perawat yang sudah menunggunya cukup lama. Penanganan terhadap pasien darurat di rumah sakit ini memanglah bagus. Para petugas medis juga sangat cekatan dan cepat dalam mengambil tindakan.
Fandi segera di masukkan ke dalam ruangan IGD dengan beberapa perawat. Sedangkan Dinda, Rahmat dan Rayhan menunggu di ruang tunggu depan pintu masuk IGD.
Suasana sore ini terasa begitu tegang, tenang dan sepi. Tampak dari jendela kaca depan yang terletak di pintu masuk ruangan Fandi beberapa dokter dengan pakaian steril mondar-mandir untuk mengambil sesuatu.
Tak lama, Ayah dan ibu Fandi tiba di ruang tunggu. Teman-teman Fandi yang sedang duduk menunggu kabar dari dokter berdiri menyambut kehadiran orang tua Fandi.
"Dinda ...."
__ADS_1
Panggil Ibu Fandi.
"Tante ... Fandi tante ...."
Dinda bangkit dari kursinya dan memeluk Tante Mei dengan erat. Isak tangisnya tak bisa di bendung lagi. Air mata Dinda jatuh semakin deras dalam pelukan itu.
"Iya Dinda iya ... tante juga merasakan ...."
Tante Mei semakin erat memeluk Dinda dan memberikan kehangatan. Tante Mei pun ikut terlarut dalam kesedihan.
"Ehm Rahmat, apa sudah ada kabar dari dokter ?"
Kata om Faisal seketika.
"Masih belum om, Fandi masih belum sadarkan diri dari tadi."
Kata Rahmat tak bisa membendung lagi kesedihanya. Rayhan yang melihat Rahmat semakin bersedih, akhirnya mengajak Rahmat untuk pulang dan beristirahat.
"Udah mat udah. Kita pulang aja yuk udah malem. Lagian eluh kan belum makan dari tadi."
Ajak Rayhan dengan lembut dan melingkarkan tangannya ke bahu Rahmat.
Rahmat dan Rayhan segera berpamitan untuk pulang dan akan kembali lagi untuk menemani tante Mei dan Om Faisal di sini.
Tak lupa Rayhan juga mengajak Dinda untuk ikut pulang bersama mereka.
"Din, eluh ikut pulang yuk bareng kita sekalian beli makanan."
Ajak Rayhan.
"Gue disini aja sama tante."
Jawab Dinda singkat dengan tatapan kosong disertai air mata yang masih mengalir.
"Dinda kamu pulang dulu ya. Kamu mandi, ganti baju terus makan ya ... Habis itu kamu boleh ke sini lagi."
Tante Mei membujuk Dinda supaya mau pulang.
"Tapi tente sama om gimana ? aku kan juga mau denger langsung keadaan Fandi tante."
__ADS_1
Jawab Dinda dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Tiba-tiba keluarlah seorang Dokter dari ruang perawatan IGD.
"Keluarga ananda Fandi ?"
"Ohh iya saya Ibunya."
"Kondisi Fandi mulai membaik. Tekanan darah dan detak jantung juga sudah stabil. Tetapi beberapa luka yang di kepalanya harus mendapatkan jahitan ringan."
"Apa anak saya sudah siluman ?"
Tanya Om Faisal tiba-tiba.
"Siuman om s-i-u-m-a-n."
Sahut Dinda.
"Kira-kira sebentar lagi karena efek bius yang kami berikan. Oh iya, Pasien saat ini juga sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan biasa untuk menjalani pengobatan."
"Terimakasih Pak Dokter"
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu. selamat malam."
Selang beberapa menit, tampak seorang perawat membuka pintu untuk jalan keluar pasien. Dinda, Tante Mei dan Om Faisal segera berdiri untuk mengikuti ke ruangan Fandi.
***AUTHOR NOTE
HALO APA KABAR KALIAN SEMUA ... SEMOGA BAEK BAEK AJA YAAK ....
DI EPISOD KALI INI AUTHOR BINGUNG NIH MAU SI LANJUT KEK GIMANA LAGI CERITANYA. MUNGKIN KALIK AJA ADA DARI KALIAN YANG MAU KASIH SARAN GITU BUAT KEDEPANNYA KALIAN BISA LANGSUNG KOMEN DI KOLOM KOMENTAR YAAKK ... PASTI DEH AUTHOR BALES DAN DI PAKEK BUAT UP EPISOD SELANJUTNYA KALO MEMANG BAGUS DAN NYAMBUNG KE CERITANYA.
OKELAH SEKIAN DULU EPISOD DAN AUTHOR NOTE KALI INI. JANGAN LUPA BUAT LIKE VOTE KOMEN DAN FAVORITKAN NOVEL INI YAA SUPAYA GA KETINGGALAN EPISOD TERBARU DARI AUTHOR...
DADAH GAAEESS....
IG : AHDEK K_CHIL
FB : SAM FANDI***
__ADS_1