
Jam istirahat yang di nantikan seluruh siswa pun tiba. Tak terkecuali Rahmat yang menunggu penjelasan dari Fandi tentang para penjaga itu.
“Maksud eluh penjaga itu apaan sih ? gue ga paham.” Rahmat mulai bertanya setelah mereka keluar dari ruang kelas.
“Jadi para penjaga atau yang biasanya di sebut The guardian adalah sekumpulan orang yang menjaga keseimbangan alam semesta dengan bantuan pengendalian elemen mereka masing-masing. Tadi gue kan udah bilang kalau cuma ada empat orang yang mewakili elemen alami yaitu elemen api, tanah, air dan udara. Mereka berempat juga bertugas menjaga umat manusia dari berbagai gangguan dari makhluk lain.”
Jelas Fandi.
“Nah terus maksudnya Khi itu apaan ?”
Ekspresi Rahmat berubah serius.
“Jadi Khi itu semacem tenaga dalam yang bisa berubah bentuk tergantung dari elemen dasar setiap individu. Tapi bukan berarti semua orang bisa.”
Fandi menjelaskan semua dengan detail sembari melangkahkan kakinya menuju ke kantin sekolahan.
○○○○○
Sore hari setelah pulang sekolah, Fandi segera mandi dan tak lupa membeli sebuah cat rambut sebelum pulang untuk menutupi bagian ‘highlight’ yang muncul tiba-tiba di rambutnya. Hmm lumayan juga nih buat nutupin sementara. Batin Fandi puas melihat hasil rambutnya yang kembali hitam.
Karena merasa jenuh di rumah, Fandi pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan tanpa tujuan dengan motornya. Sekitar lima belas menit mengendarai motor, Fandi berhenti di sebuah persimpangan jalan karena melihat seorang wanita yang dia kenal. Rambut hitam sepinggang yang di kucir kuda khas miliknya melambai-lambai diterpa angin. Dinda tampak mengenakan jaket levis dengan celana jeans panjang biru tua tengah dibonceng oleh seorang pria.
Fandi yang semula ingin menegur sapa dengan Dinda mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mengikuti kemana mereka pergi. Sampailah mereka di depan pusat perbelanjaan yang cukup ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan.
“Eh kita masuk dulu yuk sekalian aku mau cari sesuatu.”
Ajak Dinda kepada pria itu.
“Hmm kan emang itu tujuan kita kesini.”
Pria itu menaikan sebelah alisnya dan memasang ekspresi datar.
Setelah melepas helm, Dinda merangkul lengan kiri pria itu dengan mesra. Melihat kejadian itu, Fandi merasa geram. Eh tunggu dulu ... kenapa gue jadi berasa panas ya ? batin Fandi bingung akan perasaannya. Fandi pun memutuskan untuk mengikuti mereka masuk ke dalam mall itu supaya bisa mengetahui lebih banyak. Ketika sedang mengintip dari balik rak baju, Tiba-tiba Rahmat datang nengejutkan Fandi.
“HAYOO ngapain luh !!”
“WAAAA !!” Fandi tersentak karena terkejut atas kehadiran Rahmat yang tiba-tiba.
“AWAS LUH YEE ....”
“Tunggu-tunggu, eluh ngapain sembunyi di sini ? Mau beli kutang luh ?”
“Sembarangan ... Gue lagi mbuntutin Dinda noh sama cowok laen.”
Fandi segera berdiri tegap dari posisi yang tadinya setengah menunduk.
“Serius? Pantesan aja dia ga mau nerima semua cowok dari sekolah kita,”
Celetuk Rahmat yang terkejut.
“Gue pernah boong ?”
kata Fandi dengan muka datar. Ketika hendak melangkah pergi mengikuti Dinda, Fandi di seret keluar oleh Rahmat.
“Eluh dari pada gaada kerjaan mendingan temenin gue,”
sahut Rahmat sembari menarik kerah baju Fandi keluar mall.
“Eh eh ... tunggu du -!!”
“Udah ikut aja.”
Potong Rahmat cepat sebelum Fandi menyelesaikan kalimatnya.
“OII SOMPLAK !! LEPASIN BAJU GUE ?!”
Bentak Fandi karena malu di lihat oleh pengunjung lainnya. “Kita ini mau kemana ?! Maen tarik-tarik baju orang aje, eluh pikir gue kambing apa ?! “
“Hehehe ... gue mau ajak eluh ke sebuah tempat yang gue jamin bikin eluh ketagihan.”
jawab Rahmat meyakinkan dengan pasti.
“Eluh mau ajak gue ke diskotik? Gue gamau !” Kata Fandi datar.
“Bukan. Eh eluh bawa gitar ga?”
__ADS_1
“Kagak ... gila kalik ke sini bawa gitar.” celetuk Fandi.
“Iya gue percaya, buktinya sampe eluh juga ga sadar kalo masih pakek celana kolor,"k ata Rahmat cekikikan sembari melirik celana kolor Fandi yang sedikit buluck.
○○○○○○○○○
Setelah mengambil gitar dan berganti celana, Fandi memutuskan untuk mengikuti Rahmat dengan mengendarai sepeda motornya.
Tiba lah keduanya di sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi dengan hamparan tumput yang luas serta sebuah pohon besar si puncaknya. Angin berhembus perlahan memberikan suasana tenang dan damai.
Seketika Fandi duduk bersila di bawah pohon besar yang rindang itu. Cahaya matahari terhalang oleh rapatnya dedaunan pohon itu.
"Bawa gitar kan?" tiba-tiba Rahmat berbicara yang memecahkan lamunan Fandi.
"Bawa lah. Lu mainin gih," celetuk Fandi yang masih sibuk melihat sekeliling.
"Eluh aja gih, eluh kan yang enak permainanya."
"Huuuhhh ... Mau lagu apa?"
"Terserah yang penting enak," kata Rahmat sembari menyeringai. "Udah buruan."
`*Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi yang harus ku pendam dalam mengagumi dirimu ....
Melihatmu genggam tangannya, nyaman didalam pelukannya yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menenepi ....
Kau yang pernah singgah disini
Dan cerita yang dulu kau ingatkan kembali
Tak mampu aku tuk mengenang lagi
Biarlah kenangan kita pupus di hati ....
Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu diawal dulu ....
Ku tahu dirimu dulu hanya meluangkan waktu sekedar melepas kisah sedihmu ....
Dan rasa sabar mana lagi
Yang harus kupendam dalam
Mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya
Nyaman didalam pelukannya
Yang mampu membuatku
Tersadar dan sedikit menepi* .... `
Mendengar Fandi bernyanyi sembari bermain gitar sekejap membuat Rahmat terkejut. Bukan hanya permainan gitarnya yang memukau tapi juga suaranya yang merdu sehingga membuat telinga setiap orang merasa dimanjakan.
"HUUUAAAOOOUUWW ... Ternyata suara eluh keren!" Rahmat yang sedari tadi menikmati alunan musik Fandi tidak sadar bahwa mulutnya terbuka lebar kini berdiri dan berteriak sekencang-kencangnya.
"Ssshhhh biasa aja kalik! eluh kek ga pernah liat orang nyanyi!" kata Fandi sembari menggosok-gosok telinganya yang berdengung akibat teriakan Rahmat barusan.
"Sumpah gue ga nyangka kalo suara eluh sebagus ini ... gila penyanyi aslinya aja kalah tinggi suaranya sama eluh!" kata Rahmat bersemangat.
"Bisa aje luh kadal afrika ... nih giliran eluh." Fandi menyodorkan Gitarnya ke arah Rahmat.
"Eh gue minder Fan sama eluh," semangat Rahmat tiba-tiba hilang yang tampak jelas perbedaan ekspresi wajahnya. Rahmat yang semula berdiri kini duduk di hadapan Fandi seperti seorang siswa yang tengah menunggu idolanya. "Satu lagu lagi dong."
"Kagak," sahut Fandi dengan muka datar.
"Satuuuuuu aja plis ...." kata Rahmat sembari menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.
"Haaiiisshhh ... lagu apa?" Fandi pun akhirnya mengiyakan permintaan sahabatnya itu. " Tapi habis ini pulang oke?"
"Iya udah iya ... buruan!"
`Tak pernah kubayangkan
__ADS_1
Begini jadinya
Suratku engkau balas
Dengan undangan
Kalau memang tak mau
Baiknya kau katakan
Agar 'ku tak berharap
Cinta darimu
Kurela sudah begini jadinya
Cintaku padamu
Surat undanganmu pernikahan itu
Kugenggam erat di tanganku
Hanya doa restu yang kupersembahkan
Semoga engkau bahagia
Sendiri lagi seperti dahulu
Tanpa dirimu di sisiku
Tetes air mataku, hatiku pedih
Membasahi undangan pernikahanmu
Surat undanganmu pernikahan itu
Kugenggam erat di tanganku
Hanya doa restu yang kupersembahkan
Semoga engkau bahagia
Sendiri lagi seperti dahulu
Tanpa dirimu di sisiku
Sendiri lagi seperti dahulu
Tanpa dirimu di sisiku ....`
Setelah selesai bernyanyi tampak seorang wanita yang sangat dikenalnya muncul dari balik pohon besar di belakang Fandi. Rahmat hanya tersenyum manis melihat kearah wanita itu.
AUTHOR NOTE
***Bagi temen-temen yang merasa tau ato mau coba jawab silahkan tulis di kolom komentar yak..
bagi kalian yang mau bantu author menentukan jalan cerita buat kedepannya kalian bisa tulis di kolom komentar.
jangan lupa buat like, komen, vote, dan jadikan novel ini sebagai favorit ya.
okelah sekian dulu novel dan author note kali ini see you guys again in my next episode....
Btw itu judul lagunya
Menepi - Guyon Waton
Surat undangan - Poppy Mercury (anak 90-an pasti tau lagu ini)
FB : Adhek k_chil
IG : Sam Fandi****
__ADS_1